• Opini
  • CERITA GURU: Kasih Sayang Juga Perlu Batas

CERITA GURU: Kasih Sayang Juga Perlu Batas

Kasih sayang yang sehat juga mengajarkan anak mengenai tanggung jawab. Anak perlu memahami bahwa setiap hak selalu diikuti oleh kewajiban.

Marlina

Seorang guru BK, pendidik, dan penggiat kurikulum pendidikan inklusi. Bisa menghubungi saya di Instagram @linamansyur_

Guru bukan sekadar mengajar pelajaran di kelas, ia mengajarkan tentang kehidupan bagi murid-muridnya. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

29 Juli 2026


BandungBergerak – Keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal anak sejak dilahirkan. Sebelum mengenal sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat luas, anak terlebih dahulu belajar dari pola interaksi yang dibangun di dalam keluarganya. Setiap kata yang diucapkan orang tua, setiap bentuk perhatian yang diberikan, serta setiap aturan yang diterapkan akan menjadi pengalaman awal yang membentuk cara anak memahami dirinya dan dunia di sekitarnya. Oleh karena itu, keluarga sering disebut sebagai sekolah pertama bagi kehidupan anak. Dalam perspektif psikologi perkembangan, orang tua bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga berperan sebagai pendidik utama yang membentuk perkembangan sosial, emosional, moral, dan karakter. Karakter seperti tanggung jawab, empati, kejujuran, kemampuan mengendalikan diri, serta sikap menghormati orang lain tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan tumbuh melalui proses pengasuhan yang berlangsung secara konsisten sejak usia dini. Kasih sayang merupakan fondasi utama dalam pengasuhan, tetapi kasih sayang yang tidak diimbangi dengan batasan yang jelas justru dapat menghambat perkembangan karakter anak.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang tua yang menganggap bahwa bentuk kasih sayang terbaik adalah memenuhi seluruh kebutuhan dan keinginan anak. Orang tua merasa tidak tega melihat anak kecewa, menangis, atau menghadapi kesulitan sehingga mereka berusaha menghilangkan setiap hambatan yang dialami anak. Keinginan anak segera dipenuhi, kesalahan anak sering kali dimaklumi, bahkan ketika anak berselisih dengan saudara atau teman, orang tua cenderung langsung membela tanpa terlebih dahulu memahami duduk persoalan. Sekilas, perilaku tersebut tampak sebagai bentuk cinta yang tulus. Namun, psikologi perkembangan menunjukkan bahwa kasih sayang yang tidak disertai batasan, aturan, dan konsekuensi dapat mengurangi kesempatan anak untuk belajar menghadapi kenyataan hidup. Anak tidak terbiasa menunda keinginan, menerima penolakan, ataupun bertanggung jawab atas pilihan dan tindakannya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi pembentukan karakter dan kemampuan anak menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

Psikolog perkembangan seperti Diana Baumrind menjelaskan bahwa pola asuh orang tua dapat memengaruhi perkembangan perilaku dan kepribadian anak. Salah satu pola asuh yang sering dikaitkan dengan pemberian kebebasan tanpa batas adalah pola asuh permisif. Pada pola asuh ini, orang tua menunjukkan kehangatan dan kasih sayang yang tinggi, tetapi kurang memberikan aturan yang konsisten serta jarang menerapkan konsekuensi terhadap perilaku anak. Anak memiliki kebebasan yang luas untuk menentukan apa yang ingin dilakukan tanpa diimbangi dengan tanggung jawab yang sesuai. Akibatnya, anak dapat mengalami kesulitan memahami batasan antara hak dan kewajiban. Mereka cenderung mengharapkan bahwa lingkungan akan selalu mengikuti keinginannya, sebagaimana yang dialami di rumah. Ketika memasuki lingkungan sekolah atau masyarakat yang memiliki aturan berbeda, anak sering mengalami frustrasi karena tidak semua orang memberikan perlakuan yang sama seperti orang tuanya.

Baca Juga: CERITA GURU: Pengabdian Guru Swasta atau Semata Mesin Produksi?
CERITA GURU: Guru di Medan Tempur MBG
CERITA GURU: Kesejahteraan Guru dalam Siklus Janji Politik

Regulasi Emosi

Salah satu aspek perkembangan yang sangat dipengaruhi oleh pola asuh adalah regulasi emosi. Regulasi emosi merupakan kemampuan seseorang mengenali, memahami, dan mengendalikan emosinya sehingga dapat diekspresikan secara tepat sesuai dengan situasi yang dihadapi. Anak yang memiliki regulasi emosi yang baik mampu mengelola rasa marah, kecewa, sedih, maupun cemas tanpa melukai dirinya sendiri atau orang lain. Sebaliknya, anak yang terbiasa memperoleh semua keinginannya dapat mengalami kesulitan ketika menghadapi penolakan. Rasa kecewa yang sebenarnya merupakan bagian normal dari kehidupan dapat berubah menjadi ledakan emosi karena anak belum terbiasa mengelola frustrasi. Kondisi tersebut sering terlihat dalam bentuk menangis berlebihan, berteriak, membanting barang, atau menyalahkan orang lain ketika harapannya tidak terpenuhi. Hal ini bukan berarti anak memiliki karakter buruk, melainkan menunjukkan bahwa kemampuan regulasi emosinya masih memerlukan latihan dan bimbingan.

