• Opini
  • Tentang Sunda, Bobotoh, dan Klub yang Melampaui Batas

Tentang Sunda, Bobotoh, dan Klub yang Melampaui Batas

Persib tidak membutuhkan KTP Sunda untuk dicintai, tetapi tetap membawa jejak Sunda ke mana-mana.

Dea Rahmat S

Penulis esai reflektif dan opini sosial.

Bobotoh Persib Bandung membakar flare dan bom asap saat merayakan kemenangan Persib di BRI Liga 1 2024/2025 di Gedung Sate, Bandung, 25 Mei 2025. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

18 Mei 2026


BandungBergerak – Belakangan saya sering melihat perdebatan kecil di media sosial tentang siapa yang paling berhak mendukung Persib Bandung. Mungkin karena sebentar lagi Sang Pangeran Biru akan mendapatkan kemenangan untuk yang ketiga kalinya. Hatrick lurrr,

Ada yang bilang tidak semua orang Sunda harus mendukung Persib. Dan itu benar.

Sebab pada dasarnya Persib adalah klub asal Bandung, bukan klub resmi Jawa Barat, apalagi etnis Sunda. Di Tatar Pasundan ada banyak klub lain: Persikab Bandung, Persikabo 1973, Persigar Garut, dan banyak klub lain yang lahir dari kota serta daerah di tatar Pasundan.

Orang Garut mendukung Persigar sambil mendukung Persib. Orang Bogor menonton Persib padahal ada juga Persikabo di daerahnya. Bahkan orang Bandung sendiri belum tentu mendukung Persib. Semua itu sah dan sangatlah wajar. Tidak ada aturan resmi yang menyatakan daerah tertentu harus mendukung klub tertentu.

Tetapi di sisi lain, ada juga yang bilang tidak semua bobotoh itu Sunda. Dan itu juga benar.

Ada Viking Borneo, Viking Jakarta, komunitas bobotoh di luar Jawa Barat, bahkan orang-orang yang mungkin tidak bisa berbicara bahasa Sunda tetapi hafal chant tribun dan rela begadang mengikuti pertandingan Persib.

Baca Juga: Kontroversi Sponsor Persib Bandung
Di 93 Tahun Persib Bandung Hari Ini: Thank God I’m Bobotoh!
Menonton Persib Bermain, Mengingat Mimpi yang Tanggal

Budaya dan Sepak Bola

Saya pernah melihat sendiri di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan. Malam itu Persib main, TV di pojok ruangan nyala keras. Tidak semua orang benar-benar menonton, tapi semua orang seperti ikut terlibat. Ada yang sambil makan, ada yang sambil main handphone, tapi setiap kali ada peluang, semua kepala otomatis menoleh ke layar. Seseorang di belakang saya bahkan berteriak pakai logat Sunda yang patah-patah, “Tah kitu atuh paenkeun si Koswara teh!” Bahkan nama Kurzawa ikut terlokalisasi karena orang Sunda lebih cenderung menyebut kata yang paling gampang daripada nama aslinya.

Di situ saya merasa, mungkin memang begini cara budaya dan sepakbola saling berkaitan.

Walaupun demikian, sepak bola memang tidak selalu bekerja secara administratif di regional tertentu. Orang luar Sunda tidak harus menghapus identitasnya untuk menjadi Bobotoh.

Kita juga sering menonton Piala Dunia padahal Indonesia tidak ada di sana. Mendukung negara yang tidak ada hubungan apa pun dengan tempat lahir kita. Banyak orang Indonesia menangis ketika Argentina juara. Tidak sedikit juga yang kesal ketika Brazil kalah dibabak 8 besar oleh Kroasia. Padahal tidak pernah tinggal di Buenos Aires atau Rio de Janeiro. Banyak juga yang mendukung Manchester United F.C. meski bahkan tidak tahu seperti apa kota Manchester di kehidupan nyata. Banyak komunitas seperti Milanisti Indonesia, Madridista Indonesia, dan fanbase lainnya.

Sepak bola sering lahir dari rasa suka yang sulit dijelaskan. Kadang karena permainan, kadang karena sejarah, kadang ikut orang tua, kadang hanya karena waktu kecil terlalu sering melihat warna tertentu di televisi, atau memainkan satu klub sampai tidak sadar mencintai klub itu hingga dewasa.

