• Berita
  • Harga Sebuah Sekolah Negeri di Atas Lapak Pedagang Bunga Arcamanik

Harga Sebuah Sekolah Negeri di Atas Lapak Pedagang Bunga Arcamanik

Cerita di balik pembangunan SMAN 28 Bandung yang dibangun untuk memperluas akses pendidikan menengah di wilayah yang selama ini belum memiliki SMA negeri.

Bunga di lapak tanaman hias Jalan Pacuan Kuda, Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, 19 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Penulis Prima Mulia29 Juni 2026


BandungBergerak - Rahman hilir mudik mengambil barang-barang dan polybag tanaman hias di antara puing lapak tanaman hias dan bangunan tempat tinggal di Jalan Pacuan Kuda, Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, persis di seberang komplek olahraga Sport Jabar, 19 Juni 2026.

Ketua paguyuban pedagang tanaman hias Arcamanik itu harus mengosongkan dan membongkar bangunan tempat usahanya sampai batas 21 Juni 2026. Tempat tersebut bakal dibangun gedung SMAN 28 Bandung.

Puing lapak tanaman hias di Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung mulai rata dengan tanah, 19 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Puing lapak tanaman hias di Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung mulai rata dengan tanah, 19 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

“Ada satu dua kios yang masih belum bongkar, karena itu tadi, relokasi nggak tahu mau ke mana, biaya bongkar juga kan lumayan mahal,” kata Rahman, kepada BandungBergerak.

Rahman mengaku harus mengeluarkan biaya sekitar 2,5 juta rupiah untuk membongkar bangunannya secara mandiri. Ia menyadari bahwa lahan yang selama ini ditempatinya merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat sehingga sewaktu-waktu dapat digunakan kembali oleh pemerintah. Namun, menurutnya, para pedagang tidak menerima bantuan biaya maupun opsi relokasi.

Puing lapak tanaman hias di Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung mulai rata dengan tanah, 19 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Puing lapak tanaman hias di Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung mulai rata dengan tanah, 19 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

“Untung saya warga sini jadi masih ada yang mau memberi pinjam lahan pengganti, kawan-kawan pedagang lain kan belum tentu,” kata Rahman.

Ada 15 pedagang tanaman hias yang sudah berjualan sejak 40 tahun lalu di kawasan ini. Pedagang diminta untuk mengosongkan lahan sejak sepekan lalu, siap atau tidak siap lahan harus rata dengan tanah per 21 Juni 2026.

Sampai siang hari, Rahman dan keluarganya sibuk mengangkut barang. Bibit-bibit tanaman hias, karung-karung pupuk, karung tanah Lembang, tumpukan blok-blok rumput hias, dan asesoris taman, semua pindah ke lahan kosong di belakang area proyek.

Pemilik lapak memindahkan barangnya di Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung mulai rata dengan tanah, 19 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pemilik lapak memindahkan barangnya di Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung mulai rata dengan tanah, 19 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

“Kita lagi bikin saung baru dan mulai menata halaman jualan, ini juga barengan dengan beberapa kawan lain. Ya berbagi lapaklah, ada warga komplek yang baik hati meminjamkan tanah kosongnya buat kita,” katanya.

Selain lapak dan tempat tinggal pedagang tanaman hias, di sana terdapat beberapa bangunan lain yang bakal terkena rencana pembangunan SMAN 28.

Rohaeni, salah seorang guru PAUD Azzahra, mengaku menerima informasi bahwa lembaga pendidikan anak usia dini tempatnya mengajar juga akan terdampak rencana pembangunan sekolah tersebut.

Pemilik lapak memindahkan barangnya di Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung mulai rata dengan tanah, 19 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pemilik lapak memindahkan barangnya di Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung mulai rata dengan tanah, 19 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

“Kalau benarkan ironis ya, ada tempat pendidikan anak usia dini, sekolah untuk membangun fondasi anak malah digusur juga oleh institusi pendidikan itu sendiri,” kata Rohaeni.

SMAN 28 jadi sekolah negeri pertama di Kecamatan Arcamanik, juga jadi penyangga Kecamatan Mandalajati, Cinambo, termasuk Ujungberung. Rencananya angkatan pertama SMAN 28 akan memiliki kuota untuk 216 murid yang dibagi dalam enam rombongan belajar. Saat tahun ajaran baru nanti kegiatan belajar mengajar akan diselenggarakan sementara di fasilitas milik SMAN 23.

PAUD Azzahra di Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung mulai rata dengan tanah, 19 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
PAUD Azzahra di Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung mulai rata dengan tanah, 19 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Informasi terakhir dari Kepala Sekolah SMAN 28, Ai Sumiati, mengatakan pihak sekolah dan perangkat daerah setempat pada Minggu pagi 21 Juni 2026 telah melaksanakan giat bersih-bersih lahan. Beberapa ekskavator telah meratakan sisa-sisa pondasi bangunan yang ada rata dengan tanah.

Baca Juga: Berbondong-bondong ke Gedung Sate, Orang Tua Menuntut Keterbukaan PPDB SMA 2024
Mendengar Kritik Para Pelajar Bandung terhadap Kebijakan Pendidikan Gubernur Dedi Mulyadi

Lapak tanaman hias Jalan Pacuan Kuda, Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung mulai rata dengan tanah, 19 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Lapak tanaman hias Jalan Pacuan Kuda, Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung mulai rata dengan tanah, 19 Juni 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Sementara itu, berdasarkan data resmi BPS tahun 2021 di Kota Bandung terdapat 27 SMA negeri dan 123 SMA swasta, sehingga total SMA mencapai 150 sekolah. Artinya, hanya sekitar 18 persen SMA di Kota Bandung berstatus negeri, sedangkan 82 persen lainnya merupakan SMA swasta. Dengan demikian, terdapat sekitar 4,6 SMA swasta untuk setiap satu SMA negeri. Komposisi ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan pendidikan menengah atas di Kota Bandung secara jumlah lebih banyak ditopang oleh sekolah swasta dibandingkan sekolah negeri.

Selain jumlahnya lebih sedikit, persebaran SMA negeri juga belum merata. Data BPS menunjukkan masih terdapat beberapa kecamatan yang belum memiliki SMA negeri, sementara kecamatan lain memiliki lebih dari satu SMA negeri. Sebaliknya, SMA swasta tersebar lebih luas dan menjadi penyedia layanan pendidikan menengah atas di banyak wilayah. Kondisi ini menunjukkan bahwa akses terhadap SMA negeri belum merata antarwilayah di Kota Bandung.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//