Merawat Fungsi Ekologi, Sosial Ekonomi, dan Budaya Bambu dari Ancaman Kepunahan
Punahnya suatu spesies bambu, dapat menyebabkan rangkaian hilangnya berbagai fungsi ekologi, sosial ekonomi dan budaya penduduk yang hidup di sekitarnya.

Johan Iskandar
Dosen, peneliti lingkungan, serta pegiat Birdwatching di Universitas Padjadjaran (Unpad). Penulis bukuKisah Birdwatching, ITB Press (2025)
21 Juni 2026
BandungBergerak – Bambu di budaya China dianggap tumbuhan yang sangat penting. Hal tersebut antara lain dapat dicerminkan dari ungkapan seorang penyair terkenal di China, yang bernama Pou-Sou-Tung. Dia lebih dari 8 abad yang lalu menulis bahwa pentingnya bambu, seperti diungkapkannya sebagai berikut: “Sebuah hidangan makan senantiasa harus disajikan daging, namun sebuah rumah harus memiliki bambu. Pasalnya, makan tanpa daging, badan kita bisa kurus. Sementara itu, jika rumah tanpa bambu, kita bisa kehilangan suatu ketenangan dan budaya” (Christanty, 1989).
Ditilik dari sejarah ekologi, sesungguhnya bambu bukan hanya penting di China, bambu juga berperan penting dalam budaya penduduk di tatar Sunda. Misalnya, berdasarkan memori kolektif penduduk, dapat diungkap bahwa bambu banyak terkait dengan berbagai aspek dalam kehidupan penduduk perdesaan di tatar Sunda. Pada masa lalu, misalnya, para dukun bayi (indung beurang, paraji) di perdesaan, saat mereka membantu kaum ibu melahirkan, untuk memotong tali pusar bayi, sangat umum menggunakan hinis. Hinis adalah alat tradisional yang terbuat dari kulit bambu bagian luarnya yang keras, biasa disayat tipis sehingga sangat tajam.
Selain itu, pada masa lalu rumah-rumah penduduk perdesaan di tatar Sunda, pada umumnya berbentuk panggung, serta hampir semua bahan-bahan bangunannya terbuat dari bambu. Misalnya, suhunan, eréng hateup, layeus, bilik, dan palupuh/talupuh, semuanya dibuat dari bambu. Sementara itu, hampir semua perabot dapur dan perkakas rumah tangga banyak dibuat dari bambu. Termasuk, misalnya: aseupan, boboko, hihid, téténong, nyiru, cécémpéh, tampir, carangka, dingkul, tolombong, ayakan, jodag, cancangan tinun, kinciran tinun, bongsang, pipiti, rancatan, sudung, kélé, lodong, ranggap hayam, kurungan manuk, bubu, susug, badodon, obor, tarajé, salay/lantayan, pager, cukang, tuturus, kolécer, bebedilan, sumpit manuk, dan lain-lain dibuat dari bambu. Beberapa alat musik tradisional, seperti angklung, suling, calung, calung rénténg, karinding, dan celempung, juga semuanya dibuat dari bambu.
Bukan hanya itu, berdasarkan toponimi, bambu banyak digunakan sebagai nama jalan, dan nama tempat. Di Kota Bandung, misalnya, dikenal berbagai nama jalan yang menggunakan nama jenis bambu, seperti Jalan Awi Bitung, Jalan Awi Gombong, Jalan Awi Tali, Jalan Citamiang, dan Haur Beuti, semuanya berada di kawasan Cicadas. Selain itu, nama jalan lainnya seperti Haur Gunung di Cikutra, serta Haur Pancuh di dekat Monumen Perjuangan Rakyat dan Jalan Dipati Ukur depan Unpad. Beberapa nama tempat di Jawa Barat juga banyak menggunakan nama jenis bambu. Misalnya, Kampung Ciawitali, suatu kampung di kawasan Cisokan Hulu, Bandung Barat. Ciawitali juga nama kampung lainnya di Kecamatan Cikalong Wetan, Bandung Barat. Di Tasikmalaya ada nama sebuah kecamatan diberi nama Kecamatan Ciawi. Di tempat lainnya, di Bogor, dikenal ada daerah, Ciawi. Sementara di Kabupaten Subang, dikenal ada nama Kampung Citamiang dan Kampung Buluh di Kecamatan Tanjungsiang. Beberapa nama tipe lanskap dikenal juga menggunakan bambu, Misalnya, kebun bambu (kebon awi), kebun campuran bambu dan kayu-kayuan (talun awi, talun bambu), dan bukit atau hutan banyak ditumbuhi banyak hutan bambu (leuweung awi).
