• Literasi
  • ULAS FILM: 'Where is the Friend’s House?', Ketika Anak-anak Memikul Tanggung Jawab

ULAS FILM: 'Where is the Friend’s House?', Ketika Anak-anak Memikul Tanggung Jawab

Cara sutradara Kiarostami memperlihatkan bagaimana anak-anak mengemban tanggung jawab yang didasarkan pada kepedulian, bukan sekadar menegakkan kepatuhan.

Poster film Where is the Friend’s House? (1987) karya sutradara Iran, Abbas Kiarostami. (Foto Sumber: imdb.com)

Penulis Lisa Nurjanah29 Juli 2026


BandungBergerak – Hak didapatkan ketika seseorang telah melaksanakan kewajibannya. Di usia anak-anak, (seharusnya) mereka memiliki hak untuk bermain setelah selesai mengerjakan tugas sekolahnya. Dalam realitasnya, proses pengerjaan tugas tidaklah selalu penuh dengan waktu mengerjakan tugas tersebut. Kadang, atau bahkan dalam beberapa kasus menjadi sering kali, anak-anak terdistraksi akibat perintah orang tua atas dasar alasan tanggung jawab. Bahkan walaupun orang tua mereka juga menyadari anak-anak memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan pendidikannya, hal itu tetap terjadi. Realita ini dikemas dalam film karya sutradara Iran, Abbas Kiarostami, yang berjudul Where is the Friend’s House? (1987).

Cerita berpusat pada Ahmad Ahmadpour (Babak Ahmadpour) yang tidak sengaja membawa pulang buku catatan milik temannya, Mohammad Reza Nematzadeh (Ahmad Ahmadpour). Perasaan cemas menyelimutinya, sebab Pak Guru telah menyematkan ultimatum: Kalau sampai menuliskan tugas pada selembar kertas lagi, bukannya buku, maka Reza terpaksa dikeluarkan dari kelas. Ketika buku itu ada di tangannya, Ahmad menyadari nasib Reza di keesokan hari akan bergantung padanya. Ia tahu dirinya bertanggung jawab untuk mengembalikan buku itu, tetapi yang menjadi pertanyaan: Di mana rumah Reza?

Ketidaktahuan tidak menghalangi Ahmad untuk pergi. Berbekal pada satu fakta, yakni rumah Reza terletak di Poshteh, Ahmad meminta izin pada ibunya untuk pergi. Izin tersebut tidak sekali diucapkan, melainkan berkali-kali karena: (1) Ibu tidak mendengar; (2) Ibu kerap meminta Ahmad mengerjakan tugasnya; dan (3) Ibu terus menyuruh Ahmad meskipun telah memintanya mengerjakan tugas. Namun, saat Ahmad meyakinkan dengan menunjukkan dua buku yang dipegangnya, ibu menyepelekan dengan berkata, “Kembalikan saja besok.” Di sini, mulai terlihat orang-orang dewasa tidak memedulikan urgensi atas tanggung jawab tersebut. Alih-alih mencoba memahami penjelasan anak, ibu Ahmad justru melemparkan pakaian padanya dan tetap menyuruhnya mengerjakan tugas, disertai ancaman memukul kalau masih membantah. 

Ketika ibunya pergi, Ahmad pun kabur, membawa buku tersebut ke Poshteh kendati telah dilarang karena jaraknya yang jauh. Kesadaran Ahmad pada tanggung jawab atas nasib Reza esok hari jauh lebih besar dibanding menegakkan kepatuhan pada orang tuanya. Bukan berarti ia adalah anak yang tidak patuh, melainkan film memperlihatkan Ahmad sebagai tokoh dengan empati besar dan sadar akan urgensi. Empati tersebut juga diperlihatkan di adegan ketika Ahmad membantu Reza yang terjatuh.

