Bandung Spirit, Solidaritas yang Masih Hidup Dirawat Warga
Pengusulan kawasan Asia Afrika sebagai Warisan Dunia sedang diuji. Masih relevankah Bandung Spirit?
Penulis Fitri Amanda 15 Juli 2026
BandungBergerak - Pemandangan Bandung pada 1955 diwarnai beragam pakaian yang dikenakan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Dengan jas dan dasi, peci hitam, hingga pakaian tradisional, mereka berjalan kaki dari Hotel Savoy Homann menuju Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika untuk membicarakan masa depan dunia yang bebas dari kolonialisme.
Tujuh dekade kemudian, Jalan Asia Afrika tetap menjadi ruang perjumpaan. Kawasan ini dipenuhi wisatawan, pedagang kaki lima, fotografer, seniman jalanan, hingga menjadi lokasi berbagai aksi solidaritas, termasuk untuk Palestina.
Bagi sejumlah akademisi dan pegiat sejarah, denyut aktivitas itu menunjukkan bahwa Bandung Spirit bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan nilai solidaritas yang masih hidup hingga kini.
Gagasan tersebut mengemuka dalam seminar "Reaktualisasi Nilai Bandung Spirit dalam Penataan Kawasan Asia-Afrika yang Inklusif dan Berkelanjutan Menuju Warisan Dunia UNESCO", Jumat, 10 Juli 2026.
Para pembicara menilai, upaya mengusulkan kawasan Asia Afrika sebagai Warisan Dunia UNESCO tidak cukup hanya bertumpu pada nilai sejarah bangunan, tetapi juga harus mampu menunjukkan bahwa semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 masih relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Pemimpin Redaksi BandungBergerak, Tri Joko Her Riadi, mengatakan Bandung Spirit merupakan warisan terpenting dari Konferensi Asia Afrika yang perlu terus dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, konferensi tersebut lahir dari keberanian para pemimpin Asia dan Afrika melawan kolonialisme serta ketidakadilan global.
"Jika solidaritas KAA disebut sebagai warisan yang terpenting, maka kita perlu meyakinkan dan meyakini diri juga untuk menceritakannya bahwa itu untuk hidup terus," ungkap Tri Joko.
Menurutnya, solidaritas bukanlah sesuatu yang asing bagi Bandung. Nilai tersebut telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kota dan terus muncul dalam berbagai situasi.
Ia mencontohkan gerakan dapur umum yang diinisiasi anak-anak muda saat pandemi Covid-19, gerakan solidaritas sosial untuk membantu warga terdampak, hingga dukungan terhadap warga yang menghadapi ancaman penggusuran. Dalam berbagai peristiwa itu, warga secara sukarela meluangkan waktu, tenaga, dan sumber daya untuk membantu kelompok yang mereka anggap mengalami ketidakadilan.
Bagi Tri Joko, semangat yang sama juga melandasi Konferensi Asia Afrika 1955. Saat itu, para pemimpin negara-negara Asia dan Afrika bersatu menyuarakan perlawanan terhadap kolonialisme dan ketimpangan yang mereka alami.
Baca Juga: Savoy Homann dan Jejak Dasasila Bandung yang Belum Usang
Melupakan Bandung Spirit, Merawat Kolonialisme Baru

Lebih dari Sekadar Bangunan Bersejarah
Pandangan serupa disampaikan Dian Trian Syahjani. Menurutnya, Bandung Spirit tidak dapat dipahami hanya sebagai peristiwa sejarah atau sekadar kawasan fisik, tetapi sebagai otoritas moral yang terus memengaruhi hubungan internasional hingga kini.
Semangat Bandung, kata Dian, melahirkan berbagai inisiatif global, seperti Gerakan Non-Blok, Kelompok 77 (G-77), serta menginspirasi organisasi regional seperti ASEAN dan African Union. Karena itu, nilai-nilai yang lahir dari Bandung tidak berhenti pada penyelenggaraan KAA 1955, melainkan terus berkembang dalam tata kelola hubungan internasional.
“It’s not only a building, it’s not only a kawasan, but it’s a moral authority (ini bukan hanya sebuah bangunan, bukan hanya sebuah kawasan, tapi ini adalah sebiah otoritas moral),” ucapnya.
Menurut Dian, narasi inilah yang perlu ditonjolkan dalam usulan kawasan Asia Afrika sebagai Warisan Dunia UNESCO. Keberhasilan nominasi tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan dokumen teknis atau kondisi bangunan bersejarah, tetapi juga oleh kemampuan menjelaskan relevansi Bandung Spirit terhadap berbagai persoalan global saat ini.
Sementara itu, sejarawan Asvi Warman Adam mengingatkan bahwa Bandung Spirit tidak lahir begitu saja pada 1955. Ia merupakan hasil perjalanan panjang gagasan antikolonialisme yang berkembang di Bandung jauh sebelum Konferensi Asia Afrika berlangsung.
Menurut Asvi, pelestarian warisan KAA tidak cukup hanya melalui pengakuan terhadap kawasan bersejarah. Memori kolektif juga harus dibangun melalui pelestarian arsip serta penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang berperan penting dalam penyelenggaraan konferensi, seperti Ali Sastroamidjojo dan Sanusi Hardjadinata.
“Jadi ada arsipnya, ada kawasannya, kemudian ada tokoh-tokohnya yang dibicarakan, diajarkan di sekolah. Dengan begitu memori kolektifnya menjadi lebih lengkap,” ucapnya.
Bagi para pembicara, kawasan Asia Afrika bukan sekadar ruang yang menyimpan jejak sejarah, melainkan tempat yang terus menghidupkan nilai-nilai yang lahir pada Konferensi Asia Afrika 1955. Jika kelak kawasan tersebut diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO, yang diwariskan bukan hanya bangunan dan lanskap kota, tetapi juga semangat solidaritas yang hingga kini masih menemukan bentuknya dalam kehidupan masyarakat Bandung.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami


