• Opini
  • Semangat World Bicycle Day 2026: Bersepeda untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

Semangat World Bicycle Day 2026: Bersepeda untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

Kota yang hijau adalah kota memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk bersepeda dengan aman, nyaman, dan terhubung dengan sistem transportasi lainnya.

Angga Marditama Sultan Sufanir

Dosen Teknik Sipil di Politeknik Negeri Bandung. Sedang menempuh Studi doktoral (S3) Teknik Sipil di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung.

Sejumlah pesepeda melintasi jalur sepeda di Jalan Ir. H. Juanda (Dago), Kota Bandung. (Foto: Dokumentasi Angga Marditama Sultan Sufani)

18 Juni 2026


BandungBergerak – Setiap tanggal 3 Juni, dunia memperingati World Bicycle Day sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya sepeda sebagai moda transportasi yang sehat, terjangkau, dan ramah lingkungan. Di tengah meningkatnya kemacetan, penurunan kualitas udara, serta ancaman perubahan iklim, sepeda tidak lagi dipandang sekadar sebagai sarana olahraga atau rekreasi, tetapi sebagai bagian dari solusi dalam mewujudkan sistem mobilitas yang berkelanjutan.

Tema "Bersepeda untuk Masa Depan yang Lebih Hijau" mengingatkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai melalui kebijakan besar atau teknologi yang mahal. Perubahan dapat lahir dari pilihan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk memilih sepeda untuk perjalanan yang memungkinkan. Jika pilihan tersebut dilakukan oleh semakin banyak orang, dampaknya akan terasa dalam bentuk lingkungan yang lebih bersih, masyarakat yang lebih sehat, dan kota yang lebih layak huni.

Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi telah meningkatkan kebutuhan mobilitas masyarakat. Namun, peningkatan jumlah kendaraan bermotor sering kali berlangsung lebih cepat dibandingkan penyediaan infrastruktur transportasi. Ketidakseimbangan ini menyebabkan kemacetan yang menghabiskan waktu produktif, meningkatkan konsumsi bahan bakar, dan memperbesar emisi gas rumah kaca.

Dominasi kendaraan bermotor juga berdampak pada menurunnya kualitas udara perkotaan. Polusi udara telah menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat karena berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan pernapasan dan penyakit kardiovaskular. Di sisi lain, ruang jalan masih lebih banyak diperuntukkan bagi kendaraan bermotor sehingga pejalan kaki dan pesepeda belum memperoleh ruang yang aman dan nyaman.

Ironisnya, masih banyak masyarakat menggunakan kendaraan bermotor untuk perjalanan sehari-hari yang sebenarnya berjarak pendek, seperti menuju sekolah, kantor, pasar, atau fasilitas umum di sekitar tempat tinggal. Padahal, perjalanan seperti ini sangat potensial dialihkan ke sepeda sehingga mampu mengurangi kemacetan, menghemat energi, dan menekan pencemaran udara secara bersamaan.

Baca Juga: Pengguna Sepeda dalam Kontestasi Ruang Perkotaan
Selter Sepeda di Bandung akan Dibangun, Fasilitas Tanpa Budaya Bersepeda akan Jadi Ornamen Semata
Bandung Smart City dan Realitas Jalur Sepeda

Bersepeda sebagai Strategi Mitigasi Perubahan Iklim

Sepeda memiliki berbagai keunggulan yang menjadikannya salah satu moda transportasi paling berkelanjutan. Dari aspek lingkungan, sepeda tidak menghasilkan emisi gas buang saat digunakan dan hampir tidak menimbulkan polusi suara. Oleh karena itu, peningkatan penggunaan sepeda dapat membantu menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih bersih dan nyaman.

Dari sisi kesehatan, bersepeda merupakan aktivitas fisik yang mampu meningkatkan kebugaran, menjaga kesehatan jantung, serta mengurangi risiko berbagai penyakit tidak menular. Aktivitas ini juga memberikan manfaat psikologis karena mendorong masyarakat untuk lebih aktif bergerak dan menikmati ruang terbuka.

Selain itu, penggunaan sepeda relatif ekonomis. Moda ini tidak memerlukan bahan bakar, biaya perawatannya rendah, dan dapat menjadi alternatif yang efisien untuk perjalanan jarak pendek hingga menengah. Dengan demikian, bersepeda memberikan manfaat lingkungan, kesehatan, dan ekonomi secara sekaligus.

