Kawasan Summarecon dan Sekitarnya Lokasi Bagi Kegiatan Hobi Mengamati Burung di Kota Bandung
Sedikitnya terdapat 59 jenis burung termasuk dalam 34 famili burung yang pernah tercatat di kawasan Summarecon dan sekitarnya.

Johan Iskandar
Dosen, peneliti lingkungan, serta pegiat Birdwatching di Universitas Padjadjaran (Unpad). Penulis bukuKisah Birdwatching, ITB Press (2025)
2 Agustus 2026
BandungBergerak – Hobi bagi setiap orang banyak ragamnya. Misalnya, hobi memancing, memelihara ikan hias, memelihara tanaman hias, memelihara burung kicau, mendaki gunung, fotografi, dan lain-lain. Tidak hanya itu, ada pula orang yang hobinya gemar mengamati dan mencintai aneka ragam jenis burung di alam. Hobi tersebut dinamakan sebagai birdwatching. Sementara itu, orang yang biasa melakukan birdwatching disebutnya birdwatcher atau apabila dalam kelompok, kelompoknya biasa dinamakan birdwatcher club.
Kegiatan birdwatching di Indonesia belum terlalu populer dibandingkan dengan di negara-negara lain, seperti Thailand, Singapura, Taiwan, Jepang, Amerika, Jerman, Perancis, Belanda, Inggris, dll. Konsekuensinya, tidaklah heran bahwa masih banyak orang yang belum mengenal tentang birdwatching. Padahal, di negara-negara lain seperti di Belanda dan Amerika, hobi mengamati burung di alam atau birdwatching telah berkembang sangat pesat. Di Belanda, misalnya, hobi mengamati burung (birdwatching)atau vogelen telah dilakukan banyak orang sejak akhir abad ke-19, yang awalnya berakar dari gerakan konservasi alam dan perlindungan burung. Di Amerika, bidwatching juga sangat berkembang. Misalnya, antara tahun 1982-1983 dan 1994-1995 jumlah orang yang melakukan birdwatching di Amerika naik mencapai 155 persen (Iskandar dan Iskandar, 2025).
Birdwatching adalah suatu kegiatan hobi mengamati aneka ragam jenis burung di alam. Hobi mengamati dan mencintai aneka ragam jenis burung di alam menjadi sarana rekreasi, edukasi, dan sekaligus olah raga di alam bebas guna menjaga kesehatan badan. Kegiatan tersebut sekaligus dapat membantu upaya konservasi burung di alam. Misalnya, dapat memantau keberadaan jenis-jenis burung di macam-macam habitat di berbagai wilayah. Kegiatan tersebut juga bisa dilakukan oleh semua kalangan masyarakat, seperti anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, laki-laki, dan perempuan.
Sejatinya Tatar Sunda memiliki keanekaragaman jenis burung yang tinggi. Hal tersebut disebabkan oleh dua faktor. Pertama, karena Tatar Sunda memiliki aneka ragam ekosistem yang menjadi habitat berbagai jenis burung, seperti kawasan laut, pantai, empang tambak, muara sungai, hutan mangrove, danau/situ, pekarangan, sawah, kebun, kebun campuran/talun, perkebunan, hutan dataran rendah, serta hutan dataran tinggi. Ada korelasi positif antara aneka ragam ekosistem atau habitat dengan aneka ragam jenis burung di alam. Kedua, Tatar Sunda berada di lintasan rute migrasi dari jenis-jenis burung yang berbiak di kawasan belahan bumi utara dan selatan, seperti Australia dan New Zeland. Burung-burung migrasi singgah di Tatar Sunda secara musiman ketika di tempat berbiaknya sedang musim dingin.
Berdasarkan Hoogerwerf (1948), di kawasan Pulau Jawa telah dapat didokumentasikan 536 species (jenis) dan sub-species (anak jenis) burung. Terdiri dari 410 jenis dan anak jenis burung penetap, 104 jenis dan anak jenis burung migrasi dari belahan bumi utara, 7 jenis dan anak jenis burung migrasi dari belahan bumi selatan, 17 jenis dan anak jenis memisahkan diri, dan 2 jenis dan anak jenis tidak diketahui statusnya. Di antara semua jenis burung di Pulau Jawa, hampir semua jenisnya tercatat di Tatar Sunda.
