• Opini
  • Album Baru Bernadya Adalah Manifestasi Perlawanan di Himpitan Banalitas Kota

Album Baru Bernadya Adalah Manifestasi Perlawanan di Himpitan Banalitas Kota

Pada akhirnya, album Bernadya, Semoga Hanya di Mimpi, sukses melampaui kodratnya sebagai sekadar lagu galau.

Tofan Aditya

Pengelola Komunitas dan Program BandungBergerak.id, dapat dihubungi di [email protected]

Keluhan atau keresahan warga menjadi sumber wawasan untuk memperbaiki kota. (Ikustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

10 Juli 2026


BandungBergerak – Ketika album terbaru Bernadya, Semoga Hanya di Mimpi, resmi mengudara pada 24 Juni 2026, saya menyambutnya dengan suka cita. Penantian selama 2 tahun, 24 bulan, 104 minggu, dan 729 hari terbayar sudah. Sejak menit pertama album itu tersedia di YouTube, saya termasuk golongan yang enggan menunggu lama untuk memutarnya.

Jujur saja, repertoar di dalamnya asyik juga. Dibungkus dengan nuansa pop 2000-an yang catchy, sepuluh lagu di dalamnya adalah pengakuan atas kecemasan. Dengan lirik-liriknya yang kelewat intim, lagu-lagu ini membedah fenomena cherophobia–sebuah ketakutan akan kebahagiaan. Lumayan, pikir saya, buat nambah-nambah stok playlist gamon (gagal move on) dan karut-marut asmara orang muda yang makin ke sini makin tidak jelas juntrungannya.

Namun, saya ingin coba keluar dari zona nyaman. Masa iya lagu dengan lirik sebagus ini cuma mentok dipakai buat meratapi nasib ditinggal mantan? Bagaimanapun, karya seni yang baik tidak pernah lahir di ruang hampa. Ia selalu menjadi cermin bagi semangat zaman (zeitgeist) di mana ia diciptakan. Jika kita mau sedikit repot mendedah lapis lirik dalam album ini, kita justru akan menemukan sebuah alegori pedas tentang kecemasan kolektif, keterasingan, dan kekalahan kita sebagai warga kota yang membayangi keseharian.

Dari keseluruhan trek, saya menyoroti empat lagu yang sukses menelanjangi rutinitas warga kota yang seolah stabil dan tanpa celah: Laut yang Tenang, Tolong Bilang Ini Mimpi, Lawan Waktu dan Jarak, serta Peluk Aku Sekarang!.

Baca Juga: In This Economy, Apa Salahnya Merayakan Valentine dengan Seikat Kangkung?
Menonton Persib Bermain, Mengingat Mimpi yang Tanggal
Kopo (Mungkin) Adalah Wajah Bandung yang Sebenar-benarnya

Ilusi Ketenangan, Realitas yang Menghantam, dan Negara yang Menutup Telinga

Mari mulai dari Laut yang Tenang. Lirik pembukanya memotret rutinitas yang seolah ideal, persis seperti apa yang dicita-citakan sistem kapitalisme hari ini:

Tidur cukup, bangun pagi sesekali
Panggung masih stabil, seminggu dua kali
Tiada masalah yang buat ku frustrasi
Sampai jam tiga pagi 

Dalam konteks tata ruang, lirik ini adalah metafora sempurna tentang etalase kota. Saban hari, kita disuguhi lanskap kota yang dipoles sedemikian rupa untuk tampak eye-catching. Trotoar di pusat kota dipercantik, ruang-ruang publik dan bangunan cagar budaya direvitalisasi tapi ujung-ujungnya malah jadi lahan komersial eksklusif, dan gedung-gedung terus mencakar langit. Pembangunan infrastruktur disamaartikan sebagai keberhasilan gemilang.

Lewat lagu ini, Bernadya seolah mewanti-wanti:

Hampir lupa cara menulis
Hidup terlalu lurus akhir-akhir ini
Senyum mengalir jalani hari
Namun laut yang tenang patut dicurigai 

Di kota ini, terkadang, merasa bahagia itu rasanya berdosa, atau minimal patut dicurigai. Retorika pemerintah kan memang langganan membuai publik dengan narasi "semua baik-baik saja"–memamerkan angka pertumbuhan ekonomi makro dan omon-omon stabilitas, sembari menyembunyikan sengkarut persoalan di bawah karpet. Praktik ini selaras dengan konsep Society of the Spectacle-nya Guy Debord: “an image of happy harmony surrounded by desolation and horror, at the calm center of misery”. Realitas penderitaan dan ketimpangan sengaja dikaburkan oleh tontonan serta representasi visual kota yang gemerlap.

