Menjelajahi Ruang-ruang Personal Seniman dalam Metafora Martabak Pandan Cokelat
Pameran Pandan Cokelat mengajak publik memahami karya seni melalui percakapan, pengalaman hidup, dan kedekatan dengan para senimannya.
Penulis Bawana Helga Firmansyah7 Juli 2026
BandungBergerak - Martabak identik dengan kudapan manis maupun gurih yang dipotong menjadi beberapa bagian untuk disantap bersama. Tradisi berbagi itulah yang dijadikan metafora dalam pameran Pandan Cokelat. Sebagaimana irisan martabak yang dinikmati dalam satu lingkaran, pameran ini memosisikan seni sebagai medium untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan refleksi.
Gagasan tersebut tertuang dalam pengantar kuratorial pameran: "Kami menempatkan karya seni selayaknya martabak pandan cokelat. Sesuatu yang berbagi, yang terbagi, yang dibagi, yang bersama."
Semangat berbagi itu tidak berhenti pada metafora. Pameran yang digelar di Hybridium Gallery, Bandung, yang berlangsung hingga 7 Juni lalu ini membangun ruang yang memungkinkan setiap seniman menghadirkan karya tanpa dibatasi kecenderungan kuratorial yang kaku. Karya-karya hadir sebagai percakapan yang saling berkelindan, bukan sebagai narasi tunggal.
Pameran ini melibatkan Achmad Soejiwo, Aryasuta, Chakra Narasangga, C. N. Dwaji, Clarissa Tifanny, Fathan Turamone, Ima, Amalaika Priambodo, Ilham Karim, Karankawa Kahla, Onu Ex, Ramal Karmarama, Renitta Karuna Dharani, Yasmine Aminanda, dan Zeta Ranniry Abidin. Pameran dikuratori oleh Demas Aryasatya dan Qanissa Aghara.
Alih-alih hanya mengumpulkan karya, tim kurator mengunjungi studio setiap seniman. Melalui kunjungan itu, mereka berupaya memahami proses kreatif, kehidupan personal, hingga cara pandang masing-masing seniman. Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan melalui dua lapis teks kuratorial: teks utama dan potongan-potongan narasi yang tersebar di sudut ruang pamer.
Dalam salah satu teks pengantar tertulis, "Dengarupa mencoba untuk membocorkan, menemani, mengapresiasi seniman dan karyanya sebagai sebuah proses untuk menemukan diri yang terus menjadi."
Bagi Demas, pendekatan itu berangkat dari keinginan menghadirkan hubungan yang lebih personal.
"Kita tuh kayak lampu jalan, kita nyorot yang di sekitar kita aja dulu, sehingga terasa lebih personal," kata Demas.
Pemahaman mendalam terhadap tiap individu berpengaruh pada karya-karya yang dipamerkan. Sejumlah seniman justru menghadirkan eksplorasi yang berada di luar kecenderungan praktik artistik mereka selama ini. Pameran menjadi ruang aman untuk mencoba kemungkinan baru sekaligus membangun jejaring antarseniman.
Salah satu karya bertajuk Kalibrasi Rasa (2026) garapan Zeta Ranniry Abidin. Empat panel kanvas berukuran 60 x 60 sentimeter disusun sejajar, menghadirkan sapuan kuas yang dinamis, bertekstur, dan terasa spontan. Ritme visual terbentuk melalui pertemuan warna-warna gelap dan terang yang saling mengimbangi.
Menurut tim kurator, karya ini lahir dari percakapan selama kunjungan studio. Mereka mendorong Zeta mengeksplorasi kemungkinan di luar karya-karya figuratif yang selama ini menjadi ciri praktiknya. Hasilnya, Kalibrasi Rasa memperlihatkan sisi yang lebih intuitif sekaligus mempertegas eksplorasinya terhadap medium cat.
Eksplorasi ruang juga tampak dalam Encounter Series (2026) karya Achmad Soejiwo. Alih-alih dipusatkan pada satu titik, karya-karya berbahan kertas anyaman itu ditempatkan di berbagai sudut galeri dengan ukuran yang berbeda-beda. Penempatan tersebut mengajak pengunjung untuk terus mencari, menemukan, dan memperhatikan detail yang tersembunyi.
Bagi Achmad, karya-karya itu merupakan hasil penyerapan pengalaman selama mengikuti rangkaian kunjungan studio bersama para seniman lain. Fragmen-fragmen pengalaman tersebut kemudian ia dekonstruksi dan tafsirkan kembali menjadi bagian dari identitas artistiknya sendiri.
Qanissa menjelaskan bahwa penempatan karya yang tersembunyi merupakan keputusan seniman. "Akhirnya yang menentukan penempatan dia sendiri dan lumayan hidden, dan mungkin itu bisa jadi poinnya," katanya.