Di dalam peribahasa ataupun pepatah Sunda, juga banyak yang menggunakan istilah bambu atau berkaitan dengan bambu (awi). Misalnya:
- Tamiang meulit kabitis–ingin mencelakakan orang lain, malah celaka menimpa diri sendiri;
- Lir awi sumaér di cai–teguh dalam pendirian;
- Inggis batan maut hinis–sangat khawatir;
- Dulur pet ku hinis–kakak beradik sekandung
- Awi sadapur tara lempeng sadayana–dalam satu keluarga, tidak semua anggotanya baik;
- Ngadu angklung–banyak omong, beradu kebohongan;
- Lodong kosong ngelentrung–ditujukan pada orang yang banyak bicara tapi isinya kosong bahkan bohong;
- Nyiuk cai ku ayakan–mengerjakan sesuatu tetapi tidak memberikan hasil;
- Tong nincak nyiru–barangkali dituduh maling.
- Gunung kaian, pasir talunan, gawir awian–ajakan agar gunung untuk ditumbuhi pepohonan, bukit-bukit ditanami dengan sistem agroforestri talun, tebing-tebing ditanami agroforestri bambu.
Ditilik dari etnobotani–pengkajian ilmiah tentang pengetahuan penduduk mengenai botani–menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat erat dan tak terpisahkan antara aneka ragam biologi (biodiversity), seperti kasus keragaman bambu, dengan praktik budaya (cultural diversity), dan linguistik lokal (bahasa lokal), yang membentuk sistem diversiti biologi-budaya (biocultural diversity system). Di dalam biocultural diversity systems tersebut, komponen utamanya adalah pengetahuan lokal (local knowledge) atau pengetahuan ekologi tradisional (traditional ecological knowledge) (Iskandar dan Iskandar, 2026). Pengetahuan lokal berbeda dengan pengetahuan ilmiah Barat, pengetahuan tersebut sangat mendalam, tetapi sangat lokal, dan rentan kepunahan karena tidak tertulis. Pengetahuan lokal biasanya diwariskan dari satu generasi pada generasi lainnya, ditransmisikan secara lisan, dengan menggunakan bahasa lokal, bahasa ibu.
Oleh karena itu, lunturnya bahasa lokal, seperti bahasa Sunda dapat menyebabkan pengetahuan penduduk tentang biologi, seperti keanekaragaman bambu dapat luntur atau bahkan punah. Serta sebaliknya, akibat punahnya suatu jenis bambu dapat menyebabkan, punahnya pengetahuan lokal tentang jenis bambu tersebut, termasuk praktik penduduk dalam memanfaatkan jenis bambu, beserta lingustik lokal yang berkaitan dengan jenis bambu tersebut.
Baca Juga: Perubahan Iklim dan Erosi Varietas Padi Lokal
Bertani di Lahan Surutan Waduk Jatigede dan Risiko Perubahan Iklim
Cara Urang Baduy Panamping Mempertahankan Usaha Tani Huma Berkelanjutan dengan Pohon Albasiah
Pengetahuan Lokal tentang Bambu
Sejatinya tatar Sunda memiliki sangat kaya aneka ragam jenis bambu. Berdasarkan studi etnobotani di 3 desa di kawasan DAS Citaum, Jawa Barat, misalnya, telah dapat didokumentasikan tidak kurang dari 19 jenis ragam (landraces) bambu (awi) berdasarkan pengetahuan penduduk, tetapi secara ilmiahnya hanya terdiri dari 12 spesies (Irawan, 2020) (Tabel 1).