Di balik Laut yang Tenang itu, modal justru meraksasa melalui penyingkiran paksa masyarakat dari ruang hidup mereka. Wilayah kelola warga dicaplok secara brutal berkedok beautifikasi dan proyek strategis.

Ketenangan yang digaungkan lewat rilis humas dan pidato pejabat, pada kenyataannya, hanyalah selimut tipis yang menutupi krisis struktural. Kegelisahan bahwa "nanti ombak 'kan datang" adalah insting purba kita yang sadar bahwa sewaktu-waktu, mesin penggusuran itu akan merembet sampai ke depan pintu rumah kita sendiri.

Ketika ombak itu sungguh datang dan krisis mulai mengoyak periuk nasi, kita terhempas ke jurang keputusasaan. Dalam Tolong Bilang Ini Mimpi—yang dibawakan bersama Rendy Pandugo–Bernadya mengeluh:

Yang kutakutkan terjadi (Tolong bilang ini mimpi)
Lama kusiapkan diri (Tapi tetap tak bernyali)
Haruskah aku jalani (Alur yang tak aku pilih) 

Inilah beban sosiologis yang kita rasakan secara kolektif. Kepenatan ini bukanlah karena kita kurang healing atau kurang bersyukur, melainkan buah dari kondisi material masyarakat yang memang karut-marut. Mark Fisher menyebut fenomena ini sebagai Capitalist Realism–sebuah sensasi kelam di mana sistem yang menindas terasa begitu absolut, sampai-sampai kita tak bisa membayangkan alternatif lain. Hidup terasa seperti alur paksaan yang mau tak mau harus dijalani kalau tidak mau mati kelaparan.

Krisis demi krisis mencekik leher warga biasa yang harus bertarung mati-matian hanya demi bertahan hidup sampai esok pagi. Di satu sisi kota, segelintir elite enak-enakan menikmati privilese tinggal di perumahan eksklusif, sementara mayoritas dari kita berdesakan di kampung-kampung kota yang padat, sanitasinya buruk, dan dihantui ketidakpastian.

Segala jerih payah kita merakit ruang perlawanan–dari inisiatif literasi publik, ekosistem jurnalisme independen, hingga forum-forum diskusi kritis–terus-menerus direpresi negara. Mengutip liriknya, semuanya "Terus dipaksa mati / Yang bisa saja abadi." Berhadapan dengan Leviathan ini, beban persoalan sosial membuat hari terasa begitu bajingan. Rasanya kita ingin sekadar memejamkan mata, menolak terbangun karena saking takutnya menghadapi kenyataan besok pagi.

Lalu, ke mana institusi negara saat warganya sekarat? Lawan Waktu dan Jarak mengartikulasikan rasa frustrasi tersebut. Diposisikan sebagai cerminan relasi timpang antara kita dan negara, lirik ini punya resonansi politis yang pedih:

Sekitar tujuh dering terabaikan
Entah apa lagi yang jadi alasan
Ketiduran
Atau sibuk selesaikan
Sesuatu yang tentu jauh
Lebih penting dariku? 

Berapa ribu pengaduan, kajian akademis, liputan investigatif, dan demonstrasi berdarah-darah yang diabaikan oleh pengambil kebijakan? "Tujuh dering terabaikan" mewakili panggilan darurat publik atas krisis ekologis hingga represi kebebasan sipil yang berujung pada keheningan. Alih-alih merespons, penguasa selalu "sibuk menyelesaikan sesuatu yang lebih penting"–yakni mengakomodasi kepentingan oligarki, menggelar karpet merah bagi investasi aseng dan asing, atau mengebut undang-undang pesanan tanpa melibatkan kita sama sekali.

Lebih menyakitkan lagi, kenyataan memilukan itu ada di bagian chorus:

Ku berperang lawan waktu dan jarak, mungkin ku kalah
Ku bertahan meski lelah
Apa kau sadar ku hampir kalah?
Ku sekarat untuk kita dan kau hanya diam saja. 

