Peribahasa, Pengetahuan Kita, dan Krisis Iklim yang Menggerusnya
Alam berubah lebih cepat daripada kemampuan dan pengetahuan kita untuk menjaganya.

Reza Septian
Seorang pekerja sosial yang pernah bekerja di media dan saat ini menaruh minat pada isu media, komunikasi, dan lingkungan.
10 Juli 2026
BandungBergerak – Beberapa minggu terakhir saya sedang memikirkan ulang peribahasa kemarau setahun dihapus hujan sehari. Bukan karena saya tidak lagi memahami makna dan pesan moralnya, melainkan karena dua kata yang menjadi fondasinya, yakni kemarau dan hujan.
Hal ini dipicu dari situasi yang saya, bahkan banyak orang rasakan belakangan ini soal musim. Kadang langit tampak cerah pada pagi hari, kemudian mendadak hujan sangat deras. Di hari lainnya, langit mendung menggantung sejak pagi, tetapi udara panas tetap menyengat di sepanjang hari.
Saya mulai bertanya-tanya kembali, apakah kemarau dan hujan yang dimaksud dalam peribahasa tersebut masih sama dengan yang kita alami hari ini?
Perasaan itu makin kuat ketika saya berbincang dengan beberapa petani dan nelayan di pesisir utara Kabupaten Tangerang. Percakapan itu tidak dimulai dari perubahan lingkungan, apalagi krisis iklim. Mereka hanya bercerita tentang musim yang makin sulit dipahami.
Dulu mereka bisa memperkirakan kapan sawah siap ditanami atau kapan laut cukup aman untuk dijelajahi. Tidak selalu tepat, tetapi cukup konsisten untuk mereka bisa mengambil keputusan. Pengalaman puluhan tahun memberi mereka keyakinan bahwa tanda-tanda tertentu akan diikuti oleh pola yang kurang lebih sama. Sekarang, keyakinan kian itu goyah. Kesalahan membaca musim berarti risiko benih rusak, hasil panen menurun, atau biaya produksi yang membengkak. Di laut, nelayan menghadapi ketidakpastian yang sama.
Mungkin terdengar aneh mengaitkan peribahasa dan pengetahuan dengan krisis iklim. Namun, justru di situ persoalannya. Peribahasa, seperti banyak pengetahuan lama, tidak pernah lahir begitu saja. Peribahasa tumbuh dari hubungan panjang manusia dengan lingkungannya. Dalam kajian folklor dan antropologi, peribahasa dipahami sebagai pengetahuan kolektif yang disarikan dari pengalaman sehari-hari, termasuk dari keteraturan alam yang bisa diamati dan diingat.
Pengamatan terhadap musim, angin, laut, sungai, dan berbagai gejala alam lainnya tidak berhenti sebagai pengalaman sehari-hari. Pengalaman itu diolah menjadi bahasa, cerita, petuah, dan aturan hidup yang diwariskan lintas generasi. Alam menjadi referensi dan sumber berpikir manusia. Dari alam, manusia belajar mengenali keteraturan, memahami sebab-akibat, lalu menerjemahkannya menjadi pelajaran tentang hidup.
Hubungan antara pengetahuan dan alam semacam ini dapat ditemukan di banyak tempat di Indonesia. Masyarakat Jawa mengenal pranata mangsa sebagai pedoman membaca musim untuk menentukan waktu tanam. Nelayan di berbagai wilayah pesisir mewariskan pengetahuan tentang arah angin, arus laut, dan perubahan musim kepada generasi berikutnya. Di banyak komunitas adat, mereka juga menggunakan tanda-tanda alam untuk menentukan waktu menanam dan berburu.
Pengetahuan tersebut lahir dari pengalaman panjang yang terus diuji oleh waktu. Alam menjadi semacam rujukan yang dibaca berulang kali hingga melahirkan keyakinan tentang bagaimana alam bekerja untuk mereka. Masalahnya, alam yang melahirkan pengetahuan itu sedang berubah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa pola curah hujan di Indonesia selama periode 1981 hingga 2024 bergerak ke arah yang berlawanan. Di sejumlah wilayah, curah hujan meningkat secara signifikan, sementara wilayah lain justru mengalami penurunan.
Musim kemarau menjadi lebih sulit diprediksi, musim hujan berlangsung lebih panjang, dan cuaca ekstrem muncul lebih sering dibandingkan sebelumnya. Dalam bentuk angka, perubahan tersebut terlihat sebagai data iklim. Tapi bagi mereka, perubahan itu berarti hilangnya keteraturan yang selama ini menjadi dasar berbagai pengetahuan lokal.
Hujan datang di luar perkiraan, kekeringan berlangsung lebih lama, dan risiko gagal panen meningkat. Di laut, nelayan kecil mengalami kesulitan melaut akibat gelombang tinggi yang makin sering terjadi. Pengalaman puluhan tahun tidak lagi cukup untuk memastikan kondisi laut yang aman. Tanda-tanda yang dahulu dapat dibaca dengan cukup akurat kini tidak selalu memberikan petunjuk yang sama.
Di titik ini, yang sedang terganggu bukan hanya musim atau hasil panen tetapi juga pengalaman dan pengetahuan lokal yang mereka pegang. Ketika alam tidak lagi menyusun pola yang bisa dikenali, maka cara berpikir yang dibangun di atas pola tersebut ikut kehilangan pijakan. Krisis iklim tidak hanya mengubah kondisi fisik lingkungan. Krisis ini juga mengganggu sistem pengetahuan yang selama berabad-abad membantu manusia memahami alam.
