RESENSI BUKU: Ketika Babi Menjadi Filsuf dan Big Brother Menjadi Influencer
Banyak orang membaca Animal Farm sebagai kisah tentang revolusi yang gagal. Padahal George Orwell sedang menunjukkan sesuatu yang jauh lebih menggelitik.
Penulis Fabian Satya Rabani20 Juli 2026
BandungBergerak – Ada satu profesi yang tampaknya tidak pernah mengalami PHK sepanjang sejarah: penguasa. Yang berubah hanya seragamnya. Dulu mengenakan mahkota, kemudian jas militer, lalu setelan jas lengkap dengan dasi sutra. Kini ia bahkan bisa hadir dengan hoodie, sepatu kets, kamera ponsel, dan senyum ramah yang dipoles algoritma. Kekuasaan memang makhluk yang pandai berdandan. Ia belajar dari sejarah bahwa manusia tidak selalu takut kepada cambuk, tetapi hampir selalu jatuh cinta kepada citra. Di sinilah dua novel karya George Orwell, Animal Farm dan 1984, masih terasa segar meskipun ditulis lebih dari delapan dekade lalu. Keduanya bukan sekadar novel politik, melainkan semacam buku petunjuk tentang bagaimana kekuasaan lahir, tumbuh, merawat dirinya, dan–yang paling menarik–membuat orang percaya bahwa semua itu terjadi demi kebaikan bersama.
Banyak orang membaca Animal Farm sebagai kisah tentang revolusi yang gagal. Padahal Orwell sedang menunjukkan sesuatu yang jauh lebih menggelitik. Revolusi ternyata memiliki selera humor yang unik. Ia selalu berjanji menghapus kasta, tetapi sering kali hanya mengganti penghuni kasta. Hari ini rakyat berteriak, "Semua setara!" Besok pagi seseorang sudah sibuk mengukur ukuran kursi ketua. Ironi ini bukan monopoli ideologi tertentu. Ia dapat muncul dalam sistem politik apa pun ketika kekuasaan mulai dianggap sebagai hak istimewa, bukan amanah. Maka babi-babi dalam peternakan Orwell bukanlah tokoh utama sesungguhnya. Tokoh utamanya adalah godaan. Godaan untuk percaya bahwa karena kita pernah menjadi korban, maka kita berhak menjadi penguasa tanpa batas. Dari sinilah lahir kalimat paling terkenal dalam novel itu: semua hewan sama, tetapi sebagian lebih sama daripada yang lain. Sebuah lelucon yang begitu cerdas hingga dunia politik masih kesulitan menemukan punchline yang lebih baik.
Namun revolusi hanyalah bab pertama. Setelah kursi berhasil diduduki, muncul pertanyaan yang jauh lebih rumit daripada merebutnya: bagaimana membuat orang tetap percaya? Di sinilah 1984 seolah melanjutkan cerita yang tidak sempat ditulis dalam Animal Farm. Jika Napoleon menguasai peternakan, maka Big Brother menguasai kepala. Orwell memahami bahwa kekuasaan modern tidak cukup mengendalikan tubuh manusia. Mengendalikan pikiran jauh lebih murah daripada membangun penjara. Tidak perlu rantai jika seseorang telah percaya bahwa rantai adalah perhiasan. Tidak perlu sensor berlebihan jika masyarakat dengan sukarela menyensor dirinya sendiri. Dan tidak perlu menghapus sejarah jika sejarah dapat ditulis ulang setiap pagi sebelum sarapan.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Kelabang, Kisah Para Narapidana, dan Siksaan Bagi Pembacanya
RESENSI BUKU: Negara Agraris yang Kehilangan Tanah untuk Petaninya
RESENSI BUKU: Bersetia pada Seni Lewat Jurnalisme
Pola Hubungan Bahasa, Kekuasaan, dan Manusia
Sastra tidak sekadar memantulkan masyarakat seperti cermin yang pasif. Sastra membentuk cara masyarakat memahami kenyataan. Orwell tidak sedang meramalkan masa depan secara teknis. Ia sedang membedah pola hubungan antara bahasa, kekuasaan, dan manusia. Karena itulah pembaca dari generasi yang berbeda selalu menemukan zamannya sendiri di dalam karya tersebut. Yang berubah hanyalah nama tokohnya, medianya, dan teknologinya. Mekanismenya tetap sama: siapa yang menguasai cerita, sering kali ikut menentukan siapa yang dipercaya sebagai pemilik kebenaran.
