• Opini
  • Kaido, Leviathan, dan MBG

Kaido, Leviathan, dan MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah wajah dari kontrak sosial bernama negara dengan kekuatan absolutnya. Indonesia hari ini adalah MBG.

Naufalul Ihya' Ulumuddin

Mahasiswa magister sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM)

Ilustrasi - Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

3 Juni 2026


BandungBergerak – Di anime One Piece, ada sosok super kuat bernama Kaido. Ia digambarkan nyaris tak bisa mati. Karena kekuatannya yang absolut, Kaido berhasil menguasai suatu negeri (Negeri Wano). Rakyat di negeri itu tunduk patuh tanpa banyak protes. Setiap ada protes, lenyap sudah diluluh lantakkan oleh kekuatan absolut tanpa tanding. Pemerintahan Kaido berdiri di atas kekuatan absolut yang memberi janji ketenteraman dan keamanan sekaligus ketakutan sebagai konsekuensinya.

Kekuatan absolut Kaido sejalan dengan konsep Leviathan yang diajukan Thomas Hobbes dalam kerangka kontrak sosial. Bagi Hobbes, esensi dasar manusia adalah soliter, miskin, dan bengis. Dengan demikian, perlu kehadiran kekuatan absolut yang mengatur manusia agar hidup beradab. Kekuatan absolut itu hadir dalam bentuk kontrak sosial bernama negara (Common-Wealth). Leviathan dipinjam oleh Hobbes sebagai penggambaran atas monster dengan kekuatan absolut yang mampu mengatur dan memerintah manusia di bawah kendalinya. Sebagai monster menakutkan dengan kekuatan absolut, Leviathan menjadi tak tersentuh demi mampu terus menegakkan diri sebagai entitas yang harus dipatuhi melalui kontrak sosialnya.

Baca Juga: MBG dan Harga yang Harus Dibayar
Tanpa Pengawasan Independen, Program MBG Dikhawatirkan Berdampak Negatif bagi Arah Ekonomi Indonesia
Pemerataan Kesejahteraan dan Omon-omon MBG

Masih Mungkinkah Mengkritik MBG sebagai Leviathan?

Dari Kaido dan Leviathan, Indonesia hari ini menghadirkan MBG (Makan Bergizi Gratis) sebagai bentuk ratifikasinya. MBG adalah wajah lokal dari Kaido dan Leviathan: program absolut yang tidak tersentuh kritik. Apa pun kritiknya, seilmiah apa pun argumennya, setragis apa pun keadaan lapangannya, MBG tetap harus terus berjalan. Tidak berlebihan agaknya jika MBG adalah wujud dari Kaido dan Leviathan itu sendiri. MBG adalah wajah dari kontrak sosial bernama negara dengan kekuatan absolutnya. Indonesia hari ini adalah MBG.

Di negeri Wano yang dikuasai Kaido, dibangun pabrik-pabrik pembuat buah sakti (baca: buah iblis). Pabriknya megah. Peduli setan dengan gubuk penduduknya yang semakin reyot, asal buah sakti yang mendukung kepentingan Kaido tetap terus diproduksi. Tidak satu pun penduduk berani melawan. Mereka hanya mampu menggerutu di dalam hati. Berani melawan sedikit secara konkret, para kaki tangan (baca: buzzer) Kaido siap bikin trauma tak henti-henti.

Di negeri Indonesia, dibangun dapur-dapur makan bergizi. Bangunannya indah, rapi, dan steril. Peduli setan dengan kondisi sekolah yang semakin menjadi gubuk, asal program utama rezim tetap berjalan menyiprat profit setiap hari. Beberapa penduduk, seperti aktivis dan akademisi kritis sempat melawan. "MBG menguras APBN khusus pendidikan", "MBG mengancam kualitas pendidikan, karena memangkas dana mandat konstitusi untuk pendidikan yang seharusnya 20 persen dari APBN", atau "Hentikan MBG". Akan tetapi, peduli setan dengan kritik. Demi profit dan gizi dompet, MBG tetap digas. 