Walaupun Tatar Sunda sangat kaya akan aneka ragam jenis burung, kegiatan hobi mengamati dan mencintai burung di alam (birdwatching) cenderung masih kurang populer dibandingkan dengan hobi memelihara burung di sangkar-sangkar atau di kandang. Sejak awal tahun 1980-an, penulis bersama para mahasiswa anggota Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) Unpad, telah merintis membentuk grup pencinta dan pengamat burung liar di alam yang dinamakan “Psaltria Bandung Birdwatcher club”. Nama Psaltria dimabil dari nama jenis burung cerecet Jawa (Psaltria exilis), suatu jenis burung yang ukuran tubuhnya sangat kecil (8 cm), penyebarannya hanya ditemukan (endemik) di kawasan hutan pegunungan di ketinggian 1.000 mdpl di Jawa Barat. Untuk kepentingan kegiatan birdwatching, di antaranya penulis membuat buku birdwatching untuk siswa SD di seluruh Indonesia, yakni “Hobi mengamati Burung di Alam” terbitan Dhrama Karya Cipta, Bandung (1991).
Satu dekade kemudian, pada tahun 1990-an hingga 2000-an, bermunculan beberapa kelompok birdwatching lainnya di Kota Bandung. Misalnya YPAL, Bicons, Konus, dan lain-lain. Para penggiatnya terutama para mahasiswa anggota Himpunan Mahasiswa Biologi (Himbio) dan para alumni mahasiswa Biologi Unpad. Pada waktu itu, berbagai kegiatan telah banyak dilakukan. Misalnya, hampir setiap hari Minggu, para anggota Bicons mengajak para siswa TK, SD, dan masyarakat umum untuk latihan pengamatan burung di alam dengan memilih tempat di Taman Ganeca, ITB. Kelompok birdwatching tersebut juga biasa menyelenggarakan lomba pencatatan burung di alam (bird race atau birdwatching competion), lomba menggambar bagi anak-anak di taman, menyelenggarakan berbagai diskusi tentang burung dan lingkungan, dll. Namun, dewasa ini kegiatan para pegiat birdwatching di Bandung, sepertinya cenderung kurang aktif lagi. Justru para penggiat birdwatching di berbagai tempat lain di wilayah Indonesia yang kini cenderung lebih aktif melakukan berbagai kegiatan birdwatching. Berdasarkan jaringan nasional Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI), kini telah dapat didokumentasikan tidak kurang dari 50 komunitas aktif birdwatching dari Sumatra, Jawa, hingga Kalimantan.

Baca Juga: Hilangnya Burung Jalak Suren di Ekosistem Perdesaan
Aneka Ragam Ikan Asli Citarum yang Terancam Punah
Burung Migrasi dan Ancaman Kehidupannya di Ekosistem
Kegiatan Birdwatching
Burung adalah salah golongan satwa yang unik menarik. Berbagai jenis burung memiliki bulu indah warna-warni menawan, kicauan merdu, dan tingkah laku menarik. Burung umum ditemukan di mana saja dan kapan saja. Aneka ragam jenis burung di alam atau ekosistem memiliki berbagai fungsi ekologi bagi manusia. Misalnya, dapat membantu penyerbukan bunga, penyebaran biji-biji buah-buahan, mengendalikan hama pertanian, dan dapat dijadikan indikator perubahan pada habitat hutan, pencemaran lingkungan perairan, serta perubahan iklim, dan lain-lain. Sementara itu, dari segi fungsi secara ekonomi dan budaya, jenis-jenis burung dapat dijadikan binatang peliharaan dan bahan perdagangan. Selain itu, aneka ragam jenis burung di alam juga penting untuk obyek penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, serta untuk obyek pengembangan hobi rekreasi mengamati dan mencintai burung di alam (birdwatching).