Tabel 1. Aneka ragam jenis bambu di DAS Citarum, Jawa Barat
|
No. |
Nama lokal |
Nama ilmiah botani |
Ciri khas menurut penduduk |
|
1 |
Haur bodas |
Bambusa glaucophylla Widjaja |
Warna batangnya putih (bodas) |
|
2 |
Awi tutul |
Bambusa maculata Widjaja |
Warna batangnya totol-totol hitam (tutul) |
|
3 |
Haur cucuk |
Bambusa spinosa Roxb |
Batangnya memiliki duri (cucuk) |
|
4 |
Ampel héjo |
Bambusa vulgaris Schard. ex J.C. Wendl.var. vulgaris |
Batangnya warna hijau (héjo), bahan penahan lonsor, rebungnya biasa dimakan. |
|
5 |
Haur héjo |
Bambusa vulgaris Schard. ex J.C. Wendl.var. vulgaris |
Batangnya warna hijau (héjo), benahan longsor, rebungnya biasa dimakan. |
|
6 |
Ampel konéng |
Bambusa vulgaris Schard. ex J.C. Wendl.var. striata (Lodd.ex Lindl.) Kuntze |
Batangnya warna kuning (konéng), air tuwaknya untuk obat batuk. |
|
7 |
Haur konéng |
Bambusa vulgaris Schard. ex J.C. Wendl.var. striata (Lodd.ex Lindl.) Kuntze |
Batangnya warna kuning (konéng), air tuwaknya untuk obat batuk. |
|
8 |
Awi bitung |
Dendrocalamus asper (Schult. f.) Backer ex Heyne |
Batangnya warna kehijauan biru. Rebungnya bisa dimakan |
|
9 |
Awi tali |
Gigantochloa apus (Schult.f.) Kurz |
Keguanaan utamanya untuk bahan tali |
|
10 |
Awi hideung |
Gigantochloa atroviolacea Widjaja |
Warna batangnya hitam, rebungnya biasa dapat dimakan |
|
11 |
Awi ater |
Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz |
Pelepah buluh kecoklat-coklatan. rebungnya biasa dimakan. |
|
12 |
Awi kasap |
Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz |
Pelepah buluh kecoklat-coklatan |
|
13 |
Awi temen |
Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz |
Pelepah buluh kecoklat-coklatan |
|
14 |
Awi gedé |
Gigantochloa verticillata (Wild.) Munro |
Batangnya besar (gedé) |
|
15 |
Awi gombong |
Gigantochloa verticillata (Wild.) Munro |
Batangnya besar (gedé) |
|
16 |
Awi surat |
Gigantochloa verticillata (Wild.) Munro |
Batangnya besar (gedé), warna batang memiliki corak bergaris |
|
17 |
Awi buluh |
Schizostachyum brachycladum (Kurz ex Munro) Kurz |
Warna batangnya kuning cerah begaris |
|
18 |
Awi tamiang |
Schizostachyum silicatum Widjaja |
Batangnya kecil |
|
19 |
Awi bunar |
Schizostachyum iraten Steud. |
Batangnya kecil |
Berdasarkan pengetahuan penduduk, aneka ragam jenis bambu (awi) dapat diklasifikasikan berdasarkan morfologi (diameter, ketebalan batang, warna batang, memiliki duri, jarak antar ruas batang); sifat hidupnya (budidaya dan liar); konsumsi dan tidak dapat dikonsumsi rebungnya; serta kekhasan pemanfaatannya. Berdasarkan diameter batang, misalnya, jenis bambu yang memiliki diameter besar, dikenal seperti jenis awi surat dan awi bitung. Bambu memiliki diameter sedang, yakni awi tali dan awi temen. Sementara bambu yang memiliki ukuran batang kecil adalah awi tamiang dan awi bunar.
