• Narasi
  • Teater, Tanah, Air: Komunitas Celah Celah Langit Bandung dan Karya Sastra Perjuangan

Teater, Tanah, Air: Komunitas Celah Celah Langit Bandung dan Karya Sastra Perjuangan

Bagi Iman Soleh, kesenian yang beresonansi dengan masyarakat menjadi esensi penting sebuah karya.

Kirana Anjani Ariella Lugijana

Berkegiatan bersama Lingkar Sastra Utara (LSU) dan Nyarita (Instagram @derkaler dan @nyaritabandung). Dapat dihubungi di Instagram di @__alleira.

Perbincangan kami bersama Iman Soleh. (Foto: Dokumentasi Kirana Anjani Ariella Lugijana)

12 Juni 2026


BandungBergerak – Pada hari Sabtu, 23 Mei 2026, bersama dengan teman-teman sekelas di program studi Magister Linguistik Universitas Pendidikan Indonesia, saya mampir, berbincang, dan oltub (olah tubuh; latihan tubuh teater) di Komunitas Celah Celah Langit (selanjutnya, CCL). Kedatangan kami juga berbarengan dengan teman-teman dari SMA Negeri 5 Bandung. Kami disambut oleh Iman Soleh dan dua anaknya, Mahesa El Gasani dan Muhamad Mazeinda Albiruni, untuk berbincang-bincang mengenai kerja kreatif Celah Celah Langit dalam berbagai pertunjukan teaternya. Setelah mengobrol panjang, kami diajak untuk “mencoba latihan teater” lewat olah tubuh bersama-sama, lalu disuguhi dengan penampilan-penampilan singkat monolog dan pembacaan puisi dari anggota Celah Celah Langit.

"Gara-gara Air!"

Iman Soleh dalam kekaryaannya selalu dekat dengan tema-tema agraria, kemaritiman, dan hak asasi manusia. Ketika ditanya tentang hal apa yang memotivasi karya-karyanya, ia menjawab dengan sangat simpel: "Gara-gara Air!"

Menurut Iman Soleh, kondisi negara ini lucu karena Indonesia adalah negara maritim dengan salah satu garis pantai terpanjang di dunia. Tapi, akses terhadap air susahnya minta ampun dan tidak jarang harus berbayar di berbagai tempat. "Air bening harganya hampir sama dengan Pertalite," ucapnya. Fakta bahwa air minum dalam kemasan 600 ml yang umumnya dibanderol seharga Rp3.000–Rp4.000 di warung-warung itu sangat mengenaskan. Air minum di rumah-rumah warga dan kost-kostan mahasiswa pun umumnya bergantung pada air minum isi ulang yang, lagi-lagi, harus dibeli. Ia mengomentari bagaimana negara ini gagal menyediakan akses air bening yang merupakan kebutuhan primer warganya.

Saya menerka jawaban Iman Soleh juga ada hubungannya dengan karya tahun 2000-an Komunitas CCL yang dijajakan di kancah internasional dengan judul "Air". Pementasan "Air" membicarakan bagaimana akses air bersih sudah dibajak habis oleh korporasi-korporasi yang 'membeli' sumber-sumber mata air bersih yang harusnya jadi milik rakyat.

Tidak perlu jauh-jauh ke pedalaman, tahun 2025 lalu, Dedi Mulyadi lewat kanal YouTube-nya bersama dengan Bapenda Jabar “menyidak” PDAM Subang yang ternyata menerima bayaran bulanan sebesar 600 juta rupiah dari PT Tirta Investama yang memproduksi air minum dalam kemasan. Sidak tersebut menghasilkan beberapa temuan yang mengejutkan termasuk malpraktik perusahaan air minum multinasional tersebut yang menggali air tanah dalam untuk mendapatkan suplai air; bukan lewat mata air yang secara alami mengalir ke permukaan. Menyedihkannya, PDAM Kabupaten Subang mengakui bahwa warga yang justru tinggal di kecamatan daerah pabrik tersebut beroperasi malah belum dilayani dengan akses air bersih yang layak.

Iman Soleh sendiri umumnya dianggap sebagai seniman yang dapat melanggengkan kritiknya kepada pemerintah dengan lantang. Namun, beliau juga salah satu tokoh masyarakat yang dekat dengan pemerintah, termasuk KDM. Hal ini ditunjukkan dari pertunjukan terakhir garapan Celah Celah Langit bersama Sujiwo Tejo yang ditampilkan di pelataran Gedung Sate bulan Mei 2026 lalu. Namun, apakah akses kepada pembuat kebijakan dapat membuat Iman Soleh menjadi jembatan bagi rakyat dan pemerintah lewat karyanya?

Baca Juga: Jejak-jejak Karya Herry Sutresna dalam Deretan Arsip
Perkara Sastra di Ruang Pendidikan Kita
PROFIL KOMUNITAS CELAH CELAH LANGIT: Menyuarakan Kritik lewat Teater

“Apa yang Ingin Kamu Katakan pada Dunia?”