Maka menurut saya, “Persib tidak membutuhkan KTP Sunda untuk dicintai.” Sebab menjadi bobotoh tidak pernah benar-benar ditentukan oleh tempat lahir. Ada orang yang lahir dan besar di Bandung tetapi tidak peduli pada Persib. Ada orang luar Jawa Barat yang justru mengikuti klub ini dengan sangat fanatik. Mereka membeli jersey, datang ke stadion, mengikuti kabar transfer pemain, ikut marah ketika kalah, dan ikut bahagia ketika menang. Dan rasanya tidak adil mengatakan bahwa cinta mereka kurang sah hanya karena tidak lahir di tanah Sunda.

Lucunya, perdebatan tentang siapa yang paling berhak menjadi bobotoh kadang terasa semakin aneh ketika melihat sepak bola modern sendiri sudah sangat cair. Pemain Persib hari ini pun datang dari berbagai daerah, bahkan berbagai negara. Ada yang lahir di Bandung, ada yang datang dari Brasil, Spanyol, Belanda, atau daerah lain di Indonesia. Mereka memakai jersey yang sama, dicintai tribun yang sama, lalu perlahan menjadi bagian dari ingatan kolektif bobotoh. Musim lalu saja, Poster Ciro, DDS, dan Tyronne sangatlah marak melebihi posternya Kakang, Beckham ataupun pemain putra daerah lainnya.

Persib dan Sunda

Tidak ada yang mempersoalkan tempat lahir ketika seseorang bermain sepenuh hati di lapangan. Mungkin karena dalam sepak bola, rasa memiliki memang tidak selalu lahir dari darah atau wilayah. Kadang ia tumbuh dari kebiasaan datang ke stadion. Dari ikut bersedih ketika kalah. Dari nyanyian tribun yang perlahan terasa akrab. Dari kebiasaan melihat orang-orang memakai biru di jalanan kota.

Namun meski begitu, saya juga merasa hubungan Persib dan Sunda memang tidak bisa sepenuhnya dipisahkan. Bukan karena Persib adalah klub etnis, tetapi karena kultur Sunda ikut membersamai dan membesarkan Persib selama puluhan tahun.

Mungkin itu juga yang membuat Persib terasa berbeda bagi banyak orang Sunda. Di banyak rumah di Jawa Barat, nama Persib sering terdengar bahkan sebelum anak-anak mengerti klasemen liga. Orang mungkin tidak hafal nama pejabat, tetapi hafal susunan pemain Persib musim ini. Warung kopi berubah jadi ruang diskusi kecil setiap kali Persib bermain. Jalanan mendadak lebih sepi ketika pertandingan penting dimulai. Bahkan umpatan, candaan, sampai cara merayakan kemenangan sering keluar dalam bahasa Sunda.

Namun menariknya, kultur itu tidak membuat Persib menjadi ruang tertutup. Orang luar Sunda tetap bisa ikut bernyanyi di tribun, memakai jersey biru, lalu perlahan merasa dekat dengan kultur yang sebelumnya asing bagi mereka. Mungkin karena sepak bola memang bekerja dengan cara seperti itu: membuat orang merasa punya rumah, bahkan di tempat yang awalnya bukan miliknya.

Persib mungkin bukan simbol resmi kesundaan, tetapi sulit menyangkal bahwa klub ini tumbuh di lingkungan sosial yang sangat dipengaruhi budaya Sunda. Dan mungkin justru di situlah menariknya.

Persib tidak membutuhkan KTP Sunda untuk dicintai, tetapi tetap membawa jejak Sunda ke mana-mana. Sama seperti lagu daerah yang akhirnya dinyanyikan banyak orang tanpa kehilangan asal-usulnya. Sama seperti makanan khas daerah yang dinikmati berbagai etnis bahkan mancanegara, tapi kedaerahannya masih melekat dalam makanan itu.

Oleh karena itu, tidak setiap Sunda adalah bobotoh, tidak setiap bobotoh adalah Sunda. Namun, kultur Sunda ikut membesarkan nama Persib, dan Persib Bandung bersinar dengan kesundaanya. Setidaknya, Kurzawa pernah membuat postingan dengan caption “sampurasun”.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//