Untung Wardojo: Sesosok Puisi yang Keluyuran di Kota Bandung
Untung Wardojo banyak menulis puisi tentang kritik sosial, eksistensial, bahkan spiritual. Tapi di sini saya tidak akan membahas puisinya.

Beni Anwar Z
Pegiat Bandung Berpuisi
4 Juni 2026
BandungBergerak – Mungkin sebagian ruang sastra atau puisi di Bandung tidak asing dengan nama Untung Wardojo. Ia kerap kali nongol dan hadir membaca puisi-puisinya dengan lantang dan tangan yang tremor memegang mikrofon. Di usianya yang tidak muda, dia masih semangat berpuisi. Entah secinta itu dengan puisi atau memang tidak ada kerjaan lain selain berpuisi.
Waktu itu malam puisi pertama yang saya hadiri. Sendirian. Datang tanpa mengenal siapa pun. Saya ikut open mic seperti biasa di panggung puisi lainnya dan menonton orang-orang baca puisi. Yang menarik perhatian, di tengah kawula muda yang berpuisi ada bapak-bapak berkacamata mengenakan topi copet, membaca puisi dengan lantang dan begitu percaya diri seolah dia adalah bintang tamu malam itu. Dia Pak Untung, Mas Untung, atau Untung biasa orang-orang menyebutnya. Tapi saya tak kuasa memanggilnya tanpa alas, hanya nama. Jadi saya memanggil dia Pak Untung, karena memang sudah bapak-bapak walau kelakuannya tidak mencerminkan orang tua seusianya.
Malam Bandung yang dingin, jalanan yang mulai sepi. Seorang lelaki tua mengayuh sepeda sepulang baca puisi. Ternyata selama ini dia bepergian ke mana pun menggunakan sepeda. Dia menghadiri acara kebudayaan di mana pun dengan mengayuh sepeda dari rumahnya di batas Kota Bandung–Cimahi. Saya pernah mendengar dia gowes ke Ciparay-Pacet, Lembur Awi, untuk belajar puisi kepada seorang penyair di sana. Dan juga gowes sampai luar kota: Garut-Tasikmalaya. Sungguh perjuangan yang tidak bisa dianggap remeh. Ia melakukannya hanya untuk puisi. Dari situ saya kerap kali bertemu dengannya di tiap acara sastra atau puisi.
Baca Juga: Mari Kita Melawan dengan Puisi
Puisi dan Pop Culture
Merayakan Puisi Setiap Hari
Mendapat Untung dari Untung Wardojo
Karena pekerjaan, waktu itu saya tinggal dekat dengan rumah Untung Wardojo, jadi ada beberapa kali dia nebeng motor saya yang menguntungkan buat dia karena tak usah capek mengayuh sepeda. Tapi di situ juga saya mendapat untung dari Pak Untung karena saya jadi banyak mengenal orang-orang dan ikut tampil di beberapa panggung untuk membaca puisi.
Di suatu hari Pak Untung menelepon saya. Dia mengajak untuk hadir ke acara “Hari Musik Balada” di kediaman almarhum Muktimukti. Dari situ saya tahu bahwa Untung Wardojo juga tergabung di komunitas musisi balada dan karya puisinya banyak berkolaborasi dengan beberapa musisi balada, bahkan dimusikalisasi dan digubah menjadi lagu. Pak Untung juga ternyata ada di kumpulan lain. Di The Panas Dalam bareng Pidi Baiq, di Majlis Sastra Bandung bareng Kyai Matdon, di ASAS Kampus UPI dia juga ikutan katanya. Mungkin masih banyak lagi. Tak berhenti di situ, dia kerap kali didukung oleh teman-temannya untuk bikin pertunjukan puisinya sendiri. Dan beberapa kali saya pun diundang untuk menghadiri dan tampil di panggungnya.
Pak Untung selalu menjadi bahan olokan oleh teman-temannya karena dia sudah tua dan belum menikah. Tapi Pak Untung tak pernah berhenti untuk mendapatkan cinta. Ketika dia sedang jatuh cinta kepada seorang wanita, dia pasti mengejar sampai ke mana pun, sampai bikin keadaan kurang nyaman buat orang yang dikejarnya. Dia kerap gonta-ganti wanita yang ia sukai karena seimbang dengan penolakan yang ia terima juga. Selain mudah baper, Pak Untung juga kadang menyebalkan buat orang-orang, terlepas dari kondisi mentalnya yang narsis.
Untung Wardojo selalu berubah raut wajahnya ketika ada perempuan, apalagi yang ia suka. Walau bicaranya terbata-bata, mata yang sudah tidak awas, tangan yang tremor, bahkan berjalan pun kadang kaku seperti robot, dia selalu curi-curi perhatian dengan kepercayaan dirinya yang tinggi. Bahkan bisa langsung nyamperin dan ngobrol dengan para wanita. Walau Pak Untung patah hati berkali-kali, ia tak pernah berhenti menjadi seorang pecinta sejati.
Walau begitu, yang ditulis oleh Untung Wardojo dalam puisinya bukan roman picisan atau remahan hatinya yang pecah karena cinta. Pak Untung banyak menulis puisi tentang kritik sosial, eksistensial, bahkan spiritual. Tapi di sini saya tidak akan membahas puisinya. Saya ingin melihat Untung Wardojo sebagai puisi itu sendiri. Karena saya rasa puisi tidak selalu hidup dalam buku, rak perpustakaan, dan di panggung sastra. Kadang puisi hidup dalam tubuh manusia yang terus mengayuh sepedanya sampai ambeiennya terkadang kambuh. Ia datang dari satu tempat ke tempat lain menjajakan kata-kata yang ia sebut puisi.
Dan mungkin memang seperti itulah puisi seharusnya hidup. Tidak selalu abadi sebagai tulisan besar. Kadang ia cukup hadir sebagai manusia yang terus berjalan, terus mencintai, terus mencari pertemuan, walau berkali-kali patah hati dan berkali-kali nyaris mati.
Suatu hari nanti mungkin Pak Untung sudah tidak lagi keluyuran menghadiri acara sastra di Bandung. Mungkin tidak ada lagi lelaki bertopi copet yang membaca puisi dengan suara lantang sambil menahan tremor di tangannya. Tapi saya rasa beberapa orang akan tetap mengingat bahwa di kota ini pernah ada seseorang yang menjalani hidupnya menjadi puisi.
Bandung, 28 Mei 2026
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


