• Opini
  • CERITA GURU: Membebaskan Kata ‘Karyawan’ dari Belenggu Definisi KBBI

CERITA GURU: Membebaskan Kata ‘Karyawan’ dari Belenggu Definisi KBBI

Kata baku bisa berbalik arah tanpa penjelasan. Dan pengguna bahasa–penerjemah, editor, jurnalis, guru–hanya diminta menyesuaikan diri tanpa pernah diberi alasan.

Ilham Taufiq

Mantan guru sekolah swasta di Bandung.

Ilustrasi. Kata bisa mengeskpresikan beragam makna. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

5 Agustus 2026


BandungBergerak – Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan "karyawan" dan "pegawai" nyaris bak dua anak kembar: keduanya orang yang bekerja pada suatu instansi dan menerima gaji. Definisi ini praktis untuk keperluan administratif, tapi menyembunyikan sesuatu yang lebih menggelitik. Kedua kata lahir dari rahim etimologis yang berbeda. "Karyawan" berasal dari karya, ditambah sufiks -wan penanda keterlibatan dengan suatu kualitas. Bandingkan wartawan, ilmuwan: orang yang berkarya, yang menghasilkan. "Pegawai" berasal dari gawai, ditambah prefiks pe- penanda pelaku. Dan gawai, jauh sebelum ia dipungut dari Melayu Klasik untuk diberi makna baru sebagai padanan telepon pintar, berarti alat, perkakas, sarana kerja.

Artinya, secara harfiah: karyawan adalah orang yang berkarya; pegawai adalah orang yang menjadi, atau berkaitan dengan, alat.

Mari kita gali kembali perbedaan yang dikubur KBBI itu, dengan meminjam kerangka Hannah Arendt tentang labor dan work, dan, di bagian akhir, mempertanyakan otoritas yang selama ini berhak menentukan definisi itu sendiri.

Baca Juga: CERITA GURU: Kesejahteraan Guru dalam Siklus Janji Politik
CERITA GURU: Stadion yang Tak Mampu Saya Masuki, Dilema Guru Honorer untuk Persib yang Dirampas
CERITA GURU: Bertemu Guru-guru Gokil

Labor, Work, dan Dua Wajah Bekerja

Dalam The Human Condition, Arendt membedakan labor dan work. Labor berkaitan dengan kebutuhan biologis untuk bertahan hidup: siklis, berulang, tak meninggalkan apa pun yang tahan lama. Hasilnya dikonsumsi hampir seketika setelah dihasilkan, lenyap dalam siklus reproduksi kehidupan itu sendiri. Pelakunya animal laborans, manusia yang bekerja demi kelangsungan hidup semata, tanpa jejak. Work adalah fabrikasi: menghasilkan objek yang bertahan, membentuk "dunia" dalam pengertian Arendt, yaitu sesuatu yang melampaui umur pembuatnya, yang bisa diwariskan. Pelakunya homo faber, manusia sebagai pembuat. Pembedaan ini menjadi obor untuk menerangi perbedaan etimologis yang ditulis di paragraf pertama.

Pegawai, orang gawai, cenderung diposisikan dalam logika labor: absen, tugas harian, laporan bulanan, gaji, lalu siklus yang sama bulan depan. Pergeseran makna gawai menjadi "gadget" menegaskan intuisi ini: pegawai, dalam bayangan birokrasi paling instrumental, memang diperlakukan seperti perangkat/aparat. Ia dioperasikan, bisa diganti komponennya, dinilai dari fungsi, bukan jejak yang ditinggalkan.

Karyawan, orang karya, idealnya berada dalam logika work. Karya adalah sesuatu yang berdiri sesudah pembuatnya selesai, bernilai di luar momen produksinya. Karyawan seharusnya orang yang pekerjaannya diakui sebagai kontribusi yang meninggalkan sesuatu, bukan fungsi administratif semata yang habis begitu jam kerja usai.

Mengapa, kalau begitu, kedua kata ini dipakai bergantian tanpa beban? Jawabannya ada pada logika industrial modern yang, meminjam kritik Marx tentang alienasi, mereduksi semua kerja menjadi tenaga kerja terukur yang dinilai melalui upahnya. Tak penting apakah seseorang berkarya atau menjadi alat; yang penting jam kerja dan output. Kapitalisme administratif hanya butuh satu kategori generik, dan KBBI–produk zaman birokrasi–mewarisi kebutuhan itu.

Ini bukan hanya soal linguistik, melainkan politik: penyeragaman makna diam-diam mengukuhkan pandangan bahwa nilai sebuah pekerjaan hanya terukur lewat gaji, padahal ada perbedaan pengalaman batin yang nyata antara menghasilkan sesuatu yang bermakna dan menjalankan fungsi semata agar mesin institusi tidak macet.

Dua gagasan lain memperkaya pembacaan ini. Dalam Sein und Zeit, Heidegger membedah bagaimana manusia mengalami Zeug (perkakas) sehari-hari: perkakas paling "ada" justru saat tak disadari, ketika dipakai lancar dan lenyap dari perhatian (Zuhandenheit, siap-pakai). Martil baru benar-benar "terlihat" sebagai objek saat rusak dan tak bisa dipakai lagi. Nasib pegawai yang direduksi jadi alat mengikuti logika serupa: ia dianggap berfungsi baik justru ketika keberadaannya tak perlu dipikirkan, “transparan” dalam tugasnya, dan baru mendapat perhatian saat "rusak" atau mangkir.

