• Opini
  • Childfree dan Ketakutan Sistemik Pasangan Muda

Childfree dan Ketakutan Sistemik Pasangan Muda

Fenomena childfree menjadi hasil interaksi yang terjalin di dalam berbagai lapisan lingkungan yang membentuk perkembangan hidup seseorang.

Rozanah Dzatil Bayani

Penulis tertarik pada isu sosiologi perkotaan.

Pernikahan Tina Kosasih dan Joi Rumengan diwakili dua pasang sepatu, di Goethe Institut Bandung, Minggu (24/09/2022). Pernikahan ini diadaptasi dari cerpen Tina Kosasih dan Joi Rumengan yang ditulis Suina Latersia dan Tegar Pratama. (Foto: Mawaddah Daniah/BandungBergerak.id)

16 Juli 2026


BandungBergerak – Dewasa ini, pasangan muda menghadapi kompleksitas variabel-variabel yang terus bertambah untuk membangun sebuah keluarga. Memiliki anak atau tidak bukan lagi sekadar kewajiban dalam memenuhi ekspektasi keluarga, melainkan menjadi keputusan yang dipilih secara sadar melalui perhitungan yang logis dan rasional. Menjadi orang tua artinya siap mengemban tanggung jawab yang jauh lebih besar lagi untuk memberikan kehidupan layak bagi setiap anak yang dilahirkan. Bahkan, menunda pernikahan pun jadi pilihan paling rasional di tengah himpitan ekonomi yang terus menambah panjang proses pendewasaan seseorang untuk siap menjadi orang tua seutuhnya. Belum lagi krisis iklim, ekologi, konflik politik yang rasa-rasanya tidak pantas diwarisi kepada generasi mendatang. Ketakutan-ketakutan sistemik ini mendorong seseorang untuk childfree agar tak ada ungkapan penyesalan dari anak yang nantinya dilahirkan dan tumbuh di tengah kekacauan.

Childfree merupakan istilah yang digunakan bagi pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak sepanjang hidupnya secara sadar tanpa adanya kondisi medis yang menghambat. Fenomena childfree dapat dikaji melalui teori ekologi dari Urie Bronfenbrenner yang memandang setiap jalinan interaksi dalam sebuah lingkungan dapat memengaruhi keputusan seseorang. Lingkungan-lingkungan yang membentuk perkembangan hidup seseorang mencakup lima lapisan lingkungan terdekat yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, hingga kronosistem. Setiap kondisi lingkungan berperan penting dalam membentuk perkembangan makna keluarga.

Lingkungan pertama adalah mikrosistem, di mana interaksi berlangsung pada lingkup terdekat seperti pasangan, orang tua, keluarga besar, hingga teman sebaya. Mikrosistem berbicara mengenai bagaimana keputusan childfree itu terbentuk dari kondisi interaksi dalam lingkup terdekat. Seseorang yang memilih untuk childfree cenderung mencari pasangan yang memiliki pandangan serupa untuk meminimalisir terjadinya konflik berkelanjutan. Lebih lanjut, George Herbert Mead menganalisis adanya pengaruh eksternal yang terinternalisasi dalam diri seseorang sehingga mengonstruksi pikiran (mind) dan persepsi terhadap diri (self) untuk mengambil keputusan childfree. Kondisi tersebut bisa berasal dari pengaruh trauma masa kecil terkait disfungsi pola asuh keluarga maupun kondisi kesejahteraan keluarga dari teman sebaya yang tidak stabil semenjak memiliki anak.

Pemaknaan seseorang terhadap dirinya dapat dilihat dari sudut pandang “I” sebagai subjek aktif dan “me” sebagai subjek pasif yang mempertimbangkan penilaian lingkungan terhadap dirinya. Sebagai contoh, pada lingkup mikrosistem, orang tua memiliki keinginan agar anaknya memberikan cucu untuk meneruskan generasi keluarga. Sudut pandang “me” akan berusaha memenuhi ekspektasi tersebut sehingga memiliki anak adalah kewajiban. Sementara dalam perspektif “I” seseorang memiliki keinginan untuk menunda memiliki anak bahkan memutuskan untuk childfree sama sekali demi menstabilkan keluarga. Perbedaan sudut pandang tersebut mengharuskan adanya upaya negosiasi dalam diri seseorang untuk senantiasa aktif dalam memperjuangkan apa yang akan menjadi nilai hidupnya. Pasangan yang memutuskan untuk childfree harus siap menerima berbagai konsekuensi dari adanya perbedaan pandangan mengenai childfree itu sendiri.

