SUDUT LAIN BANDUNG: ManjingManjang, Ketika Perjumpaan Musisi Balada Menjadi Gerakan
ManjingManjang lahir dari kegelisahan. Di tengah berbagai slogan tentang kreativitas dan kemajuan, musik balada masih terus memperjuangkan haknya untuk didengar.

Abah Omtris
Musisi balada Bandung
8 Agustus 2026
BandungBergerak – Jika pada mulanya ManjingManjang lahir dari kegelisahan, tahun-tahun berikutnya menjadi masa ketika kegelisahan itu menjelma menjadi gerakan.
Tidak ada sekretariat tetap. Tidak ada panggung yang selalu tersedia. Tidak ada dukungan yang memadai. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa musik balada tidak boleh kehilangan ruang hidupnya.
Maka, perjalanan pun dimulai.
ManjingManjang bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Kedai-kedai kecil dan kafe-kafe yang bersedia menyediakan ruang menjadi tempat singgah. Halaman rumah, taman kota, dan ruang-ruang sederhana berubah menjadi tempat berkumpul. Dalam banyak kesempatan, kawan-kawan juga berkumpul di Rumah Pergerakan Bojongkacor untuk berdiskusi bersama Mukti-Mukti atau bahkan menyelenggarakan acara di sana.
Semua dijalani dengan keyakinan bahwa karya harus dipertemukan dengan pendengarnya, betapa pun terbatas keadaannya. Sebab, yang sedang dibangun bukanlah kemegahan sebuah panggung, melainkan kehangatan sebuah perjumpaan.
Seiring berjalannya waktu, lingkaran itu pun semakin meluas. ManjingManjang tidak lagi bergerak hanya di dalam wilayah Kota Bandung. Berbagai undangan, kerja sama, dan perjumpaan mempertemukan komunitas ini dengan ruang-ruang baru di berbagai tempat.
Barangkali, sejak awal, ManjingManjang memang tidak pernah dibangun sebagai sebuah tempat, melainkan sebagai sebuah perjalanan.
Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: Dari Barometer Musik ke Barometer Algoritma
SUDUT LAIN BANDUNG: Balada dan Ingatan Sebuah Kota
SUDUT LAIN BANDUNG: Ketika Gerakan Balada di Bandung Mencari Ruang
Perjalanan Perjumpaan
Setiap Senin sore, taman di depan Gedung Perpustakaan Kota Bandung di Jalan Seram menjadi tempat berkumpul. Di sanalah berbagai gagasan lahir dan berbagai rencana disusun. Lagu-lagu baru diperdengarkan, puisi dibacakan, lirik didiskusikan, dan berbagai kemungkinan baru dipertimbangkan bersama.
Tidak ada meja rapat. Tidak ada ruang pertemuan yang mewah.
Yang ada hanyalah bangku-bangku taman, gitar, secangkir kopi, dan orang-orang yang percaya bahwa kebudayaan harus terus dirawat.
Perjumpaan demi perjumpaan mempertemukan semakin banyak orang. Musisi datang membawa lagu-lagunya. Penyair datang membawa sajak-sajaknya. Pegiat literasi datang membawa gagasan-gagasannya. Para pengelola kedai membuka ruang yang mereka miliki. Komunitas-komunitas lain pun ikut bergabung, mempertemukan musik dengan sastra, seni rupa, teater, dan berbagai bentuk ekspresi lainnya.
Perlahan-lahan, ManjingManjang tidak lagi menjadi sekadar ruang berkumpul bagi para musisi balada. Ia tumbuh menjadi ruang perjumpaan bagi siapa saja yang percaya bahwa kebudayaan harus terus bergerak dan menemukan bentuknya yang baru.
Di dalamnya, setiap orang datang dengan latar belakang, pengalaman, dan perhatian yang berbeda-beda. Ada yang mengabdikan diri pada dunia literasi, ada yang menaruh perhatian besar pada persoalan lingkungan hidup, ada yang terlibat dalam berbagai persoalan sosial, termasuk persoalan petani dan buruh, dan ada pula yang menempuh jalan kebudayaan melalui pendidikan, teater, dan berbagai kegiatan komunitas lainnya.
Perbedaan itu tidak pernah menjadi penghalang. Sebaliknya, keberagaman itulah yang memperkaya berbagai percakapan yang lahir dalam setiap perjumpaan. Setiap orang membawa pengalaman dan kegelisahannya masing-masing, lalu menerjemahkannya ke dalam lagu, puisi, atau bentuk ekspresi lainnya.
Dalam beberapa kesempatan, ManjingManjang juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan penggalangan dana bagi para korban bencana. Keterlibatan itu lahir dari keyakinan bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari rasa kemanusiaan. Musik memang tidak dapat menghentikan bencana, tetapi ia dapat menjadi cara untuk merawat empati, menumbuhkan kepedulian, dan memperkuat solidaritas.
Salah satu di antaranya adalah ketika ManjingManjang berkolaborasi dengan Komunitas Celah Celah Langit untuk menggalang dana bagi para korban gempa bumi. Lagu, puisi, dan berbagai bentuk ekspresi lainnya menjadi jembatan yang mempertemukan kepedulian banyak orang. Peristiwa itu kembali mengingatkan bahwa seni tidak selalu hadir untuk memberikan jawaban, tetapi setidaknya dapat menjadi cara untuk memastikan bahwa tidak ada penderitaan yang diabaikan begitu saja.
Salah satu hal yang terus dijaga oleh ManjingManjang adalah kebiasaan untuk menghadirkan tema yang berbeda dalam setiap pertemuan. Tema-tema itu tidak lahir secara kebetulan, melainkan sebagai tanggapan terhadap berbagai persoalan yang sedang berkembang di tengah masyarakat.
