• Kolom
  • SUDUT LAIN BANDUNG: Dari Barometer Musik ke Barometer Algoritma

SUDUT LAIN BANDUNG: Dari Barometer Musik ke Barometer Algoritma

Algoritma bekerja secara halus. Ia tidak perlu membungkam kritik. Ia hanya perlu memberi penghargaan lebih besar pada apa yang cepat menarik perhatian.

Abah Omtris

Musisi balada Bandung

Tunduk pada rezim algoritma. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

18 Juli 2026


BandungBergerak"Musik memberikan jiwa kepada semesta, sayap kepada pikiran, dan kehidupan kepada segala sesuatu." – Plato

Ketika Bob Dylan menerima Hadiah Nobel Sastra pada 2016, dunia seperti diingatkan kembali bahwa lagu tidak pernah sekadar hiburan. Melalui tradisi balada, musik dapat menjadi sastra yang dinyanyikan, ruang tempat pengalaman manusia, kritik sosial, dan harapan bertemu dalam satu tarikan napas. Penghargaan itu bukan semata-mata kemenangan seorang musisi, melainkan pengakuan bahwa musik dapat menjadi bagian dari perjalanan intelektual sebuah masyarakat.

Jauh sebelum itu, Plato telah menempatkan musik sebagai bagian penting dari pembentukan jiwa. Baginya, irama dan harmoni tidak hanya menyenangkan telinga, tetapi membentuk watak manusia. Musik, dengan demikian, bukan persoalan selera semata, melainkan juga persoalan etika dan peradaban.

Berabad-abad kemudian, Antonio Gramsci menunjukkan bahwa kebudayaan adalah arena tempat kesadaran dibentuk. Kekuasaan tidak hanya bekerja melalui hukum atau kekerasan, tetapi juga melalui cara manusia memandang dunia. Musik, sastra, pendidikan, dan media menjadi bagian dari pergulatan itu. Karena itulah, musik tidak pernah benar-benar netral.

Theodor W. Adorno kemudian mengingatkan bahaya lain. Ketika seni sepenuhnya tunduk pada logika industri, ia kehilangan daya emansipatorisnya. Musik yang seharusnya membangunkan kesadaran perlahan berubah menjadi komoditas yang cukup membuat orang merasa terhibur, tanpa pernah terusik untuk bertanya.

Pertanyaan itu menjadi menarik ketika diarahkan kepada Bandung.

Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: Ketika Bandung Terlalu Sibuk Menikmati Sandiwara
SUDUT LAIN BANDUNG: Pariwisata adalah Akibat, Bukan Tujuan Kebudayaan
SUDUT LAIN BANDUNG: Ruang Hidup Bandung dan Amanat Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945

Musik sebagai Cara Membaca Zaman

Pada dekade 1970-an hingga 1980-an, Bandung dikenal sebagai salah satu barometer musik Indonesia. Julukan itu bukan sekadar karena banyaknya musisi berbakat, melainkan karena kota ini memiliki ekosistem yang memungkinkan musik tumbuh sebagai bagian dari kehidupan intelektual. Kampus, radio, komunitas, ruang diskusi, panggung alternatif, dan publik yang kritis menjadikan musik bukan hanya produk industri, melainkan bagian dari percakapan kebudayaan.

Di dalam ekosistem itulah lahir berbagai bentuk keberanian artistik. Harry Roesli menunjukkan bahwa musik dapat menjadi laboratorium gagasan sekaligus kritik sosial. Remy Sylado mempertemukan sastra, teater, dan musik dalam semangat balada yang reflektif. Iwan Abdurrahman merawat nyala balada sebagai suara kemanusiaan, sementara Mukti-Mukti memperlihatkan bahwa tradisi itu belum benar-benar padam di tengah derasnya arus industri digital.

Ada benang merah yang menghubungkan mereka: keyakinan bahwa musik bukan sekadar bunyi, melainkan cara membaca zaman.

Lagu Mentari karya Iwan Abdurrahman, misalnya, menghadirkan gambaran tentang tembok tinggi dan pagar duri yang mengurung manusia. Namun lagu itu tidak berhenti pada pengakuan atas penindasan. Di tengah segala keterbatasan, mentari tetap bernyala di dalam hati. Harapan tidak diposisikan sebagai pelarian dari kenyataan, melainkan sebagai kekuatan untuk menghadapinya. Di situlah balada menjalankan fungsi emansipatorisnya: bukan sekadar melampiaskan kemarahan, tetapi memelihara keberanian.

Hari ini, Bandung tetap melahirkan banyak musisi muda yang berbakat. Teknologi membuka peluang berkarya yang jauh lebih luas dibandingkan masa sebelumnya. Namun, bersamaan dengan itu, ekosistem musik juga mengalami perubahan. Algoritma media digital semakin menentukan apa yang didengar, dibicarakan, dan dianggap penting.

Dalam situasi seperti itu, tidak sedikit karya yang menjadikan sarkasme, sinisme, dan kekecewaan sebagai identitas utamanya. Kemarahan menjadi mudah diproduksi dan mudah dikonsumsi. Tidak ada yang salah dengan kemarahan. Yang patut dipertanyakan adalah ketika kemarahan berhenti sebagai ekspresi.

Yang berbahaya bukan ketika masyarakat marah. Yang berbahaya adalah ketika kemarahan berubah menjadi hiburan.

Katup Pelepas Emosi

Ketika sebuah lagu membuat kita merasa telah melawan hanya karena berhasil melampiaskan kegelisahan, padahal ia tidak mengajak kita memahami akar persoalan, apalagi membayangkan jalan keluarnya. Musik akhirnya tidak lagi membentuk kesadaran, melainkan sekadar menjadi katup pelepas emosi.

Di sinilah algoritma bekerja secara halus. Ia tidak perlu membungkam kritik. Ia hanya perlu memberi penghargaan lebih besar kepada apa yang cepat menarik perhatian daripada apa yang mampu bertahan dalam ingatan. Perlahan, ukuran keberhasilan bergeser: dari kedalaman gagasan menuju banyaknya tayangan; dari keberanian artistik menuju viralitas.

Padahal Bandung menjadi barometer musik bukan karena pandai mengikuti selera zamannya. Bandung menjadi barometer karena keberaniannya melahirkan arah baru.

Pertanyaannya hari ini bukan apakah Bandung masih memiliki musisi yang baik. Saya percaya jawabannya: masih.

Pertanyaannya adalah, apakah Bandung masih memiliki ekosistem yang mendorong musik menjadi ruang berpikir, ruang keberpihakan, dan ruang pembentukan kesadaran?

Barometer tidak pernah diciptakan untuk mengikuti arah angin. Ia diciptakan untuk membacanya.

Bandung pun demikian.

Kota ini menjadi barometer musik bukan karena mengikuti selera zamannya, melainkan karena keberaniannya membentuk selera itu sendiri. Jika hari ini algoritma semakin menentukan apa yang kita dengar, tantangan Bandung bukanlah melawan teknologi, melainkan memastikan bahwa teknologi tidak menggantikan fungsi kebudayaan.

Sebab ketika sebuah kota berhenti melahirkan gagasan, ia perlahan berhenti menjadi barometer.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//