Rayakan Persib Juara dengan Cara Berbeda, Bobotoh Kuliner Susuri Jejak Sejarah Kota Bandung
Puluhan bobotoh mengikuti tur sejarah bertajuk Balik Bandung untuk mengenal asal-usul kota, bangunan bersejarah, hingga warisan budaya Sunda.
Penulis Yopi Muharam1 Juni 2026
BandungBergerak - Kemenangan Persib Bandung untuk ketiga kalinya menggondol piala Liga Indonesia menjadi momen bersejarah bagi Pangeran Biru. Di tengah euforia ribuan bobotoh yang merayakan gelar juara di berbagai sudut kota, sekelompok kecil suporter memilih cara berbeda. Mereka merayakan keberhasilan Persib dengan menyusuri sejarah Kota Bandung. Kelompok itu adalah Bobotoh Kuliner, komunitas yang telah eksis sejak 2012.
Sekitar 50 bobotoh dari berbagai generasi berkumpul di Toko Pegashoes, Jalan Kembang Sepatu, Cikudapateuh, Kota Bandung, Sabtu, 30 Mei 2026. Kegiatan bertajuk Balik Bandung, Menyusuri Sudut Lain Kota ini merupakan kolaborasi Bobotoh Kuliner, Collectiva Cult, dan Bandoeng Waktoe Itoe (BWI).
Ojel Sansan Yusandi dari BWI menjadi pemandu kegiatan yang menempuh rute lebih dari lima kilometer dengan delapan titik pemberhentian. Melalui susur sejarah ini, peserta diajak mengenal kembali asal-usul Kota Bandung serta perkembangan kawasan-kawasan penting yang membentuk wajah kota hingga sekarang.
Titik pertama yang dikunjungi adalah Titik Nol Kilometer Bandung yang berada di kawasan Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, Jalan Asia Afrika. Di lokasi tersebut, Ojel menjelaskan sejarah berdirinya Kota Bandung.
Menurut dia, Bandung resmi berdiri pada 25 September 1810, yang ditandai dengan pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Dayeuhkolot ke pusat kota saat ini atas prakarsa Bupati Bandung ke-9, R.A. Wiranatakusumah II.
"Jangan bayangin kota Dayeuh Kolot kayak kota Bandung sekarang. Jadi kota atau Dayeuh zaman dulu itu yang kayak kampung zaman sekarang gitu,” jelas Ojel.
Ia menjelaskan, setelah menjadi pusat pemerintahan, Bandung berkembang menjadi kota modern yang kemudian dipimpin seorang wali kota atau burgemeester pada masa kolonial.
Mengenai asal-usul nama Bandung, Ojel menyebut terdapat berbagai tafsir. Salah satu yang paling dikenal adalah kata bandung yang berarti berpasangan atau berjajar.
“Makanya kalo ada orang yang berbicara, satunya itu ngabandungan,” ujarnya lewat pengeras suara.
Di lokasi yang sama, peserta juga mendapat penjelasan mengenai bangunan yang kini menjadi kantor Dinas Bina Marga. Pada masa kolonial, gedung tersebut merupakan rumah dinas controleur, pejabat yang bertugas mengawasi jalannya pemerintahan kolonial.
Perjalanan berlanjut ke kawasan Jalan Asia Afrika. Di depan Hotel Preanger, Ojel menjelaskan bahwa bangunan tersebut merupakan hotel pertama di Bandung yang dimiliki pengusaha Jerman.
Menurut dia, masih banyak masyarakat yang mengira Hotel Savoy Homann merupakan hotel pertama di kota ini. Padahal, Preanger lebih dahulu berdiri dan awalnya merupakan toko kelontong sebelum berkembang menjadi hotel.
Hotel Preanger itu juga merupakan yang pertama kali menjajakan minuman keras di Bandung. Pada 1920 resmi berganti menjadi Preanger di tahun 1929, yang sebelumnya gedung tersebut merupakan toko klontong. Sememtara hotel Savoy merupakan hotel kedua di Kota Bandung, yang sama dimiliki oleh orang Jerman. Gaya bangunannya khas karya arsitek Aalbers yang sedang digandrungi di zaman itu.
Tak jauh dari sana, peserta diajak melihat sejumlah bangunan bersejarah lain, termasuk bekas gedung Landbouwbenoodigdheden Import, yang disebut sebagai salah satu pelopor toko modern dengan etalase di Bandung.
Di seberangnya, terdapat bangunan yang pernah menjadi kantor Nederlandsch-Indische Escompto Maatschappij, salah satu bank pertama yang beroperasi di Bandung sebelum kemudian berpindah lokasi.
