Seni sebagai Laku Kepulangan: Dialektika Estetika dan Etika dalam Proses Kreatif
Untuk apa kita terus memproduksi keindahan jika ia gagal menyelamatkan kemanusiaan yang paling mendasar di sekitar kita?

Annisa Resmana
Seorang penulis puisi, opini, buku dongeng anak, dan lirik. Tergabung dalam kelompok musik-puisi ESTUARI.
25 Mei 2026
BandungBergerak – Menulis dan berkesenian, dalam pemaknaan yang paling fundamental, bukanlah sekadar manifestasi ekspresi atau unjuk kebolehan teknis. Ia adalah sebuah laku “pulang”–sebuah proses inskripsi batin menuju kedalaman diri yang sunyi. Dalam diskursus psikologi kreatif, momen ini sering disebut sebagai fase inkubasi atau momen “masuk ke dalam gua” batin. Di sana, proses artistik tidak berperan sebagai katarsis yang meledak-ledak, melainkan sebagai ruang kontemplatif di mana emosi destruktif, seperti amarah, tidak diusir secara paksa, melainkan didekonstruksi hingga meluruh menjadi hikmah yang jernih.
Proses menata kata, menyusun bunyi, atau mencipta bentuk, hingga memadukan warna merupakan upaya memberi ruang bagi hal-hal “tak bernama” dalam jiwa untuk bernapas. Metode-metode “sunyi” seperti menatap lukisan berlama-lama, menonton teater, memadukan nada dan lirik, hingga bersenandung, sejatinya adalah bentuk mindfulness yang mengasah kompas moral. Aktivitas ini berfungsi sebagai petunjuk internal yang membantu subjek kreatif membedah ulang laku (perbuatan) dan tuju (tujuan).
Menulis, khususnya, menjadi metode penjernihan kognitif yang mengurai kerumitan berpikir yang sering kali tidak disadari. Sementara itu, kesenian dalam spektrum yang lebih luas bekerja secara subliminal untuk meluruskan hal-hal kerap goyah oleh tarikan ego dan kepentingan pragmatis. Ketika karya lahir tanpa menyentuh kompas internal ini, ia kehilangan jiwanya dan menjelma sekadar komoditas visual atau auditif yang bising. kita dipaksa merenung kembali: apakah seniman sedang merawat nurani melalui untaian kata dan nada, atau justru sedang menciptakan topeng estetis yang baru?
Baca Juga: Pergolakan Seni dan Perubahan Sosial: Seni Rakyat dan Identitas Melawan Dominasi
AI dan Renungan tentang Kemanusiaan
Seni dan Perlawanan: Membaca Realitas melalui Cermin Chernyshevsky
Konsep Kalos Kagathos
Dalam tradisi intelektual yang lebih organik, terdapat sebuah kebijaksanaan yang menekankan bahwa kesenian seharusnya berbanding lurus dengan kematangan akhlak. Sebuah premis yang sering kita dengar adalah bahwa kesenian idealnya meluruhkan tendensi buruk, mempertebal kebajikan, memadamkan amarah serta meluaskan ruang kesabaran dalam diri. Secara teoritis, hal ini sejalan dengan konsep Kalos Kagathos, di mana keindahan estetis (kalos) dipandang tidak terpisahkan dari kebaikan moral (agathos). Seniman yang benar-benar menyelami proses kreatifnya diharapkan memiliki kerendahan hati; sebuah sikap “merundukkan kepala” di hadapan luasnya semesta kreativitas.
Namun, realitas kontemporer menyuguhkan kontradiksi yang getir. Kita menghadapi paradoks di mana perilaku kekerasan seksual, anarkis, justru muncul dari individu-individu yang akrab dengan ruang-ruang kultural dan diskursus estetika tinggi. Kekerasan seksual di lingkungan seni bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan pengkhianatan terhadap esensi kesenian itu sendiri. Bagaimana mungkin tangan yang menciptakan keindahan juga menjadi tangan yang menghancurkan martabat manusia lain? Atau, bagaimana mungkin, lengan yang digunakan untuk menulis lirik tentang alam (dan menyanyikannya dengan lantang di atas panggung), juga menjadi tangan yang membuang puntung rokok sembarangan?
