• Opini
  • CERITA GURU: Dari Kapur ke Kecerdasan Buatan, Jejak Tiga Generasi Membangun Peradaban Pendidikan Baru

CERITA GURU: Dari Kapur ke Kecerdasan Buatan, Jejak Tiga Generasi Membangun Peradaban Pendidikan Baru

Peradaban tidak dibangun dalam satu generasi. Ia adalah hasil estafet panjang, di mana setiap generasi menyumbangkan perannya,

Marlina

Seorang guru BK, pendidik, dan penggiat kurikulum pendidikan inklusi. Bisa menghubungi saya di Instagram @linamansyur_

Guru bukan sekadar mengajar pelajaran di kelas, ia mengajarkan tentang kehidupan bagi murid-muridnya. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

3 Juni 2026


BandungBergerak – Suara kapur berderit di papan tulis pernah menjadi musik pagi bagi banyak anak bangsa. Di ruang kelas sederhana, seorang guru berdiri di depan, menulis perlahan, sementara murid-murid menyalin dengan tekun di buku tulis mereka. Waktu itu, belajar adalah tentang kesabaran, menunggu, mencatat, dan menghafal. Kini, pemandangan itu berubah drastis. Seorang siswa cukup membuka ponsel di tangannya dan dalam hitungan detik, jutaan informasi tersedia dengan lengkap. Tidak ada lagi batas ruang dan waktu. Dunia telah berpindah dari papan tulis ke layar sentuh. Dan di masa depan, mungkin anak-anak bahkan tidak perlu lagi ”mencari” informasi karena kecerdasan buatan akan menyediakannya sebelum mereka bertanya.

Perjalanan ini bukan sekedar perubahan alat belajar, melainkan jejak panjang peradaban yang dibangun oleh tiga generasi yaitu Milenial, Generasi Z (Gen Z), dan Generasi Alpah (Gen Alpha). Generasi Milenial adalah saksi dari dua dunia, mereka tumbuh dalam sistem pendidikan yang masih konvensional dengan buku paket, catatan tangan, dan guru sebagai sumber utama pengetahuan. Informasi tidak datang dengan mudah, ia harus dicari, dipahami, dan diulang. Namun justru di situlah terbentuk ketekunan dan daya juang. Pendidikan pada masa ini menambah fondasi, disiplin, kesabaran, dan rasa hormat terhadap proses belajar.

Berbeda dengan itu, Gen Z lahir di tengah darasnya arus digital. Internet bukan lagi hal baru, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka belajar melalaui video, aplikasi dan platform daring. Informasi hadir dalam bentuk yang lebih cepat, visual, dan interaktif. Kreativitas tumbuh pesat, begitu pula kemampuan beradaptasi. Namun kemudian, kemudahan ini juga membawa tantangan baru. Di tengah banjir informasi, tidak semua pengetahuan memiliki kualitas yang sama. Distraksi datang dari berbagai arah, dan fokus menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan. Pendidikan bagi Gen Z bukan lagi sekedar menyerap ilmu, tetapi juga memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan.

Lalu muncul pertanyaan, siapa yang akan dihadapi oleh Generasi Milenial dan Gen Z? Jawabannya adalah Gen Alpha–generasi yang lahir pada tahun 2010-sekarang. Gen Alpha sebagian telah duduk di Sekolah Dasar dan mulai dihadapi oleh guru-guru pada tingkatan tersebut. Artinya generasi ini sudah berhadapan langsung dengan generasi sebelumnya dan ini akan terus berlangsung selama beberapa tahun ke depan.

Riset menunjukkan bahwa Gen Alpha sudah bisa menggunakan layar sentuh dan menjelajahi berbagai aplikasi sejak usia dua tahun. Hal ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya yang butuh waktu bertahun-tahun untuk menguasai teknologi serupa. Sejak kecil, mereka terbiasa dengan perangkat digital sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari menonton video, bermain gim, hingga berinteraksi dengan dunia luar melalui layar gadget. Kemampuan ini bukan hanya sekedar mengikuti tren, tetapi juga menunjukkan betapa cepatnya anak-anak masa kini beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang terus berubah. Hal ini menegaskan bahwa Gen Alpha memiliki adaptabilitas yang tinggi terhadap teknologi, yang menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka.

Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Gen Alpha, bukan lagi sesuatu yang asing atau perlu dipelajari secara khusus. Mereka tumbuh dengan smartphone, tablet, dan perangkat pintar lainnya yang selalu ada di sekitar mereka. Meskipun Gen Alpha sangat mahir dalam menggunakan teknologi, ada tantangan besar yang harus mereka hadapi. Hidup di era digital yang serba cepat membuat mereka terbiasa mendapatkan segala sesuatu dengan instan mulai dari hiburan, informasi hingga pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Hal ini membentuk pola pikir bahwa segala sesuatu bisa didapatkan dengan cepat dan mudah, tanpa harus melalui proses yang panjang. Akibatnya, kesabaran dalam menghadapi tantangan dan menghargai usaha yang diperlukan untuk mencapai sesuatu bisa menjadi hal yang kurang mereka biasakan.

Baca Juga: CERITA GURU: Bagaimana Hendaknya Guru Memandang Teknologi
CERITA GURU: Peran Guru Profesional di Era Global
CERITA GURU: Ketika Sekolah Dituntut Mempertahankan Praktik Membaca di Bawah Rezim Citra

Setiap Generasi Punya Tantangannya

Di sinilah refleksi menjadi sangat penting. Setiap generasi memiliki kelebihan dan tantangannya masing-masing. Milenial dengan ketekunannya, Gen Z dengan kreativitasnya, dan Gen Alpha dengan potensinya dalam menguasai teknologi. Ketiganya bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk saling melengkapi dalam membangun peradaban baru.

Karakteristik setiap generasi bersifat melekat dan merupakan pembawaan alami sebagian besar individu di dalamnya. Karakteristik tersebut mempengaruhi kecenderungan mereka dalam melakukan konsumsi, berperilaku, berinteraksi dan merancang masa depan. Ini yang kemudian mendasari terjadinya rekonstruksi dunia dan peradaban suatu generasi ke dalam berbagai perubahan dan mekanisme hidup yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Selepas era dominasi baby boomers dan Generasi X, peningkatan jumlah populasi Generasi Milenial menjadi tonggak dimulainya perubahan kehidupan manusia. Kondisi tersebut menyebabkan perekonomian dan berbagai urusan kehidupan mengalami pergeseran pengelolaan dan memicu perubahan pasar di dalamnya (Chiavarone, 2019). Namun era Milenial ini akan berganti pada generasi setelahnya yang dinilai memiliki sifat dan karakteristik yang sangat berbeda serta merupakan generasi yang minim batasan. Generasi ini memiliki harapan, preferensi, dan perspektif kerja yang berbeda yang dinilai menantang bagi banyak organisasi yang ada (Jenkins, 2017).

Karakteristik utama dari generasi yang lahri setelah Generasi Milenial adalah mobilitasnya yang dinamis dan realitas di sekelilingnya yang bersifat ganda. Sebagai generasi pertama yang sebenar-benarnya tumbuh bersama internet. Generasi ini memiliki karakter yang fleksibel dan toleran terhadap perbedaan budaya. Mereka juga banyak bereksplorasi melalui jejaring yang mereka bangun secara global dan membuat mereka terhubung satu sama lain. Keterkaitan generasi dengan dunia pendidikan semakin luas dan terbuka, dibangun melalui interaksi sosial mereka di dunia maya sekaligus dunia nyata. Mereka memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam komunitasnya, karena terpaan banyak informasi yang mereka temukan dari internet. Media sosial dan dunia digital menjadikan realitas generasi ini ganda, yaitu antara dunia nyata dan virtual. Ini kemudian menyebabkan mereka menjadi figital karena mengalami kesulitan membuat pembeda di antara keduanya.

Namun, praktik pendidikan saat ini, dinilai kehilangan arah, karena sering kali gagal menciptakan tatanan generasi yang berkarakter sekaligus berdaya. Teknik-teknik belajar di sekolah, mengalami ketidaksesuaian dengan karakteristik dan kebutuhan siswanya. Pengalaman bersekolah sering kali menghancurkan semangat anak-anak untuk belajar, keingintahuan mereka terhadap dunia dan kemauan mereka untuk peduli terhadap sesamanya. Sementara itu, kajian menemukan bahwa sekolah tidak pernah menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswanya. Praktik pendidikan di Indonesia, juga tidak sepenuhnya mencapai tujuan pendidikan yang seutuhnya. Pendidikan di Indonesia berhasil menjadikan para siswa untuk bersekolah, namun school without learning. Sekolah belum berhasil memahami sepenuhnya karakteristik siswa dan menginternalisasikannya dalam praktik pembelajaran di dalam kelas. Praktik pembelajaran tidak sekedar perlu dikontekstualkan dalam kehidupan sehari-hari siswa, tetapi juga perlu disesuaikan kembali berdasarkan pada pemahaman mendalam tentang karakter siswa saat ini.