Gambaran tersebut tidak hanya muncul dari percakapan dengan beberapa petani dan nelayan. Survei Persepsi Petani 2024 yang dilakukan LaporIklim bersama sejumlah lembaga menunjukkan bahwa lebih dari 97 persen petani merasakan dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Kekeringan datang tidak menentu, hujan turun di luar perkiraan, dan rencana tanam semakin sulit disusun. Lebih dari separuh responden bahkan menilai berbagai kebijakan selama satu dekade terakhir belum mampu memberikan perlindungan yang memadai bagi mereka.
Di laut, pengalaman serupa juga dirasakan nelayan. Laporan Mongabay Indonesia merekam kisah Gafur Kaboli, nelayan berusia 59 tahun dari Ternate, yang mengaku pengalaman puluhan tahun membaca angin dan cuaca kini tidak lagi cukup menjamin keselamatan. Apa yang dahulu menjadi kompas pengetahuan perlahan kehilangan ketepatannya ketika cuaca berubah makin sulit diprediksi.
Fenomena tersebut juga tampak dalam skala yang lebih luas. Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) pada awal 2026 menyebut bahwa Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia mencatat sekitar 95 persen nelayan kecil di lebih dari 350 desa mengalami kesulitan melaut akibat gelombang tinggi yang semakin sering terjadi. Ketidakpastian tidak lagi menjadi peristiwa yang sesekali terjadi, melainkan telah berubah menjadi bagian dari keseharian masyarakat yang kehidupannya paling bergantung pada keteraturan alam.
Baca Juga: Transisi Energi dan Keadilan Sosial di Tengah Krisis Iklim
Generasi Muda dan Upaya Melawan Krisis Iklim
Merekatkan yang Terbelah: Menyatukan Narasi Individu dan Perubahan Sistemik dalam Krisis Iklim
Dari Ketidakteraturan Menuju Ketimpangan
Ketika petani dan nelayan dipaksa tak berdaya menghadapi cuaca yang makin sulit diprediksi, mereka juga berhadapan dengan ruang hidup yang terus menyempit. Di sinilah persoalan krisis iklim bertemu dengan persoalan keadilan.
Ada ganjalan yang sulit terabaikan. Kelompok yang paling dekat dengan hubungannya dengan alam justru menjadi pihak yang paling awal merasakan dampaknya. Ironi tersebut makin terlihat ketika bersinggungan dengan berbagai bentuk pembangunan yang terus menekan ruang hidup masyarakat. Lahan produktif berubah menjadi kawasan industri. Wilayah pesisir dialihfungsikan untuk kepentingan yang merusak. Hutan mangrove yang selama ini menjadi pelindung alami kawasan pantai terus menyusut akibat reklamasi dan ekspansi pembangunan.
Ketika ruang hidup makin sempit dan alam kehilangan keteraturan, masyarakat tidak hanya dipaksa beradaptasi terhadap krisis iklim, tetapi juga terhadap berbagai keputusan pembangunan yang sering kali dibuat tanpa melibatkan mereka.
Karena itu, krisis iklim tidak pernah berdiri sendiri. Krisis ini merupakan hasil dari rangkaian panjang pilihan politik dan ekonomi yang menentukan siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung risiko. Membicarakan krisis iklim berarti juga membicarakan ketimpangan yang merusak hak masyarakat untuk menentukan masa depan ruang hidup mereka sendiri.
Ketimpangan itu tidak hanya membuat masyarakat kehilangan penghasilan atau ruang hidup. Sedikit demi sedikit, ia juga mengikis pengetahuan yang selama berabad-abad membantu mereka memahami alam. Ketika ruang hidup rusak dan alam kehilangan keteraturan, yang ikut memudar bukan sekadar mata pencaharian, melainkan juga ingatan kolektif tentang cara membaca alam.
Mungkin karena itulah saya terus kembali pada peribahasa kemarau setahun dihapus hujan sehari. Selama ini peribahasa tersebut dipahami sebagai nasihat moral tentang perilaku individu, tentang bagaimana satu kesalahan dapat menghapus kebaikan yang dibangun dalam waktu lama. Namun dalam konteks krisis iklim, peribahasa itu terasa menyimpan makna lain yang tidak kalah relevan. Kerusakan yang terjadi dalam waktu relatif singkat dapat menghancurkan keseimbangan yang dibangun selama berabad-abad.
Jika dahulu peribahasa itu digunakan untuk mengingatkan individu agar menjaga tindakannya, hari ini peribahasa yang sama terasa seperti peringatan kolektif. Bahwa hubungan antara manusia dan alam tidak bisa terus-menerus dieksploitasi tanpa konsekuensi.
Mungkin suatu hari nanti generasi setelah kita masih akan mendengar peribahasa kemarau setahun dihapus hujan sehari di sekolah. Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka memahami maknanya, melainkan apakah mereka masih mengenali alam yang menjadi rujukannya. Sebab ketika alam berubah lebih cepat daripada kemampuan kita menjaganya, yang terancam bukan hanya kelangsungan hidup, tetapi juga bahasa, pengetahuan, dan kebijaksanaan yang selama ini membantu manusia memahami alam.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


