• Buku
  • RESENSI BUKU: Kemerdekaan Indonesia yang Diperjuangkan di Eropa

RESENSI BUKU: Kemerdekaan Indonesia yang Diperjuangkan di Eropa

Buku Di Balik Bendera Persatuan karya Klaas Stutje memperlihatkan perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui jejaring antikolonial melintasi batas negara di Eropa.

Sampul buku Di Balik Bendera Persatuan (2024) karya Klaas Stutje. (Foto: Farhan M. Adyatma)

Penulis Farhan Madinanta Adyatma2 Agustus 2026


BandungBergerak – Kalau kita berbicara era Kebangkitan Nasional, kita mengenal organisasi-organisasi di dalam Hindia Belanda yang mengusung gerakan kebangsaan, sebut saja seperti Boedi Oetomo, Indische Partij, dan lain-lain. Kalau organisasi serupa tapi berada di luar Hindia Belanda, tentu kita juga mengenal Indische Vereeniging (IV) yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI).

IV yang kemudian berubah menjadi PI adalah organisasi mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Belanda. Kita tentu tahu bahwa organisasi ini adalah organisasi nasionalis. Namun, dalam pembahasan sejarah Indonesia khususnya yang diajarkan di sekolah-sekolah, pembahasan mengenai IV/PI bisa dibilang hanya sepintas dan dianggap sebagai bagian kecil dari era Kebangkitan Nasional yang terfokus di dalam Hindia Belanda.

Oleh karena itu, buku Di Balik Bendera Persatuan: Kalangan Nasionalis Indonesia dan Gerakan Antikolonial Dunia 1917-1931 (2024) karya Klaas Stutje ini menjadi penting untuk membahas kiprah IV/PI secara lebih dalam dan membahas kiprah orang-orang Indonesia khususnya kalangan nasionalis Indonesia di Eropa dalam gerakan antikolonial dunia. Lebih luas lagi, buku ini juga memperlihatkan bagaimana ekologi sosial-politik di Eropa pada periode interbellum (antara Perang Dunia I dan II) memengaruhi ide-ide antikolonialisme dan antiimperialisme untuk masuk ke jiwa orang-orang dari negara-negara terjajah.

Buku Di Balik Bendera Persatuan sejatinya merupakan terjemahan dari buku karya Klaas Stutje yang berjudul Campaigning in Europe for a Free Indonesia: Indonesian Nationalists and the Worldwide Anticolonial Movement, 1917–1931 (2019). Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Joss Wibisono dan versi terjemahannya diterbitkan oleh Marjin Kiri.

Baca Juga: RESENSI BUKU: Negara Agraris yang Kehilangan Tanah untuk Petaninya
RESENSI BUKU: Bersetia pada Seni Lewat Jurnalisme
RESENSI BUKU: Ketika Babi Menjadi Filsuf dan Big Brother Menjadi Influencer

Perjalanan Berliku Indische Vereeniging

Indische Vereeniging (IV) didirikan di Leiden pada Oktober 1908. Pada awalnya, secara resmi, IV mengambil posisi netral terkait dengan politik penjajahan. Walaupun begitu, topik-topik yang dibahas dalam ceramah-ceramah umum IV juga berpotensi kontroversial. Contohnya adalah pembahasan tentang demokratisasi dan partisipasi bumiputra dalam pemerintahan kolonial, sistem pendidikan di wilayah jajahan, hingga wacana pendirian milisi kolonial bumiputra (hlm. 38).

Seiring berjalannya waktu, IV bersama korannya yakni Hindia Poetra (HP) berubah haluan menjadi nasionalis. Pada 1924, Nazir Pamontjak mengubah nama Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka (IM). Lanjut pada 1925, Soekiman Wirjosandjojo sebagai ketua himpunan mengubah nama Indische Vereeniging menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI) (hlm. 50). Di momen inilah mulai tampak cita-cita kemerdekaan Indonesia yang nantinya akan terus diperjuangkan oleh PI.

