Filsafat, Perlu Gitu Cuy?
Filsafat mendorong refleksi yang serius, pemikiran yang teliti, dan ekspresi yang jelas dari ide-ide yang terkadang kompleks dan sulit.

Sylvester Kanisius L.
Dosen Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung
26 Mei 2026
BandungBergerak – Filsafat kadang dicari dan dirindukan, tetapi kadang dihindari bahkan ditolak. Untuk yang pertama barangkali alasannya karena filsafat menyediakan dan menyajikan suatu kenikmatan bernalar yang tak ditemukan atau tersedia melalui ilmu pengetahuan pada umumnya, dan untuk yang kedua bisa jadi karena ketika bernalar, filsafat akan membantu memberikan pertumbuhan bagi pemikiran dan perkembangan bagi pengetahuan yang semakin dalam dan kritis. Jujur, karakter filsafat yang kritis, tajam, dan detail memang meresahkan bagi yang sudah asyik dengan dunianya yang mapan dan stabil. Apalagi mereka yang memang tidak terbiasa dengan cara kerja dialektika filosofis di mana sebuah sintesis tidak pernah sungguh-sungguh stabil dan permanen karena pada dirinya sendiri akan runtuh menjadi tesis baru yang berhadapan dengan anti-tesis. Cara kerja semacam itu memang mengancam apa pun yang terlanjur menyebut dirinya benar, universal, dan mapan.
Diskusi ini sekedar memberikan gambaran dan sedikit, barangkali, pembelaan terhadap berbagai ide keliru tentang filsafat sekaligus pembenaran alasan filsafat tetap diperlukan dalam kehidupan dewasa ini.
Baca Juga: Mencari Hal Baru dalam Filsafat?
Penafsir, Filsafat, dan Pendidikan
Membaca Urgensitas Filsafat Pendidikan dalam Kurikulum MBKM di Indonesia
Keliru Pikir tentang Filsafat
Ada banyak salah paham yang berkelintaran di pikiran banyak orang awam tentang filsafat. Tentu saja, keliru pikir tersebut bisa dimaklumi mengingat tidak semua orang familier dengan filsafat, bahkan sebagian lainnya barangkali anti-filsafat. Saya akan mencoba menginventarisasi beberapa yang sempat saya pikirkan.
Pertama bahwa filsafat itu hanya bikin pusing dan kadang jawabannya berputar-putar tanpa ujung sehingga membingungkan. Kedua, filsafat tidak memiliki kegunaan praktis dan tidak bisa dipakai untuk menghasilkan uang. Ini barangkali jenis salah paham yang paling banyak dijumpai. Salah paham lain yang sering ditemukan juga bahwa filsafat itu bisa membuat orang menjadi ateis. Dalam pandangan kaum awam, filsafat itu identik dengan belajar menjadi ateis. Yang lain menganggap filsafat identik dengan kepandaian atau kecerdikan memainkan kata-kata dan berorientasi pada opini sambil duduk-duduk sepanjang hari tanpa akhir.
Banyak juga yang beranggapan bahwa filsafat berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan abstrak dengan istilah-istilah yang sering kali terlalu rumit sehingga tidak mudah dipahami karena itu, tidak selalu cocok untuk percakapan santai. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa filsafat sebenarnya sama seperti teologi atau kegiatan keagamaan lainnya, atau bahwa sebagian besar melibatkan meditasi. Terakhir sejauh yang saya renungkan ada juga yang menganggap filsafat sama dengan psikologi atau bahkan mirip dengan ilmu ramalan. Dan masih banyak anggapan-anggapan lainnya yang menunjukkan betapa lemahnya pemahaman masyarakat kebanyakan tentang filsafat.
Anggapan-anggapan tersebut tentu saja bisa dimaklumi dan justru menantang kesadaran filosofis dunia filsafat dan barangkali juga banyak pegiat filsafat lainnya. Setidaknya anggapan-anggapan tersebut berkontribusi mendorong suatu diskusi terbuka dengan masyarakat awam mengenai filsafat dan apa perlunya untuk dunia kita masa kini.