Selain regulasi emosi, perkembangan kontrol diri juga sangat dipengaruhi oleh kualitas pengasuhan. Kontrol diri merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan dorongan sesaat, mempertimbangkan konsekuensi sebelum bertindak, serta menyesuaikan perilaku dengan norma yang berlaku. Anak yang memiliki kontrol diri yang baik mampu menunggu giliran, menyelesaikan tugas sebelum bermain, mematuhi aturan keluarga, serta menghormati hak orang lain. Kemampuan tersebut tidak berkembang secara otomatis, tetapi melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten. Orang tua yang menetapkan aturan dengan jelas, memberikan contoh perilaku yang baik, serta menerapkan konsekuensi secara adil membantu anak memahami bahwa setiap tindakan memiliki akibat. Sebaliknya, apabila setiap keinginan anak selalu dipenuhi dan setiap kesalahan selalu dimaafkan tanpa refleksi, anak kehilangan kesempatan untuk belajar mengendalikan dorongan dan memahami batasan perilaku.

Karakter anak juga berkembang melalui pengalaman menghadapi masalah. Dalam kehidupan sehari-hari, anak akan menjumpai berbagai tantangan, mulai dari berebut mainan dengan saudara, mengalami kegagalan saat belajar, hingga menghadapi konflik dengan teman sebaya. Pengalaman tersebut merupakan kesempatan berharga untuk melatih kemampuan berpikir, mengambil keputusan, dan mencari solusi. Akan tetapi, apabila orang tua selalu turun tangan menyelesaikan setiap masalah anak, kemampuan pemecahan masalah tidak berkembang secara optimal. Anak menjadi terbiasa bergantung pada orang tua dan kurang percaya terhadap kemampuannya sendiri. Ketika menghadapi masalah yang lebih kompleks di kemudian hari, anak cenderung mudah menyerah atau menunggu orang lain menyelesaikannya. Oleh karena itu, salah satu bentuk kasih sayang yang penting adalah memberikan ruang bagi anak untuk mencoba, gagal, memperbaiki kesalahan, dan menemukan solusi dengan pendampingan yang sesuai.

Kasih Sayang yang Sehat

Kasih sayang yang sehat juga mengajarkan anak mengenai tanggung jawab. Anak perlu memahami bahwa setiap hak selalu diikuti oleh kewajiban. Ketika anak diberi kesempatan merapikan mainannya sendiri, meminta maaf setelah melakukan kesalahan, atau menyelesaikan tugas sekolah tanpa selalu diingatkan, sebenarnya orang tua sedang membangun fondasi karakter yang kuat. Sebaliknya, apabila seluruh tanggung jawab anak diambil alih oleh orang tua karena alasan sayang atau kasihan, anak dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa selalu ada orang lain yang akan membereskan akibat dari tindakannya. Pola pikir seperti ini dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara individu menghadapi pekerjaan, hubungan sosial, maupun kehidupan keluarga.

Hubungan anak dengan anggota keluarga juga menjadi cerminan keberhasilan proses pengasuhan. Sikap menghormati orang tua, kakak, adik, maupun anggota keluarga lainnya berkembang melalui pengalaman sehari-hari. Anak belajar menghargai orang lain ketika ia juga diperlakukan dengan hormat, sekaligus diajarkan bahwa setiap anggota keluarga memiliki hak, kewajiban, dan batasan yang perlu dihormati. Orang tua yang mampu menjadi teladan dalam berkomunikasi dengan santun, mendengarkan pendapat anak, serta menyelesaikan konflik secara bijaksana memberikan contoh konkret mengenai makna saling menghormati. Sebaliknya, apabila anak dibiasakan menjadi pusat perhatian tanpa mempertimbangkan kebutuhan anggota keluarga lain, ia dapat mengalami kesulitan memahami konsep empati dan kerja sama. Dalam situasi tertentu, anak mungkin menunjukkan perilaku mendominasi, sulit menerima pendapat orang lain, atau kurang menghormati kakak maupun adiknya karena terbiasa memperoleh perlakuan istimewa di rumah.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//