PI dan korannya IM pun menjadi alat untuk memperjuangkan prinsip kemerdekaan dan persatuan rakyat Indonesia. Selain itu, PI tidak berhenti di menekankan solidaritas orang-orang Indonesia saja. PI juga menekankan gagasan internasionalisme antikolonial, alias pentingnya solidaritas lintas batasan-batasan kelas dan bersama rakyat terjajah lain. Orang-orang dari negara terjajah di Asia kemudian menggagas persatuan perjuangan antikolonial di antara mereka.

Salah satu pembahasan yang paling menonjol dalam buku ini adalah perihal gagasan persatuan Asia. Dalam buku ini dijelaskan mengenai interaksi mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Eropa dengan mahasiswa-mahasiswa lain dari negara-negara lain, khususnya mereka yang dari Asia.

Hal ini terlihat misalnya Samuel Ratu Langie mengidentifikasi dirinya sebagai orang Asia alih-alih orang Indonesia. Di Zürich, Swiss, Ratu Langie menggambarkan kekuatan di dalam komunitas mahasiswa Asia di Zürich itu sebagai "jiwa muda Asia", yang diistilahkannya sebagai "Asiatisme Baru" (hlm. 76).

Begitu juga dengan Arnold Mononutu yang menjadi anggota komite eksekutif  Perhimpunan Kajian Peradaban Oriental (Association pour l'étude des civilisations orientales, AECO) di Paris, Mononutu terlibat dalam mempertemukan Perhimpoenan Indonesia (PI) dengan aktivis antikolonial dan menjalin hubungan dengan gerakan politik asing. Pada 6 Juni 1926, Kavalam Madhava Panikkar (aktivis India, anggota AECO) berceramah dalam pertemuan umum PI di Leiden mengenai "pentingnya persatuan Asia" (hlm. 118).

Dari sini, bisa dilihat bahwa aktivitas-aktivitas para mahasiswa Indonesia di Eropa yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia merupakan bagian dari perjuangan antikolonial dunia, khususnya Asia. Para mahasiswa Indonesia di Eropa banyak berinteraksi dengan mahasiswa asal India, Vietnam, bahkan Tiongkok.

Melalui pembahasan gagasan persatuan Asia ini, Stutje benar-benar menggeser cara pandang kita terhadap sejarah nasionalisme Indonesia dengan menunjukkan bahwa identitas kebangsaan Indonesia justru ikut dibentuk melalui perjumpaan dengan mahasiswa dan aktivis dari berbagai negeri terjajah. Kesadaran sebagai bangsa Indonesia ternyata tumbuh bersamaan dengan kesadaran bahwa mereka merupakan bagian dari masyarakat Asia yang sama-sama mengalami penindasan kolonial, dan Kongres Brussel 1927 akan memperkuat gagasan persatuan Asia ini.

Pada Februari 1927, diadakan sebuah kongres yang mengumpulkan perwakilan dan organisasi komunis, dan organisasi serta aktivis antikolonial dari wilayah-wilayah jajahan. Kongres ini biasa dikenal sebagai Kongres Brussel. Kongres ini penting karena menjadi awal dari solidaritas internasional dalam melawan kolonialisme, dan menjadi tempat berdirinya Liga Melawan Imperialisme (League Against Imperialism, LAI).

Delegasi yang paling menonjol dalam Kongres ini adalah delegasi Tionghoa. Delegasi Tionghoa yang hadir dalam Kongres Brussel ini kebanyakan terafiliasi dengan Kuomintang (KMT). Walaupun begitu, delegasi Tionghoa ini merupakan faksi kiri KMT yang diketuai oleh Liao Huanxing, yang juga terlibat dalam pendirian Partai Komunis Tiongkok (PKT) (hlm. 181).

Ada juga delegasi India yang merupakan delegasi kedua terbesar setelah delegasi Tiongkok. Tokoh sentral dalam delegasi ini adalah Virendranath Chattopadhyaya. Namun, tentu sosok yang paling terkenal dalam delegasi ini adalah Jawaharlal Nehru, politikus terkemuka dan pemimpin Kongres Nasional India (Indian National Congress, INC) (hlm. 182).

Lalu untuk delegasi Indonesia, ada tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta, Semaoen, Nazir Pamontjak, dan lain-lain. Dalam kongres itu, mereka mengangkat pembahasan Pemberontakan PKI 1926 yang gagal. Nazir Pamontjak dalam hari kedua kongres, berpidato dengan menjelaskan bahwa pemberontakan 1926 itu bukan sebagai kegagalan PKI, melainkan akibat dari ganasnya penindasan Belanda (hlm. 189). 

