• Opini
  • Antideutsche dan Paradoks St. Pauli, Sang 'Antifa Hipster'

Antideutsche dan Paradoks St. Pauli, Sang 'Antifa Hipster'

FC St. Pauli sebagai representasi klub sepak bola paling “kiri” di dunia, kehilangan pijakan jika menyangkut konflik Israel-Palestina.

Bikry Praditya

Seorang buruh tulis, foto, dan juga video di salah satu media musik Indonesia. Mari bercengkerama via IG @bikrypna

Kebebasan sering hadir sebagai toleransi yang rapuh. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

3 Agustus 2026


BandungBergerak – Selama puluhan tahun, FC St. Pauli dikenal sebagai representasi klub paling kiri di dunia sepak bola. Markasnya di Millerntor dipenuhi simbol anti-fasis dan solidaritas bagi kelompok tertindas. Namun semua berubah pasca serangan Israel terhadap Gaza pada Oktober 2023. Akhirnya citra itu dipertanyakan.

Sebagian kelompok suporter menilai klub terlalu dekat dengan narasi pemerintah Jerman dan Israel, juga trauma masa lampau yang tak bisa begitu saja dilepaskan. Di balik perdebatan tersebut, muncul satu nama yang tak begitu populer di luar Jerman, ialah Antideutsche, sebuah arus pemikiran yang lahir dari tradisi politik kiri, tapi kini dikenal karena dukungannya terhadap Israel dan penolakannya terhadap gerakan solidaritas Palestina.

Hal tersebut dimulai pada 2023, saat banner besar bertuliskan "FROM GAZA TO GLASGOW–FIGHT ANTISEMITISM" dan "FREE PALESTINE FROM HAMAS" terlihat di barisan tribun Ultras St. Pauli; salah satu kelompok suporter sepak bola dengan representasi sayap kiri paling radikal di dunia.

Berita tersebar, dunia mempertanyakan: bagaimana mungkin kelompok yang selama puluhan tahun mengusung anti-fasisme malah memamerkan pembelaannya terhadap tindakan Israel di Gaza? Bukankah solidaritas terhadap penindasan merupakan salah satu fondasi politik kiri yang selama ini mereka percayai?

Pertanyaan itulah yang membawa saya berbincang dengan seorang suporter St. Pauli asal Jerman yang memilih berdiri di sisi berbeda. Di tengah dominasi narasi pro-Israel di lingkungan klub dan suporter, ia justru menjadi salah satu pendiri FCSP 4 Palestine, sebuah jaringan kecil pendukung St. Pauli yang menyatakan solidaritas terhadap Palestina.

Menurutnya, konflik Israel-Palestina ini telah memperlihatkan keretakan yang selama ini tersembunyi di tubuh gerakan kiri dan anti-fasis di Jerman.

“Gerakan anti-fasis di Jerman sebenarnya cukup solid. Tapi ketika berbicara soal Palestina, semua berubah. Ada banyak perdebatan dan kontradiksi.” ujarnya.

Baca Juga: Sepak Bola adalah Perlawanan
Ilusi ‘Overrated’ di Panggung Termahal Sepak Bola
Membedah Sentimen Kelas dalam Selebrasi Sepak Bola

Antideutsche

Bagi mereka yang tinggal di luar Jerman, sikap sebagian kelompok Antifa yang mendukung Israel terkesan konyol. Namun bagi mereka yang tumbuh dalam lanskap politik Jerman pasca Holocaust, posisi tersebut memiliki akar sejarah yang panjang. Kemunculan Antideutsche dianggap sebagai garda terakhir dalam upaya menghapus dosa-dosa Jerman dalam Holocaust.

Antideutsche merupakan sebuah pemahaman “Anti Jerman” yang lahir dari pemikiran serta trauma pasca Holocaust yang menyasar kaum Yahudi oleh Nazi. Antideutsche lahir pada medio 1980-an, ketika Jerman menghadapi reunifikasi dan runtuhnya Uni Soviet. Di tengah euforia penyatuan kembali Jerman, sebagian kelompok kiri justru melihat kebangkitan nasionalisme sebagai ancaman. Mereka dihantui satu pertanyaan besar: bagaimana memastikan fasisme Jerman tidak pernah muncul kembali?

Pada mulanya, ia muncul sebagai kritik keras terhadap nasionalisme Jerman dan warisan antisemitisme yang dianggap masih menghantui masyarakat. Namun seiring berjalannya waktu, juga kondisi sosial-politik dunia yang berubah pasca tragedi 9/11 turut menggeser pula orientasi politik mereka.