Perubahan iklim merupakan tantangan global yang salah satunya dipicu oleh emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi. Oleh karena itu, perubahan pola perjalanan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Bersepeda bukan berarti menggantikan seluruh perjalanan dengan kendaraan bermotor, melainkan mengganti perjalanan yang memang memungkinkan dilakukan dengan moda yang lebih ramah lingkungan. Perjalanan menuju sekolah, kampus, kantor, pasar, maupun halte transportasi umum merupakan contoh perjalanan yang dapat dialihkan ke sepeda apabila tersedia fasilitas yang memadai.

Pendekatan ini dikenal sebagai mobilitas rendah karbon, yaitu sistem perjalanan yang mengutamakan efisiensi energi dan meminimalkan dampak terhadap lingkungan. Semakin banyak perjalanan pendek yang dialihkan ke sepeda, semakin besar kontribusi masyarakat dalam menurunkan konsumsi bahan bakar fosil dan emisi karbon.

Keinginan masyarakat untuk bersepeda sangat dipengaruhi oleh kualitas infrastruktur. Banyak orang sebenarnya bersedia menggunakan sepeda, tetapi merasa tidak aman karena harus berbagi ruang dengan kendaraan bermotor atau melewati jalur yang tidak memadai.

Karena itu, pembangunan jalur sepeda tidak cukup hanya berupa marka di atas permukaan jalan. Infrastruktur harus dirancang sebagai jaringan yang aman, nyaman, dan terhubung. Setidaknya terdapat lima aspek penting yang perlu diperhatikan, yaitu keselamatan, kenyamanan, daya tarik, kelangsungan rute, dan koherensi.

Keselamatan diwujudkan melalui desain yang mampu meminimalkan konflik dengan kendaraan bermotor, terutama di persimpangan. Kenyamanan ditentukan oleh kualitas permukaan jalan, lebar jalur, dan minimnya hambatan. Daya tarik berkaitan dengan lingkungan yang bersih, teduh, dan menyenangkan untuk dilalui. Kelangsungan rute memastikan jalur tidak terputus sehingga pesepeda dapat mencapai tujuan secara efisien, sedangkan koherensi menjamin bahwa seluruh jalur saling terhubung dengan kawasan permukiman, pusat kegiatan, sekolah, dan simpul transportasi publik.

Dengan infrastruktur yang berkualitas, masyarakat tidak hanya memiliki fasilitas untuk bersepeda, tetapi juga memiliki rasa aman untuk menjadikannya sebagai pilihan transportasi sehari-hari.

Momentum Membangun Kota yang Lebih Hijau

Pengembangan budaya bersepeda akan semakin efektif apabila diintegrasikan dengan transportasi publik. Sepeda dapat berfungsi sebagai moda penghubung dari rumah menuju halte atau stasiun sebelum perjalanan dilanjutkan menggunakan bus atau kereta.

Skema perjalanan “rumah–sepeda–halte atau stasiun–transportasi publik–tujuan” mampu memperluas jangkauan layanan angkutan umum sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Agar konsep ini berjalan optimal, diperlukan fasilitas pendukung seperti parkir sepeda yang aman, akses yang nyaman menuju simpul transportasi, dan kebijakan yang mendorong integrasi antarmoda.

Melalui integrasi tersebut, sepeda tidak hanya menjadi alat transportasi individual, tetapi juga bagian dari sistem mobilitas perkotaan yang efisien dan berkelanjutan.

World Bicycle Day hendaknya tidak dipahami sebagai perayaan tahunan semata, melainkan sebagai momentum untuk membangun budaya mobilitas yang lebih berkelanjutan. Kota yang hijau bukanlah kota yang seluruh warganya menggunakan sepeda, tetapi kota yang memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk bersepeda dengan aman, nyaman, dan terhubung dengan sistem transportasi lainnya.

Mewujudkan kondisi tersebut memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Masyarakat dapat memulai dengan memilih sepeda untuk perjalanan yang memungkinkan dan menghormati sesama pengguna jalan. Komunitas dapat memperkuat edukasi keselamatan dan budaya bersepeda, sementara pemerintah perlu menghadirkan kebijakan serta infrastruktur yang mendukung.

Pada akhirnya, setiap kayuhan sepeda bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia merupakan kontribusi nyata dalam mengurangi emisi, menghemat energi, meningkatkan kesehatan, dan membangun kota yang lebih manusiawi. Dengan semangat World Bicycle Day 2026, bersepeda menjadi investasi sederhana namun bermakna untuk mewariskan Indonesia yang lebih hijau, lebih sehat, dan lebih berkelanjutan kepada generasi mendatang.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//