Baca Juga: ULAS FILM: Merasakan Keberadaan Karakter Tak Terlihat Melalui Film Siti dan Sore
ULAS FILM: Menerka Karakter Dinamis Tante Yuli dalam Film Tunggu Aku Sukses Nanti
ULAS FILM: Membedah Entitas Hantu dalam Film Ghost in The Cell (2026) Melalui Perspektif Foucoult dan Lacan

Perintah Orang Tua, Keterbatasan Anak, dan Kekerasan Sebagai Budaya Turun-temurun

Dalam perjalanan, Ahmad dimintai tolong untuk melemparkan pakaian yang terjatuh. Tubuh kecilnya membuatnya tidak sampai tenaga melemparkan pakaian itu ke atas, dan orang dewasa yang meminta tolong berkata, “Ayolah nak, kurang kuat.” Tidak memperhatikan keterbatasan kemampuan Ahmad. 

Tanpa sengaja, Ahmad bertemu teman sekelasnya, Morteza, yang sedang mengangkut susu. Pada adegan pembuka di ruang kelas, Morteza adalah anak yang duduk di lantai sebab punggungnya sakit. Tanpa secara eksplisit menyebut alasannya, adegan Ahmad bertemu Morteza memberi pemahaman, bahwa punggung Morteza sakit akibat membawa tabung susu yang berat. Barangkali hampir sama dengan berat tubuhnya. Dalam aturan atau budaya keluarganya, tanggung jawab Morteza membawa susu merupakan kewajiban. Bahkan ketika Ahmad memintanya untuk mengantar ke rumah Ali Hemmati–sepupu Reza–Morteza menolak sebab ia masih harus membawa susu.

Tak hanya Morteza, rutinitas anak-anak sepulang sekolah harus membantu orang tuanya juga diperlihatkan melalui tokoh Ali. Setelah menemukan rumah Ali, perjalanan Ahmad menemukan rumah Reza masih belum usai karena Ali pergi ke Koker bersama ayahnya. Alhasil, ia terpaksa kembali ke Koker mengejar Ali. 

Meski kerap dibuat kesal oleh sikap orang dewasa yang tidak peduli, film tidak berupaya mengantagonisasi tokoh-tokoh tersebut. Dalam dialog yang disampaikan oleh kakek Ahmad pada temannya, terungkap bahwa ini adalah kultur turun-temurun, yang juga menjadi faktor mengapa ibu Ahmad mudah mengancam untuk memukulnya.

Saat kembali ke Koker, kakek meminta Ahmad mengambilkan rokok. Perintah itu diberikan bukan karena kakek memang memerlukan rokok, melainkan didasarkan pada alasan membentuk sikap disiplin. Sebagai generasi lebih tua, kakek menceritakan masa kecilnya yang selalu dipukuli oleh ayahnya. Kakek meyakini, kekerasan itu merupakan cara benar agar anak bisa terdidik, dan ia ingin meneruskan pola sama terhadap cucunya. Kakek ingin Ahmad bersikap patuh pada perintah orang dewasa. 

Bagi kakek, kedisiplinan dapat terwujud melalui rasa patuh dan kekerasan. Bahkan kalaupun anak tersebut tidak bersalah, kakek akan berusaha menemukan alasan untuk memukulnya. Dalam pandangannya, orang yang berguna di masyarakat adalah mereka yang patuh pada instruksi. Kakek tidak senang pada sikap Ahmad yang mengelak perintahnya, dan masih mencari kesalahan saat rokok tersebut tidak ada: “Kenapa bukan kau yang mencari, malah ibumu?”

Kondisi tersebut dapat didefinisikan sebagai intergenerational transmission of violence (transmisi kekerasan antargenerasi). Orang dewasa yang pernah mengalami kekerasan di masa kanak-kanak berpotensi besar menerapkan kembali perilaku kekerasan kepada anak-anak mereka. Kondisi tersebut juga lahir dari tipe keluarga protective families, yang orientasi conservation (keterbukaan) cenderung rendah, sedangkan conformity (tekanan untuk patuh) cenderung tinggi. Salah satu dampaknya, anak menganggap bahwa diskusi bukanlah hal penting, serupa dengan yang ditunjukkan oleh kakek dan ibu Ahmad. Mereka tidak mau menyimak dan memahami penjelasannya.

