• Berita
  • Mengapa Banjir Bandung Selatan Berulang?

Mengapa Banjir Bandung Selatan Berulang?

Dayeuhkolot kembali lumpuh setelah Sungai Citarum meluap. Masalah drainase dan tingginya alih fungsi lahan di Bandung Selatan belum terselesaikan hingga kini.

Pedagang menarik tabung-tabung gas elpiji melon di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, 26 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Penulis Iman Herdiana28 Mei 2026


BandungBergerak - Delman melintas perlahan di Jalan Raya Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, 26 Mei 2026, yang berubah menjadi genangan kecokelatan. Di tengah banjir yang kembali merendam Bandung Selatan, kendaraan tradisional itu justru menjadi salah satu alat transportasi warga untuk menembus jalan yang terendam air.

Pantauan BandungBergerak, banjir yang bertahan hingga tiga hari di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, memperlihatkan persoalan banjir di kawasan Bandung Selatan belum juga terselesaikan. Hujan lebat yang mengguyur wilayah hulu Sungai Citarum sejak akhir pekan memicu meluapnya anak-anak sungai dan memperparah genangan di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang.

Sejumlah aktivitas warga lumpuh akibat banjir. Warga Kampung Bojongasih terpaksa menggunakan perahu untuk beraktivitas di tengah genangan yang belum surut. Pedagang gas elpiji melon terlihat menarik tabung-tabung gas melewati banjir di Desa Dayeuhkolot, sementara sejumlah toko memilih tutup dan meliburkan pegawainya karena akses menuju lokasi usaha terendam air.

Pegawai toko libur karena banjir di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, 26 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pegawai toko libur karena banjir di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, 26 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Genangan juga menghambat akses transportasi penghubung Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Dua ruas jalan provinsi di kawasan Bandung Selatan tergenang sehingga kendaraan roda dua banyak yang mogok dan arus lalu lintas tersendat.

“Banyak motor yang mogok, tetapi ada juga yang selamat menerabas genangan banjir,” kata petugas, diakses dari laman resmi, Selasa, 26 Mei 2026.

Ketinggian air di ruas jalan mencapai 20 hingga 30 sentimeter, sedangkan di permukiman warga genangan melebihi lutut orang dewasa. Di Jalan Raya Dayeuhkolot, air bahkan mencapai sekitar 50 sentimeter sehingga kendaraan roda dua tidak dapat melintas sama sekali.

Warga korban banjir di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, 26 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Warga korban banjir di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, 26 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Banjir akhir Mei ini terjadi hanya berselang sekitar satu bulan setelah banjir besar pada April 2026 yang juga merendam Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang. Saat itu, banjir memutus akses jalan dan memaksa ratusan warga mengungsi. BPBD Kabupaten Bandung mencatat lebih dari 34 ribu jiwa terdampak di tiga kecamatan tersebut.

Pola banjir berulang dalam waktu berdekatan menunjukkan kawasan Bandung Selatan masih rentan terhadap luapan Sungai Citarum dan buruknya sistem drainase. Hujan deras di wilayah hulu menyebabkan debit anak Sungai Citarum meningkat. Ketika kapasitas drainase tidak mampu menampung limpasan air, genangan meluas ke jalan raya dan kawasan permukiman.

Baca Juga: Banjir, Kawasan Bandung Utara, dan Penggusuran
Bencana Banjir Mengepung Kota Bandung

Alih Fungsi Lahan

Kerentanan Bandung Selatan dipengaruhi perubahan penggunaan lahan di kawasan Bandung Selatan. Pertumbuhan permukiman dan kawasan terbangun dinilai mengurangi daerah resapan air sehingga limpasan air hujan lebih cepat masuk ke kawasan permukiman dan jalan raya.

Kondisi tersebut sejalan dengan penelitian Ariel Ragawilafa dan Medi Mahendra dari Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Bale Bandung. Kedua peneliti menyatakan, kondisi banjir dipengaruhi faktor geografis, kerusakan lingkungan seperti berkurangnya tutupan hutan dan daerah resapan air, serta tingginya intensitas curah hujan akibat perubahan iklim.

Warga menggunakan perahu di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, 26 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Warga menggunakan perahu di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, 26 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Data menunjukkan banjir di Kabupaten Bandung memiliki frekuensi tinggi dengan pola kejadian yang fluktuatif. Pada 2012 tercatat 17 kejadian banjir, kemudian meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 46 kejadian pada 2013.

Setelah lonjakan pada 2013, jumlah kejadian banjir sempat menurun menjadi 17 kejadian pada 2014 dan mencapai titik terendah pada 2015 dengan 11 kejadian. Namun pada 2016, jumlah kejadian kembali melonjak hingga mencapai 45 kejadian, hampir menyamai kondisi pada 2013.

Warga korban banjir di Desa Bojongasih, Kabupaten Bandung, 26 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Warga korban banjir di Desa Bojongasih, Kabupaten Bandung, 26 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Periode 2017 hingga 2020 relatif lebih stabil dengan jumlah kejadian berkisar antara 18 hingga 30 kejadian per tahun. Meski demikian, pada 2021 kembali terjadi lonjakan hingga mencapai 50 kejadian, menjadikannya tahun dengan intensitas banjir tertinggi selama periode pengamatan.

Lonjakan besar pada 2013, 2016, dan 2021 menunjukkan masih lemahnya sistem pengendalian banjir, khususnya infrastruktur.

“Secara keseluruhan, data tersebut menegaskan pentingnya strategi mitigasi banjir yang lebih terencana dan berkelanjutan melalui pembangunan infrastruktur pengendali banjir, penguatan sistem peringatan dini, penataan ruang yang lebih ketat, serta pemberdayaan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana,” papar para peneliti.

*Data reportase disokok liputan lapangan fotografer BandungBergerak Prima Mulia

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//