Pemimpin dan Keaksaraan
Sekarang, hal-hal hakiki tergerus terus, disadari atau tidak, oleh pragmatisme dan materialisme. Pemimpin “gagasan” pun terpinggirkan.

Wildan Nugraha
Penulis alumni Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad)
27 Juli 2026
BandungBergerak – Seorang pemimpin dituntut berpikir holistis. Setiap sendi kehidupan kalau memungkinkan tidak luput dari perhatiannya. Setiap relasi dalam sendi kehidupan kalau memungkinkan ditangkapnya. Bahwa hidup dan kehidupan ini kompleks, seorang pemimpin harus menyadarinya. Sebagaimana juga bahwa hidup dan kehidupan ini sederhana saja semisal permainan, seorang pemimpin harus piawai memahami dan merumuskan argumen memuaskan mengenainya.
Demikianlah seorang pemimpin harus memiliki wawasan luas, kaya, dan mendalam. Ia mestilah seorang yang pula rendah hati, arif bijaksana, bertanggung jawab, tegas-waspada sekaligus kreatif, dan tak ketinggalan berselera humor. Pemimpin cerdas semacam ini adalah pemimpin yang membaca dan menulis–akrab dengan keaksaraan. Tentu saja membaca dan menulis bukan secara superfisial, tetapi menyelusup ke bawah senyampang mendekatkannya kepada realitas dan tidak menjadikannya tinggal di menara gading.
Sebab tentu saja dalam kenyataannya seorang pemimpin dituntut menjadi populer. Dalam hal ini seorang pemimpin benar-benar dituntut menjadi seorang “bapak”, meminjam ungkapan Radhar Panca Dahana (2007: 194), yakni orang kultural dan politis dengan nama apa pun ia disebutnya: raja, sultan, kyai, atau presiden. Seseorang di mana rakyat dapat mengacu dan mengadu dan membayangkan kesulitan-kesulitan hidupnya dapat dibantu, secara psikologis-emosional setidaknya.
Oleh karenanya keaksaraan seorang pemimpin didapat dari proses yang tak pandak, bukan dari hal yang cepat saji. Keaksaraan pun menjadi sesuatu yang mendarah-daging, mengintegral. Ia menjadi modal tak kasat mata sebagai bagian dari (dalam istilah Bourdieu) habitus dan kapital seorang pemimpin yang terejawantahkan dalam praktik kepemimpinannya.
Kita ingat para tokoh bangsa: Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, misalnya. Dalam kehidupan mereka membaca dan menulis merupakan dua hal yang dipergunakan untuk mengenali, memahami, dan mengubah realitas. Bukan hanya demi mengenali, memahami, mengubah diri sendiri dan kehidupan di sekitar mereka, tetapi terhadap kehidupan luas di luar mereka. Dengan membaca dan menulis mereka menemukan Indonesia. Dengan membaca dan menulis para manusia cendikia itu mengenali, memahami, dan memperjuangkan Indonesia. Dengan keaksaraan mereka paham akan sesuatu yang bisa sangat besar dampaknya: daya imajinasi.
Demikianlah membaca dan menulis lebih dari sekadar tidak buta aksara. Pemahaman mendalam dari keaksaraan berada pada wilayah mental, jiwa, dan ide. Dengan membaca dan menulis oleh karenanya seperti tiada kata mustahil.
Baca Juga: Pemimpin Impian Pemuda dan Referensi Idealisme Kepemimpinan
Catatan untuk Tiga Pemimpin Jawa Barat yang Terus Mereproduksi Nilai Patriarki
Keteladanan Pemimpin dan Sensitivitas Gender dalam Ruang Ekspresi Publik
Suryakanta di Hadapan Realitas
Menurut Karlina Leksono (1999: 58-9), pikiran-pikiran yang tertuang dalam bentuk teks tertulis dapat disusun kembali dan disistematisasikan begitu rupa sehingga memberi kesempatan bagi kesadaran untuk menjadi aktif dan menjelaskan analisis logis. Lanjut Leksono yang mengacu pada peneliti Walter J. Ong, penglihatan (dan pembacaan sebagai aktivitas yang khusus ditentukan oleh penglihatan) memecahbelahkan dan mengindividualisasikan; ideal yang khas visual adalah kejelasan dan keterpisahan. Kesempatan meruang ini memungkinkan pembangkitan dan pemupukan kesadaran kritis sehingga pikiran seseorang (atau pikiran sendiri) dapat dipilah-pilah, dikaji dan dikaji ulang, dipertanyakan secara kritis dan mendalam, serta dikembangkan dalam bentuk gagasan-gagasan yang lebih luas.
Maka keaksaraan menjadi semacam suryakanta di hadapan realitas. Kedetilan, ketepatan, dan kompleksitas yang kemudian tampak. Mungkin tidak selalu menyenangkan mendapatkan hal-hal demikian. Namun, dunia penuh warna dan sia-sia menafikannya.
Masyarakat yang tak akrab dengan keaksaraan kerap tak karib pula dengan kebaruan-kebaruan meski berpotensi memajukan kualitas kehidupan dari generasi ke generasi. Perihal keaksaraan dan kaitannya dengan kelisanan memang menjadi dilema di Indonesia. Menurut A. Teeuw (1994: 43), “Tidak dapat disangkal pula bahwa dilema ini sungguh-sungguhlah menyajikan buah simalakama: dimakan buah-buah keaksaraan terancamlah stabilitas; berpantang makan buah-buah keaksaraan terancamlah dinamika pembangunan.”