Perjuangan yang awalnya didedikasikan untuk melawan antisemitisme perlahan berubah menjadi pembelaan yang hampir tanpa syarat terhadap Israel. Dalam logika Antideutsche, membela Israel dianggap sebagai konsekuensi moral dari sejarah Holocaust. Sebaliknya, kritik terhadap Israel sering dicurigai sebagai ancaman antisemitisme.

Kelahiran dan perkembangannya begitu kontradiktif dengan apa yang dicita-citakan oleh para kaum anti-fasis. Basis sosial Antideutsche banyak berasal dari kelompok-kelompok otonom yang mendefinisikan diri sebagai anti-fasis. Akibatnya, alih-alih mempertahankan semangat melawan penindasan dan memperjuangkan perlawanan terhadap fasisme secara global, kelompok Antideutsche yang baru lahir justru menjadikan perlawanan terhadap imperialisme Jerman sebagai prioritas utama mereka.

Di sinilah paradoks itu mulai muncul. Gerakan yang lahir dari tradisi anti-fasis justru berkembang menjadi salah satu faksi kiri yang paling vokal membela kebijakan Israel, bahkan ketika kebijakan tersebut menuai kritik luas dari komunitas internasional. Paradoks Antideutsche dalam gerakan kiri di Jerman terkesan salah kaprah, beberapa dari mereka beranggapan untuk menjadi anti-fasis maka harus bertentangan dengan apa yang sedang dilakukan oleh pemerintah Jerman itu sendiri, “what are the fascists doing right now? Let’s do the opposite.” Begitu kiranya.

Hal itu juga diperkuat oleh pernyataan kawan saya yang menyebutkan bahwa gerakan Antideutsche sering juga disebut sebagai “Zionisme Kiri” yang justru lahir dari kelompok sayap kanan yang gagal mendefinisikan dirinya sendiri. “Saya melihat mereka (Antideutsche) selalu mencari pembenaran atas tindakan Israel dan hampir semua kritik terhadap Israel mereka cap sebagai antisemitisme,” ujarnya.

Bahasan tentang Antideutsche sebetulnya merupakan perdebatan panjang sejak jauh hari. Sebagian menganggap bahwa Antideutsche merupakan bagian yang menentang fasisme dan bayang-bayang antisemitisme yang lahir pasca Holocaust. Mereka berargumen bahwa membela Israel adalah konsekuensi logis dari perjuangan melawan antisemitisme.

Sebaliknya, banyak kelompok kiri lain justru menolak logika tersebut. Bagi mereka, tugas gerakan kiri bukan memilih negara mana yang harus didukung, melainkan mengkritik setiap bentuk kolonialisme, pendudukan, dan penindasan, termasuk jika dilakukan oleh Israel.

Suasana panas tersebut juga masuk ke ranah tribun pasca Ultras St. Pauli memajang banner penuh kontroversi tersebut. Di Millerntor (stadion milik St. Pauli) sendiri, muncul sel perlawanan kecil yang menyayangkan sikap Ultras St. Pauli dan St. Pauli sebagai klub yang dikenal sangat “kiri” namun terkesan abai dan tidak memiliki pendirian tegas atas kasus Palestina ini. Berbagai spanduk solidaritas terhadap Palestina diturunkan secara paksa dengan cara-cara yang cukup keras.

Oleh karenanya, muncul inisiatif dari sebagian fans St. Pauli yang berdiri bersama Palestina untuk menggagas FCSP 4 Palestine atau FC Sankt Pauli for Palestine yang kemudian digeneralisir jadi Fans can Support Palestine, untuk gerakan yang lebih universal. Mereka menganggap bahwa menjadi “kiri” itu berarti menjunjung tinggi kesetaraan, sama seperti istilah "Kein Mensch ist Illegal" atau “tidak ada manusia yang ilegal” yang sering digaungkan.

“Semua manusia berhak mendapatkan penghormatan atas hak-haknya. Semua memiliki hak yang sama tanpa memandang pandangan politik, tindakan, maupun identitas mereka,” ujarnya.

Paradoks St. Pauli

Kawan saya, sebagai salah satu kaum anti-fasis yang membela Palestina di Jerman memandang bahwa Israel menjalankan sistem apartheid yang memberikan keistimewaan kepada orang Yahudi, yaitu sebuah negara yang mengutamakan satu kelompok etnis dan agama. Dalam sistem tersebut, warga Palestina secara bertahap terusir dari tanah yang telah mereka kelola selama beberapa generasi, lalu digantikan oleh para pemukim yang datang dalam kurun waktu sekitar satu abad terakhir.