Berkali-kali Ahmad berhadapan dengan pintu tertutup, berusaha mencari tahu siapa orang di baliknya demi mendapatkan informasi. Mayoritas orang dewasa hanya menjawab pertanyaan Ahmad seadanya, tanpa benar-benar terlihat peduli. Berbeda ketika ia mengetuk pintu rumah seorang tukang kayu, yang memiliki pintu dengan daun atas yang dapat dibuka secara terpisah. Bentuk pintu ini memperlihatkan simbol keterbukaan, ditegaskan oleh karakter tukang kayu yang bersedia meluangkan waktunya membantu Ahmad.  

Bentuk pintu tersebut juga mewakili karakter tukang kayu. Bagian atas pintu yang bisa dibuka dapat berfungsi untuk melihat ke luar, serta berinteraksi dengan orang luar, menafsirkan bahwa tukang kayu merupakan seseorang yang membuka diri. Terlihat dari cara bagaimana tukang kayu menolak baik-baik tawaran penjual apel, menyapa tetangganya, serta mengajak Ahmad mengobrol sepanjang perjalanan. 

Pintu terbuka juga berfungsi sebagai metafora dari gagasan atau ide yang muncul. Saat di rumah dan pintu tiba-tiba terbuka oleh angin, Ahmad–yang masih tidak bisa menemukan rumah Reza–akhirnya tahu harus melakukan apa. Pada akhirnya, Ahmad menemukan caranya sendiri walaupun tidak ada orang dewasa di rumah yang membantu. Ayahnya hanya diperlihatkan sibuk mengotak-atik radio, tanpa mempedulikan Ahmad yang menolak untuk makan malam, menunjukkan bahwa ia tidak pernah terlibat dalam proses mengasuh anaknya. 

Tanggung Jawab yang Dipelajari Anak-anak

Anak-anak dapat belajar memikul tanggung jawab melalui perintah orang tua. Namun, melalui sistem yang otoriter pada keluarga, mereka menjadi tidak mampu menentukan prioritas. Di keesokan harinya, ketika Pak Guru memeriksa tugas, masih ada anak-anak yang tidak mengerjakan atas alasan harus membantu orang tua. “Kerjakan tugas dulu, baru membantu orang tua,” nasihat Pak Guru, yang pada kenyataannya tidak selalu bisa diterapkan. 

Ahmad terlambat datang, tetapi masih tepat waktu untuk membantu Reza dengan mengerjakan tugas dua kali. Satu ditulis di bukunya sendiri, dan satu lagi di buku Reza. Walaupun gagal menemukan rumah Reza, Ahmad masih mengupayakan dan sadar akan tanggung jawabnya. Kiarostami tidak menempatkan Ahmad sebagai karakter yang selalu patuh terhadap orang tua, tetapi sebagai karakter yang dapat memprioritaskan tanggung jawabnya. Ia juga memperlihatkan ketidaksempurnaan Ahmad melalui detail kecil seperti tidak membuka sepatu saat menaiki tangga, yang lantas membuatnya diomeli oleh nenek walau Ahmad disibukkan dengan perintah ibu. Namun, adegan ini juga memberi gambaran: Saat anak-anak terlalu sibuk dengan perintah orang tua, mereka juga bisa lupa akan tanggung jawab lainnya. 

Melalui film ini, Kiarostami memperlihatkan bagaimana anak-anak mengemban tanggung jawab yang didasarkan pada kepedulian, bukan sekadar menegakkan kepatuhan. Bunga yang diberikan tukang kayu, yang diperlihatkan pada adegan penutup, mewakili kepedulian Ahmad. Ia berhasil membantu temannya, dan itu sesuatu yang indah. Kamera menyorot bunga itu sebagai akhir cerita, menandai akhir bahagia.  Pun, barangkali, menjadi simbol akan banyak keberuntungan menghampiri Ahmad. 

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//