Tentang karya, tradisi Jawa punya padanan tersendiri: gelar empu, yang disematkan bukan hanya kepada pembuat keris pusaka, tapi juga kepada pujangga seperti Empu Prapañca, penulis Kakawin Nagarakretagama abad ke-14 zaman Majapahit. Keris atau kakawin gubahan seorang empu dimaksudkan hidup melampaui pembuatnya, diwariskan lintas generasi, dan diyakini menyimpan sebagian pencapaian batin sang empu di dalamnya. Empu, dengan begitu, adalah versi lokal dari homo faber, bukti bahwa gagasan karyawan sebagai "orang yang berkarya" bukan konsep pinjaman dari luar, melainkan sesuatu yang lama dihormati dalam tradisi lokal, jauh sebelum diratakan jadi entri kamus yang setara dengan pegawai.

Siapa yang Berhak Membakukan?

Ada satu lapis persoalan yang menegaskan argumen di atas, dan sebagai penerjemah yang memeriksa kata baku hampir tiap hari, saya mengalaminya sendiri: kata baku bisa berbalik arah tanpa penjelasan yang jelas. September 2023, "mengeklik" tercantum sebagai bentuk baku di KBBI VI Daring. Desember tahun yang sama, tanpa pengumuman yang saya temukan di mana pun, entri itu berganti jadi "mengklik", dan bertahan begitu sampai awal Mei 2026, saat saya membuka KBBI daring seperti biasa dan mendapati kata itu sudah kembali menjadi "mengeklik", persis seperti sebelum akhir 2023.

Pola ini bukan kasus tunggal: "mengklaim" pernah mengalami hal serupa, dari baku di KBBI edisi keempat menjadi "mengeklaim" di edisi berikutnya, perubahan yang menurut catatan pengamat bahasa tak pernah tersosialisasikan dengan baik. Selain verba, nomina seperti "algoritme" juga berubah bentuk bakunya menjadi "algoritma" pada tahun 2024. Yang berulang di sini bukan cuma kata yang berubah, melainkan caranya berubah: keputusan datang dari rapat redaksi tertutup, berbalik dari satu pemutakhiran ke pemutakhiran berikutnya, dan pengguna bahasa–penerjemah, editor, jurnalis, guru–hanya diminta menyesuaikan diri tanpa pernah diberi alasan.

Di sinilah Frantz Fanon relevan, meski konteksnya jauh berbeda. Fanon berpendapat bahwa menguasai suatu bahasa berarti mengambil alih satu peradaban berikut cara pandangnya, dan bahwa otoritas yang menentukan bentuk "benar" suatu bahasa turut memegang kendali atas cara penuturnya memandang diri sendiri. Dalam The Wretched of the Earth, ia memperingatkan bahwa negara pascakolonial kerap tak mengubah struktur kekuasaan kolonial, tapi hanya menempatinya: elite baru mewarisi cara kerja administratif lama yang sentralistis, birokratis, memutuskan untuk rakyat, bukan bersama rakyat. Badan Bahasa mewarisi proyek pembebasan yang sah: membakukan bahasa persatuan melawan dominasi bahasa kolonial. Namun, cara mereka menjalankan otoritas itu kini, dengan memutuskan dan membalik keputusan lewat rapat tertutup tanpa penjelasan publik yang memadai, mewarisi pola sentralistis yang sama: pusat menentukan, penutur di seluruh negeri menuruti. Dalam hubungan ini, penutur diperlakukan bukan sebagai karyawan bahasa yang turut mengarangnya lewat pemakaian sehari-hari, melainkan pegawai bahasa yang tinggal menjalankan versi terbaru dari kaidah.

Membebaskan "karyawan" dari belenggu KBBI bukan soal memperbaiki satu entri kamus. Ini adalah dua tuntutan sekaligus, dan keduanya harus diajukan bersamaan atau tidak sama sekali.

Tuntutan pertama menghadap ke luar. Jika karyawan secara etimologis adalah orang yang berkarya, menyebut seseorang sebagai karyawan adalah klaim, bukan basa-basi administratif. Institusi yang memakainya harus memperlakukan pemiliknya sebagai homo faber, bukan animal laborans; memberi ruang bagi kerja yang meninggalkan jejak, bukan sekadar menjaga roda tetap berputar. Kalau tidak, kata itu cuma topeng: menyebut pegawai sebagai karyawan tanpa mengubah relasi kerjanya sedikit pun.

Tuntutan kedua menghadap ke dalam, ke bahasa itu sendiri, dan inilah yang lebih sering luput. Selama otoritas yang membakukan kata bertindak sebagai pusat yang memutuskan sepihak, seperti mengubah kaidah, membalikkannya, membiarkan penutur menerka-nerka alasannya, kita sedang memperlakukan bahasa Indonesia sendiri secara pegawai: sebagai gawai yang diprogram ulang dari atas, bukan karya bersama yang tumbuh dari pemakaian ratusan juta penuturnya setiap hari.

Membongkar dua kata ini, karenanya, bukan latihan filologis yang steril. Ini adalah cara kecil untuk menagih serentak dua hal: agar institusi tempat kita bekerja berhenti memperlakukan kita sebagai gawai yang bisa diganti kapan saja, dan agar institusi yang mengurus kata-kata kita berhenti memperlakukan bahasa sebagai wilayah yang mereka kuasai sendirian. Sebab pada akhirnya kedua tuntutan itu merupakan satu tuntutan yang utuh: agar yang bekerja, di kantor maupun dalam bahasa yang dipakainya untuk menamai pekerjaan itu sendiri, diakui sebagai pengarang, bukan semata pelaksana perintah yang turun dari atas.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//