• Opini
  • Harga Dolar Naik, Harga Buku Puisi Turun

Harga Dolar Naik, Harga Buku Puisi Turun

Kita mendukung kebudayaan secara moral. Dukungan materielnya menyusul belakangan. Padahal kebudayaan tidak berjalan dengan tepuk tangan saja.

Beni Anwar Z

Pegiat Bandung Berpuisi

Buku sebagai sumber ilmu pengetahuan. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak.id)

18 Juni 2026


BandungBergerak – Beberapa waktu terakhir, harga dolar kembali naik. Angka-angka bergerak cepat di layar ponsel, berita ekonomi memenuhi lini masa, dan orang-orang mulai menghitung ulang pengeluaran mereka. Kenaikan dolar selalu dianggap serius. Ia bisa memengaruhi harga barang, biaya produksi, bahkan isi dompet sehari-hari.

Ketika dolar naik, semua orang paham bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi. Namun anehnya, di tengah situasi itu, saya masih sering mendengar kalimat yang sama di lapak buku atau acara sastra.

"Harganya segini?"

Biasanya kalimat itu diucapkan sambil memegang sebuah buku puisi. yang diakhiri dengan meletakkan buku kembali ke meja.

Saya tidak pernah benar-benar terganggu dengan pertanyaan itu. Saya hanya merasa ada sesuatu yang menarik untuk dipikirkan. Sebab ketika harga dolar naik, orang berusaha memahami penyebabnya. Ketika harga buku puisi naik, orang langsung menganggapnya terlalu mahal. Padahal sama-sama berbicara tentang nilai. Bedanya, nilai dolar diakui. Nilai buku puisi masih harus membela diri.

Karena itu saya merasa judul yang lebih tepat untuk keadaan hari ini bukanlah "harga buku puisi mahal", melainkan "harga buku puisi turun." Tentu yang turun bukan angka yang tercetak di sampul belakang. Yang turun adalah cara kita menghargainya.

Baca Juga: Mari Kita Melawan dengan Puisi
Membincangkan Buku Puisi Hanya Waktu, Menengok Relung Seorang Matdon
Untung Wardojo: Sesosok Puisi yang Keluyuran di Kota Bandung

Buku Puisi

Banyak orang masih melihat buku puisi sebagai benda. Mereka menghitung jumlah halaman. Mereka membandingkan ketebalan. Mereka menaksir harga berdasarkan ukuran fisik. Seolah-olah buku hanyalah kertas yang dijilid saja. Padahal ketika seseorang membeli buku puisi, ia tidak hanya membeli kertas. Ia membeli waktu. Ia membeli pengalaman hidup yang telah diendapkan menjadi bahasa. Ia membeli sekumpulan kegagalan, kecemasan, keraguan, dan harapan yang berhasil disusun menjadi kalimat.

Hal-hal semacam itu memang sulit dihitung. Tidak ada kolom di sampul belakang yang menjelaskan berapa banyak malam yang dikorbankan untuk menyelesaikan sebuah naskah. Tidak ada daftar yang mencatat berapa batang rokok yang habis selama proses penulisan. Tidak ada angka yang menunjukkan berapa gelas kopi yang menemani revisi demi revisi Tidak ada laporan yang menjelaskan berapa kali seorang penulis merasa naskahnya gagal sebelum akhirnya memutuskan untuk menerbitkannya. Karena tidak terlihat, proses itu sering dianggap tidak ada.

Kita sebenarnya tidak menggunakan logika yang sama pada hal-hal lain. Ketika membeli secangkir kopi, kita tidak hanya membayar air panas dan bubuk kopi. Kita juga membayar keterampilan peraciknya, tempat yang dibangun, dan pengalaman yang diberikan. Ketika membeli tiket konser, kita tidak menghitung harga berdasarkan jumlah menit lagu yang dimainkan. Kita memahami bahwa ada latihan, produksi, kru, transportasi, dan berbagai pekerjaan yang membuat pertunjukan itu mungkin terjadi. Namun ketika berbicara tentang buku puisi, pemahaman itu sering menghilang. Mungkin karena sastra masih ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari ekonomi.

Kita menyukai sastra. Kita menganggap puisi penting. Kita mengatakan kebudayaan harus dijaga. Namun kita sering merasa tidak nyaman ketika sastra berbicara soal biaya. Seolah-olah puisi akan kehilangan martabatnya jika berhubungan dengan uang.

Ada romantika lama yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Penyair digambarkan hidup miskin. Kesulitan ekonomi dianggap bagian alami dari proses berkarya. Cerita-cerita seperti itu memang terdengar puitis. Tetapi listrik tidak dibayar dengan romantika. Percetakan tidak menerima pembayaran berupa idealisme. Pemilik kontrakan tidak menerima puisi sebagai pengganti uang sewa.

Harga Sebuah Buku

Penerbit independen yang mencetak buku tetap harus menghitung biaya produksi. Penulis tetap harus membeli sembako, membeli kuota internet dan token listrik. Dan ketika dolar naik, mereka juga merasakan dampaknya seperti orang lain. Mereka hidup dalam kenyataan yang sama.

Karena itu saya selalu merasa ada ironi yang menarik. Banyak orang ingin sastra terus hidup. Mereka ingin ada buku-buku baru. Mereka ingin ada penerbit independen. Mereka ingin ada ruang baca, diskusi, peluncuran buku, dan festival sastra. Mereka ingin penyair terus menulis. Namun pada saat yang sama, mereka sering keberatan terhadap harga yang memungkinkan semua itu bertahan.

Kita mendukung kebudayaan secara moral. Dukungan materielnya menyusul belakangan. Padahal kebudayaan tidak berjalan dengan tepuk tangan saja. Ia membutuhkan ongkos, bensin dan biaya lainnya. sejauh yang saya tahu, semua itu tidak bisa dibeli dengan ucapan terima kasih saja.

Mungkin itulah sebabnya saya selalu teringat pada berita tentang dolar setiap kali mendengar seseorang mengeluhkan harga buku puisi. Ketika dolar naik, orang memahami bahwa ada rantai panjang yang bekerja di belakangnya. Ketika harga buku puisi naik, rantai itu seakan menghilang. Tidak ada penulis. Tidak ada editor. Tidak ada desainer. Tidak ada percetakan. Tidak ada distributor. Yang terlihat hanya angka di sampul belakang. Padahal sebuah buku selalu lebih besar daripada harga yang tercetak padanya.

Dan mungkin itulah persoalan sebenarnya. Harga dolar naik karena nilainya diakui. Harga buku puisi turun karena nilainya terus-menerus dinegosiasi.

4 Juni 2026

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//