Bagi para birdwatching mania, aneka ragam jenis burung di alam sangat menarik untuk dinikmati keindahan warna-warni bulu, suara kicau, dan tingkah lakunya. Para pemula yang mulai tertarik melakukan birdwatching, biasanya berawal dari keingintahuannya pada nama jenis-jenis burung yang ditemukan ataupun dilihatnya di alam atau ekosistem. Jika ia sudah mulai terampil mengenal jenis-jenis burung di ekosistem, ketertarikan selanjutnya akan meningkat. Misalnya, kalau ia menemukan dan melihat burung di alam, ia akan sangat tertarik untuk kemudian mengamati berbagai aspek ekologi tentang burung, seperti tingkah laku, makanan, kicauan, jumlah populasi, jenis habitat, hingga untuk mendapatkan fotonya. Berbagai data tentang jenis burung tersebut biasa dicatat di buku lapangan untuk bahan tulisan atau artikel di koran, majalah, jurnal, atau bahan membuat buku tentang aneka ragam jenis burung di alam.
Alat utama yang biasa digunakan untuk melihat atau mengamati burung di alam, antara lain teropong, dan teleskop. Teropong merupakan salah satu peralatan yang mutlak diperlukan oleh seorang pengamat burung. Teropong diperlukan untuk membantu memperjelas melihat burung yang ditemukan di alam. Alat lainnya, yang diperlukan adalah teleskop. Teleskop merupakan alat yang juga biasa digunakan untuk mengamati burung di alam, walaupun alat ini tidak mutlak dibutuhkan seperti halnya teropong. Teleskop bisanya digunakan khusus untuk membantu melihat burung yang lebih jauh dari pengamat. Alat tersebut biasanya cocok untuk digunakan di daerah-daerah terbuka, seperti pinggiran pantai, padang rumput luas, sawah, dan lain-lain.
Selain itu, untuk seorang birdwatching penting pula untuk membawa buku mengenal (field guide) jenis-jenis burung di alam. Buku tersebut diperlukan untuk mengenal jenis-jenis burung yang dilihat atau ditemukan di alam. Pada buku pegangan mengenal jenis-jenis burung di alam bisanya dimuat nama-nama jenis burung, lengkap dengan gambarnya, uraian habitat, kebiasaan tingkah laku burung di alam, jenis habitatnya, dan lain. Alat lainnya yang juga biasa dibawa oleh para pegiat birdwatching adalah buku kecil lapangan untuk mencatat berbagai data lapangan (Iskandar, 1991; Iskandar dan Iskandar, 2025).
Berbagai tempat di kawasan Kota Bandung yang biasa dijadikan tempat birdwatching, antara lain Taman Ganeca ITB, Taman Maluku, dan Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda Dago. Dewasa ini sesungguhnya ada lokasi baru yang bisa dijadikan tempat kegiatan birdwatching di Kota Bandung bagian timur yakni kawasan Summarecon dan sekitarnya, berupa kawasan sawah yang masih tersisa di Gedebage. Summarecon merupakan kota mandiri dengan luas sekitar 373 ha. Kawasan Summarecon memiliki ruang terbuka yang luas berupa taman-taman dengan rerimbunan pepohonan, serta memiliki 6 danau/kolam dengan luas mencapai 12.000 meter persegi yang berfungsi ganda sebagai danau retensi banjir dan area rekreasi. Danau/kolam dan taman-tamannya dilengkapi dengan jogging track, jalur sepeda, serta penyewaan sepeda listrik yang bisa dinikmati oleh warga maupun pengunjung umum.
Bukan itu saja, sesungguhnya di berbagai taman yang rimbun banyak dihuni oleh aneka ragam jenis burung. Selain itu, di pinggiran danau-danau/kolam yang ditumbuhi oleh rimbun semak-semak belukar, berupa tumbuhan air, merupakan habitat berbagai jenis burung air. Sementara itu, di pinggiran sisi timurnya yang berbatasan langsung dengan Kampung Rancabayawak, terdapat pohon-pohon bambu, yang menjadi tempat beristirahat dan bersarang ribuan burung dari 4 jenis burung kuntul yakni burung kuntul blekok (Ardeola speciosa), kuntul kerbau (Ardea ibis), kuntul kecil (Egretta grazetta), dan kowak malam abu (Nycticorax nycticorax) (Iskandar dan Iskandar, 2025). Burung-burung kuntul tersebut biasanya selain mencari pakan di kawasan sawah yang masih tersisa di wilayah sekitar Summarecon. Burung-burung tersebut biasa pula mencari pakan di pinggiran danau/kolam retensi dan di rerumputan taman Summarecon.
