• Opini
  • Peradaban Sumeria & Kisah Nabi Nuh AS

Peradaban Sumeria & Kisah Nabi Nuh AS

Teluk Persia, yang terhubung melalui Selat Hormuz, dulunya merupakan wilayah daratan bernama Gulf Oasis di kawasan Mesopotamia.

Johan Arif

Peneliti Geoarkeologi & Lingkungan di ITB, Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Peradaban Sumeria (Sumerian Culture) diperkirakan telah ada sejak zaman Holosen Tengah. (Sumber: Dokumen Penulis)

18 Mei 2026


BandungBergerak - Teluk Persia terhubung ke Teluk Oman melalui Selat Hormuz yang sekarang sedang menjadi ajang persengketaan antara Amerika versus Iran. Teluk Persia dulunya merupakan sebidang tanah yang dikenal sebagai Gulf Oasis (Teluk Oasis) yang terletak di Mesopamia yang diperkirakan sebagai rumah bagi beberapa peradaban tertua di dunia antara lain peradaban Sumeria.

Mesopotamia -dalam bahasa Yunani artinya "di antara dua sungai" - adalah wilayah kuno yang terletak di bagian timur Laut Mediterania yang dibatasi di sebelah timur lautnya oleh Pegunungan Zagros dan di sebelah tenggaranya oleh Dataran Tinggi Arab. Sekarang wilayah ini termasuk Irak (sebagian besar), Iran, Suriah dan Turki. Dua sungai tersebut adalah sungai Tigris dan sungai Eufrat yang tanahnya dikenal sebagai 'Al-Jazirah' (pulau) oleh orang-orang Arab, dan karena tanahnya yang subur maka wilayah Mesopotamia dikenal juga sebagai Fertile Crescent.

Sumeria adalah wilayah paling selatan Mesopotamia (sekarang masuk wilayah Irak dan Kuwait). Namanya berasal dari bahasa Akkadia, bahasa di utara Mesopotamia yang berarti "tanah raja-raja yang beradab". Sumeria diakui sebagai tempat lahirnya banyak peradaban, termasuk tulisan. Bangsa Sumeria menyebut diri mereka sebagai "bangsa berkepala hitam" dan dalam Kitab Kejadian, Sumeria dikenal sebagai "Shinar".

Wilayah Sumeria diperkirakan telah dihuni sejak zaman Holosen Tengah sekitar 7 hingga 3.7 ribu tahun yang lalu dan punah setelah Sumeria diserbu oleh bangsa Elam dan Amori. Para pemukim pertama bukanlah orang Sumeria, tetapi orang-orang yang tidak dikenal, yang oleh para arkeolog disebut sebagai orang-orang Ubaid sekitar 7 hingga 6 ribu tahun yang lalu. Dari gundukan al-Ubaid yang digali ditemukan banyak artefak yang membuktikan keberadaan mereka. Atau orang-orang Ubaid disebut juga sebagai Proto-Euphrateans yang menunjuk mereka sebagai penghuni awal wilayah Sungai Eufrat. Setelah Periode Ubaid datanglah Periode Uruk sekitar 6 hingga 5 ribu tahun yang lalu.

Daerah yang membentuk Sumeria bermula di Teluk Persia dan mencapai utara ke "leher" Mesopotamia di mana dua sungai, Tigris dan Eufrat, lebih dekat satu sama lain. Peradaban Sumeria pada sekitar 6,5 ribu tahun yang lalu menemukan roda, tulisan, perahu layar, proses pertanian seperti irigasi dan konsep kota.

Apakah peradaban itu? Peradaban adalah masyarakat yang kompleks. Kompleksitas, dalam hal ini, berarti memiliki banyak peran sosial dan profesional yang terspesialisasi: raja, bangsawan, rakyat jelata, budak, pendeta, birokrat, berbagai jenis pengrajin profesional dan sebagainya. Ada banyak peran sosial berbeda yang harus bekerja sama untuk membuat masyarakat berfungsi, dibandingkan kebanyakan orang yang melakukan hal yang sama sepanjang waktu. Desa masyarakat pemburu-pengumpul dan Neolitikum adalah sebuah masyarakat, namun bukan sebuah peradaban.

