• Opini
  • MAHASISWA BERSUARA: Sebuah Alasan Mendukung Persib, Kisah Tentang Barudak

MAHASISWA BERSUARA: Sebuah Alasan Mendukung Persib, Kisah Tentang Barudak

Di kota-kota perantauan, Persib bukan lagi sekadar klub sepak bola, ia adalah manifesto solidaritas.

Fachriza Anugerah

Mahasiswa Filsafat UGM

Ribuan bobotoh menyemut sambut pemain Persib yang di arak di mobil terbuka saat pawai kemenangan Persib Bandung di BRI Super League 2025/2026 di Bandung, 24 Mei 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

29 Mei 2026


BandungBergerak – Di tengah riuh konvoi dan sorak-sorak hattrick juara Persib, saya teringat pada malam ketika Persib yang dinakhodai Jaya Hartono dari pinggir lapangan dan dikomandoi Nova Arianto di atas lapangan melawan Persela pimpinan Hartono Ruslan dan Kapten Fabiano Beltrame. Saya menonton dari utara Sukabumi, rumah uwak saya di pinggir jalur kereta. Malam itu Persib tumbang di Lamongan oleh gol tunggal Fabiano Beltrame. Ada rasa kecewa dari bocah kelas satu Sekolah Dasar malam itu. Dan kenyataannya Persib bukanlah klub yang mentereng prestasi saat itu. Bahkan di tahun yang sama, saya menyaksikan bagaimana Persib tergilas di Jakabaring secara telak 6-0 oleh Sriwijaya dalam ajang Inter Island Cup. Kenangan saya tentang Persib bukanlah tentang kejayaan.

Selama bertahun-tahun kondisinya tetap begitu-begitu saja sampai pada suatu malam 2014, sepakan penalti Achmad Jufriyanto, pemain yang ikut menggilas Persib pada ajang Inter Island Cup silam. Ia mengoyak jala di stadion yang sama, Jakabaring, tapi kali ini untuk Persib. Tendangan yang melepaskan kemarau panjang prestasi Persib. Persib juara liga setelah menumbangkan Mutiara Hitam, Persipura. Tak hanya itu, lagi-lagi Achmad Jufriyanto berpartisipasi dalam pertandingan Persib-Sriwijaya tahun depannya dalam Final Piala Presiden. Namun, pada kesempatan itu, pemain ini berlaga untuk Persib, ia membuat gol lagi. Ditambah dengan tandukan Makan Konate yang memantul ke punggung Agus Dian lalu masuk ke gawang. Skor 2-0 bertahan sampai usai. Persib kembali juara. Setelah fase ini, Persib kembali jatuh, bangkit, dan jatuh lagi sampai kedatangan Bojan Hodak. Dan setelah itu adalah sejarah: hattrick juara.

Pada saat juara 2014, saya tidak berada di Bandung maupun Jawa Barat. Saya tinggal di salah satu kota penyangga Jakarta. Dan kali ini, saat Persib tiga kali juara berturut-turut, saya berada di tanah Mataram. Saya tak pernah melihat Persib juara dari dekat. Tidak di Bandung bahkan tidak pula di Jawa Barat. Mengapa saya masih mendukung Persib? Jawaban saya: karena Persib adalah bahasa para barudak. Ia adalah bagian dari pantulan kesadaran kolektif, tempat masyarakat mengawetkan juga melembagakan diri. Bobotoh, pendukung Persib adalah para barudak tersebut.

Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Jangan Teruskan Rencana Menutup Program Studi yang Tak Relevan dengan Industri
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Keadilan Ditentukan Keramaian
MAHASISWA BERSUARA: Dolar Naik Jadi Candaan, Rakyat Kecil Jadi Taruhan

Bahasa Perkawanan

Bagi mereka, sepak bola adalah bahasa perkawanan. Melalui operan bola kaki ke kaki, pertemanan tercipta. Melalui umpan terobosan dan pergerakan ke ruang, ikatan (chemistry) terasah. Saat sepak bola terjeda sebagai permainan, ia menjelma menjadi hal lain, yaitu diskursus/wacana. Ia dibicarakan, diperhatikan, didebatkan, ditonton, dinikmati, didukung, diteriaki, disoraki, dan ditangisi. Dari suasana batin itu perkumpulan dan komunitas terbangun. Di Bandung dan Jawa Barat, komunitas ini tumbuh dan bermuara pada Persib. Persib lahir dari kebatinan tersebut. Komunitas-komunitas tersebutlah yang saya sebut barudak. Dalam bahasa Sunda, ia adalah kata jamak dari budak artinya “anak”. Barudak bermakna “anak-anak” atau lebih tepatnya saya memaksudkannya sebagai perkumpulan muda-mudi.