Keberadaan ruang terbuka hijau, berupa taman-taman, dan danau/kolam retensi di Summarecon, serta kawasan sawah di sekitarnya, menyebabkan banyak ditemukan aneka ragam jenis burung, baik burung darat, burung air/burung sawah, serta burung-burung migrasi yang biasa singgah di saat musim hujan, sehingga kawasan tersebut sangat baik untuk tempat birdwatching di Kota Bandung (Gambar 1).
Berdasarkan pengalaman pribadi penulis, telah dapat didokumentasikan tidak kurang dari 59 jenis termasuk dalam 34 famili burung yang pernah tercatat di kawasan Summarecon dan sekitarnya (Tabel 1).
Tabel 1. Burung-burung di kawasan Summarecon dan sekitarnya
|
Famili |
Species |
Nama di- Indonesiakan |
Habitat & kebiasaan hidup |
|
ARDEIDAE |
Ardeola speciosa Horsfield, 1821 |
Blekok sawah |
Mencari makan di sawah dan pinggir kolan retensi, biasa beristirahat malam hari dan bersarang di pohon-pohon bambu Kampung Rancabayawak yang berbatasan dengan perumahan Summarecon |
|
|
Ardea ibis Linnaeus, 1758) |
Kuntul kerbau |
Mencari makan di sawah dan pinggir kolan retensi, biasa beristirahat malam hari dan bersarang di pohon-pohon bambu Kampung Rancabayawak yang berbatasan dengan perumahan Summarecon |
|
|
Egretta grazetta (Linnaeus, 1766) |
Kuntul kecil |
Mencari makan di sawah dan pinggir kolan retensi, biasa beristirahat malam hari dan bersarang di pohon-pohon bambu Kampung Rancabayawak yang berbatasan dengan perumahan Summarecon |
|
|
Ixobrychus cinnamomeus Gmelin, 1789 |
Bambangan merah |
Mencari makan di sawah, dan semak-semak pinggir kolam. |
|
|
Nycticorax nycticorax (Linnaeus, 1758) |
Kowak malam abu |
Mencari makan di malam hari di sawah, dan di siang hari beristirahat dan bersarang di pohon-pohon bambu di Kampung Rancabayawak yang berbatasan dengan Summarecon |
|
ACCIPITRIDAE |
Tachyspiza gularis (Temminck & Schlegel, 1844) |
Elang Alap Nippon |
Burung migrasi dari belahan bumi utara, pada musim hujan biasa tercatat di berbagai habitat di kawasan Summarecon dan sekitarnya |
|
|
Tracgyspiza soloensis (Horsfield, 1821 |
Elang Alap China |
Burung migrasi dari belahan bumi utara, pada musim hujan biasa tercatat di berbagai habitat di kawasan Summarecon dan sekitarnya |
|
FALCONIDAE |
Falco moluccensis (Bonaparte, 1850) |
Alap-alap sapi |
Biasa tercatat hidup soliter di berbagai habitat di Summarecon dan sekitarnya |
|
PHASIANIDAE |
Synoicus chinensis (Linnaeus, 1766) |
Puyuh batu |
Biasa tercatat sedang berjalan-jalan di lapang rumput bagian pinggiran Summarecon |
|
TURNICIDAE |
Turnix suscitator (Gmelin, 1789) |
Gemak loreng |
Biasa tercatat sedang bejalan-jalan di lapang rumput bagian pinggiran Summarecon |
|
RALLIDAE |
Amaurornis phoenicurus (Penant, 1769) |
Kareo padi |
Sawah dan semak-semak serta rumput-rumput pinggiran kolam Summarecon |
|
|
Galinula chloropus (Linnaeus, 1758) |
Mandar batu |
Sawah dan semak-semak serta rumput-rumput pinggiran kolam Summarecon |
|
|
Gallicrex cinerea (Gmelin, 1789) |
Mandar bontod |
Burung migrasi dari belahan bumi utara, di musim hujan biasa tercatat di kawasan sawah-sawah Gedebage |
|
|
Zapornia fusca (Linnaeus, 1766) |
Tikusan merah |
Biasa tercatat di sawah kawasan Gedebage |
|
SCOLOPACIDAE |
Actitis (Tringa) h)ypoleucos (Linnaeus, 1758) |
Trinil pantai |