Hari ini, MBG adalah wajah Kaido dan Leviathan ala Indonesia: tak tersentuh, kuat, dan absolut. Kita layak bertepuk tangan dengan kekuatannya. MBG kian menjadi program yang kokoh besar seperti Leviathan, siap menggilas yang menghalangi. MBG menjadi kekuatan tak terkalahkan seperti Kaido, siap menyerang dengan pekikan "antek-antek asing" sebagai wujud penegasan atas entitas yang tidak terkalahkan. Narasi yang secara tersembunyi sebenarnya berbunyi “Jangan sentuh MBG”. Indonesia hari ini adalah MBG: agenda besar absolut yang tak tersentuh kritik dan evaluasi. Indonesia hari ini adalah MBG, kucuran dana tak terbendung mengarah ke sana. Mulai dari kaos kaki hingga motor listrik dituruti tanpa ragu, tanpa peduli kritik, dan tanpa fafifu.

Sedangkan realitas pendidikan negeri masih begitu-begitu saja: problem kesejahteraan guru dan dosen, ruang kelas ringkih, dan nalar kritis yang sulit tumbuh karena terberangus ketakutan. Ironi terbaru hadir di pendidikan tinggi. Bukannya mempertajam kualitas riset melalui pusat studi, pendidikan tinggi justru diajak nimbrung ikut membuka dapur SPPG (Satuan Penjamin Pemenuhan Gizi) untuk MBG. Lagi-lagi, MBG bak Kaido dan Leviathan yang semakin absolut menyentuh hampir semua lini kehidupan masyarakat yang riil. Dengan kekuatannya, daya paksanya, dan absolutismenya.

Sebagai pembelajar yang takut, opini artikel ini sebenarnya ingin mengajukan pertanyaan sederhana, bagaimana cara mengkritik MBG, sehingga diberhentikan sementara dan menghasilkan tindakan evaluasi yang serius? Mungkinkah itu terjadi? Atau, pertanyaan-pertanyaan itu justru menjadi panggilan atas kaki tangan (baca: buzzer-buzzer) yang siap bikin trauma tak henti-henti?

Dengan nada yang sama, barangkali pertanyaannya juga berbunyi demikian: bagaimana melukai Kaido dan Leviathan, sehingga mengurangi kekuatan absolutnya? Mungkinkah itu terjadi? Atau, pertanyaan-pertanyaan itu justru terdengar tak masuk akal, karena ibarat NPC (Non Player Character) yang ingin menumbangkan raksasa utama dalam film (dalam hal ini Kaido di anime One Piece).

Harapan Kita

Kita semua jelas berharap MBG bukanlah Indonesia yang berwajah Kaido dan Leviathan. MBG adalah program dari pemerintah di negara republik yang demokratis. Jelas, orientasinya harus pada kepentingan rakyat. Dalam hal ini, kedaulatan gizi generasi emas yang dinantikan. Hanya saja, keberadaan program MBG justru menjadi entitas yang nyaris keras kepala dari kritik. Padahal, kritik merupakan esensi demokrasi. Kondisi problematis ini justru membuat kita khawatir.

Di level media, tidak sedikit narasi kritis soal MBG mengalami sensor. MBG seakan menjadi kata yang dilarang dalam konteks kritik. Ada ketakutan membahas isu program hasil dari pemerintah demokratis ini. Ironis! Lebih-lebih, tren programnya memang cenderung negatif, mulai dari anggaran yang super besar, foya-foya dengan angkuh nan manja, dan narasi nyeleneh pejabat gizinya yang tampak semakin bikin kecemasan rakyat menggelinjang setiap hari. Jadi, selayaknya program dari pemerintah yang demokratis, bukalah ruang kritik sebagai sarana berbenah. Jangan justru menjadi Kaido dan Leviathan yang tak tersentuh, absolut, dan berdiri di atas kekuatan yang memperdalam ketakutan rakyat.

Bagaimana jika pada akhirnya semuanya memilih diam. Bukan karena setuju, tetapi karena takut. Itukah wujud keberhasilan MBG?

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//