Barudak tidaklah harus seorang Sunda tulen. Ia juga tidak harus selalu warga Jawa Barat. Barudak adalah kumpulan dan perkawanan yang tumbuh dalam atmosfer kultur bernuansa Jawa Barat ataupun Sunda. Diaspora Jawa, Batak, Bugis, Minang, dan Papua adalah di antaranya yang saya temukan telah menjadi bagian dari barudak. Bahkan saya sendiri bukan seorang Sunda tulen. Ia bukan identitas yang tertutup dan statis. Ia dinamis dan terus menerus bergerak. Dari perkawanan tersebutlah solidaritas terbentuk. Sebuah kekuatan yang dapat menggoyangkan kekuasaan arogan. Perkawanan yang erat akan menghasilkan persatuan yang kuat.

Kalau Spirit Bandung adalah semangat Anti-Imperialisme dunia, maka Persib adalah semangat barudak. Semangat yang mengakar dari sosio-ekologis Sunda, Jawa Barat, dan Bandung, tapi ia menjulang melintasi sekat etnisitas dan kedaerahan belaka.

Pada april 1955, Bandung menjadi lokasi perhelatan konferensi Asia-Afrika. Penyelenggaraan konferensi ini tidak hanya berarti bagi negeri-negeri Asia-Afrika saja, tetapi sejarah dunia secara umum. Di tengah apitan dua adidaya: Amerika Serikat & Uni Soviet. Negeri-negeri yang baru merdeka mengonsolidasikan sebentuk kekuatan tanpa melibatkan kedua raksasa tersebut. Kelak, konferensi ini juga yang menginspirasi gerakan pembebasan nasional, solidaritas bangsa terjajah, dan dekolonisasi di negeri-negeri bangsa berwarna. Singkatnya, konferensi ini melahirkan semangat anti-imperialisme dan Bandung adalah saksi kelahirannya. Semangat itu disebut Spirit Bandung. Namanya Spirit Bandung tapi, semangatnya sampai ke Kongo.

Senada dengan Spirit Bandung, Persib bukan hanya soal Bandung semata, ia hadir utamanya di Jawa Barat, juga dalam Urang Sunda, dan pada mereka yang merasa bahwa dirinya adalah bagian dari komunitas sadulur, sabaturan, sabarudak, saderek, sabalad  dan sabaraya untuk urusan persepakbolaan. Ia bisa mewujud pada burjo-burjo di Yogyakarta dan juga hadir di kaki Halimun Salak Sukabumi. Ruang perjumpaan inklusif para barudak di warung-warung burjo Yogyakarta ini memicu sebuah dejavu sejarah. Di kota-kota perantauan, Persib bukan lagi sekadar klub sepak bola, ia adalah manifesto solidaritas. Di titik inilah, gerakan para barudak menemukan resonansinya dengan “Spirit Bandung” 1955 dalam Konferensi Asia-Afrika. Jika dahulu Bandung menjadi episentrum solidaritas global melawan imperialisme, kini Persib menjadi “Semangat Barudak” yang berintikan perkawanan.

Persib yang Dicintai

Barudak di stadion ini adalah barudak sama yang juga mengaspal di jalan dengan jaket hijau, kuning, dan oranye; mereka adalah kelompok yang juga memanggul beras dan galon melalui pasar; mereka adalah kelompok sama yang memindahkan nyanyian di tribun ke dalam barisan jalanan di depan pagar kekuasaan atau menahan laju buldoser di depan rumah warga.

Saya belajar mencintai Persib Bandung bukan dari gemuruh magis Stadion Siliwangi, melainkan dari layar kaca tabung di sudut Sukabumi, ditemani memori pahit tentang kekalahan telak enam gol tanpa balas. Dari titik yang jauh itu, saya melihat bahwa daya pikat Persib bagi orang-orang di luar Bandung berakar dari kesamaan nasib. Klub ini dicintai di luar daerah karena ia merepresentasikan napas kaum akar rumput; sebuah simbol perjuangan kelas pekerja yang mencari ruang solidaritas di tengah kerasnya aspal jalanan.

Pada akhirnya, Persib bukan lagi sekadar urusan taktik di atas rumput hijau atau angka di papan skor. Ia telah bermutasi menjadi sebuah ruang bertahan hidup. Melalui “Semangat Barudak”, kita melihat bahwa sepak bola memiliki kekuatan magis untuk meruntuhkan sekat geografis dan menyatukan mereka yang terasing. Sebab, esensi mendukung Persib telah melampaui fanatisme buta, ia adalah ritual merawat perkawanan, sebuah pelukan hangat solidaritas, dan penanda bahwa di mana pun barudak berkumpul, di sanalah rumah berada.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//