Burung migrasi dari belahan bumi utara, pada musim hujan biasa tercatat di sawah-sawah Gedebage |
|
|
Gallinago megala Swinhoe, 1861 |
Berkik rawa |
Burung migrasi dari belahan bumi utara, pada musim hujan biasa tercatat di sawah-sawah Gedebage |
|
COLUMBIDAE |
Columbia livia Gmelin, 1789 |
Merpati batu |
Burung peliharaan penduduk biasa tercatat di lapang rumput, atap bangunan dan lain-lain |
|
|
Geopelia striata (Linnaeus, 1766) |
Perkutut jawa |
Biasa ditemukan hinggap di pepohonan taman dan juga biasa pula berjalan-jalan di lapang rumput taman |
|
|
Spilopelia chinensis (Scopoli, 1786) |
Tekukur biasa |
Biasa ditemukan hinggap di pepohonan taman dan biasa pula berjalan-jalan di lapang rumput taman |
|
CUCULIDAE |
Cacomantis merulinus (Scopoli, 1756) |
Wikwik kelabu |
Biasa hingga di pepohonan dan lebih sering terdengar suaranya yang khas dan keras |
|
|
Cacomantis variolosus (Vigars & Horsfield, 1826) |
Wikwik rimba |
Biasa hingga di pepohonan dan lebih sering terdengar suaranya yang khas dan keras |
|
TYTONIDAE |
Tyto alba Scopoli, 1769 |
Serak jawa |
Di siang hari biasa beristirahat di plafon banguan-bangunan, dan aktif malam hari, biasa terbang dengan suaranya sangat khas berserak |
|
STRIGIDAE |
Otus lempiji (Horsfield, 1821) |
Celepuk reban |
Berbagai tempat, aktif di malam hari dengan lebih sering terdengar suaranya yang khas, terdengar sepeti: bueuk-bueuk-bueuk. |
|
CAPRIMULGIDAE |
Caprimulgus affinis Horsfield, 1821 |
Cabak kota |
Biasa dapat ditemukan, ketika terbang melayang-layang di udara di malam hari, sambil mengeluarkan suarnya yang keras seperti: ceeruiit-ceeruiit-ceeruiit berulang-ulang. |
|
APODIDAE |
Collocalia linchi Horsfield & F.Moore, 1854 |
Walet linci |
Sangat umum ditemukan terlihat aktif terbang melayang layang di udara secara soliter atau dalam kelompokan kecil di berbagai habitat |
|
ALCEDINIDAE |
Alcedo caerulescens Vieillot, 1818 |
Raja udang biru |
Biasa teramati sedang hinggap di patok-patok kayu/bambu, di kawasan perairan di sungai, sawah, kolam |
|
|
Halcyon (Todirhamphus) choloris Boddaert, 1783 |
Cekakak sungai |
Biasa himggap di pepohonan, kadang-kadang biasa pula hinggap di patok-patok kayu/bambu, biasa di kawasan berair di sungai, sawah, kolam |
|
|
Halcyon cyanoventris Vieillot, 1818) |
Cekakak jawa |
Hinggap di pohonan, atau di dekat kawasan berair, kalau terbang pindah-pindah tempat biasa terdengar suaranya sangat khas |
|
CAPITONIDAE |
Psilopogon haemacephala P.L.S Muller, 1776 |
Takur ungkut-ungkut |
Biasa ditemukan hinggap di pepohonan taman, biasa terdengar suaranya khas sperti: ungkut-ungkut-ungkut berulang kali |
|
PICIDAE |
Dendrocopos analis Bonaparte, 1850 |
Caladi ulam |
Biasa dapat diamati di pepohonan dengan dengan merayap di pepohonan taman cari pakan di kulit-kulit kayu |
|
HIRUNDINIDAE |
Cecropis daurica Laxmann, 1769 |
Layang-layang loreng |
Burung migrasi dari belahan bumi utara, berbiak di kawasan Erasia, pada musim hujan biasa dapat diamati terbang melayang-layang melintas di bebagai habitat soliter, berpasangan atau dalam kelompokan kecil |
|
|
Hirundo rustica Linnaeus, 1758 |
Layang-layang Asia |
Burung migasi dari belahan bumi utara, di musim hujan biasa teramati sedang terbang melayang-layang melintas di bebagai habitat |
|
|
Hirundo javanica Gmelin, 1789 |
Layang-layang batu |
