• Berita
  • Sebelum Nama-Nama Itu Hilang dari Ingatan

Sebelum Nama-Nama Itu Hilang dari Ingatan

Pameran Merespons Kenangan di Studio Rosid mempertemukan drawing, artefak, dan perkakas untuk mempertanyakan siapa yang lebih cepat dilupakan, benda atau seniman?

Drawing karya Rosid di pameran Merespons Kenangan di Studio Rosid, Bandung, 13–31 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Penulis Prima Mulia5 Agustus 2026


BandungBergerak - Gambar (drawing) wajah-wajah maestro seni rupa Indonesia, termasuk sejumlah dosen seni rupa ITB, menempel di atas piring plastik merah yang menggantung di langit-langit salah satu sudut Studio Rosid, Cigadung Raya Tengah, Bandung, 13 Juli 2026. Instalasi karya seniman Isa Perkasa itu berjudul Sejarah Seniman Mudah Dilupakan.

Wajah-wajah dalam bingkai piring plastik berwarna mencolok itu hadir di antara benda-benda antik dan perkakas kerja lawas yang memenuhi ruang budaya, galeri seni, studio, sekaligus kafe milik seniman Rosid. Sejak memasuki ruang tersebut, pengunjung langsung berhadapan dengan dialog antara karya seni kontemporer dan benda-benda yang menyimpan jejak masa lalu.

Selain Isa Perkasa, sejumlah seniman lain turut memamerkan karya mereka. Deden Imanudin, misalnya, menampilkan drawing berjudul Sumean Gebe yang mengisahkan sosok dari suku pemburu dan pengumpul O’Hongana Manyawa, komunitas adat yang masih bertahan di hutan Pulau Halmahera, Maluku Utara. Drawing itu menggambarkan seorang pemuda berambut panjang berdiri tegak sambil memegang tombak di atas hamparan ilalang yang kini mulai terancam hilang.

Pameran Merespons Kenangan di Studio Rosid, Bandung, 13–31 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pameran Merespons Kenangan di Studio Rosid, Bandung, 13–31 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Deden juga menghadirkan karya Yehezkiel di Hutan Adat Gerek Malak Kalawilis, yang menampilkan seorang warga adat Papua membawa tombak dan rusa hasil buruannya. Lewat karya ini, ia menyoroti pembabatan hutan adat untuk perkebunan sawit dalam proyek strategis nasional pemerintah. Kedua drawing tersebut dipasang pada dinding kayu yang dipenuhi instalasi centong nasi kayu, memperkuat kesan hubungan antara karya dan benda-benda keseharian yang mulai ditinggalkan.

Sementara itu, di galeri utama, drawing karya Rosid berjudul Wajah-Wajah IDB menyambut pengunjung. Karya tersebut dipajang berdampingan dengan lesung, untaian padi, dan berbagai peralatan pertanian tradisional. IDB merupakan kependekan dari Institut Drawing Bandung, komunitas yang menggagas pameran ini.

Pameran Merespons Kenangan di Studio Rosid, Bandung, 13–31 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pameran Merespons Kenangan di Studio Rosid, Bandung, 13–31 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Karya para seniman lain tersebar di seluruh area studio, galeri, dan kafe, menyemarakkan pameran drawing bertajuk Merespons Kenangan. Pameran ini melibatkan 14 seniman, yakni Andi Yudha, Anton Susanto, Deden Imanudin, Ferry Curtis, Firman Lubis, Hawe Setiawan, Isa Perkasa, Mola, Prabu Perdana, Rendra Santana, Rosid, Setiyono Wibowo, Yoyo Hartanto, dan Yus R.A.

Drawing Andi Yudha berjudul Pare, misalnya, ditempatkan di tengah dinding kayu tua dan dikelilingi perkakas pertukangan serta pertanian yang telah kusam dimakan usia, seperti ketam, sendok semen, garu, cangkul, dan berbagai alat kerja lainnya.

Pameran Merespons Kenangan di Studio Rosid, Bandung, 13–31 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pameran Merespons Kenangan di Studio Rosid, Bandung, 13–31 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Karya Ferry Curtis tampil berbeda. Musisi balada itu tidak membuat drawing dalam bentuk gambar, melainkan merespons tema pameran melalui lirik lagu.