Baca Juga: Bersiap akan Kedatangan Duchan
Jejak Kuburan-kuburan Tua dalam Peradaban Manusi

Teluk Persia, Selat Hormuz, Teluk Oman. (Sumber: Dokumen Penulis)
Teluk Persia, Selat Hormuz, Teluk Oman. (Sumber: Dokumen Penulis)

Nabi Nuh As & Peradaban Sumeria

Ada hubungannya peradaban dengan keberadaan kota, Diperkirakan munculnya suatu kota adalah setelah zaman sesudah Nabi Nuh As. Berdasarkan surat Al Israa 17:17, Nabi Nuh As hidup di kawasan Asia Barat dan cikal bakal kota di kawasan ini dimulai sejak zaman pre pottery Neolitik sekitar 9,5-8,5 ribu tahun yang lalu yaitu di daerah fertile crescent dan Anatolia.

Jika asumsi ini benar, maka kemungkinan Nabi Nuh As hidup setelah 8,5 ribu tahun yang lalu yaitu antara 6-5 ribu tahun yang lalu di wilayah Sumeria dalam periode Uruk. Diperkirakan Nabi Nuh As sendiri tinggal di kawasan yang sekarang disebut Suriah atau Syria, berdasarkan tafsiran surat At Tiin 95:1-3, yang juga pada waktu dulu terletak di wilayah Mesopotamia.

Berdasarkan Ali Imran 3:33-34 dan Maryam 19:58, Nabi Nuh as berserta kaumnya adalah kaum yang lebih unggul dibandingkan kaum lainnya yang hidup pada masa itu. Kemudian dalam surah Nuh 71:10, 11 & 23; Huud 11:25-26 dan Ibrahim 14:10, diperoleh gambaran masyarakat zaman Nabi Nuh as adalah masyarakat agrikultur yang tinggal di suatu kawasan yang sedikit hujan dan penyembah berhala yaitu Wadd, Suwaa, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr yang merupakan kepercayaan nenek moyang mereka. Kaum Nabi Nuh as sudah melakukan pertanian (gandum) dan peternakan (domba, kambing) yang mana hewan-hewan ini termasuk yang dimasukan ke dalam kapal.

Karena kezaliman yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh, maka Allah swt menghancurkannya dengan bencana banjir . Dalam Al Quran, banjir Nabi Nuh diceritakan dalam beberapa surat antaralain Huud 11:41 & 44, Al Ankabut 29:15, Al-Qamar 54:13

Penelitian arkeologi di sekitar Timur Tengah menunjukkan bukti sedimen dan endapan lumpur tua, yang membuktikan memang pernah terjadi air bah yang luar biasa, yaitu meluapnya dua sungai besar Eufrat dan Tigris sekitar 6 ribu tahun yang lalu.

Pada tahun 1872 M, George Smith (1840–76), menemukan kisah air bah yang tertulis di sebuah tablet berhuruf paku di Niniwe, yang terletak di sebelah timur laut kota Mosul di Provinsi Ninawa, Irak, di tepi sungai Tigris. Isinya karena melihat perilaku manusia, mendorong para dewa Babilonia untuk melenyapkan umat manusia melalui air bah dan seperti diceritakan dalam Alkitab, kelangsungan hidup semua makhluk hidup dipengaruhi pada menit-menit terakhir oleh satu orang. Dia akan membangun sebuah bahtera untuk menampung seekor jantan dan satu betina dari semua spesies sampai air surut dan dunia dapat kembali normal.

Ada orang yang menduga bahwa kejadian banjir Nabi Nuh itu terjadi di Gulf Oasis di Teluk Persia. Dalam kitab Kejadian 8:4 menyebutkan bahwa bahtera itu mendarat di pegunungan Ararat yang berada di luar jangkauan banjir Teluk Oasis. Tetapi, banyak sumber Yahudi dan Kristen menyiratkan bahwa bahtera itu mendarat di wilayah Urartu di Iran.

*Kawan-kawan bisa membaca artikel-artikel Johan Arif, atau tulisan-tulisan lain tentang Situs Geologi

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//