• Opini
  • In This Economy, Apa Salahnya Merayakan Valentine dengan Seikat Kangkung?

In This Economy, Apa Salahnya Merayakan Valentine dengan Seikat Kangkung?

Romantisisme di era ”in this economy" haruslah bersifat pragmatis, berkelanjutan, dan sadar kelas. Cinta di era neoliberalisme adalah tentang solidaritas.

Tofan Aditya

Pengelola Komunitas dan Program BandungBergerak.id, dapat dihubungi di [email protected]

Kondisi perekonomian terus mengalami pasang surut. (ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

14 Februari 2026


BandungBergerak.id – Bagi saya, setidaknya ada tiga momen penting yang ada di bulan Februari. Pertama, Sabtu Kelabu atau Tragedi AACC yang menjadi luka besar jagat musik Bandung 18 tahun lalu. Kedua, kelahiran Inggit Garnasih, perempuan yang dalam catatan sejarah turut mendampingi Sukarno sampai gerbang kemerdekaan. Ketiga, Valentine atau hari kasih sayang.

Untuk poin terakhir ini, posisinya memang agak problematis. Perdebatannya tak kunjung usai, mulai dari dalil agama hingga kecurigaan bahwa ini semua hanyalah akal-akalan elite global untuk menjual cokelat sisa stok gudang. Namun, terlepas dari segala sinisme itu, saya tidak memungkiri ada kesenangan kecil saat melihat sepasang muda-mudi berjalan-jalan ria sambil menenteng paper bag merah muda dengan wajah berbinar. Jujur saja, di tengah dunia yang makin sumpek, penuh berita buruk, dan represi sana-sini, melihat orang lain berbahagia merayakan cinta adalah oase tersendiri.

Sah-sah saja, bahkan perlu, bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki untuk membeli buket bunga atau mengajak pasangannya makan malam fine dining di restoran mewah. Itu adalah hak prerogatif mereka menikmati hasil kerja kerasnya. Apakah saya iri? Tentu saja. Sedikit, sih. Namun, saya segera sadar: dompet saya akan ngap-ngapan jika memaksakan diri mengikuti standar romansa tersebut.

Di sinilah letak persoalannya. Terkadang romantisisme terstandarisasi oleh keinginan pasar. Kencan menjadi aktivitas elite yang hanya diakui valid jika dilakukan dengan atribut serba mahal. Sebagai warga kelas menengah dan kaum mendang-mending, saya perlu strategi lain untuk merayakan Valentine tahun ini tanpa harus menggadaikan kebutuhan hidup.

Setelah menimbang rasionalitas dan salat istikharah, satu ide terlintas: saya akan memberikan seikat kangkung untuk pasangan saya. Saya tidak bercanda. In this economy, apa salahnya merayakan Valentine dengan seikat kangkung? Kangkung adalah pilihan yang paling masuk akal, paling intim, dan paling mengerti kebutuhan perut dan hati kami berdua.

Baca Juga: Perkara Sastra di Ruang Pendidikan Kita
Kejomloan Saya adalah Kesalahan Negara!
Surat untuk Seseorang yang Sering Lupa Beristirahat

Hitung-hitungan yang Tidak Masuk Logika Matematika

Di awal tahun 2026 ini, biaya hidup kita sudah gila-gilaan. Kenaikan Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) yang kita terima di awal tahun nyatanya langsung lenyap ditelan inflasi harga pangan dan kebijakan perpajakan yang agresif. Kita berhadapan dengan kenaikan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) yang merembes ke setiap lini kehidupan, mulai dari sabun mandi hingga pulsa internet. Jangan lupakan soal dampak domino dari proyek "Makan Bergizi Gratis". Gara-gara proyek ambisius ini, terjadi lonjakan permintaan bahan pokok yang membuat harga pasar melambung tak terkendali bagi konsumen eceran seperti kita. Memang pemerintah ******!

Jika saya memutuskan untuk mengikuti standar romantis yang didiktekan pasar, hitung-hitungannya sudah pasti tidak masuk akal. Satu kali kencan standar: nonton bioskop, makan di kafe berkelas, dan transportasi, bisa menghabiskan sepuluh hingga dua puluh persen gaji bersih (setelah dipotong cicilan, belanja buku, dan kebutuhan hidup lainnya). Itu angka yang mengerikan bagi seorang pekerja kelas teri seperti saya.

Pemerintah punya andil besar dalam menciptakan situasi dilematis ini. Kegagalan negara dalam mengendalikan harga kebutuhan pokok dan menyediakan jaminan sosial yang mumpuni memaksa kita untuk memprivatisasi jaring pengaman sosial kita sendiri. Mudahnya, uang yang seharusnya bisa digunakan untuk bersenang-senang atau membeli kado yang bagus, terpaksa dialihkan untuk dana darurat kesehatan (mengingat antrean BPJS yang kian panjang dan horor pencabutan status kepesertaan Penerima Bantuan Iuran/PBI sepihak) atau untuk tabungan masa depan yang makin tak pasti. Inilah alasan mengapa romansa terasa seperti barang mewah.

Saya tidak menyalahkan individu yang merayakan kemewahan, tetapi saya menyalahkan sistem yang membuat standar kebahagiaan menjadi begitu mahal.

Untungnya yang defisit itu negara, bukan perasaanku padamu. Aseekk!