Ini adalah jeritan kawan-kawan jurnalis independen yang diintimidasi saat membongkar skandal negara. Ini adalah rintihan kawan-kawan organisasi mahasiswa yang dibredel birokrat kampus, atau kawan-kawan lembaga bantuan hukum yang diintimidasi preman berseragam saat mendampingi warga rentan.

Kelelahan yang digambarkan di sini adalah lelah sosiologis karena terus-menerus dikhianati oleh institusi yang pajaknya kita bayar sendiri. Institusi yang seharusnya melindungi, tapi malah sibuk melakukan gaslighting (atau melempar kesalahan ke kambing hitam) ke warganya sendiri.

Kerja Saling Rawat, Merengkuh Asa

Menghadapi situasi yang sinting ini, Peluk Aku Sekarang! hadir sebagai antitesis. Bernadya merangkum titik didih psikologis kita lewat larik: "Dari pagi tadi, semua orang buat ku pening / Penuh tekanan dari kanan dan kiri."

Ketika sistem makro gagal menyediakan kebutuhan dan perlindungan, satu-satunya cara untuk sintas adalah dengan memastikan tidak ada satu pun kawan yang berjuang sendirian. Bukan sekadar romansa picisan, lagu ini mengajak kita untuk mempraktikkan kerja-kerja perawatan (mutual care) dan solidaritas akar rumput:

Tak perlu kata, tanpa bicara
Ku t'lah menunggu lama
Tak perlu kata, jemput segera
Dan peluk aku sekarang! 

Di tengah kepungan banalitas kota, kawan seperjuangan sering kali tidak lagi butuh ceramah teori langit yang muluk-muluk atau orasi heroik abang-abangan aktivis. Di penghujung hari yang melelahkan, yang kita butuhkan kadang cuma segelas air putih, kehadiran yang nyata, dan ruang yang mau menampung keluh-kesah tanpa menghakimi.

Membangun inisiatif kolektif lintas komunitas–entah itu mengunjungi kembali titik-titik penggusuran, mengelola ruang-ruang kumpul yang aman, setara, dan bebas biaya, atau mengorganisasi gerakan kolektif di ruang lingkup terkecil–pada hakikatnya adalah upaya mengembalikan kemanusiaan kita yang direnggut negara.

Melalui inisiatif-inisiatif kecil inilah kita menganyam jaring pengaman sosial kita sendiri. Saling menguatkan dan menyediakan telinga bagi mereka yang terpinggirkan adalah bentuk perlawanan politik yang paling riil hari ini. Pelukan, dalam hal ini, adalah validasi atas kerentanan kita. Sebuah afirmasi bahwa merasa lelah dan kalah itu wajar, dan kita tidak perlu berpura-pura tegar menjadi pahlawan setiap saat.

Pada akhirnya, album Semoga Hanya di Mimpi sukses melampaui kodratnya sebagai sekadar lagu galau. Dari kewaspadaan dalam Laut yang Tenang, benturan realitas pada Tolong Bilang Ini Mimpi, kekecewaan struktural di Lawan Waktu dan Jarak, hingga seruan kolektif dalam Peluk Aku Sekarang!, Bernadya tanpa sadar merangkai manual bertahan hidup di tengah kebrutalan kota.

Kita dipaksa bersikap kritis terhadap narasi kemajuan tata kota yang manipulatif, menolak menyerah pada pengabaian penguasa, berani jujur saat lelah dihajar sistem ekonomi, dan tak ragu merengkuh satu sama lain dalam solidaritas yang tulus. Sebab, di hadapan struktur kekuasaan yang kelewat pongah dan bayang-bayang pembungkaman, kerja-kerja kolektif kecil yang saling memeluk inilah satu-satunya kewarasan yang tersisa.

Jika kelak rezim ini makin gelap dan semua ruang demokrasi dibredel habis, setidaknya kita telah merawat sebuah ekosistem alternatif. Sebuah tempat berpulang, di mana kita membasuh luka hari ini untuk mengorganisasi perlawanan esok hari. Sebagaimana hakikatnya: jika negara menolak memberi ruang hidup, maka kita sendirilah yang akan merebut dan membangun ruang hidup itu. Dimulai dari sekarang.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//