• Opini
  • CERITA GURU: Stadion yang Tak Mampu Saya Masuki, Dilema Guru Honorer untuk Persib yang Dirampas

CERITA GURU: Stadion yang Tak Mampu Saya Masuki, Dilema Guru Honorer untuk Persib yang Dirampas

Persib adalah ingatan kolektif kelas pekerja Jawa Barat dan ingatan itu tak pernah bisa dijual, sebagaimana harga diri kami sebagai guru honorer.

JIM

Warga sipil

Ilustrasi – Sepak bola. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

24 Juni 2026


BandungBergerak – Saya guru honorer. Gaji saya kadang dibayar telat, belum lagi dipotong urusan administrasi yang tak pernah saya pahami logikanya, dan setiap bulan saya harus menghitung ulang: makan atau nonton. Dari situ saya mulai menulis ini, bukan dari kursi tribun VIP, tapi dari pinggir lapangan kehidupan, tempat saya dan ribuan bobotoh lain berdiri menyaksikan klub yang kami besarkan dengan teriakan, dengan air mata, dengan upah recehan yang kami sisihkan. kini perlahan dipagari dari kami sendiri.

Stadion sebagai Penjara Citra: Menggugat Komodifikasi Persib dan Eksklusi Kelas Pekerja

Guy Debord menulis bahwa dalam masyarakat di mana kondisi produksi modern berkuasa, seluruh kehidupan menampakkan diri sebagai akumulasi tontonan (Spektakel). Apa yang dulu dijalani langsung kini hanya jadi representasi. Saya membaca kalimat itu baru-baru ini setelah saya menemukan teks-teksnya secara tidak sengaja, setelah saya jadi guru honorer yang gajinya tak cukup untuk membeli tiket tribun yang sekarang dijual seharga setengah honor mengajar saya sebulan. Saya memahami bahwa kalimat itu bukan lagi sekadar teori di atas kertas. Ia adalah harga yang tertera di aplikasi tiket online, yang setiap kali saya buka, terasa seperti pintu yang sengaja dirancang agar saya tak pernah masuk.

Sepak bola, kawan-kawan, telah lama berhenti menjadi milik mereka yang menciptakannya di jalanan, di kampung, di sela-sela jam kerja yang menindas. Ia telah dirampas, dipoles, dikemas ulang sebagai komoditas tontonan–dan Persib, klub yang katanya “darah biru rakyat Jawa Barat”, tidak luput dari proses perampasan ini. Tribun yang dulu gaduh oleh suara buruh pabrik, tukang ojek, pedagang asongan, dan–izinkan saya menyebut diri saya sendiri–guru-guru honorer yang menyisihkan recehan demi sebuah malam euforia kolektif, kini disterilkan demi kenyamanan sponsor dan kelas menengah yang baru menemukan klub ini lewat Instagram.

Tiket bukan lagi karcis masuk. Ia adalah alat sortir kelas, sebentuk apartheid ekonomi yang dijalankan dengan bahasa manis “profesionalisme manajemen modern”. Saya tahu persis bagaimana rasanya dihitung-hitung oleh harga: ketika nominal di layar lebih besar dari apa yang saya terima sebagai upah mengajar generasi penerus bangsa ini, maka sistem sedang berkata pada saya, secara tidak langsung namun telak: cintamu pada Persib tidak cukup bernilai dibanding modalmu yang nyaris kosong. Inilah keterasingan yang dimaksud Situasionis Internasional (SI), bukan sekadar keterasingan dari hasil kerja, tapi keterasingan dari ruang yang dulu kita ciptakan sendiri dengan keringat dan teriakan kolektif kita.

Yang lebih menyakitkan dari kenaikan harga adalah keheningan yang menyertainya. Mereka yang masih mampu membeli tiket memilih diam, menelan narasi bahwa “sepak bola modern memang begini”, seolah harga adalah hukum alam, bukan keputusan korporasi yang bisa digugat. Diam ini adalah bentuk kolaborasi pasif dengan mesin tontonan–persetujuan diam-diam yang dibungkus rasionalisasi kelas menengah: toh saya masih bisa nonton, kenapa harus ribut? Tapi solidaritas kelas pekerja tidak bekerja dengan logika “toh saya masih bisa”. Ia bekerja dengan logika: jika saudara saya tersingkir, maka kemenangan saya pun cacat. Selama bobotoh berkecukupan menutup mata terhadap saudara mereka yang terpental dari tribun karena kemiskinan struktural, mereka sedang menandatangani kontrak diam-diam dengan kapital, mengkhianati sejarah suporter yang lahir dari jalanan dan kemarahan kolektif, bukan dari kursi empuk berlogo sponsor.

Maka, sebagaimana SI menolak posisi sebagai penonton pasif dan menuntut “konstruksi situasi”, penciptaan momen-momen hidup yang melawan logika representasi dan komoditas–saya, sebagai guru honorer yang gajinya tak pernah cukup untuk tiket, menyatakan: ruang kami tidak harus berada di dalam stadion yang sudah dipagari kapital. Ruang kami adalah détournement. Pembajakan ruang dan momen dari fungsi aslinya yang ditentukan sistem, menjadi ruang yang kami kuasai sendiri.

Baca Juga: CERITA GURU: Pengabdian Guru Swasta atau Semata Mesin Produksi?
CERITA GURU: Guru di Medan Tempur MBG
CERITA GURU: Korupsi MBG dan Guru Honorer yang Masih Menunggu Haknya

Nobar Sebagai Alternatif Melawan Masyarakat Tontonan

Nobar bukan sekadar alternatif murah meriah bagi mereka yang tak mampu beli tiket. Nobar di gang sempit, di lapangan kampung, di teras rumah dengan proyektor pinjaman dan kabel yang disambung seadanya, adalah penolakan terbuka terhadap logika stadion-sebagai-komoditas. Di sana, tak ada minimum spending, tak ada barcode yang memverifikasi kelas ekonomi kita. Di sana, layar hanyalah pemicu, bukan tujuan. Yang sesungguhnya terjadi adalah percakapan, debat soal transparansi keuangan klub, solidaritas antar-buruh, antar-guru honorer, antar-mereka yang dipinggirkan oleh sistem yang sama: yang menggaji kami rendah dan menjual tiket mahal sekaligus, dua sisi mata uang penindasan yang serupa.

Saya tak punya tiket. Mungkin bulan depan, dan bulan-bulan setelahnya, saya tetap tak akan punya tiket. Tapi saya menolak posisi sebagai penonton dari luar pagar, menunggu remah-remah akses lewat siaran berbayar atau live streaming ilegal yang juga dikomodifikasi oleh kapital lain. Saya memilih merebut kembali ruang itu di tempat saya berpijak: di kampung saya, bersama tetangga saya, sesama buruh dan pekerja informal, kami menyalakan layar kami sendiri, menciptakan tribun kami sendiri, yang tak bisa dipagari oleh manajemen klub mana pun.

Karena pada akhirnya, Persib bukan logo di jersi seharga sejuta, bukan harga tiket yang menjulang setiap musim. Persib adalah ingatan kolektif kelas pekerja Jawa Barat, dan ingatan itu tak pernah bisa dijual, sebagaimana harga diri kami sebagai guru honorer tak pernah benar-benar bisa dibeli, meski upah kami terus-menerus dianggap remeh oleh negara yang sama yang membiarkan tiket sepak bola jadi barang mewah.

Rebut kembali stadion–jika bukan secara fisik, maka secara situasi. Karena selama kami masih berteriak, berkumpul, dan menciptakan ruang kami sendiri, mereka tak pernah benar-benar berhasil menjadikan kami penonton.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//