Di era 5.0 adalah tahap perkembangan baru di mana teknologi tidak hanya digunakan untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga diselaraskan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Berbeda dengan era sebelumnya yang berfokus pada otomatisasi dan digitalisasi. Era 5.0 menekankan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kesejahteraan manusia, konsep ini bertujuan agar teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), tidak hanya menjadi alat produksi dan inovasi, tetapi juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas hidup dan mempertahankan nilai-nilai etika dalam penggunaannya. Kemajuan ini harus tetap mempertimbangkan aspek moral, transparansi, serta perlindungan terhadap hak asasi manusia. Dengan pendekatan yang seimbang, era 5.0 dapat menciptakan lingkungan di mana teknologi bukan hanya sekedar mendukung produktivitas, tetapi juga memperkuat aspek sosial, emosional, dan budaya yang menjadi esensi dari kehidupan manusia.

Dalam dunia pendidikan, kecerdasan buatan dapat meningkatkan kreativitas siswa dan membantu guru dalam menyusun metode pembelajaran yang lebih efektif. Dengan adanya teknologi ini, proses belajar menjadi lebih interaktif, akses terhadap informasi lebih luas, dan pembelajaran bisa lebih disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Namun ada pertanyaan besar yang perlu dijawab: apakah kehadiran AI atau kecerdasan buatan dapat menggantikan peran guru sebagai pendidik dan pembimbing emosional siswa? Apakah kecerdasan buatan bisa memahami empati, kreativitas, dan nilai-nilai sosial yang biasanya ditanamkan oleh interaksi manusia? Inilah tantang yang perlu dihadapi, di mana teknologi harus tetap berfungsi sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti nilai-nilai manusia yang tak tergantikan.

Pada era ini yang paling mencolok adalah dalam hal adab. Jika kita menelaah kembali perjalanan sejarah pendidikan ulama-ulama terdahulu, setiap problematika kehidupan di awali dari pertanyaan di diskusikan lalu dicarikan solusi. Bagaimana dengan peradaban saat ini, apakah belajar sudah tidak perlu sosok pendidik, guru, atau dosen dalam menyelesaikan setiap pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam problematika mereka dalam pembelajaran?. Hal ini yang menjadi tantangan besar dalam adab belajar khususnya Gen Z dan Gen Alpha pada era 5.0.

Pendidikan tidak boleh hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga harus mampu mengarahkannya. Ia harus menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia harus mampu mengambil nilai terbaik dari setiap generasi, lalu mengolahnya menjadi kekuatan baru. Guru, sebagai bagian dari sistem pendidikan, juga harus beradaptasi. Mereka  tidak lagi hanya penyampai materi, tetapi juga pembimbing, fasilitator, dan inspirator. Mereka harus memahami karakter setiap generasi, agar mampu menciptakan pembelajaran yang relevan. Begitu pula dengan sistem pendidikan secara keseluruhan, kurikulum harus fleksibel, metode belajar harus variatif, dan pendekatan harus lebih humanis. Pendidikan tidak bisa lagi bersifat satu arah, ia harus menjadi ruang dialog, eksplorasi, dan pengembangan diri. Di tengah perubahan saat ini, satu hal tetap menjadi inti yaitu pendidikan adalah tentang manusia.

Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang seberapa canggih alat yang digunakan, tetapi tentang bagaimana manusia itu dibentuk. Teknologi dapat mempercepat proses belajar, tetapi nilai seperti integritas, adab, empati, dan tanggung jawab tetap harus diajarkan dan diwariskan. Peradaban tidak dibangun dalam satu generasi. Ia adalah hasil estafet panjang, di mana setiap generasi menyumbangkan perannya. Dari kapur yang sederhana hingga kecerdasan buatan yang kompleks, semuanya adalah bagian dari perjalanan yang sama. Dan pada akhirnya, masa depan pendidikan bukan ditentukan oleh teknologi semata, melainkan oleh manusia yang menggunakannya. Anak-anak bangsa hari ini dan esok hari adalah arsitek peradaban baru yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam menggunakan kemajuan zaman. Jejak tiga generasi ini menunjukkan bahwa perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun, di balik setiap perubahan, selalu ada kesempatan untuk membangun peradaban yang lebih baik.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//