Membebaskan Seni dari Tirani Seniman
Setiap kali seniman tertangkap cabul atau berpendapat yang bikin lini masa mendidih, internet seketika berubah menjadi ruang sidang.

Jofie DB
Eks jurnalis asal Jakarta yang kini mengabdi paruh waktu di agency.
23 Juli 2026
BandungBergerak – Apabila diperkenankan, saya ingin memulai tulisan ini dengan pengakuan dosa. Saya jatuh cinta pada film karena Woody Allen.
Mengatakan saya mengagumi Annie Hall (1977) rasanya bahkan belum cukup. Otak sempit saya pecah karena takjub ketika tokoh Alvy Singer menginterupsi film di tengah cerita. Risi dengan orang sok tahu di antrean bioskop, ia menoleh dan mendekat ke layar laptop saya, mengajak mengeluh dengan sinisme kerasnya. Di momen itu, rasanya seperti saya baru saja membuka pintu ke Narnia. Ternyata film bisa sadar bahwa dirinya sedang menjadi film. Film juga bisa cerewet. Rasa takjub itu terus nge-blues sampai membentuk selera saya hari ini.
Waktu pertama kali menonton, saya cuma baru pulang sekolah dan belum tahu kalau di 2026, menyukai film karena Woody Allen akan terkesan seperti mengaku belajar politik dari Hitler. Barulah bertahun-tahun setelah itu, akhirnya saya tahu kebejatan Yahudi satu itu.
Kurang lebih pada masa yang sama saya membaca Cala Ibi (2003) karya Nukila Amal, yang sama-sama bermain-main dengan the fourth wall, sama-sama cerewet, sama-sama “sadar diri”. Lain cerita, baru-baru ini, seorang kawan bercerita tentang "Bukowski Rawamangun" yang aslinya orangnya asyik diajak nongkrong. Informasi yang sebetulnya tidak berguna. Tidak mengubah puisi-puisinya jadi lebih bagus juga.
Tapi dari pengalaman-pengalaman itu, ada ironi yang baru saya mengerti. Belum cukup untuk menjelaskan kenapa saya menyukai sesuatu. Ada yang perlu dijelaskan tentang political correctness saat saya berhubungan dengan karya-karya itu, yang terlalu mendekatkan saya dengan penciptanya, termasuk juga lewat cerita-cerita seputar mereka yang saya dapatkan tanpa saya menghendaki.
Baca Juga: Membicarakan Uang dalam Dunia Seni di Galeri Soemardja, antara Realitas Kocek Seniman dan Estetika
Para Seniman Mengarsipkan Sisa-sisa Masa Depan di Kota Bandung, Merekam Ingatan Melalui Fotografi dan Lagu Sabubukna
Menjelajahi Ruang-ruang Personal Seniman dalam Metafora Martabak Pandan Cokelat
Pandemi Budaya
Belakangan, saya mulai ketularan penyakit skena. Pandemi budaya, kalau boleh menyebutnya. Itu adalah saat kita berhenti mencintai karya, lalu mulai menguntit pembuatnya.
Dulu wabahnya tak seluas sekarang. Kecuali tetangganya, mungkin tak ada yang benar-benar peduli siapa Michelangelo, meski dia sakit leher bertahun-tahun akibat melukis langit-langit Sistine Chapel. Kita mengenal sutradara lewat filmnya, musisi lewat albumnya, penulis lewat bukunya. Kalau beruntung, kita menemukan wawancaranya di halaman belakang koran Minggu. Selesai.
Hari ini urutannya jungkir-balik. Kita mengenal sutradara lewat siniarnya, musisi lewat Instagram-nya, penulis lewat TikTok-nya. Kita tahu kopi favoritnya, sepatu yang dipakai joging, zodiaknya, sampai drama rumah tangga yang seharusnya cukup berhenti di grup WhatsApp keluarga. Di sela-sela semua itu, mereka kebetulan merilis karya baru. Kadang saya curiga karyanya cuma aksesori. Yang sebenarnya dipasarkan adalah manusianya.