Baca Juga: Perempuan Paling Dirugikan dalam Fenomena Pernikahan Dini
Psikologi Perkembangan Anak, Menyusuri Dunia Tumbuh Kembang Anak
Kedewasaan Prematur: Beban Psikologis Pasca Pernikahan Dini

Ketakutan Sistemik

Lingkungan kedua yang memengaruhi keputusan seseorang untuk childfree adalah mesosistem. Tempat di mana kondisi dua hingga tiga lingkungan berbeda saling berinteraksi dan menimbulkan konsekuensi jangka panjang. Pasangan muda yang dituntut untuk memiliki anak oleh orang tuanya perlu juga mempertimbangkan fasilitas pendukung di tempat kerja. Pasangan yang sama-sama bekerja akan kesulitan mengasuh anak jika durasi cuti melahirkan saja hanya memenuhi setengah usia perkembangan anak. Terlebih jika tempat bekerja tidak menyediakan layanan penitipan anak bagi pasangan yang bekerja. Hasil interaksi antar lingkungan mesosistem ini akan membentuk pola pikir baru yang memperhitungkan konsekuensi akan setiap tanggung jawab yang diambil.

Jika lingkup mikrosistem dan mesosistem berbicara mengenai proses terbentuknya keputusan seseorang untuk childfree dalam lingkup terdekat, lingkungan ketiga lebih menyoroti pengaruh keberjalanan sistem yang secara tidak langsung memaksa untuk childfree. Ekosistem yang melingkupi keluarga-keluarga di Indonesia semakin memperparah kondisi fungsionalisme struktural dalam sebuah keluarga. Realita keluarga modern pasangan muda berikutnya tercermin dalam penggalan lirik lagu Hindia lainnya bertajuk interaksi antara anak muda dan orang tua.

“Ayah pertanyakan keputusanku kontrak rumah, seakan harga tanah semurah saat ia belia.
Bunda pertanyakan keputusanku tak menikah, seakan biaya pendidikan semurah dahulu kala.”

Ketakutan sistemik digambarkan dengan harga properti lahan pemukiman yang kian meningkat sementara kepadatan penduduk terus mengalami pertumbuhan. Lingkup mikrosistem sebagai tempat berlangsungnya sosialisasi primer dan proses pendewasaan kepribadian utama bagi anak semakin kehilangan tempatnya karena terdampak ekosistem yang pelik. Belum lagi berbicara terkait kebutuhan hak dasar anak untuk mendapatkan pendidikan agar memiliki pola pikir dan pola tindak yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Hanya mereka dengan privilese yang bisa mengakses sekolah-sekolah elite dalam meningkatkan taraf berpikir generasi mendatang. Lalu, harus berapa lama lagi pasangan muda menabung demi memenuhi kehidupan yang layak bagi anak-anak mereka?

Bukan hanya ekosistem yang memengaruhi keputusan seseorang untuk childfree. Pada lingkungan keempat yaitu makrosistem, keyakinan yang sudah mengakar dan ajeg di tengah masyarakat menjadi ketakutan sistemik lainnya. Makrosistem merupakan tempat berlangsungnya ideologi dan budaya yang melanggengkan dominasi kuasa atas pilihan hidup seseorang. Budaya patriarki misalnya berimbas langsung pada keterbatasan pilihan perempuan atas tubuhnya.

Lingkungan kelima adalah kronosistem yang menjadi latar waktu atau kondisi zaman dalam sebuah fenomena. Pada masa krisis moneter 1998, masyarakat tidak memungkinkan untuk memiliki anak karena keterbatasan akses ekonomi. Bencana alam pun turut menekan angka kelahiran karena masa paceklik yang melatarbelakanginya. Selain itu, keputusan seseorang untuk childfree pun dipengaruhi oleh keterbukaan akses terhadap informasi yang dapat ditemui pada forum-forum digital seiring dengan perkembangan teknologi.

Fenomena childfree menjadi hasil interaksi yang terjalin di dalam berbagai lapisan lingkungan. Jika terus dibiarkan, angka pertumbuhan penduduk Indonesia akan terus mengalami penurunan. Ketakutan-ketakutan sistemik dapat diatasi dengan memperbaiki lingkup ekosistem dan makrosistem sehingga lingkungan lainnya akan mengikuti. Jangan biarkan pasangan muda terus terjebak dalam belenggu pendewasaan yang terus mengalami proses perpanjangan hingga potensinya untuk membangun keluarga habis tergerus oleh waktu.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//