Ada beberapa alasan yang masuk akal terkait munculnya anggapan yang keliru tentang filsafat sebagaimana disebutkan di atas. Pertama, bisa jadi kekeliruan tersebut karena filsafat tidak diajarkan secara luas di sekolah. Dibandingkan dengan sains atau ilmu sosial dan ilmu humaniora lainnya, filsafat memang tidak memiliki tempat dalam studi formal di sekolah dasar dan menengah. Kebanyakan siswa mengenal filsafat dari jejeran buku filsafat yang terpampang di toko buku atau perpustakaan. Kedua, filsafat lebih sering didengar dari pada dipelajari. Filsafat mungkin saja menjadi bahan obrolan di ruang tunggu kampus, tetapi sedikit orang yang benar-benar berminat mempelajarinya, sehingga banyak bias tentang filsafat tersebar di ruang publik tanpa sempat dijernihkan. Berikut, kekeliruan juga bisa jadi karena bahasa-bahasa filsafat dianggap terlalu tinggi dan sulit dipahami alias “bahasa planet
Ada juga alasan menarik lainnya bahwa sifat filsafat yang “subversif” terhadap tradisi atau apa pun yang menganggap dirinya mapan sehingga perlu digugat dan dibongkar. Selain itu, kurikulum pendidikan filsafat terlalu kaku, tetapi alasan lain yang Dunia yang semakin pragmatis dan utilitarianistik.” Alasan ini paling sering ditemukan dan terungkap dari masyarakat umum tentang filsafat.
Apa itu Filsafat?
Helen Beebee dan Michael Rush dalam buku Philosophy: Why It Matters mengungkapkan bahwa banyak orang tidak menyadari sebetulnya mereka sudah bertemu dengan filsafat ketika mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri atau berdebat tentang sesuatu yang menuntut pencarian jawaban yang mendalam dan menyeluruh, mereka sebetulnya sedang berhadapan dengan filsafat (2019:8).
Beebee dan Rush mengatakan bahwa ketika orang bertanya apakah saya memiliki kehendak bebas untuk mengendalikan keinginan saya sendiri ataukah saya berada di bawah kendali proses dan kondisi alamiah dan bahkan kultural yang disadari? Apakah memberi lebih bernilai dari pada tidak memberi? Apakah Anda pernah bertanya tentang keberadaan semesta dan segala konsekuensi kosmologis, termasuk kepercayaan tentang keberadaan Tuhan? Atau apakah kesetiaan perlu ketika pasangan tidak setia? Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di kepala mereka, itu artinya seseorang telah mengambil langkah pertama dalam filsafat. Semua ini adalah pertanyaan filosofis dan semua pertanyaan ini mungkin muncul dalam pikiran seseorang ketika ia mulai mencoba mendalami lebih serius fenomena yang ada di sekitarnya.
Secara harafiah berdasarkan etimologi dari bahasa Yunani definisi filsafat tampak sangat sederhana, yaitu philo berarti mencintai atau mengakrabi dan sophia yang berarti kebijaksanaan atau kearifan. Tentu saja mengartikan filsafat berdasarkan etimologi semata tampaknya tidak tepat karena tidak mendefinisikan apa pun. Karena upaya untuk mencapai kebijaksanaan itu harus membutuhkan proses dan perjuangan nalar serta melalui langkah-langkah metodologis yang khas dan terstruktur. Dengan demikian, definisi filsafat mau tak mau harus mencakup unsur proses dan metodologi.
Setidaknya ada empat unsur pokok dalam proses bernalar khas filsafat, yaitu pertama, kritis yang dapat diartikan sebagai kemampuan untuk berpikir secara objektif dan mendalam terhadap informasi atau data yang diperoleh. Artinya tidak puas diri terhadap jawaban yang tersaji, tetapi terus menggempur melalui upaya kritis. Kedua, radikal atau mendalam yang diartikan sebagai kemampuan berpikir sangat jauh ke dalam sampai ke akar persoalan. Berpikir filosofis berarti berpikir menembus ke dalam inti persoalan, tidak hanya di permukaan saja. Ketiga, sistematis yang diartikan bahwa berpikir filosofis itu harus teratur dan logis sehingga terbentuklah suatu pemahaman yang utuh, holistik, dan dapat dipahami. Dan unsur keempat adalah komprehensif. Filsafat tidak hanya melihat satu kepingan puzzle, tapi mencoba memahami seluruh skema realitas.
Selain unsur-unsur pokok tersebut filsafat dibangun berdasarkan tiga unsur fundamental lainnya, yaitu rasio atau nalar, argumentasi, dan dialketika. Rasio atau nalar diperlukan untuk membangun daya kritis, argumentasi agar runtut berpikir dapat terbentuknya kesimpulan yang tepat dan benar, sementara itu dialektika sangat diperlukan dalam upaya mencapai sebuah kesimpulan atau keputusan logis, yaitu melalu benturan antar ide, gagasan, atau pemikiran.
Sementara itu domain filsafat meliputi tiga aspek pokok, pertama ontologi meliputi upaya untuk mempelajari hakikat atau esensi keberadaan sesuatu. Misalnya, apakah sesuatu itu sungguh ada? Kedua, epistemologi yang menyangkut teori tentang pengetahuan, yaitu bagaimana mendapatkan pengetahuan atau atas dasar apa seseorang bisa tahu. Dan terakhir aksiologi, yang berkaitan dengan teori tentang nilai.
Bertrund Russell dalam bukunya The Problem of Philosophy memberikan jawaban terhadap pertanyaan mengenai perlunya filsafat melalui metafora sederhana bahwa kita kadang terlalu sibuk memberikan makanan untuk tubuh, tetapi lupa menyediakan makanan bagi pikiran. Lebih lanjut dia mengatakan, “......bahkan di dunia saat ini, kebaikan pikiran setidaknya sama pentingnya dengan kebaikan tubuh. Nilai filsafat hanya dapat ditemukan di antara kebaikan pikiran; dan hanya mereka yang tidak acuh terhadap kebaikan ini yang dapat diyakinkan bahwa mempelajari filsafat bukanlah sia-sia.” (1912:89-90).
Pada bagian selanjutnya dari buku yang sama Russell menegaskan bahwa “Nilai filsafat, sesungguhnya, sebagian besar dicari dalam ketidakpastiannya itu sendiri........ Filsafat harus dipelajari, bukan demi jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaannya, karena pada umumnya tidak ada jawaban pasti yang dapat diketahui kebenarannya, tetapi lebih demi pertanyaan-pertanyaan itu sendiri..." Filsafat penting karena ia berupaya dan mendorong pemahaman serta pemikiran yang jernih, dan karena ia bermanfaat secara praktis, menarik secara intrinsik, dan signifikan secara budaya dan historis.” (1912:91).
Dewasa ini perkembangan teknologi digital mencapai tahap yang tidak pernah terbayangkan dan memasukkannya ke dalam salah satu wacana etis paling menantang. AI dalam banyak hal tampak menggantikan peran manusia, bahkan yang paling fundamental sekali pun, yaitu bernalar. Manusia tampaknya secara perlahan, namun pasti, menyerahkan satu-satunya kemampuan kodrati yang menempatkan martabatnya lebih tinggi dari makhluk mana pun, yaitu bernalar kepada mesin ciptaannya. Konsekuensinya menjadi jelas lambat-laun manusia menjadi malas berpikir, otaknya menjadi tumpul, dan bukan tidak mungkin suatu ketika nalarnya akan lumpuh.
Filsafat membantu manusia berpikir kritis, tajam, dan holistik untuk mencermati konsekuensi humanistik yang bisa mengancam keberadaan manusia dan mengungkapkan solusi etis-filosofis untuk mengatasinya. Filsafat dapat membantu menunjukkan kemungkinan tak terduga dari kehadiran alat pikir buatan terhadap eksistensi kemanusiaannya, mengerti lebih mendalam dunia di mana kita hidup, dan menanamkan kesadaran etis dalam diri manusia.
Selain hal tersebut, penulis juga mencatat bahwa filsafat setidaknya bisa membantu kerja sama antarilmu (multi disipliner) melalui perannya sebagai jembatan penghubung antarilmu yang semakin terspesialisasi. Filsafat bisa menjadi medan netral yang menghubungkan antara ilmu yang satu dan ilmu lainnya ketika mencoba menemukan solusi bersama terhadap fenomena atau persoalan yang dihadapi.
Pada dasarnya, filsafat adalah tentang pemahaman sistematis terhadap ide-ide kita dan penilaian logis terhadap argumen-argumen kita. Filsafat mendorong refleksi yang serius, pemikiran yang teliti, dan ekspresi yang jelas dari ide-ide yang terkadang kompleks dan sulit. Jauh lebih mendasar bahwa faktanya dalam filsafat tidak ada ide yang benar-benar “dibuang”. Bahkan argumen yang berusia 2.500 tahun, misalnya dari pemikiran Plato dan Aristoteles masih tetap relevan untuk diperdebatkan hari ini seolah-olah baru ditulis kemarin.
Sehingga ada semacam ungkapan bahwa dalam filsafat “sampah” satu orang adalah tesis doktoral untuk orang lain. Artinya dalam filsafat tidak ada yang benar-benar selesai. Akhir adalah awal pencarian baru, dan momennya akan terus berulang. Tapi setidaknya ada momen jeda antara akhir dan awal baru ... di situlah dinamika filosofis terjadi. Karena itu, salah satu alasan perlunya studi filsafat formal adalah karena hal tersebut dapat membentuk keahlian dan keakraban dengan serangkaian teknik, strategi, dan instrumen intelektual yang dapat dikembangkan dan diasah, serta dapat memberikan informasi positif pada diskusi di berbagai bidang.
***
*Makalah ini disampaikan pada disksi santai “Kelas Sore Filsafat” di Perpustakaan Bunga di Tembok pada tanggal 30 April 2026.
**Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