Delegasi Indonesia juga menyatakan bahwa mereka bersolidaritas dengan bangsa-bangsa terjajah lain (hlm. 193). Mereka-mereka ini saling berkontak dan bertukar pikiran. Bahkan lebih dari itu, Jawaharlal Nehru menulis bahwa delegasi-delegasi Indonesia, Korea, Persia, Suriah, dan Mesir hendak menjajaki kemungkinan membentuk federasi antikolonial pan-Asia (hlm. 194).

Stutje menuliskan bahwa Kongres Brussel 1927 ini merupakan penampilan pertama kaum nasionalis Indonesia di pentas internasional. Kehadiran mereka di Kongres Brussel ini bisa dibilang didorong oleh berbagai perkembangan serta pertimbangan di Hindia Belanda dan di dunia komunis. Selain itu, pasca-pemberontakan komunis di Jawa dan Sumatra pada 1926-1927, Perhimpoenan Indonesia (PI) melambung menjadi satu-satunya wakil gerakan nasionalis Indonesia di Eropa, karena tidak adanya alternatif politik yang kredibel di Eropa saat itu (hlm. 197-198).

Hal tersebut menunjukkan sejatinya Perhimpoenan Indonesia (PI) memiliki peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia secara umum. Di satu waktu, PI pernah menjadi satu-satunya representasi gerakan nasionalis di Eropa, dan ini menunjukkan bahwa PI memiliki posisi yang amat strategis di jantung kolonial bernama Eropa.

Menempatkan Gerakan Nasionalisme Indonesia dalam Gerakan Antikolonial Dunia

Ekologi sosial-politik di Eropa pada periode interbellum memang memainkan peranan penting dalam memperkenalkan ide-ide antikolonialisme dan antiimperialisme kepada orang-orang dari wilayah jajahan. Dalam konteks itu, buku Di Balik Bendera Persatuan memperlihatkan bagaimana perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya sebatas perjuangan dalam negeri Hindia Belanda. Bertemunya orang-orang Indonesia di Eropa dengan tokoh-tokoh antikolonial lain—khususnya dari sesama wilayah jajahan—seperti Jawaharlal Nehru (India), Messali Hadj (Aljazair), dan lain-lain menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah bagian dari perjuangan antikolonialisme dan antiimperialisme global.

Mereka semua bersolidaritas dalam Liga Melawan Imperialisme (League Against Imperialism, LAI). LAI pun kemudian menjadi salah satu organisasi antikolonial yang berjasa dalam mempertemukan tokoh-tokoh antikolonial dari berbagai belahan dunia. Bahkan pada 18 April 1955, dalam pidatonya pembukaan Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung, Sukarno mengenang LAI dengan "semangat Brussel"-nya sebagai pendahulu dari Konferensi Bandung itu.

Ada satu hal yang menarik dalam buku ini, yakni pembahasan peran komunis dalam gerakan antikolonial yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Stutje di sini menunjukkan bahwa interaksi kelompok nasionalis dengan kelompok komunis dalam gerakan antikolonial di Eropa ini sangat-sangat cair. Walaupun tetap ada konflik di antara dua kelompok ini, tetapi secara umum mereka sering kali bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama: menyuarakan penindasan pemerintah kolonial yang terjadi di negara mereka yang terjajah.

Buku Di Balik Bendera Persatuan karya Klaas Stutje ini pada akhirnya akan memperkaya historiografi Kebangkitan Nasional Indonesia. Stutje mengajak pembaca melihat bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh dalam jejaring global yang dinamis dan penuh silang pengaruh. Pada akhirnya, buku ini mengajak pembaca untuk membaca ulang sejarah Indonesia sebagai sejarah yang sejak awal bersifat global.

Identitas Buku

Judul: Di Balik Bendera Persatuan: Kalangan Nasionalis Indonesia dan Gerakan Antikolonial Dunia 1917-1931
Penulis: Klaas Stutje
Penerjemah: Joss Wibisono
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun terbit: November 2024
Jumlah halaman: xxxiv + 328 halaman

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//