Baca Juga: Pameran Menyoal Ruang, Identitas, dan Ekspresi di Pasar Antik Cikapundung
Pameran Seniman Muda di ArtSociates dan Hybridium, Mengekspresikan Keberagaman Imajinasi
Memori yang Membentuk Identitas
Persoalan memori menjadi benang merah dalam Unraveling karya Ilham Karim. Seniman asal Yogyakarta ini berangkat dari kenangan masa kecil ketika belajar menjahit bersama sang kakek yang bekerja sebagai tukang vermak.
Demas menjelaskan bahwa percakapan di studio membuka pengalaman-pengalaman personal yang sebelumnya belum banyak dieksplorasi dalam karya Ilham.
"Ada satu mesin jahit di mana Karim itu punya memori tentang mesin jahit, tentang gimana dia ribet soal benang. Jadi gambar-gambar di bantal ini adalah gambar yang sering dia pegang pas masih kecil," kata Demas.
Instalasi berupa kanvas yang digantung menyerupai bantal itu memperlihatkan lipatan-lipatan kain dengan berbagai objek yang dilukis di atasnya. Gulungan benang, sekoci, hingga proses memasukkan benang ke lubang jarum menjadi simbol pengalaman yang membentuk ketekunan dan ketangguhan sang seniman. Memori tidak hadir sekadar sebagai arsip masa lalu, melainkan sebagai fondasi identitas pada masa kini.
Persoalan identitas juga muncul dalam instalasi Di Gudang (2026) karya Ramal Karmarama. Instalasi ini menggunakan medium rambut untuk membentuk berbagai benda yang lazim ditemukan di gudang, seperti etalase, kipas angin, arit, dan peralatan rumah tangga lain.
Gudang dimaknai sebagai ruang penyimpanan bagi hal-hal yang dianggap tidak lagi berguna. Melalui metafora itu, Ramal merefleksikan refleksi atas suatu identitas yang dibuang, tak terpakai dan dianggap minor oleh masyarakat.
"Ramal tuh kan dia queer dan dia merasa ketika dia berinteraksi dengan orang, dia harus menyimpan queer itu di bagian belakang, dan itu rasanya sama kayak gudang," kata Demas.
Gudang menjadi metafora bagi identitas yang disembunyikan agar dapat diterima dalam kehidupan sosial.
Relasi antarmanusia juga menjadi fokus karya kolektif Onu X, yang terdiri atas Malikisadikin (Bandung) dan Dwi Ajeng (Riau). Melalui karya media baru berjudul 1:1, dua layar LCD kecil menampilkan figur-figur yang saling berhadapan dalam distorsi piksel.
Visual tersebut menghadirkan kesan keterasingan sekaligus kedekatan. Piksel-piksel yang membentuk wajah menjadi metafora hubungan emosional yang tetap terjaga meski dipisahkan jarak dan dimediasi layar digital.
"Bagaimana mereka men-sustain relasi yang secara fisik sangat jauh." Gagasan ini sejalan dengan teks katalog yang menyebut bahwa 1:1 menjadi simbol bagaimana dukungan personal tetap mampu menghadirkan kehadiran satu sama lain secara intim, meski dibatasi layar dan fragmentasi piksel.
Sementara itu, Renitta Karuna Dharani menghadirkan karya interaktif yang mengajak pengunjung menuliskan nama beserta maknanya pada simpul rajut merah (Lucy Charm), yang dikenal sebagai simbol keberuntungan dalam tradisi Tiongkok.
Karya ini berangkat dari kegelisahan Renitta terhadap hubungan antara doa, harapan, dan realitas dunia yang dipenuhi konflik. Nama dipandang sebagai doa yang melekat pada setiap individu, namun sekaligus dipertanyakan relevansinya di tengah berbagai krisis.
Menurut Demas, bagi Renitta nama adalah doa. Namun di sisi lain dunia mengalami kehancuran. “Dia mempertanyakan sebenarnya hal itu masih relevan atau enggak," katanya.
Melalui partisipasi pengunjung, karya tersebut mengajak setiap orang kembali merefleksikan hubungan antara nama, harapan, dan identitas diri. Simpul-simpul merah yang terus bertambah membentuk jejaring doa sekaligus keterhubungan antarpengunjung.
"Ketika orang ingat sama namanya mungkin terhindar dari hal-hal jahat dan jadi orang baik," lanjut Demas.
Pameran Pandan Cokelat menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, kegelisahan, dan refleksi. Pameran ini menunjukkan bahwa memahami karya seni tidak selalu harus dimulai dari objek yang dipamerkan. Kehidupan sehari-hari, percakapan, dan pengalaman personal para seniman justru membuka cara baru dalam membaca gagasan artistik mereka.
Sebagaimana salah satu kalimat yang tersebar di dinding galeri, "Kami bertamu ke gudang kejadian masing-masing." Kalimat itu merangkum semangat pameran ini: memasuki ruang-ruang personal, lalu membaginya kembali sebagai pengalaman bersama.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