Biasa teramati terbang melayang-layang melintas di bebagai habitat atau hinggap di atap-atap bangunan |
|
MOTACILLIDAE |
Anthus richardi (Gmelin, 1789) |
Apung besar |
Burung migrasi, biasa tercatat di sawah, padang rumput yang berair di waktu musim hujan |
|
|
Motacila cinerea Tunstall, 1771 |
Kicuit batu |
Burung migrasi, biasa tercatat di sawah, padang rumput yang berair di waktu musim hujan |
|
|
Motacila tschutschensis Linnaeus, 1758 |
Kicuit kerbau |
Burung migrasi, biasa tercatat di sawah, padang rumput yang berair di waktu musim hujan |
|
AEGITHINIDAE |
Aegithina tiphia (Linnaeus, 1758) |
Cipoh kacat |
Biasa dapat diamati sedang hinggap di pepohonan taman-taman, kadang mengeluarkan suara dengan sangat khas, seperti terdengar: ciiipeuw-ciiipeuw-ciiipeuw. |
|
PYCNONOTIDAE |
Pycnonotus aurigaster (Jardine & Selby, 1837 |
Cucak kutilang |
Biasa dapat diamati hinggap di berbagai pepohonan di taman-taman |
|
|
Pycnonotus analis Scopoli, 1786) |
Merbah cerucuk |
Biasa dapat diamati hinggap di berbagai pepohonan di taman-taman |
|
CISTICOLIDAE |
Cisticola juncides (Rafinisque, 1810) |
Cici padi |
Dapat diamati di sawah, berjalan di padang rumput. Sambil terbang biasa bersuarta terdengar seperti: triek-triek-triek. |
|
|
Orthotomus ruficeps Horsfield, 1821 |
Cinenen kelabu |
Biasa ditemukan hinggap di pepohonan taman-taman |
|
|
Orthotomus sutorius (Penant, 1769) |
Cinenen pisang |
Biasa ditemukan hinggap di pepohonan taman-taman |
|
|
Prinia inornata (subflava) (Gmelin JF, 1789) |
Perenjak padi |
Biasa ditemukan di semak-semak, dan pepohonan taman-taman |
|
LOCUSTELLIDAE |
Megalurus palustris Horsfield, 1821 |
Cicak-koreng jawa |
Biasa ditemukan di semak-semak. Suaranya khas tedengar seperti: tektekreyod-tektekreyod-tektekreyod. |
|
PARDALOTIDAE |
Gerygone sulphure Wallace, 1864 |
Remetuk laut |
Biasa diamati di pepohonan taman-taman. Suaranya khas melengking keras seperti: tritirtuit- tritirtuit- tritirtuit |
|
PARIDAE |
Parus cinereus Linnaeus, 1758 |
Gelatik-batu kelabu |
Biasa dapat diamati hinggap di pepohonan taman-taman secara soliter atau kadang-kadang berppasangan |
|
DICAEIDAE |
Dicaeum tochileum (Sparman, 1789) |
Cabai jawa |
Biasa dapat diamati hinggap di pepohonan taman-taman, terutama pada pohon-pohon yang ada tumbuhan perasit benalunya, dijadikan tempat cari pakan |
|
NECTARINIIDAE |
Anthereptes malacensis (Scopoli, 1786) |
Burung-madu kelapa |
Biasa dapat dicatat hinggap di pepohonan taman-taman, terutama gemar mendatangi pohon-pohon kelapa |
|
|
Nectarinia (Cinnyris) ornatus Linnaeus, 1766 |
Burung-madu sriganti |
Biasa dapat diamati hinggap di pepohonan dan anekaragam tanaman bunga, untuk mengisap madu di karangan bunga. |
|
ZOSTEROPIDAE |
Zosterops melanurus(Temminck, 1824) |
Kacamata biasa |
Biasa ditemukan hinggap di pepohonan taman-taman, dengan berkelomok |
|
ESTRILDIDAE |
Lonchura leucogastroides Horsfield & Moore, 1858 |
Bondol jawa |
Umum ditemukan di sawah, lapang rumput, pepohonan taman-taman, biasa pula turun ke pemukaan tanah. Sarang-sarangnhya ditemukan di pepohonan taman-taman. |
|
|
Lonchura punctulata (Linnaeus, 1758) |
Bondol peking |
Umum ditemukan di sawah, lapang rumput, pepohonan taman-taman, biasa pula turun ke pemukaan tanah. Sarang-sarangnhya ditemukan di pepohonan taman-taman. |
