SUDUT LAIN BANDUNG: Pariwisata adalah Akibat, Bukan Tujuan Kebudayaan
Yogyakarta memberikan pelajaran yang layak direnungkan: bahwa menghormati seorang penyair menjadi bagian dari strategi membangun peradaban kota.

Abah Omtris
Musisi balada Bandung
4 Juli 2026
BandungBergerak – Sebuah kota sesungguhnya memperlihatkan nilai yang dianutnya melalui siapa yang dipilih untuk dikenang.
Ketika Pemerintah Kota Yogyakarta meresmikan Monumen Umbu Landu Paranggi, yang diabadikan bukan seorang pejabat, bukan pula seorang selebritas. Umbu adalah penyair. Seorang guru bagi banyak penyair Indonesia yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk menumbuhkan sastra, membimbing generasi muda, dan membangun ekosistem kebudayaan tanpa pernah menjadikan dirinya pusat perhatian.
Monumen itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah sebuah pernyataan bahwa sebuah kota memahami siapa yang telah membangun jiwanya.
Peristiwa itu membuat saya bertanya kepada Bandung. Sebagai kota yang selama ini membanggakan diri sebagai kota kreatif, bagaimana sesungguhnya kita memaknai pembangunan kebudayaan?
Apakah kebudayaan hanya dipahami sebagai rangkaian festival, panggung hiburan, dan agenda pariwisata? Ataukah ia dipahami sebagai kerja panjang merawat ingatan, menghargai pengabdian, dan membangun identitas kota melalui para seniman, sastrawan, budayawan, serta komunitas yang selama puluhan tahun menjaga denyut kehidupan budaya?
Di sinilah saya melihat perbedaan cara pandang yang mendasar.
Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: Ketika Bandung Terlalu Sibuk Menikmati Sandiwara
SUDUT LAIN BANDUNG: Mengembalikan Bandung kepada Warga
SUDUT LAIN BANDUNG: Ketika Bahaya Asbes Belum Menjadi Kesadaran Publik
Pariwisata dan Kebudayaan
Selama ini, keberhasilan kegiatan seni sering kali diukur dari besarnya panggung, ramainya penonton, atau hadirnya figur-figur populer yang mampu menarik perhatian publik. Perayaan tentu memiliki tempatnya sendiri dalam kehidupan kota. Namun sebuah kota tidak dapat menggantungkan masa depan kebudayaannya hanya pada kalender acara.
Kebudayaan tidak pernah lahir dari popularitas semata.
Ia tumbuh dari ketekunan orang-orang yang memilih mengabdikan hidupnya untuk mencipta, membimbing, mendidik, mengarsipkan, mengelola ruang-ruang komunitas, menerbitkan buku, membuka ruang diskusi, dan menumbuhkan generasi baru. Mereka mungkin tidak selalu dikenal publik. Namun justru merekalah yang menjaga napas kebudayaan sebuah kota.
Karena itu saya meyakini satu prinsip sederhana bahwa pariwisata adalah akibat dari tumbuh kembangnya seni budaya lokal, bukan tujuan utamanya.
Ketika seni dan kebudayaan tumbuh secara sehat, orang akan datang dengan sendirinya. Bukan hanya wisatawan yang ingin menikmati suasana kota, tetapi juga peneliti, mahasiswa, seniman, pecinta sastra, dan masyarakat yang ingin memahami sejarah intelektual sebuah tempat.
Mereka datang bukan semata mencari keramaian. Mereka datang karena kota itu memiliki cerita.
Yogyakarta tampaknya memahami hal tersebut. Menghormati Umbu Landu Paranggi bukan hanya bentuk penghargaan kepada seorang penyair, tetapi juga investasi kebudayaan. Ia memperkenalkan kepada generasi muda bahwa pengabdian adalah nilai yang layak diwariskan, sekaligus memperkuat identitas kota di mata para pelancong, peneliti, dan pemerhati seni dari berbagai daerah.
Bandung sesungguhnya memiliki modal yang tidak kalah besar.
Kota ini melahirkan dan menjadi rumah bagi banyak penyair, sastrawan, musisi, pelukis, arsitek, pemikir, serta komunitas-komunitas yang memberi warna bagi perkembangan kebudayaan Indonesia. Potensi itu seharusnya tidak berhenti menjadi kebanggaan sejarah, tetapi dihadirkan kembali sebagai bagian dari kehidupan kota hari ini.
Namun refleksi ini tidak hanya ditujukan kepada pemerintah. Ia juga ditujukan kepada kita semua, terutama para pelaku seni dan kebudayaan Bandung.
Sudahkah kita merawat ingatan terhadap para pendahulu? Sudahkah kita memperjuangkan agar karya dan pengabdian mereka tetap hidup dalam ruang publik? Sudahkah kita membangun kesadaran bersama bahwa seorang seniman tidak hanya layak diundang ketika masih produktif, tetapi juga layak dikenang karena telah membangun fondasi kebudayaan kota?
Berkaca pada Yogyakarta
Sebab kebudayaan tidak dibangun oleh pemerintah sendirian. Ia juga tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada komunitas.
Kebudayaan lahir dari perjumpaan antara kebijakan yang berpihak dan masyarakat yang memiliki kesadaran untuk merawat ingatan.
Saya tidak sedang mengajak Bandung menjadi Yogyakarta. Setiap kota memiliki sejarah, tantangan, dan jalannya sendiri.
Namun Yogyakarta memberikan pelajaran yang layak direnungkan: bahwa menghormati seorang penyair bukanlah tindakan romantis, melainkan bagian dari strategi membangun peradaban kota. Sebab kota yang menghargai para pengabdi kebudayaannya sedang membangun identitas yang tidak dapat ditiru oleh kota lain.
Saya membayangkan suatu hari nanti wisatawan datang ke Bandung bukan hanya untuk menikmati kuliner, berbelanja, atau menghadiri konser. Mereka datang untuk menelusuri jejak para penyair, mengunjungi rumah-rumah budaya, mengikuti diskusi di komunitas-komunitas, menyaksikan ruang-ruang kreatif yang hidup, dan merasakan bahwa Bandung adalah kota yang tumbuh dari kebudayaannya sendiri.
Hari itu mungkin belum tiba.
Namun setiap kota besar selalu memulainya dari satu keputusan sederhana: memilih menghormati pengabdian, bukan sekadar merayakan popularitas.
Karena pada akhirnya, sebuah kota tidak dikenang dari seberapa sering ia menggelar festival atau mengundang tokoh terkenal. Sebuah kota dikenang dari kemampuannya merawat orang-orang yang telah membangun jiwanya.
Dari sanalah identitas tumbuh.
Dari identitas itulah kebudayaan berkembang.
Dan ketika kebudayaan tumbuh dengan sehat, pariwisata akan datang sebagai akibat–bukan sebagai tujuan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


