Merawat Asa Kota Dolar Majalaya
Lembaran sejarah emas sebagai pusat industri tekstil nasional tidak akan pernah hilang dari ingatan warga Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung.

Acep Saepulloh
Penulis lepas. Warga Bandung.
30 Juni 2026
BandungBergerak – Sekitar 25 kilometer dari kota Bandung ke arah tenggara, kita bakal ketemu Kecamatan yang bernama Majalaya. Secara geografis, wilayah ini berada di cekungan Bandung yang dikepung oleh pegunungan dan dibelah langsung Citarum. Sebagai salah satu daerah paling padat dan pusat ekonomi tua di Kabupaten Bandung, Kecamatan Majalaya punya denyut nadi yang super sibuk. Dari Subuh sampai malam, jalannya enggak pernah sepi. Tapi kalau kita mau jeli melihat agak dalam, ada sesuatu yang kontras antara memori masa lalu daerah ini dengan realitas yang kelihatan di depan mata sekarang.
Bagi orang-orang yang tahu sejarah Majalaya, julukan "Kota Dolar" pasti sudah enggak asing lagi di telinga. Tapi jujur saja, hari ini julukan yang mentereng itu rasanya seperti barang antik yang dipajang di etalase berdebu. Buat warga Majalaya sekarang, nama itu bukan lagi kebanggaan yang bikin mereka otomatis membusungkan dada kalau ditanya orang luar. Malah sebaliknya, julukan Kota Dolar sering kali terdengar seperti ironi yang getir. Nama besar itu pelan-pelan berubah jadi beban sejarah yang lumayan berat buat dipikul.
Coba kita flashback sebentar ke era tahun 1960-an sampai akhir 1980-an. Zaman itu, Majalaya adalah raja tekstil nasional, bahkan produknya tembus ke pasar luar negeri. Kalau kita berjalan-jalan masuk ke gang-gang sempitnya dulu, suasananya bakal bising banget sama suara mesin tenun mekanis yang saling bersahutan. Tapi buat orang Majalaya saat itu, kebisingan itu adalah musik paling merdu karena itu tanda uang lagi dicetak. Duit berputar kencang banget, juragan-juragan kain lokal bermunculan di mana-mana, dan kemakmuran itu merembes ke semua lapisan masyarakat, bukan cuma dinikmati segelintir bos besar.
Sayangnya, roda zaman berputar tanpa permisi dan sering kali kejam. Kejayaan itu pelan-pelan menyusut, menyisakan cerobong pabrik yang asapnya enggak lagi sepadan dengan dompet warganya. Julukan Kota Dolar mulai luntur waktu badai krisis moneter menghantam, ditambah lagi serbuan kain impor murah yang bikin pasar lokal kelabakan. Masalah makin pelik karena banyak industri rumahan yang telat atau enggak mampu memperbarui teknologi mesin mereka. Keadaan ini makin diperparah sama situasi ekonomi kita belakangan ini; hantaman nilai tukar rupiah yang kian anjlok membuat harga bahan baku impor seperti benang dan pewarna melonjak tinggi, mencekik leher para pengusaha yang sisa-sisa.
Baca Juga: Menengok Potret Pekerja Anak di Pabrik-pabrik Tekstil Majalaya
Balada Kesenjangan di Majalaya
Pasar Bingung Majalaya
Majalaya Kini
Kini, kalau kita mengelilingi Majalaya, kita bakal sering menemukan pemandangan pabrik-pabrik besar yang gerbangnya sudah digembok rapat atau malah berubah fungsi jadi gudang logistik yang sepi. Pabrik yang masih bertahan pun sering kali memicu dilema sosial yang bikin serba salah, di satu sisi cerobongnya harus tetap ngebul biar dapur buruh tetap berasap, tapi di sisi lain, asap dan limbahnya jadi ancaman buat lingkungan sekitar. Lihat saja anak-anak Citarum di sana, saluran air yang dulu bersih sekarang harus menampung limbah industri, memunculkan pemandangan air sungai berwarna-warni ganjil yang sama sekali enggak ada indah-indahnya.
Dampak kemunduran ini akhirnya meluber ke tata kota dan fasilitas publik. Salah satu contoh paling nyata yang bikin mengelus dada adalah jalur Majalaya-Rancaekek. Urat nadi transportasi ini sekarang sudah bertransformasi jadi panggung drama kemacetan yang menguras kesabaran. Jalanan yang lebarnya hanya segitu-gitu saja harus menampung ribuan motor buruh pabrik pas jam masuk kerja, angkot yang ngetem sembarangan, hingga truk kontainer raksasa yang merayap pelan bikin aspal hancur. Kemacetan yang semrawut ini makin lengkap dengan adanya pasar tumpah yang memakan bahu jalan, plus bonus banjir tahunan yang rutin datang tiap musim hujan. Fasilitas publik yang mumpuni atau tata ruang yang rapi seolah ikut menguap bersama kejayaan uang di masa lalu.
Keterpurukan infrastruktur ini makin terasa dampaknya ke psikologis warga lokal. Saban hari, mereka harus bergelut dengan aspal yang berlubang dalam, genangan air berwarna cokelat pekat saat hujan, dan debu pekat yang menyesakkan dada saat kemarau melanda. Rasanya ironis saat mengingat daerah yang dulunya menyumbang perputaran uang raksasa bagi daerah, kini harus mengemis perbaikan jalan yang tak kunjung tuntas.
Harapan untuk kebangkitan kembali industri tekstil Majalaya sebenarnya selalu ada, tersemat di pundak sebagian kecil pengusaha muda lokal yang menolak untuk menyerah pada keadaan (tidak berpangku tangan). Mereka mulai mencoba mendobrak tradisi lama dengan mengawinkan keahlian tekstil warisan leluhur dengan teknologi digital dan tren mode kekinian. Alih-alih hanya memproduksi kain mentah atau sarung konvensional yang pasarnya mulai jenuh, mereka mulai melirik industri kreatif seperti pakaian jadi dengan merek lokal sendiri, memanfaatkan media sosial untuk pemasaran, dan menyasar pasar anak muda di kota-kota besar. Namun, inisiatif mandiri seperti ini tentu membutuhkan dukungan nyata dari pemangku kebijakan, baik dalam bentuk kemudahan modal maupun pelatihan manajerial yang sistematis.
Pada akhirnya, Majalaya hari ini adalah potret sebuah kawasan yang kelihatan lelah bertarung dengan bayang-bayang masa lalunya sendiri. Julukan Kota Dolar sekarang terdengar seperti pujian yang membuat lalai dan terbuai akan kejayaan masa lalu. Lembaran sejarah emas sebagai pusat kejayaan tekstil memang tidak akan pernah hilang dari ingatan, namun warga Majalaya tidak bisa terus-menerus mengonsumsi cerita masa lalu untuk mengenyangkan perut hari ini. Mereka butuh aksi nyata, perubahan tata kelola, dan ruang hidup yang lebih manusiawi agar esok hari, nama Majalaya bisa kembali diucapkan dengan rasa bangga yang utuh, bukan lagi dengan helaan napas panjang yang penuh dengan kepasrahan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