Tentu, Hollywood-lah biang keladi dari ini. Sejak era studio system pada 1920-an, mereka sadar bahwa menjual aktor lebih menguntungkan daripada menjual film. Nama diganti, masa lalu dipoles, kisah cinta direkayasa, skandal disembunyikan. Singkatnya, mereka mengorbitkan bintang dengan mencetak manusia plastik.
Internet menyempurnakan mimpi basah Hollywood. Dulu persona menjual film. Hari ini film menjual persona–Moana (2016) dibuat agar Disney punya alasan bikin wahana baru di taman bermainnya, atau punya alasan memproduksi Labubu dari animasinya.
Karena itulah, pertanyaan “Can we separate the art from the artist?” semakin berisik beberapa tahun terakhir. Setiap kali seniman tertangkap cabul atau berpendapat yang bikin lini masa mendidih, internet seketika berubah menjadi ruang sidang.
Masih mendengarkan lagunya? Berarti membela pelakunya. Masih menonton filmnya? Berarti ikut melanggengkan kekerasan. Berhenti mengonsumsi karya mereka? Selamat! Kamu baru saja naik setingkat menjadi manusia yang lebih bermoral.
Tapi namanya juga media sosial; alat paling canggih untuk mengubah persoalan rumit jadi polling dua opsi. Setuju atau tidak? Hitam atau putih. Unfollow atau tetap follow. Dengan sederhana, media sosial menyelesaikan kuliah panjang soal moral di tombol block account.
Tapi kita juga perlu mengakui satu hal memalukan. Kita terlalu sibuk mengadili hidup orang lain–terutama seniman–lalu menganggapnya sebagai perpanjangan dari keluhuran selera kita sendiri. Kita lebih tertarik mencari tahu siapa yang masih mendengarkan Morrissey daripada bertanya kapan lagu-lagunya pernah enak didengar. Kita lebih heboh membicarakan Woody Allen daripada Annie Hall, atau sebaliknya. Ironisnya, itu sering terjadi persis saat kita mengaku sedang membela seni.
Filsuf Noël Carroll pernah menawarkan posisi yang disebut moderate moralism. Kedengarannya membosankan. Memang. Saking moderatnya, sampai mustahil dijadikan slogan kaus sablon atau unggahan LinkedIn berjargon.
Carroll tidak membela seniman brengsek, juga tidak percaya karya otomatis kehilangan seluruh nilainya begitu pembuatnya terbukti melakukan kejahatan. Menurutnya, hubungan antara moralitas dan estetika selalu bergantung pada konteks. Ada saat cacat moral menjadi cacat artistik. Ada pula saat ketika keduanya sama sekali tidak saling menentukan.
Posisi yang antiklimaks. Tidak ada hero maupun villain. Tidak ada akhir cerita yang membuat orang pulang dengan hati lega karena menang secara moral. Akan tetapi, bukankah memang begitu kebudayaan bekerja?
Yang lebih penting, menurut saya, adalah bagaimana kita mengganti satu pertanyaan usang. Sebelum media sosial mengubah seniman menjadi content creator penuh waktu, pertanyaannya sederhana: Apakah film ini masih layak ditonton? Sekarang pertanyaannya bergeser: Siapa yang diuntungkan kalau saya membeli tiketnya? Kelihatannya sepele. Namun, di situlah medan perangnya berpindah.
Kita selangkah lebih jauh, memperdebatkan distribusi atensi. Setiap tiket bioskop, setiap lagu yang diputar di Spotify, setiap potongan adegan yang dibagikan ke Instagram Story, bukan lagi sekadar bentuk apresiasi. Ia juga menjadi distribusi reputasi. Distribusi pengaruh. Dan, tentu saja, distribusi uang. Seni perlahan berubah menjadi ekonomi afeksi. Pierre Bourdieu sudah membahas medan budaya ini sampai kanker, berpuluh-puluh tahun lalu.
Lebih-lebih, kita tidak cuma membeli tiket film. Kita membeli kesempatan untuk merasa akrab dengan orang yang membuatnya.
Inilah hubungan parasosial.