Menurutnya, proyek Zionisme–yang pada awal kemunculannya di abad ke-19 bahkan tidak populer di kalangan banyak orang Yahudi–justru terwujud melalui pencabutan hak, pengusiran, dan penghancuran yang terus berlangsung terhadap rakyat Palestina.

“Sebagai seorang kiri yang menentang imperialisme, kolonialisme, dan segala bentuk penindasan, saya melihat proyek pemukiman tersebut sebagai bentuk pendudukan. Karena itu, saya berpendapat bahwa pendudukan tersebut harus dilawan dengan segala cara yang tersedia,” ia menambahkan.                                                                                                                                                                                                                                                           

Ironisnya, paradoks St. Pauli mungkin bukan lagi sekadar persoalan sebuah klub sepak bola. Ia berdiri di antara dua kutub pemikiran yang mungkin tak sejalan, mewadahi tanggung jawab moral banyak orang yang bergantung pada sikap kritis yang selama ini ditunjukkan oleh klub.

Klub yang selama ini dielu-elukan sebagai simbol perlawanan itu mendadak dipaksa menjawab pertanyaan yang jauh lebih rumit daripada sekadar siapa yang menang atau kalah di atas lapangan: kepada siapa solidaritas seharusnya diberikan ketika sejarah, moralitas, dan situasi politik saling bertabrakan?

Ketika disinggung soal klub dengan representasi paling “kiri” dan jadi influence bagi banyak kelompok suporter lain di dunia khususnya Indonesia, kawan saya menampik hal tersebut. Ia merasa malu karena St. Pauli tidak memiliki sikap tegas mengenai kasus Palestina ini. Ia merasa, sebagai klub yang sangat vokal terhadap perjuangan rakyat dalam menentang fasisme, sudah seharusnya St. Pauli memiliki statement lugas tanpa terbawa narasi panjang pemerintah Jerman dan Israel.

Di sisi lain, pasca tragedi Holocaust memang Jerman seperti memiliki tanggung jawab moral bagi Israel. Hal itu diperkuat oleh pernyataan Mantan Kanselir Jerman, Angela Merkel di tahun 2008 yang mengatakan bahwasanya keamanan negara Israel merupakan Staatsräson (reason of state) atau "kepentingan fundamental negara". Sebuah komitmen politik Jerman untuk menjamin keamanan negara Israel sebagai bagian dari tanggung jawab sejarah.

Keruwetan politik kiri di Jerman membawa St. Pauli sebagai klub mendapatkan tekanan dari seluruh penjuru dunia. Sebuah klub dengan representasi paling “kiri” kehilangan pijakan jika menyangkut konflik Israel-Palestina. Namun seperti yang sudah dibahas panjang di atas, hal tersebut tidak sesederhana kelihatannya.

Selepas banner tersebut muncul dan tidak adanya sikap tegas dari klub soal kasus tersebut, St. Pauli dan barisan fansnya disebut sebagai ‘Antifa Hipster’ dan dibandingkan dengan Green Brigade dari Celtic FC yang punya sikap tegas serta aktif menyuarakan kemerdekaan Palestina di tribun stadion.

Meski begitu, besarnya tekanan dari publik akan transparansi sikap dari St. Pauli dan Ultrasnya tentang Palestina ini akhirnya terjawab. Di beberapa pertandingan setelahnya, muncul lebih banyak banner-banner dukungan terhadap Palestina, seperti contohnya “CEASEFIRE NOW!” dan “SHOW ISRAEL THE RED CARD”.

Meski bukan secara gamblang dilakukan oleh klub dan Ultras St. Pauli, tapi setidaknya mampu menjawab ironi di atas, bahwa sebelum itu banner dukungan terhadap Palestina direpresi untuk dipamerkan di atas tribun Millerntor.

Pada akhirnya, kebisingan media sosial tentang kekecewaan publik terhadap St. Pauli dan sikapnya terhadap Palestina mengajarkan kita bahwa sebuah pemikiran tidak selalu dapat dipahami sebagai sesuatu yang universal atau objektif. Sebaliknya, setiap ide berasal dari situasi sejarah, pengalaman kolektif, dan keadaan sosial-politik yang spesifik. Oleh karena itu, bentuk pemikiran selalu mengalir bersama ruang dan waktu. Ia tetap ada dan dibawa ke dunia umum tanpa lepas dari tempat, waktu, dan konteks historisnya.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//