"Saya merespons suasana yang ada di sini dan proses teman-teman lain dalam berkarya, lalu saya tuangkan menjadi bentuk lirik lagu," katanya.

Menjadi Sawah

Menjadi Hati

Menjadi Jiwa

Dalam napas anak-anak kita

Penggalan lirik dari Puisi Cinta Petani itu lahir dari interaksi Ferry dengan sesama anggota IDB, sekaligus kontemplasinya di tengah perkakas pertanian yang memenuhi Studio Rosid.

Pameran Merespons Kenangan di Studio Rosid, Bandung, 13–31 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pameran Merespons Kenangan di Studio Rosid, Bandung, 13–31 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Baca Juga: PAMERAN SATUKATA: Merawat Diri Lewat Goresan
Pameran Tunggal Tercerabut, Menghidupkan yang Telah Pergi

Seniman dan Benda Dilupakan

Tema Merespons Kenangan terasa menyatu dengan ruang pamer. Benda-benda antik, artefak budaya, dan perkakas seperti lesung, ketam, centong nasi, garu, cangkul, hingga waluku dibiarkan terpapar hujan dan panas. Benda-benda itu tersebar di sudut-sudut studio, galeri, dan kafe; menempel di dinding kayu maupun menghiasi saung-saung sebagai bagian dari instalasi ruang.

Jejak pemakaian yang tertinggal pada setiap benda—lesung yang mungkin telah menghidupi beberapa generasi atau mata cangkul yang menipis dan somplak—menghadirkan kenangan berbeda bagi setiap orang yang melihatnya. Pengalaman itulah yang kemudian beresonansi dengan karya-karya para seniman.

Isa Perkasa, misalnya, memaknai kenangan melalui wajah-wajah seniman yang ditempel pada piring-piring plastik.

"Mungkin seniman-seniman itu terkenal di masanya saja, lalu bisa saja dilupakan. Saya menggambar di atas piring kue dari kertas, lalu ditempel di piring plastik sebagai bingkai. Ada kontras antara bahan masa lalu dengan benda-benda sekarang yang serba plastik," kata Isa.

Menurut Isa, nasib para seniman tak jauh berbeda dengan benda-benda lama yang kini tersisih dari kehidupan sehari-hari.

Pameran Merespons Kenangan di Studio Rosid, Bandung, 13–31 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Pameran Merespons Kenangan di Studio Rosid, Bandung, 13–31 Juli 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

"Nasib seniman pun sebenarnya sama dengan nasib benda-benda ini. Ada dulang (penanak nasi) dan segala macam yang sudah ditinggalkan. Banyak seniman sekarang dilupakan. Kalau bukan maestro seperti Affandi atau tokoh-tokoh seni yang benar-benar besar, mungkin masih bisa diingat. Tapi kalau seniman-seniman itu hanya dikenal pada zamannya, lalu zaman bergeser, orang bisa bertanya, 'Siapa Sunaryo? Siapa Jeihan?' Sama seperti orang bertanya, 'Ini alat apa?' Artefak itu bisa menjadi contoh semiotik di wilayah-wilayah lain," jelas Isa Perkasa.

Deden Imanudin memaknai kenangan dalam skala yang lebih luas. Baginya, jika laju eksploitasi hutan dan tanah adat terus berlangsung, masyarakat adat suatu hari nanti mungkin hanya akan hadir sebagai kenangan—tersimpan dalam buku, film dokumenter, fotografi, atau lukisan, bahkan mungkin sekadar menjadi representasi artifisial untuk kepentingan pariwisata. Di tengah eksploitasi sumber daya atas nama pembangunan, ruang hidup masyarakat adat semakin menyempit.

Pameran Merespons Kenangan berlangsung di Studio Rosid pada 13–31 Juli 2026 dan terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Pengunjung diajak menelusuri hubungan antara karya drawing dengan benda-benda keseharian yang pernah akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagian perkakas itu masih digunakan di sejumlah daerah, tetapi sebagian lainnya telah menghilang dari kehidupan sehari-hari dan kini hanya bertahan dalam ingatan.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//