• Berita
  • Savoy Homann dan Jejak Dasasila Bandung yang Belum Usang

Savoy Homann dan Jejak Dasasila Bandung yang Belum Usang

Dari kamar tempat Sukarno menginap hingga monumen Dasasila di Jalan Asia Afrika, Hotel Savoy Homann menyimpan ingatan tentang perlawanan terhadap kolonialisme.

Pemandangan ke arah Gedung Merdeka di Hotel Savoy Homann, Bandung, April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Penulis Prima Mulia8 Mei 2026


BandungBergerak - Tak ada lagi deretan bendera besar yang dulu berkibar gagah mengelilingi Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) saat peringatan pekan KAA ke-71 pada April 2026. Dari balkon Homann Suite kamar 244 di Hotel Savoy Homann, kedua bangunan bersejarah itu tampak sedikit kusam di bawah langit sore yang berawan.

Kamar 244 memiliki jejak sejarah penting. Saat Konferensi Asia Afrika 1955 berlangsung, Presiden Sukarno menginap di kamar tersebut. Sementara Perdana Menteri India Pandit Jawaharlal Nehru menempati kamar 344 dan Perdana Menteri Republik Rakyat Cina Zhou Enlai berada di kamar 444. Jarak Hotel Savoy Homann dengan Gedung Merdeka dan Museum KAA pun hanya sekitar 200 meter.

Bangunan asli gothic revival Hotel Savoy Homann, Bandung, April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Bangunan asli gothic revival Hotel Savoy Homann, Bandung, April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Hotel Savoy Homann sendiri merupakan salah satu bangunan bersejarah paling ikonik di Bandung. Wajah modern bergaya art deco dengan sentuhan streamline moderne yang terlihat saat ini merupakan hasil rancangan arsitek A.F. Aalbers dalam renovasi besar pada 1937–1939. Pada masanya, desain tersebut menjadikan Savoy Homann sebagai salah satu bangunan termewah di kota itu.

Namun sejarah hotel ini jauh lebih panjang. Bangunan awalnya didirikan sekitar 1880 oleh August Heinrich Homann dalam bentuk yang masih sederhana. Renovasi besar kembali dilakukan pada 1883–1884 dengan mengusung gaya gothic revival.

Koleksi bekas jamuan delegasi KAA 1955 di Hotel Savoy Homann, Bandung, April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Koleksi bekas jamuan delegasi KAA 1955 di Hotel Savoy Homann, Bandung, April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

“Bangunan sisa dari era gothic revival masih ada di bagian belakang hotel. Dulu pernah dipakai kantor Bandung Heritage. Pada masa Perang Dunia II juga sempat digunakan militer Jepang dan menjadi tempat penyiksaan tahanan,” kata Frances Affandi, pemerhati sejarah sekaligus salah seorang pendiri Bandung Heritage.

Selain menyimpan sejarah panjang, Savoy Homann juga memiliki sejumlah peninggalan unik. Di gerbang keluar lobi, misalnya, terdapat tulisan latin Mox Salvus Redeas yang berarti “semoga Anda kembali dengan selamat”. Di area lobi juga terdapat lemari memorabilia berisi peralatan makan yang pernah digunakan saat KAA 1955.

Reslief Ind.State Railways di Hotel Savoy Homann, Bandung, April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Reslief Ind.State Railways di Hotel Savoy Homann, Bandung, April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Tak jauh dari situ, relief di dinding menampilkan peta jalur kereta api era Hindia Belanda. Pada relief itu tercetak tulisan “Ind. State Railways” yang hingga kini belum diketahui pasti maknanya.

Padahal, perusahaan kereta api yang beroperasi pada masa Hindia Belanda dikenal sebagai Staatsspoorwegen (SS). Frances mengaku belum menemukan data maupun foto lama yang dapat memastikan asal-usul tulisan tersebut.

Tanda tangan Perdana Menteri India Pandit Jawaharlal Nehru di Hotel Savoy Homann, Bandung, April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Tanda tangan Perdana Menteri India Pandit Jawaharlal Nehru di Hotel Savoy Homann, Bandung, April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

“Saya belum menemukan data atau foto lama yang bisa menjelaskan tulisan aslinya seperti apa. Jadi tidak tahu apakah itu tulisan asli dari saat dibuat atau hanya tambahan saja belakangan setelah masa kemerdekaan,” jelas Frances.

Penulis dan pemerhati sejarah Karguna Purnama Harya menduga ada dua kemungkinan asal-usul tulisan itu. Pertama, adanya kerja sama antara Hindia Belanda dengan perusahaan kereta api Inggris, Indian State Railways, saat pembangunan jalur kereta di Jawa. Kemungkinan kedua, tulisan tersebut merupakan versi bahasa Inggris dari Staatsspoorwegen.

“Indian di sini ya Indianya Belanda alias kita, tidak akan keluar dari dua kemungkinan itu,” jelasnya.

Baca Juga: Melupakan Bandung Spirit, Merawat Kolonialisme Baru
Jejak KAA di Tengah Deru Perang, Dasasila Bandung Digaungkan Kembali

Streamline art deco Hotel Savoy Homann, Bandung, April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Streamline art deco Hotel Savoy Homann, Bandung, April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Jejak sejarah lain masih tersimpan di lobi hotel melalui Golden Book atau buku tamu yang ditandatangani para pemimpin dunia. Salah satunya tanda tangan Jawaharlal Nehru yang masih tersimpan dalam kotak kaca. Pihak hotel juga menyediakan versi digital buku tamu tersebut melalui layar monitor di sampingnya.

Nuansa masa lalu juga tetap dipertahankan di kamar-kamar suite hotel. Furnitur asli masih digunakan, termasuk di kamar yang pernah ditempati para kepala negara peserta KAA. Di area lobi, sebuah piano tua tetap dipajang. Menurut cerita yang beredar, aktor Charlie Chaplin pernah menari di atas piano tersebut.

Monumen Dasasila Bandung di Jalan Asia Afrika, Bandung, April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Monumen Dasasila Bandung di Jalan Asia Afrika, Bandung, April 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Di depan Hotel Savoy Homann, sebuah monumen Dasasila Bandung berdiri di trotoar Jalan Asia Afrika. Prinsip-prinsip yang lahir dari Konferensi Asia Afrika 1955 itu menekankan penghormatan terhadap kedaulatan bangsa, penolakan terhadap intervensi, serta pentingnya kerja sama damai antarnegara.

Tujuh dekade berlalu, semangat Dasasila Bandung terasa kembali relevan di tengah meningkatnya konflik global, perang dagang, dan ketegangan geopolitik dunia.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//