Berdasarkan ketebalan batang, jenis bambu yang memiliki batang tebal, seperti haur hejo dan awi gombong. Berdasarkan warna batang, dikenal batang bambu warna hitam yaitu awi hideung dan warna batang kuning seperti haur konéng, serta warna batang bambu hijau yakni haur héjo. Batang bambu memiliki duri, seperti haur cucuk. Ditilik berdasarkan jarak antar ruas batang, ruas batang panjang, dikenal bambu awi tali dan awi tamiang, serta sebaliknya antar ruasnya pendek dikenal seperti haur héjo.
Selain itu, berdasarkan kebiasaan hidupnya di ekosistem perdesaan, beberapa jenis bambu seperti awi tali, awi surat, haur hejo, dan haur koneng pada umumnya di budidayakan penduduk, seperti ditanam di kebun dan kebun campuran (talun). Sementara itu, beberapa jenis bambu seperti awi ater/temen, awi bitung, dan awi tamiang, diklasifikasikan oleh penduduk sebagai bambu yang tumbuh liar atau setengah liar, misalnya, biasa tumbuh di ekosistem hutan.
Tidak hanya itu, berbagai jenis bambu juga diklasifikasikan penduduk berdasarkan rebungnya dapat dimakan dan tidak dapat dimakan. Beberapa jenis rebung bambu yang biasa dimakan, di antaranya awi bitung, dan awi ater, biasa diolah dijadikan bahan sayur. Sementara jenis-jenis bambu, seperti awi tali, awi surat, awi tamiang, dan awi bunar, rebungnya jarang digunakan untuk dikonsumsi. Berdasarkan kegunaannya, bambu tali paling banyak digunakan, di antaranya digunakan untuk bahan tali, bilik, dan berbagai perkakas lainnya, karena batangnya kalau sudah dibelah-belah sangat lentur. Selain itu, haur héjo dan haur konéng biasa digunakan penduduk utamanya untuk ditanam di pinggir-pinggir sungai atau lahan curam di bukit-bukit, sebagai penahan longsor dan erosi tanah. Haur koneng biasa ditanam di depan rumah, selain untuk keindahan atau estetika biasa pula dipercayai sebagian penduduk sebagai penolak bala.

Aneka Ragam Manfaat Bambu
Berdasarkan penduduk perdesaan di tatar Sunda, aneka ragam bambu memiliki berbagai fungsi ekologi/layanan ekosistem, sosial ekonomi, dan budaya (Rahmah, 2019; Iskandar dan Iskandar, 2026). Fungsi ekologi/layan ekosistem, misalnya, bambu sangat penting bagi penahan angin kencang dan membuat udara sejuk di permukiman; membantu menyuburkan tanah dengan banyaknya seresah dan ranting-ranting yang jatuh dan membusuk di permukaan tanah; menyimpan air, dan melindungi tanah dari bahaya erosi; mengatur keseimbangan sistem hidrologi suatu kawasan DAS; menyerap gas rumah kaca, pencemar udara, seperti CO2; sebagai habitat satwa liar, seperti mamalia kecil, kukang, dan macam-macam jenis burung, termasuk burung kuntul, manuk awi yang disebut manuk bingbin, cangehgar, piit, dll.; indikator perubahan musim, misalnya di waktu akan/masa musim kemarau daun-daun bambu biasanya kering, di waktu akan/di musim hujan, banyak tumbuh rebung bambu; serta tahan/resisten terhadap perubahan iklim yang kian tak menentu akibat pemanasan global.
Aneka ragam bambu juga memiliki fungsi penting bagi sosial ekonomi penduduk. Misalnya, dari batang-batang bambu dapat dijual menghasilkan uang tunai. Selain itu, dari bambu juga dapat dibuat berbagai peralatan/perkakas di rumah tangga, seperti aseupan, hihidid, boboko, dll; serta industri perdesaan, seperti dijadikan kerangka layang-layang (rarancang lalayangan), dan kandang burung (kurungan manuk), bilik, kursi bambu, dll. Beberapa jenis bambu, seperti haur héjo, haur konéng, awi hideung, dan awi ater, rebungnya biasa dikonsumsi. Selain itu, beberapa jenis bambu, termasuk haur konéng, awi hideung dan awi gombong, biasanya tuak batangnya dijadikan obat batuk oleh penduduk. Bukan hanya itu, bambu juga digunakan untuk perkakas pertanian, seperti étém, rancatan, girbig, dingkul, lantayan/salay, tuturus, pager, leuit, dan saung lisung.