Negeri ini sudah cukup lama dipimpin oleh manusia-manusia (hyper) pragmatis, demikian menurut Dahana (2007: 193) dalam esainya “Pemimpin yang Hilang”. Mereka, para pemimpin (hyper) pragmatis, tidak memiliki visi dan strategi jangka panjang. Tak ada gagasan, tiada man of idea, yang berani memulai kerja besar dengan kapital berupa gagasan, tidak melulu kapital bermakna modal, berbentuk material.
Kita bisa setuju atau menolak pendapat tersebut. Namun, ide soal manusia “gagasan” yang percaya pada kekuatan pikiran dan kemauan, pada daya gerak dan daya dobrak ide, adalah penting. Ia mengingatkan kita soal yang hakiki: idelah yang mewujudkan sesuatu, menciptakan materi-materi pendukungnya; ide menciptakan dunia, bukan dunia menciptakan ide.
Sekarang, hal-hal hakiki tergerus terus, disadari atau tidak, oleh pragmatisme dan materialisme. Pemimpin “gagasan” pun terpinggirkan. Bahkan menurut Dahana (2007: 194), bisa jadi sebagai rakyat kita pun mengalami kesulitan menerima man of idea ketimbang man of pragmatic.
Ya, berkat pragmatisme dan materialisme, konsepsi utilitarianisme lebih mudah berkembang di masyarakat. Termasuk dalam bidang pendidikan. Kita teringat kritik Yudi Latif (2009: 18-9) bahwa dunia pendidikan kita banyak disusutkan menjadi sekadar persoalan kejuruan. Oleh karena itu pembudayaan sikap kritis ditumpulkan, standar-standar keunggulan di segala bidang diluluhkan demi memberi tempat yang luas bagi orang rata-rata.
Yudi Latif melihat fenomena tersebut berakar dari apa yang disebut sebagai the cult of philistinism, pemujaan terhadap budaya kedangkalan oleh perhatian yang berlebihan terhadap interes-interes material dan praktis. Universitas dan lembaga pendidikan lainnya mengalami proses peluluhan kegairahan intelektual, tergerus oleh dominasi etos manajerialisme dan instrumentalisme; suatu etos yang menghargai seni, budaya, dan pendidikan sejauh yang menyediakan instrumen untuk melayani tujuan-tujuan praktis. Orang-orang yang mengobarkan kegairahan intelektualisme berisiko dicap sebagai “elitis”, “tak membumi”, dan “marjinal”. Kedalaman ilmu dan wawasan kemanusiaan dihindari, kedangkalan dirayakan.
Budaya Literasi
Sebagai pembanding, Latif (2009: 39-40) menengok pengalaman kampus-kampus di Amerika Serikat. Lantaran terimbas oleh resesi ekonomi dan inflasi yang membumbung sejak era 1970-an, kampus-kampus Amerika tersihir juga oleh godaan ke arah apa yang disebut dengan The New Vocationalism. Tetapi respons Amerika terhadap tantangan ini sungguh menarik dan penting dijadikan cermin. Dalam kesadaran para pendukung Vokasionalisme Baru di Amerika, hal paling krusial untuk segera ditangani dalam kaitannya dengan desakan pragmatisme ini justru perlunya perluasan pengajaran budaya menulis (writing) dan mengarang (composition). Kendati berorientasi vokasional, tetapi ada argumen mereka yang perlu kita renungkan: “Krisis budaya literasi pada gilirannya akan memperlemah daya saing Amerika.”
Akan halnya menguatkan budaya literasi kita merupakan tantangan besar. Bahwa generasi muda kita tidak akrab dengan buku, kiranya sudah banyak yang menggarisbawahinya. Kata Taufiq Ismail: generasi muda Indonesia rabun membaca dan lumpuh menulis. Mereka terbentuk menjadi “generasi nol buku”. Itu dari riset tentang kebiasaan membaca (reading habit) dan kecakapan menulis (writing skill) murid-murid sekolah di Indonesia.
Menyorot sistem pendidikan kita dan kaitannya dengan keaksaraan, kita membaca Leksono (1999: 68), “Dunia pendidikan kita selama ini tidak pernah secara serius menoleh pada dunia membaca dan menulis. Membaca dan menulis hanya menjadi bagian yang melengkapi proses pengajaran.”
Demikianlah, seorang pemimpin dituntut untuk berpikir holistis. Setiap sendi kehidupan kalau memungkinkan tidak luput dari perhatiannya. Setiap relasi dalam sendi kehidupan kalau memungkinkan ditangkapnya. Bahwa hidup dan kehidupan ini kompleks, seorang pemimpin harus menyadarinya. Sebagaimana juga bahwa hidup dan kehidupan ini sederhana saja semisal permainan, seorang pemimpin harus piawai memahami dan merumuskan argumen memuaskan mengenainya.
Seorang pemimpin bangsa adalah ia yang mampu memecah, mengurai, dan mentransendenkan sedemikian banyak paradoks serta kontradiksi yang berjalin-jalin. Ia akan mempertemukan yang kompleks dan yang sederhana, yang stabil dan yang dinamis, yang tua dan yang muda; yang lampau, sekarang, dan akan datang—dalam sebuah kerja kepemimpinan yang terang, bersih, terencana, berkelanjutan, dan berwibawa. Kiranya bila arah kebudayaan kita serius mengarah pada kultur keaksaraan (yang terus bersintesis dengan segala aspek positif kelisanan), bangsa ini akan menemukan keindonesiaan yang lebih baik. Wallahualam.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