|
|
Lonchura maja (Linnaeus, 1766 |
Bondol haji |
Ditemukan di kawasan sawah, dan pepohonan taman |
|
PLOCEIDAE |
Passer montanus (Linnaeus, 175) |
Burung-gereja erasia |
Burung sangat umum, biasa ditemukan di sawah, biasa turun ke permukaan tanah di lapang rumput, tempat parkir, serta hinggap di atas bangunan-bangunan |
|
STURNIDAE |
Acridotheres javanicus Cabanis, 1850 |
Kerak kerbau |
Burung ini biasa teramati hinggap di pohon-pohon taman atau mencari pakan di sawah |
|
ORIOLIDAE |
Oriolus chinensis Linnaeus, 1766 |
Kepudang kuduk hitam |
Burung cukup langka, biasa dapat diamati hinggap di pohon-pohon di taman |
|
DICRURIDAE |
Dicrurus macrocercus Vieillot, 1817 |
Srigunting hitam |
Baiasa dapat diamati hinggap pada pohon-pohon di taman, dan di kawasan sawah |
|
ARTAMIDAE |
Artamus leucorinchus (Linnaeus, 1771) |
Kekep babi |
Burung ini biasa diamati sedang melayang-layang di atas persawahan, di atas taman-taman, ataupun hinggap di pohon dengan ranting tidak berdaun |
|
CORVIDAE |
Corvus enca (Horsfield, 1821) |
Gagak hutan |
Burung ini dapat diamati pada pohon-pohon taman atau teramati sedang terbang pindah-pindah tempat |
Beberapa jenis burung, seperti burung gereja (Passer montanus), pipit (Lonchura leucgastroides), peking (Lonchua punctulata), kutilang (Pycnonotus aurigaster), perkutut (Geopelia striata), tekukur (Spilopelia chinensis), dan burung sriti (Collocalia linchi) sangat umum ditemukan di taman-taman Summaecon. Selain itu, di kawasan pinggirannya, di bagian timurnya yang berbatasan dengan Kampung Rancabayawak, dapat diamati ratusan kelompokan burung kuntul yang sedang beristirahat atau bersarang di pohon-pohon bambu (Gambar 2).

Bahkan, di antara jenis-jenis burung di taman seperti burung pipit dan peking, telah banyak ditemukan sarang-sarangnya di pepohanan di taman-taman Summarecon. Sementara itu, keberadaan semak belukar tumbuhan air di danau/kolam retensi telah menjadi habitat beberapa jenis burung air. Misalnya, burung karéo (Amaurornis phoenicurus), mandar batu (Galinula chloropus), kokondangan/bambangan beureum (Ixobruchus cinnamomeus), burung kuntul blekok (Adeola speciosa), burung kuntul kecil (Egretta garzetta), dan kuntul kerbau (Ardea ibis). Oleh karena itu, seyogianya dalam penataan pinggiran danau/kolam retensi dengan mesin pemotong rumput perlu dilakukan secara seksama, dengan tidak merusak habitat burung. Pasalnya, rerumputan dan semak-semak tumbuhan air tersebut merupakan habitat yang baik untuk mencari pakan dan bahkan bersarang bagi jenis-jenis burung air, seperti burung kareo (Amaurornis phoenicurus) dan burung mandar batu (Galinula chloropus).
Dewasa ini, secara umum para mahasiswa dan peneliti ekologi burung sudah cukup banyak yang biasa melakukan pengamatan jenis-jenis burung kuntul di tempat peristirahatan dan bertelur di pepohonan bambu Kampung Rancabayawak. Tetapi, sepertinya kegiatan birdwatching di kawasan taman-taman Summarecon cenderung masih belum banyak dilakukan orang. Oleh karena itu, guna meningkatkan kecintaan orang terhadap lingkungan, termasuk aneka ragam jenis burung, maka kawasan Summarecon Bandung, sungguh baik untuk dijadikan tempat birdwatvhing warga Bandung dan Bandung Raya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