Sementara itu, fungsi budaya bambu, di antaranya untuk bahan kesenian, mainan dan upacara adat. Bahan kesenian, misalnya, dijadikan alat musik, seperti calung, calung rénténg, angklung, karinding, celempung, dan suling. Mainan tradisional penduduk perdesaan, diantaranya, jajangkungan, gatrik, bebedilan, kolécér, merimam bambu/karbit, dan hatong. Bukan hanya itu, bambu juga biasa digunakan pada upacara adat di perdesaan, seperti upacara nitipkeun padi sebelum tanam padi, nyawén sebelum panen padi, upacara menginjak telur penganten pria, membuat kueh dupi, berupa daun bambu pembungkus nasi.
Mengingat begitu banyaknya manfaat/fungsi bambu bagi ekologi dan sosial ekonomi budaya, maka secara etnobotani/etnobiologi, bambu dapat dikategorikan sebagai salah satu spesies kunci biologi-budaya (biocultural keystone species). Pasalnya, punahnya suatu spesies bambu, dapat menyebabkan rangkaian hilangnya berbagai fungsi ekologi, sosial ekonomi dan budaya penduduk.
Sejatinya penduduk perdesaan di tatar Sunda, secara tradisi dalam memanfaatkan bambu biasanya dilandasi kuat oleh pengetahuan lokal dan tradisi, seperti kepercayaan. Misalnya, dalam memanen bambu, biasanya dilakukan oleh penduduk dengan cara tidak tebang habis, tetapi dengan cara tebang pilih. Bambu-bambu yang ditebang biasanya disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan memperhatikan batang-batang bambu yang sesuai atau telah siap dipanen. Imbas positifnya, bambu dapat dipanen secara sistem berkelanjutan sepanjang masa. Selain itu, waktu panen bambu biasanya dialukan pada musim kemarau dan dilakukan pada pagi hari. Pasalnya, panen bambu di musim hujan dan waktu pagi, bambu yang dipanen kualitasnya rendah, seperti banyak airnya.
Dewasa ini, akibat jumlah penduduk yang kian padat, maraknya alih fungsi lahan, dan derasnya sistem ekonomi pasar masuk ke berbagai pelosok perdesaan, konsekuensinya, walaupun bambu memiliki fungsi serbaguna, sebagai “biocultural keystone species”, jenis-jenis bambu, kebun bambu, dan hutan bambu banyak terdesak, karena pengaruh berbagai kegiatan manusia. Padahal leluhur Sunda sudah lama mengingatkan bahwa pentingnya menjaga lingkungan, di antaranya dengan menanam pohon-pohon bambu, seperti ungkapan: Gunung kaian, pasir talunan, gawir awian–artinya bahwa gunung agar ditumbuhi pepohonan, bukit-bukit ditanami dengan sistem agroforestri talun, tebing-tebing ditanami agroforestri bambu. Maka, lingkungan perdesaan yang terpelihara, dapat menyejahterakan segenap penduduk desa.
Oleh karena itu, keberadaan bambu di ekosistem perdesaan yang dikelola penduduk secara berkelanjutan, seyogyanya untuk dapat dipertahankan. Mengingat pentingnya fungsi bambu dan sangat mendukung untuk tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Goals-SDGs). Misalnya, dapat mendukung program menghilangkan kemiskinan di mana pun dalam bentuk apa pun (SDGs No.1), menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan peningkatan gizi serta mempromosikan pertanian berkelanjutan (SDGs No.2), menjamin kehidupan sehat dan mempromosikan kesejahteraan penduduk (SDGs No.3), serta melindungi, memulihkan dan mempromosikan pemanfaatan yang berkelanjutan dari ekosistem darat (SDGs No.15).
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