Di titik inilah teori hegemoni menjadi sangat relevan. Kekuasaan yang paling efektif bukanlah kekuasaan yang membuat rakyat takut, melainkan yang membuat rakyat merasa setuju. Persetujuan sosial jauh lebih murah daripada represi. Orang yang diyakinkan akan menjaga sistem tanpa perlu diperintah setiap hari. Budaya, pendidikan, media, simbol, bahkan hiburan dapat menjadi ruang tempat persetujuan itu dibangun. Maka pertarungan terbesar dalam masyarakat modern bukan lagi soal siapa memiliki senjata paling banyak, melainkan siapa mampu mendefinisikan makna. Ketika sebuah istilah berubah arti, sering kali arah perdebatan ikut berubah. Bahasa ternyata bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga arena perebutan kekuasaan.
Fenomena politik pencitraan lahir dari logika yang sama. Dalam masyarakat visual, persepsi sering kali mendahului kenyataan. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut bekerja, tetapi juga terlihat sedang bekerja. Kamera menjadi saksi yang lebih dipercaya daripada laporan panjang. Foto lebih cepat mengalahkan data. Video berdurasi satu menit lebih mudah diingat daripada dokumen seratus halaman. Tidak ada yang salah dengan komunikasi politik; justru demokrasi memerlukan komunikasi yang efektif. Persoalannya muncul ketika citra berhenti menjadi jendela dan berubah menjadi dinding. Ketika kemasan mengalahkan isi, masyarakat mulai menilai kebijakan berdasarkan estetika, bukan argumentasi. Politik perlahan berubah menjadi panggung, sementara warga diposisikan sebagai penonton yang sibuk memberi tanda suka.
Media sosial mempercepat seluruh proses tersebut. Dahulu propaganda membutuhkan kantor besar, percetakan, dan jaringan distribusi. Kini cukup satu telepon pintar dan koneksi internet. Dahulu desas-desus berjalan kaki. Sekarang ia berlari mengikuti kecepatan notifikasi. Dalam situasi seperti ini, budaya buzzer lebih tepat dipahami sebagai gejala ekosistem informasi daripada sekadar perilaku individu. Ia menunjukkan bagaimana perhatian manusia telah menjadi komoditas yang diperebutkan. Algoritma tidak memiliki ideologi; ia hanya menyukai apa yang membuat orang berhenti menggulir layar. Akibatnya, emosi sering kali lebih laku daripada nalar, kemarahan lebih cepat menyebar daripada klarifikasi, dan kepastian palsu lebih menarik daripada keraguan yang jujur. Jika Squealer hidup pada abad ke-21, mungkin ia tidak lagi berpidato di lumbung. Ia cukup mengunggah konten pendek, menambahkan musik yang sedang tren, lalu membiarkan algoritma menyelesaikan sisanya.
Di balik hiruk-pikuk informasi itu, konsep oligarki menjadi semakin penting dipahami secara jernih. Dalam ilmu politik, oligarki bukan sekadar kumpulan orang kaya atau elite yang berkuasa. Ia merupakan situasi ketika sumber daya ekonomi, politik, informasi, atau teknologi terkonsentrasi pada kelompok yang relatif kecil sehingga mampu memengaruhi keputusan publik secara tidak proporsional. Fenomena ini dapat muncul dalam berbagai bentuk pemerintahan. Bahkan sistem yang dibangun atas nama kesetaraan pun tidak otomatis kebal terhadap konsentrasi kekuasaan. Animal Farm mengingatkan bahwa privilese sering kali tidak diwariskan, melainkan diciptakan sedikit demi sedikit melalui kebiasaan, legitimasi, dan pembenaran moral. Ketimpangan jarang lahir dalam satu malam; ia tumbuh pelan-pelan hingga suatu hari tampak seolah-olah sebagai sesuatu yang wajar.
