Menemani Para Lansia Panti Wredha di Bandung dengan Buku
Agenda memBACAkan BUKU di Panti Wredha yang digagas komunitas Dr.Longbook di Panti Sosial Tresna Wredha Budi Pertiwi, Bandung.
Penulis Daffa Fadillah25 Juli 2026
BandungBergerak - Mega baru pertama kali berdiri di depan banyak orang lagi setelah 13 tahun penuh menjadi ibu rumah tangga. Tangannya sedikit gemetar memegang buku kisah Nabi Syuaib. Di kursi paling belakang aula, suaminya duduk diam, menemani istrinya melangkah keluar dari rutinitas rumah yang sudah bertahun-tahun jadi dunianya.
"Saya enggak akan nanya nenek sehat, karena kayaknya nenek-nenek lebih sehat dari saya," katanya, di agenda “memBACAkan BUKU di Panti Wredha” yang digagas komunitas Dr.Longbook di Panti Sosial Tresna Wredha Budi Pertiwi, Bandung, Rabu, 22 Juli 2026.
Pernyataan Mega disambut tawa kecil dari deretan nenek dan kakek penghuni panti. Ia lalu bertanya, apakah mereka bahagia. "Bahagia!" jawab beberapa penghuni serentak.
Mega membacakan kisah keteguhan Nabi Syuaib, seorang utusan ilahi yang memilih bersabar menghadapi penghinaan alih-alih membalas dengan amarah. Di sela-sela pembacaan cerita, Mega menyelipkan sindiran ringan yang membumi, membandingkan kaum Madyan yang menyembah harta dengan gejala serupa di zaman sekarang.
"Zaman ayeuna ge seueur maksiat di luar sana," katanya sembari mengaitkan kisah itu dengan ketimpangan hari ini ketika orang kaya makin kaya, orang miskin makin miskin.
Bagi Mega, siang itu bukan sekadar soal membacakan kisah keteguhan seorang nabi kepada para lansia. Ini juga tentang dirinya sendiri, yaitu seorang perempuan yang selama lebih dari satu dekade jarang bicara di depan orang banyak, kini berdiri lagi, dengan dukungan diam-diam dari suami di baris belakang.
Pertemuan Mega dan suami dengan Dr.Longbook berawal dari poster di Instagram. Lalu mereka berdua tertarik untuk menjadi relawan.
Ini kali pertama mereka mengikuti acara Dr.Longbook. Setelah acara selesai, suami Mega bercerita bahwa di dalam lubuk hatinya ia juga ingin menjadi relawan seperti istrinya, namun keraguan menghampiri, mental yang dirasa belum cukup untuk menceritakan buku di depan tujuh belas penghuni panti akhirnya menghalangi keinginannya.
Walau begitu, ia tetap menemani Mega yang menjadi relawan di acara “memBACAkan BUKU di Panti Wredha”.
Selain Mega, satu per satu relawan bergantian maju ke depan aula, masing-masing membawa buku pilihan sendiri. Shofi membuka sesi dengan kisah seorang pencuri yang justru dicintai masyarakatnya sendiri , karena yang dicurinya bukan dari orang miskin, melainkan dari bangsawan licik dan serakah.
"Jadi dia kriminal yang dicintai sama masyarakat," ujarnya
Disambut tawa kecil dari penghuni panti. Di akhir sesi, Shofi melempar kuis sederhana, yaitu “buku itu terbit tahun 1920, abad berapa?” Seorang nenek menjawab cepat, "Abad ke-19" jawaban yang meleset, tapi cukup untuk mengundang senyum di ruangan.
Giliran berikutnya, Jauza membacakan "Sepotong Senja untuk Pacarku" karya Seno Gumira Ajidarma, cerita pendek surut tentang seorang lelaki yang memotong sepenggal senja untuk dikirim lewat pos kepada kekasihnya.
Setelah pembacaan usai, seorang nenek justru menanyakan hal paling praktis, "Jadi sekarang senjanya di mana? Cuma dipotong?" pertanyaan polos yang menunjukkan bagaimana fiksi absurd sekalipun tetap ditangkap secara harfiah dan jujur oleh audiens berusia senja itu.
Sesi paling reflektif datang ketika Gina membacakan puisi dari buku "Kamu Terlalu Banyak Bercanda" karya Marchella FP, lalu membalik arah percakapan dengan meminta pandangan dari audiensnya.
Yeti, salah satu pengurus panti yang ikut duduk menyimak, menimpali dengan renungan singkat soal manusia yang tahu salah tapi terus mengulanginya.
Baca Juga: Membedah Entitas Hantu dalam Film Ghost in The Cell (2026) Melalui Perspektif Foucoult dan Lacan
Menerka Karakter Dinamis Tante Yuli dalam Film Tunggu Aku Sukses Nanti
Buku sebagai Jembatan
Di balik rangkaian sesi yang terlihat sederhana ini, ada satu orang yang sejak awal sengaja menjaga programnya tetap longgar dan personal, yaitu Indra Wardhana, pengelola Perpustakaan Dr. LongBook yang menginisiasi kegiatan ini sejak akhir Desember 2024.
Dr. Longbook dimulai dari sebuah kebiasaan yang Indra tinggalkan. Kebiasaan merokoknya ia tinggalkan, lalu ia menghitung seberapa banyak uang yang ia keluarkan dalam sebulan untuk merokok. Uang rokok yang biasa habis sekitar Rp50 ribu sehari yang jika dikalikan selama satu bulan menjadi Rp1,5 juta ia alihkan untuk membeli buku dengan rutin.
Berbekal koleksi buku yang ia miliki, ia mendirikan sebuah perpustakaan kecil di halaman rumahnya bernama Dr. LongBook.
Dari perpustakaan itu, idenya menghasilkan banyak program, seperti klub diskusi buku bahasa Inggris bernama Helios, lalu program memBACAkan BUKU di Panti Wredha dan masih ada beberapa program lainnya.
Dalam liputan bandungbergerak sebelumnya, disebutkan bahwa terdapat 40 orang relawan yang berkontribusi dalam program “memBACAkan BUKU di Panti Wredha”. Namun setelah satu tahun berselang jumlah grup WhatsApp relawan sempat menampung sekitar 120 orang.
Bagi Indra, buku yang dibacakan sebetulnya bukan inti dari kegiatan ini. Baginya buku hanya menjadi jembatan hubungan personal. Indra merasa ada hubungan batin yang mengikat dengan mereka karena kedekatan yang dibangung.
Ia pun menyebutkan bahwa sering kali relawan datang di luar jadwal kegiatan hanya untuk menemui beberapa penghuni dan berbincang-bincang santai selama 1 hingga 2 jam. Hal tersebut dikarenakan ikatan batin yang sudah terbentuk antarmereka.
Namun kedekatan personal ini ternyata tak menjamin kelangsungan program di setiap lokasi. Selain di Panti Sosial Tresna Wredha Budi Pertiwi, Dr. LongBook sempat mengadakan program serupa di Panti Wredha Nazareth Santo Yusuf. Akan tetapi, program tersebut kini dihentikan sementara.
Bukan karena hubungan yang gagal terjalin, melainkan urusan teknis seperti jadwal kunjungan yang bentrok dengan jam senam para lansia di sana, yang membuat mereka sudah kelelahan begitu sesi baca dimulai.
Program membaca di panti Wredha kini berbagi ruang dengan makin banyak program lain yang dikelola Indra di bawah Dr. LongBook. Mulai dari Helios, kelas menggambar Turtle Art, workshop bertema variatif, sampai program jalan-jalan sejarah Jelajah Bandung.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