Istilahnya memang terdengar bagaikan sejenis jamur kulit. Tapi kenyataannya, gejalanya lebih umum. Kita merasa mengenal seseorang yang sebenarnya tidak pernah mengenal kita. Kita tahu bagaimana ia mendidik anak, restoran langganannya, rutinitas gym-nya, sampai foto ruang tamunya. Kita menganggap semua itu bagian dari "proses kreatif”, yang sering kali mengabur dengan kehidupan pribadi.
Maka tidak mengherankan apabila persona senimannya retak, pesona seninya juga minggat. Bukan karena filmnya berubah. Annie Hall masih film yang sama. Lagu-lagu Ryan Adams tidak mendadak bertambah chord. Lelucon-lelucon Louis CK tidak hilang dari sejarah–dan YouTube. Puisi-puisi Sitok Srengenge dari dulu sama jeleknya. Yang berubah adalah hubungan kita dengan nama yang tercantum di kreditnya.
Bukan Monster
Ada satu tulisan Claire Dederer di The Paris Review berjudul “What Do We Do with the Art of Monstrous Men?”. Di situ, Dederer sebenarnya tidak menawarkan solusi. Ia mengaku masih mencintai Woody Allen, Roman Polanski, bahkan Pablo Picasso. Pergulatannya bukan tentang bagaimana cara paling pas menghukum mereka, tapi tentang bagaimana hidup dengan rasa bersalah karena tetap mencintai karya mereka.
Saya memahami kegelisahan itu. Tetapi saya kurang menyukai istilah yang ia pilih: monster.
Masalahnya, diksi “monster” terlalu komikal. Ia membuat kejahatan terdengar seperti sesuatu yang hanya dilakukan makhluk bertaring dengan seringai menyeramkan. Seolah pelaku kekerasan selalu tampak seperti alien di film-film Marvel.
Realitasnya jauh lebih dekat dan menohok. Pelaku kekerasan sering kali datang tepat waktu ke kantor. Menjadi pembicara seminar. Menulis buku motivasi. Mengucapkan terima kasih kepada ibu mereka saat menerima penghargaan. Bahkan rutin mengunggah foto sedang memberi makan kucing liar. Kalau mereka benar-benar tampak seperti monster, barangkali gerakan #MeToo tidak perlu ada.
Yang lebih mengganggu, Dederer kemudian memperluas istilah "monster" hingga mencakup perempuan yang merasa bersalah karena mengabaikan tuntutan domestik demi menyelesaikan karya kreatifnya. Sebagai metafora, itu indah. Sebagai analisis, saya rasa itu kelewat santun.
“Look at all the awful things I haven’t done. Maybe I’m not a monster. But here’s a thing I have done: written a book. Written another book. Written essays and articles and criticism. And maybe that makes me monstrous, in a very specific kind of way.”
Ada jurang yang terlalu jauh antara egoisme yang dibutuhkan untuk berkarya dan kekerasan terhadap orang lain. Kalau semua dosa kecil–apalagi rumah tangga–disebut monster, akhirnya tidak ada lagi yang benar-benar monster. Di titik itulah, saya mulai mencium bau amis feminisme kelas menengah Global Utara.
Barangkali karena itu pula, saya tidak akan mengakhiri pertanyaan “Can we separate the art from the artist?” dengan jawaban memadai.
Mengakui Annie Hall sebagai film terbaik yang pernah saya tonton adalah satu perkara. Memutuskan apakah saya masih ingin menjadi bagian dari ekosistem yang terus membesarkan Woody Allen adalah perkara lain. Dulu saya menonton Annie Hall tanpa tahu siapa Woody Allen. Hari ini banyak orang tahu siapa Woody Allen tanpa pernah menonton Annie Hall. Kita tidak sama.
Setidaknya, di zaman dulu kita bisa baku hantam karena beda pendapat soal film. Sebagai masyarakat, kita semakin rukun, semakin jarang berkelahi karena karya, karena lebih sibuk memperdebatkan manusianya, lalu memutuskan nasib karyanya hanya dari cukuran mullet artisnya–kiamat selera. Itulah kekalahan terbesar generasi kita, dan yang harus kita perjuangkan di revolusi budaya selanjutnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