Karena itu, demokrasi tidak cukup diukur dari keberhasilan menyelenggarakan pemungutan suara. Demokrasi prosedural memang penting karena menyediakan mekanisme pergantian kekuasaan secara damai. Namun demokrasi deliberatif mengingatkan bahwa kehidupan politik yang sehat memerlukan lebih dari sekadar kotak suara. Ia membutuhkan ruang dialog yang terbuka, argumentasi yang rasional, penghormatan terhadap perbedaan, dan kesediaan mendengarkan sebelum menyimpulkan. Suara mayoritas memang menentukan hasil, tetapi kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh cara masyarakat berdiskusi sebelum suara itu diberikan. Tanpa budaya deliberasi, pemilu dapat berubah menjadi perlombaan popularitas, sedangkan kebijakan publik kehilangan kedalaman intelektualnya.
Dalam kerangka itu pula penegakan hukum memperoleh maknanya. Hukum bukan hanya kumpulan pasal yang mengatur perilaku, melainkan fondasi kepercayaan sosial. Kekuatan hukum tidak semata-mata terletak pada ancaman sanksi, tetapi pada keyakinan masyarakat bahwa aturan diterapkan secara konsisten dan adil. Independensi lembaga bukan sekadar persoalan organisasi, melainkan syarat agar hukum tidak berubah menjadi instrumen kepentingan sesaat. Di sinilah filsafat kekuasaan memberikan pelajaran penting: kekuasaan yang sehat selalu bersedia dibatasi oleh aturan yang lebih tinggi daripada kehendaknya sendiri. Ketika semua orang tunduk pada hukum, hukum memperoleh kehormatannya. Sebaliknya, ketika hukum hanya tampak kuat terhadap yang lemah dan lemah terhadap yang kuat, yang runtuh bukan sekadar institusi, melainkan kepercayaan kolektif.
Kisah Tentang Manusia
Orwell sesungguhnya tidak sedang menulis tentang babi, kamera pengawas, atau slogan politik. Ia sedang menulis tentang manusia. Tentang kecenderungan manusia untuk mengagumi kekuasaan, lalu perlahan memaafkan penyalahgunaannya selama masih dibungkus narasi yang menyenangkan. Filsafat politik sejak zaman klasik telah mengingatkan bahwa kekuasaan memiliki kecenderungan untuk melampaui batas apabila tidak diawasi. Karena itu, pengawasan publik bukanlah tanda kebencian kepada negara, melainkan bentuk tanggung jawab warga negara. Kritik bukan lawan stabilitas; kritik justru salah satu mekanisme yang menjaga stabilitas agar tidak berubah menjadi stagnasi.
Animal Farm dan 1984 adalah dua novel yang saling melengkapi seperti dua bab dalam satu buku besar tentang kekuasaan. Animal Farm mengajarkan bagaimana idealisme dapat berubah menjadi privilese ketika kekuasaan kehilangan pengawasan. 1984 menunjukkan bagaimana privilese itu dipertahankan melalui pengelolaan informasi, bahasa, ingatan, dan persepsi. Di antara keduanya berdiri masyarakat, yang setiap hari dihadapkan pada pilihan sederhana tetapi menentukan: menjadi warga yang berpikir atau sekadar penonton yang bertepuk tangan. Mungkin inilah sebabnya karya Orwell tidak pernah benar-benar usang. Selama masih ada manusia yang tergoda menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, bukan sarana, selama itu pula akan selalu ada babi yang belajar berpidato, Big Brother yang belajar menjadi influencer, dan masyarakat yang harus terus belajar membedakan antara cahaya yang menerangi dengan sorot lampu yang sekadar menyilaukan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