Peserta juga diajak menelusuri sejarah Gedung Merdeka yang dahulu bernama Societeit Concordia, pusat pergaulan elite kolonial Belanda. Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut digunakan sebagai lokasi Konferensi Asia-Afrika.
Di kawasan Braga Pendek, Ojel menunjukkan bangunan yang pernah menjadi toko alat musik pertama di Bandung. Menurutnya, keberadaan toko tersebut turut berkontribusi terhadap berkembangnya identitas Bandung sebagai kota musik.
Titik berikutnya adalah Pendopo Kota Bandung dan Alun-alun Bandung. Ojel menjelaskan bahwa pendopo dibangun seiring pemindahan pusat pemerintahan ke Bandung pada awal abad ke-19.
Sementara itu, alun-alun tidak hanya berfungsi sebagai ruang publik, tetapi juga menjadi pusat aktivitas pemerintahan. Di sekitarnya terdapat pasar, kantor polisi, pengadilan, hingga penjara.

Dalam catatan sejarah, alun-alun juga pernah menjadi lokasi pelaksanaan hukuman gantung. Ia menuturkan, dua orang pribumi pernah dihukum mati setelah tertangkap menyelundupkan kopi pada masa kolonial.
Ojel juga menjelaskan perubahan bentuk Masjid Agung Bandung. Menurutnya, bangunan masjid tersebut pada awalnya tidak memiliki kubah. Kubah baru ditambahkan pada era Presiden Soekarno ketika Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika.
Selain itu, ia mengulas filosofi pohon beringin yang lazim ditemukan di alun-alun. Dalam tradisi Sunda, pohon beringin dipandang sebagai simbol penghubung antara manusia dan alam spiritual.
“Tetapi yang kerap dianggap orang Belanda, pribumi itu sedang menyembah pohon. Kata pohon itu berakar dari kata memohon,” jelasnya.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Jalan Ciguriang, lokasi yang disebut sebagai kawasan pasar modern pertama di Bandung.
Menurut Ojel, pasar tersebut berdiri pada awal abad ke-19 dan menjadi pusat distribusi logistik yang terhubung dengan Dayeuhkolot. Namun pada 1845, pasar itu terbakar sehingga aktivitas perdagangan di Bandung sempat mengalami kemunduran.
Setelah peristiwa tersebut, pemerintah kemudian membangun pasar baru yang kelak dikenal sebagai Pasar Baru Bandung.
“Hingga pada akhirnya dibangun lah Pasar Baru yang sekarang ini. Dulunya Pasar Baru dinobatkan sebagai pasar tersebersih se-Nusantara,” bebernya.
Baca Juga: Persib dan Politik Kebudayaan
CERITA ORANG BANDUNG #113: Iwonk, Mencetak Keabadian Persib di Pinggiran Ciganitri
Merawat Sejarah Melalui Komunitas
Setelah menyelesaikan susur kota selama lebih dari empat jam, peserta berkumpul di sebuah kafe di kawasan Taman Tegallega. Mereka menikmati makan siang bersama dengan hidangan nasi liwet dan pertunjukan musik tradisional Tarawangsa.
Pemilik Pegashoes sekaligus anggota Bobotoh Kuliner, Wachyu Ibay, mengatakan kegiatan ini dirancang untuk menggabungkan olahraga, sejarah, kuliner, dan musik dalam satu pengalaman yang menyenangkan.
“Kita kemas elaborasi lah ya. Olahraganya ada, experience musiknya ada,” kata Ibay kepada BandungBergerak.
Menurut dia, pengenalan sejarah menjadi penting di tengah derasnya pengaruh budaya luar, terutama bagi generasi muda.
"Kita sering terjebak dan terinabobokan dengan infiltrasi, derasnya budaya luar," lanjut Ibay.
Tarawangsa dipilih sebagai bagian dari acara untuk memperkenalkan salah satu warisan budaya Sunda kepada peserta.
“Tarawangsa itu diharapkan menjadi stimulus lah ya bahwa keanekaragaman budaya leluhur kita tuh salah satunya itu,” jelasnya.
Kegiatan ini juga diikuti perempuan dan keluarga yang membawa anak-anak. Salah seorang peserta, Niken Resti Pratiwi, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru tentang Bandung.
Ia baru mengetahui bahwa Hotel Preanger merupakan hotel pertama di Bandung dan memahami asal-usul Pasar Baru yang berkaitan dengan relokasi pasar lama di Jalan Ciguriang.
“Apa yang kita rasa kita udah tahu tuh ternyata bisa diperbaiki gitu ilmu-ilmunya tuh di-upgrade lagi,” ujarnya.
Bagi Niken, memahami sejarah merupakan bagian penting dari upaya merawat identitas kota.
“Merawat sejarah itu kayak merawat leluhur kita juga,” tandasnya.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


