• Opini
  • Surat Terbuka untuk Mahasiswa, Perempuan, dan Seluruh Elemen Masyarakat yang Hari ini Menjadi Suara Rakyat

Surat Terbuka untuk Mahasiswa, Perempuan, dan Seluruh Elemen Masyarakat yang Hari ini Menjadi Suara Rakyat

Semoga suara rakyat tidak pernah dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat bahwa demokrasi hanya akan hidup selama rakyatnya tetap berani peduli.

Endang Susanti (Mamak Bersuara)

Ibu rumah tangga yang aktif menulis tentang isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik dari sudut pandang keluarga dan pengalaman keseharian.

Demonstrasi adalah salah satu cara untuk menyampaikan pendapat di muka umum yang dilndungi oleh undang-undang. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

7 Agustus 2026


BandungBergerak – Kepada saudara-saudara mahasiswa, para perempuan, serta seluruh elemen masyarakat yang hari ini memilih turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi dengan keberanian dan harapan.

Di tengah hiruk-pikuk perdebatan, di tengah panasnya jalanan, dan di tengah derasnya arus informasi, izinkan saya menyampaikan beberapa kalimat sederhana yang lahir dari hati seorang ibu, seorang warga negara, dan seorang rakyat biasa.

Terima kasih.

Terima kasih karena ketika banyak orang memilih diam, kalian memilih bersuara.Terima kasih karena ketika sebagian dari kami hanya mampu menyaksikan dari kejauhan, kalian bersedia berdiri di garis depan, membawa harapan yang mungkin tak sempat kami ucapkan.

Percayalah, kalian tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.

Di balik setiap langkah kalian, ada begitu banyak rakyat yang mengikuti dengan hati yang berdebar. Ada yang terus memperbarui kabar melalui layar ponsel. Ada yang diam-diam menengadahkan tangan, memohon agar Tuhan menjaga setiap langkah dan keselamatan kalian.

Kami adalah sebagian dari mereka. Kami adalah rakyat biasa.

Ada yang bekerja agar dapur tetap mengepul. Ada yang menjaga orang tua yang sakit. Ada yang mengajar di ruang kelas. Ada yang mencari nafkah di sawah, di laut, di pasar, di pabrik, maupun di jalanan.

Dan ada kami, para ibu, yang hari ini memilih tetap berada di rumah karena ada anak-anak yang harus dipeluk, disuapi, diantar ke sekolah, didampingi belajar, dan dijaga.

Bukan karena kami tidak peduli. Justru karena kami sangat peduli.

Kami ingin anak-anak kami tumbuh di negeri yang menghargai keadilan, kejujuran, kemanusiaan, serta kebebasan setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat secara damai.

Perjuangan kita memang berbeda.

Kalian membawa spanduk. Kami membawa doa.

Kalian menyampaikan aspirasi dengan lantang. Kami menyuarakannya melalui tulisan, pendidikan yang kami tanamkan kepada anak-anak, pendampingan kepada masyarakat, percakapan yang jujur, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Namun tujuan kita sama: Indonesia yang lebih baik untuk semua.

Baca Juga: Surat Cinta dan Dukungan Menjadi Pahlawan Nasional untuk Inggit Garnasih
Surat untuk Rifa Rahnabila yang Ditangkap Gara-gara Demonstrasi Agustus Lalu
Surat Solidaritas Mengalir untuk Tahanan Politik Bandung

Kami memahami bahwa tidak semua orang akan sepakat dengan cara kalian menyampaikan aspirasi. Begitulah demokrasi. Perbedaan pendapat adalah bagian dari kehidupan berbangsa.

Namun ada satu hal yang tidak boleh hilang: hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat secara damai dan didengar dengan hormat. Sebab ketika rakyat mulai takut bersuara, yang perlahan hilang bukan hanya kritik, melainkan juga harapan akan perbaikan.

Untuk siapa pun yang hari ini belum bisa turun ke jalan, jangan pernah merasa bahwa kepedulianmu tidak berarti.

Suara tidak selalu harus diteriakkan. Suara bisa ditulis. Suara bisa hadir dalam diskusi yang jujur. Suara bisa lahir dari keberanian mengingatkan. Suara bisa tumbuh melalui tindakan-tindakan kecil yang menjaga kepentingan bersama.

Dan suara juga dapat menjadi doa yang tak pernah putus dipanjatkan.

Jangan pernah menyerahkan masa depan negeri ini hanya kepada segelintir orang yang berani bersuara.

Demokrasi membutuhkan lebih banyak warga yang peduli.

Peduli bukan berarti selalu sepakat. Peduli berarti tidak memilih apatis ketika melihat sesuatu yang perlu diperbaiki.

Hari ini mungkin kita berada di tempat yang berbeda.

Kalian di jalan. Kami di rumah.

Namun harapan kita bertemu di tempat yang sama: Indonesia yang lebih adil, lebih bijaksana, lebih manusiawi, dan lebih berpihak kepada rakyat.

Terima kasih karena telah menjadi suara bagi kami yang hari ini belum bisa berdiri di barisan yang sama.

Dan suatu hari nanti, ketika anak-anak kami bertanya, "Apa yang kalian lakukan ketika banyak orang sedang memperjuangkan masa depan Indonesia?"

Semoga kami dapat menjawab dengan jujur, "Kami memang tidak berada di tempat yang sama. Ada yang turun ke jalan. Ada yang menulis. Ada yang mengajar. Ada yang mendampingi masyarakat. Ada yang mengawal kebijakan. Ada yang berdoa. Namun kami semua memilih satu hal yang sama: tidak diam."

Karena mencintai Indonesia tidak pernah hanya memiliki satu wajah.

Ada yang memperjuangkannya di jalan. Ada yang menjaganya di ruang kelas. Ada yang merawatnya melalui karya dan pengabdian. Ada yang membesarkannya lewat keluarga yang penuh nilai, kasih sayang, dan keteladanan. Ada pula yang menjaganya dengan doa yang tak pernah putus.

Selama semua dilakukan dengan ketulusan, menghormati hukum, menjunjung kemanusiaan, dan mengutamakan kepentingan bangsa, semuanya adalah bagian dari perjuangan.

Semoga Tuhan menjaga setiap langkah kalian. Semoga keberanian kalian tetap menyala, tetapi selalu berjalan berdampingan dengan kebijaksanaan. Semoga suara rakyat tidak pernah dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat bahwa demokrasi hanya akan hidup selama rakyatnya tetap berani peduli.

Karena Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang memegang kekuasaan. Indonesia dibangun oleh jutaan rakyat yang memilih untuk tidak apatis, tidak menyerah, dan tidak berhenti mencintai negerinya.

Dan ketika kelak sejarah mencatat masa-masa ini, semoga yang dikenang bukan hanya siapa yang paling lantang bersuara, tetapi juga siapa yang tetap menjaga harapan, merawat kepedulian, dan tidak meninggalkan sesamanya.

Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar bukan dibangun oleh orang-orang yang selalu sepakat, melainkan oleh warga yang tetap saling menghormati, berani peduli, dan tidak berhenti mencintai Indonesia.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//