Situasi ini diperparah oleh apa yang disebut Sosiolog Eva Illouz sebagai Emotional Capitalism. Kapitalisme tidak hanya menjual barang, ia juga memonetisasi emosi kita dengan menciptakan narasi bahwa besarnya cinta diukur dari nilai transaksi. "Kalau sayang, belikan dia ini, belikan dia itu," bisik iklan di sela-sela video YouTube atau TikTok yang kita tonton. Tanpa sadar, kita terjebak dalam kompetisi pembuktian diri.

Oleh karena itu, bagi saya, mengikuti tren kado valentine seharga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah di kondisi ekonomi hari ini menjadi tidak masuk di akal. Membeli barang di hari Valentine sering kali berarti membeli produk yang harganya sudah digelembungkan (markup) gila-gilaan, memiliki jejak karbon tinggi, dan tidak bertahan lama. Saya memilih untuk mundur selangkah dari hiruk-pikuk itu. Saya menolak rasa bersalah yang ditanamkan pasar maupun rasa insecure karena tidak bisa membelikan barang branded.

Pilihan saya jatuh pada kangkung karena kita sekarang sedang menjalankan mode bertahan hidup. Dan dalam mode tersebut, romantisisme akan ikut berevolusi menjadi sesuatu yang lebih substansial.

Ketika Kangkung Menjadi Cara Saya Merayakan Kita

Inilah alasan mengapa saya memilih kangkung. Terdengar konyol? Mungkin. Tapi dengar dulu alasannya. Di tengah gempuran harga bahan pokok yang naik-turun, membawa pulang bahan makanan segar ke rumah atau kosan adalah tindakan kasih sayang yang paling murni. Ketika saya memberikan seikat kangkung (mungkin ditambah tempe dan sambal terasi) kepada pasangan, saya tidak memberikan barang yang nirmanfaat. Saya memberinya energi.

Kangkung mengandung zat besi, vitamin, dan serat. Di tubuh warga biasa seperti kami, nutrisi adalah aset utama untuk terus bertahan. Kami butuh tubuh yang sehat untuk tetap bisa bekerja, untuk tetap bisa berpikir jernih, dan untuk tetap waras menghadapi tekanan rezim dan antek-anteknya yang sering nyawit (baca: nyari duwit). Memberikan pangan adalah cara saya berkata: "Saya peduli pada kelangsungan hidupmu. Saya ingin kamu tetap sehat, karena kita masih punya banyak pertarungan yang harus dihadapi bersama di masa depan."

Lebih dari sekadar memberi, jika sempat, momen ini bisa berlanjut menjadi kegiatan memasak dan makan bersama. Bagi saya, kolaborasi menumis kangkung, menggoreng tempe, dan mengulek sambal jauh lebih intim daripada duduk kaku di restoran mahal. Ada solidaritas di sana. Ada perasaan senasib sepenanggungan. Kami sedang membangun benteng pertahanan kecil kami sendiri di tengah badai ekonomi. Kami sedang merayakan fakta bahwa kami masih bisa makan enak tanpa harus berutang lewat aplikasi pinjol yang bunganya mencekik.

Ini adalah bentuk perlawanan personal saya. Saya ingin membuktikan bahwa kangkung bisa menjadi simbol cinta yang setara dengan berang-barang lain.

Manifesto Kangkung, Romantisisme Versi Kita Sendiri

Di tengah situasi yang serba represif dan mahal ini, kita perlu mendefinisikan ulang apa itu romantis. Romantisisme di era ”in this economy" haruslah bersifat pragmatis, berkelanjutan, dan sadar kelas.

Cinta di era neoliberalisme adalah tentang solidaritas. Hubungan asmara di kalangan kelas pekerja dan menengah yang rentan (prekariat) seharusnya berfungsi sebagai sebuah aliansi dua orang untuk saling menopang di tengah guncangan ekonomi. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, memberikan dan memasak kangkung bersama artinya kita sedang melakukan aksi mutual aid (bantu-membantu), menolak didikte oleh industri raksasa, dan berhemat untuk menimbun logistik untuk melawan ketidakpastian masa depan.

Pilihan hidup sederhana ini juga menyadarkan saya pada satu hal ironis tentang relasi kita dengan negara. Pemerintah hari ini seolah memiliki seribu satu cara untuk mengambil uang dari kantong rakyatnya. Negara hadir di setiap transaksi, memungut upeti tanpa memberikan layanan publik yang sepadan. Maka, mencintai dengan sederhana adalah cara kita meminimalisir intervensi negara dalam dompet kita.

Akhir kata, pada Valentine kali ini, saya mengangkat topi (dan segelas kopi tubruk) bagi mereka yang merayakan dengan bunga, boneka teddy bear, atau cokelat. Semoga kebahagiaan kalian menular. Tapi bagi kawan-kawan yang senasib dengan saya, yang merasa tercekik oleh tagihan dan inflasi, jangan berkecil hati. Rayakanlah Valentine dengan caramu sendiri. Jika itu berarti memasak mi instan berdua atau sekadar bucin di taman kota, lakukanlah dengan bangga.

Jika pasangan Anda menuntut kemewahan yang tidak masuk akal, mungkin dia perlu diajak duduk mengobrol tentang situasi hari ini dan betapa sering tidak sebandingnya apa yang kita kejar dengan apa yang kita dapatkan. Tapi jika dia tersenyum saat Anda membawakan kantong keresek berisi sayuran untuk dimasak bersama, pertahankan dia. Karena di era di mana negara abai dan pasar makin buas, memiliki kawan seperjuangan yang mengerti bahwa cinta adalah kata kerja adalah satu-satunya kemewahan yang tersisa bagi kita.

Selamat merayakan hari kasih sayang, kawan-kawan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//