Iman Soleh tidak menjawab secara langsung saat ditanya tentang situasi ideal apa yang ingin dicapai lewat karya sastra perjuangannya. Begitu juga dengan pertanyaan mengenai situasi seperti apa yang akan membuatnya berhenti menyuarakan kritik. Iman Soleh menjawab sekaligus dengan mengatakan bahwa "seni bertugas untuk memperjelas isu, mengangkat isu, dan memperluas isu."

Ketimbang mengomentari tentang status quo dan mimpi idealnya, Iman Soleh melontarkan pertanyaan balik kepada kami semua tentang alasan seseorang untuk menulis dan berkesenian. Menurutnya, ketika seseorang memutuskan untuk berkarya, ia harus dapat menginterogasi dirinya sendiri lewat pertanyaan: “Apa yang ingin kamu katakan pada dunia?” Tentu jika dihadapkan dengan pertanyaan tersebut maka kesenian yang baik sejatinya adalah yang membumi dengan rakyat dan membicarakan hal-hal yang penting bagi rakyat. Sehubungan dengan pertanyaan awal, penulis menerka bahwa Iman Soleh sendiri tidak melihat bahwa ia dapat berhenti untuk berjuang lewat karya sastra dalam waktu dekat. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa dunia ini masih terlalu carut marut untuk para sastrawan dan seniman berhenti ngoceh.

Ketika ditanya hal yang sama, Mazeinda Albiruni, putra bungsu Iman Soleh, memiliki pandangan yang serupa. Mazeinda tidak melihat ada masa di mana ia akan berhenti mewariskan pemikiran ayahnya kepada anggota-anggota serta tamu-tamu yang mampir ke Celah Celah Langit di masa mendatang. Keduanya berpendapat bahwa karya seni harus mampu memotret kehidupan masyarakat dan menyuarakan hal-hal yang membawa masyarakat kepada kesejahteraan sosial. Mazeinda berkomentar jika pun suatu saat perubahan sosial yang nyata baik secara lokal maupun nasional dapat tercapai, ia yakin bahwa masih akan ada isu penting masyarakat yang perlu dirangkul dan diberikan tempat untuk didengar.

Pemikiran ideologis Iman Soleh dan Celah Celah Langit tampak konsisten lewat karya-karyanya. Seperti yang dibahas di atas, pertunjukan "Air" memproblematisasikan fakta bahwa masyarakat Indonesia masih kesulitan mengakses air bersih. Pertunjukan "Tanah: Ode Kampung Kami" membahas tentang ketahanan pangan dan hak-hak petani. Pertunjukan tersebut juga membahas kepemilikan dan privatisasi lahan yang semena-mena dan hanya dikuasai oleh beberapa konglomerat saja. Pertunjukan "Bedol Desa: Ode Tanah II" masih mengangkat tema yang serupa yang juga dibumbui dengan bagaimana modernisasi dan kapitalisme sejatinya memaksa manusia untuk meninggalkan tanahnya dan bekerja untuk mesin. "Bedol Desa" membahas isu-isu besar mengenai latah teknologi, perusakan tanah dan lingkungan, hak-hak petani, imperialisme budaya barat, dan keperempuanan. Karya Celah Celah Langit dalam program Belajar Bersama Maestro (BBM) yang digarap oleh Kementerian Kebudayaan berjudulkan "Bahtera" berfokus pada kehidupan nelayan dan isu-isu kemaritiman.

Iman Soleh sepertinya tidak melihat di masa dekat bahwa akan ada perubahan sosial nyata yang dimobilisasi oleh lini-lini masyarakat (termasuk kesenian) sebagai sikap defeatist. Pengakuan terhadap fakta bahwa dunia ini memang sangat buruk sepertinya tidak bisa hanya dinilai sebatas pandangan pesimis. Justru, saya menganggap Iman Soleh sebagai seorang optimis yang keras kepala. Ia yakin bahwa apa yang dilakukannya itu penting dan harus.

Kesenian yang beresonansi dengan masyarakat, menurut Iman Soleh, adalah esensi penting dari pengkaryaan. Guru-guru Iman Soleh seperti W. S. Rendra dan Arifin C. Noer pun bisa terus disebut namanya di kelas-kelas sastra karena karya-karyanya dekat dengan masyarakat.

Dalam obrolan kami, Iman Soleh banyak berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan posisi kesusastraan dan kesenian dalam isu strategis. Salah satu pesan yang ia ulang berkali-kali adalah: “Baca, baca, baca.”

Iman Soleh berharap bahwa kami, sebagai mahasiswa, dapat terus membaca dan berefleksi. Ia berniscaya bahwa hanya dengan membaca, kami dapat mengetahui apa yang harus kami katakan pada dunia.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//