Lingkungan hidup, kemanusiaan, kebebasan berekspresi, pendidikan, kebudayaan, hingga berbagai persoalan sosial lainnya menjadi bahan renungan bersama.
Dari situlah lahir semboyan Peka, Reka, Merdeka.
Peka terhadap keadaan di sekitar.
Reka dalam melahirkan gagasan dan karya.
Merdeka dalam berpikir dan menyuarakan keyakinan.
Semangat itulah yang kemudian mendorong lahirnya lagu-lagu baru, puisi-puisi baru, dan berbagai bentuk ekspresi lainnya. Setiap pertemuan menjadi ruang untuk melahirkan karya, bukan sekadar mempertunjukkannya.
Ada satu prinsip yang terus dijaga sejak awal: siapa pun boleh datang, siapa pun boleh bergabung, tetapi setiap orang harus berani membawa karyanya sendiri.
Sebab, memainkan karya orang lain mungkin membutuhkan keterampilan, tetapi menciptakan karya sendiri membutuhkan sesuatu yang lebih besar, yakni keberanian.
Keberanian untuk mengungkapkan pikiran. Keberanian untuk menerima kritik. Keberanian untuk belajar. Keberanian untuk bertumbuh.
Tidak jarang berbagai keterbatasan harus dihadapi. Pernah sebuah acara berlangsung di sebuah kedai kecil ketika hujan turun dengan deras. Atap yang bocor memaksa kursi-kursi dipindahkan dan peralatan diamankan dari tetesan air. Namun, tidak seorang pun beranjak. Acara terus berlangsung hingga lagu terakhir selesai diperdengarkan.
Barangkali, dari peristiwa-peristiwa kecil seperti itulah watak ManjingManjang dibentuk.
Perlawanan tidak selalu lahir dari panggung yang besar. Kadang-kadang, ia lahir dari kesediaan untuk terus bertahan.
Memanusiakan Manusia
Perjalanan panjang itu pada akhirnya membawa ManjingManjang memasuki ruang yang lebih luas. Salah satu penanda pentingnya adalah ketika Hari Musik Balada dan hari jadi ManjingManjang diselenggarakan di Taman Sejarah, kompleks Balai Kota Bandung.
Pada kesempatan itu, puisi karya Elly Dzarrah dibacakan oleh istri Wali Kota Bandung selaku Bunda Literasi Kota Bandung, yang kemudian turut berdendang bersama Wakil Wali Kota. Di sana pula terucap sebuah harapan bahwa musik balada harus tetap hidup dan para pelakunya harus memperoleh perhatian yang lebih besar.
Namun, seperti banyak harapan lainnya, waktu terus berjalan, sementara janji itu tetap tinggal sebagai kata-kata yang tak pernah menjelma kenyataan.
Namun, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya ruang yang telah dipersiapkan dengan susah payah justru menjadi semakin sempit. Di tengah berbagai slogan tentang kreativitas dan kemajuan, musik balada masih harus terus memperjuangkan haknya untuk didengar.
Salah satu peristiwa yang paling dikenang terjadi ketika peringatan Hari Musik Balada di Museum Kota Bandung harus berakhir sebelum seluruh penampil memperoleh kesempatan untuk tampil. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa ruang kebudayaan tidak selalu sebesar kata-kata yang diucapkan tentangnya.
Barangkali, begitulah nasib musik balada. Ia terlalu pelan bagi hiruk-pikuk kota, terlalu sederhana bagi gemerlap panggung, dan terlalu keras kepala untuk sekadar menjadi hiburan.
Barangkali, kota ini masih menyukai musik. Hanya saja, ia lebih menyukai musik yang tidak terlalu banyak mengajukan pertanyaan.
Mungkin ManjingManjang hanyalah sebuah titik kecil di tengah arus perubahan. Sebagaimana dikemukakan Georg Simmel, masyarakat metropolitan cenderung membangun hubungan yang semakin impersonal. Barangkali, itulah yang sedang kita saksikan hari ini, ketika keramaian semakin mudah ditemukan, tetapi perjumpaan yang bermakna justru semakin sulit dipertahankan.
Di tengah arus perubahan yang bergerak semakin cepat, barangkali manusia memerlukan sebuah jeda. Bukan untuk berhenti, melainkan untuk mengingat kembali arah perjalanannya. Sebab, kelelahan dan kejenuhan pada akhirnya akan singgah ketika manusia terus-menerus dipaksa mengikuti laju perubahan yang ditentukan oleh teknologi.
Mungkin, pada saat itulah, manusia akan kembali mencari sesuatu yang sederhana: percakapan, perjumpaan, lagu, puisi, dan ruang-ruang kecil yang membuatnya merasa tidak sendirian.
Pada titik itulah, barangkali seseorang akan mengerti bahwa kebudayaan tidak semata-mata berbicara tentang karya, melainkan juga tentang cara kita memanusiakan manusia.
Dan mungkin, di situlah ManjingManjang menemukan maknanya yang paling sederhana. Bukan sebagai panggung, bukan pula sebagai tujuan, melainkan sebagai ruang untuk berhenti sejenak, mendengarkan, berbicara, dan mengingat kembali bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup sendirian.
Sebab, pada akhirnya, kebudayaan tidak dibangun oleh gedung-gedung yang megah, melainkan oleh orang-orang yang bersedia menjaga nyalanya.
Lalu, pertanyaannya tetap tinggal: sampai kapan nyala kecil itu akan terus bertahan?
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