Kontradiksi ini menelanjangi sebuah anomali besar: bahwa tingginya literasi seni dan penguasaan teknik artistik sama sekali tidak berkolerasi linier dengan kematangan empati maupun integritas moral seseorang. Ketika panggung seni beralih fungsi menjadi topeng pelindung bagi dehumanisasi, separasi estetis telah mengalami sekularisasi yang radikal dari akar etisnya. Pada titik kritis ini, kita harus kembali merenung: untuk apa kita terus memproduksi keindahan jika ia gagal menyelamatkan kemanusiaan yang paling mendasar di sekitar kita? Hal ini membuktikan bahwa kemahiran artistik tidak secara otomatis menjamin transmutasi moral jika pelakunya hanya jatuh cinta pada citra, tanpa benar-benar menyelami substansi nurani.
Belum lagi dengan adanya jurang pemisah antara senior dan junior. Budaya feodalisme yang masih mengakar menciptakan sekat-sekat eksklusivitas, dimana senioritas seringkali digunakan sebagai alat kekuasaan, bukan ruang bimbingan. Ketika pelaku seni cenderung ‘pelit ilmu’, ‘pelit relasi’, atau bersikap pongah, proses regenerasi menjadi terhambat. Mereka yang baru memulai sering kali merasa teralienasi atau bahkan terintimidasi oleh struktur yang dingin dan hierarkis. Diskusi yang seharusnya menjadi ajang peregangan emosi dan dialektika atas perbedaan, kerap bergeser menjadi panggung pembuktian ego dan validasi diri yang semu.
Makna Proses Berkesenian
Kondisi ini menciptakan ancaman nyata bagi keberlangsungan dunia seni di Indonesia. Secara statistik, jumlah pelaku kesenian yang konsisten di negeri ini tidaklah banyak (dibandingkan dengan profesi lain). Jika ekosistem yang sudah kecil ini terus dikikis oleh perilaku kekerasan, praktik eksploitasi, dan mampatnya transfer pengetahuan akibat ego, maka kita sedang menuju kebangkrutan kreatif. Potensi-potensi muda yang brilian bisa saja memilih mundur sebelum berkembang karena melihat dunia seni sebagai ruang yang toksik dan tidak aman.
Di titik ini, kita perlu bertanya secara kritis: apakah makna dan proses berkesenian bagi setiap individu memang berbeda secara esensial? Ataukah kita sedang menghadapi devaluasi makna, di mana berkesenian hanya berhenti di permukaan sebagai pencitraan identitas tanpa adanya penyelaman substansi? Hal ini mengingatkan kita pada argumen bahwa seni hanyalah sebuah alat (instrumentum). Sebagaimana alat lainnya, ia sangat bergantung pada agensi atau tangan yang memegangnya. Seni bisa menjadi jembatan yang menghubungkan nurani antarmanusia, namun ia juga bisa menjadi tirai yang menutupi kebobrokan karakter di baliknya.
Sebagai penutup, tetap ada sebuah ruang harapan bagi mereka yang memegang teguh kejujuran dalam berkarya. Jika proses kreatif dijalani dengan integritas yang utuh, ia niscaya akan menjadi proses pengikisan terhadap segala sesuatu yang berlebih dan pemeliharaan terhadap apa yang rapuh dalam diri manusia. Di tengah segala kontradiksi moral yang melanda dunia kreatif hari ini, tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita menjaga agar proses berkesenian tetap menjadi instrumen yang menumbuhkan sisi kemanusiaan yang paling murni, yang selalu mendekatkan kita pada nurani dan kepekaan sosial.
Bandung, 25 April 2026.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


