SUDUT LAIN BANDUNG: Balada dan Ingatan Sebuah Kota
Balada bukan sekadar pilihan musikal. Ia adalah cara memandang dunia. Di dalamnya ada perjumpaan antara lagu, sastra, diskusi, dan kegelisahan sosial.
Penulis Abah Omtris25 Juli 2026
BandungBergerak – Setiap zaman memiliki nyanyiannya sendiri. Ada lagu yang lahir untuk menghibur, ada yang lahir untuk dikenang. Tetapi ada pula lagu yang lahir agar manusia tidak lupa pada zamannya. Di situlah balada menemukan rumahnya.
Dalam perbincangan musik di Indonesia, istilah balada dan folk kerap digunakan secara bergantian, seolah keduanya memiliki makna yang sama. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa keduanya lahir dari akar pengertian yang berbeda. Folk merujuk pada tradisi musik rakyat yang tumbuh dan diwariskan dalam kehidupan suatu komunitas. Sementara itu, balada pada mulanya menunjuk pada tradisi bertutur melalui lagu. Yang menjadi pusatnya bukan semata bentuk musikal, melainkan kisah yang disampaikan, pengalaman yang diwariskan, dan nilai-nilai yang hendak dihidupkan. Pemahaman ini dapat ditelusuri dalam kajian-kajian klasik tentang balada oleh Francis James Child, Bertrand Harris Bronson, dan Cecil Sharp.
Karena itu, sebuah lagu balada tidak selalu merupakan lagu folk, sebagaimana musik folk tidak selalu berbentuk balada. Keduanya memang sering bertemu dan saling memengaruhi, tetapi tidak saling menggantikan. Bob Dylan, misalnya, lebih dikenal sebagai musisi folk, namun banyak karya pentingnya merupakan balada yang bertumpu pada kekuatan narasi. Dari sanalah tampak bahwa balada bukan pertama-tama ditentukan oleh instrumen atau gaya musiknya, melainkan oleh kemampuannya menghadirkan kisah, membangun perenungan, dan menghubungkan manusia dengan realitas zamannya.
Jauh sebelum musik direkam di piringan hitam atau diperdengarkan melalui layanan digital, manusia telah mengenal lagu sebagai cara menyimpan ingatan. Kisah tentang cinta, kepahlawanan, kehilangan, maupun ketidakadilan diwariskan dari mulut ke mulut melalui nyanyian. Dari tradisi lisan inilah balada perlahan menemukan bentuknya. Memasuki abad ke-20, balada berkembang menjadi lebih dari sekadar lagu yang bercerita. Ia menjadi medium yang menghubungkan seni dengan kemanusiaan, suara dengan keberanian, dan musik dengan kesadaran. Tokoh-tokoh seperti Bob Dylan di Amerika Serikat maupun Victor Jara di Chili memperlihatkan bahwa sebuah lagu dapat menjadi ruang refleksi sekaligus menjaga harapan ketika kebebasan mulai dipersempit.
Di Indonesia, balada menemukan jalannya sendiri. Sejak dekade 1970-an, ia tumbuh bersama kehidupan kampus, komunitas seni, dan ruang-ruang diskusi. Pada masa itu, banyak mahasiswa menyebutnya sebagai musik kampus. Sebutan itu bukan karena balada hanya hidup di lingkungan perguruan tinggi, melainkan karena kampus menjadi salah satu ruang tempat lagu-lagu itu dipelajari, diperdebatkan, dan dinyanyikan. Balada menjadi bagian dari tradisi intelektual: menemani diskusi, mengiringi mimbar bebas, menyuarakan kritik sosial, sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa musik dapat ikut membentuk kesadaran masyarakat.
Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: Pariwisata adalah Akibat, Bukan Tujuan Kebudayaan
SUDUT LAIN BANDUNG: Ruang Hidup Bandung dan Amanat Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945
SUDUT LAIN BANDUNG: Dari Barometer Musik ke Barometer Algoritma
Ruang Perjumpaan
Bandung menjadi salah satu kota yang memberi ruang subur bagi tradisi tersebut. Kota ini tidak hanya melahirkan banyak musisi, tetapi juga membangun ekosistem kebudayaan yang memungkinkan musik berkembang sebagai bagian dari percakapan publik. Di ruang-ruang kampus, sanggar seni, panggung alternatif, hingga komunitas sastra, lagu tidak diperlakukan sekadar sebagai hiburan. Ia menjadi bahasa untuk membaca zaman.
Tradisi itu tidak dibangun oleh satu nama. Ia tumbuh sebagai estafet gagasan yang melintasi generasi. Harry Roesli membuka ruang bagi keberanian bereksperimen dan kritik sosial. Remy Sylado mempertemukan sastra, teater, dan musik dalam satu napas kebudayaan. Dede Harris memperkuat tradisi musik kritik yang lekat dengan kehidupan kampus. Generasi berikutnya menghadirkan nama-nama seperti Ferry Curtis, Ary Juliant, serta kelompok Mukti-Mukti yang, dengan corak dan pilihan estetik masing-masing, terus merawat keyakinan bahwa musik bukan sekadar hiburan, melainkan medium refleksi, kemanusiaan, dan keberpihakan.
Ada satu ciri lain yang membuat tradisi ini bertahan. Ketika industri musik semakin menentukan selera pasar, banyak musisi balada memilih membangun jalannya sendiri. Mereka merekam karya secara mandiri, menyelenggarakan pertunjukan bersama komunitas, dan menjadikan kampus, sanggar, serta ruang-ruang kebudayaan sebagai tempat bertemunya lagu dan gagasan. Kemandirian bukan semata pilihan ekonomi, melainkan juga pilihan kebudayaan. Dengan tidak sepenuhnya bergantung pada logika industri, mereka tetap memiliki kebebasan untuk menyanyikan apa yang mereka yakini.
Saya sendiri mulai terlibat secara penuh dalam komunitas musik balada sekitar tahun 2008. Di sanalah saya memahami bahwa balada bukan sekadar pilihan musikal. Ia adalah cara memandang dunia. Di dalamnya saya menemukan perjumpaan antara lagu, sastra, diskusi, dan kegelisahan sosial. Balada mengajarkan bahwa sebuah lagu tidak berhenti ketika tepuk tangan usai. Ia terus hidup selama masih mampu menemani seseorang berpikir, mempertanyakan, dan berharap.
Hari ini, ketika musik bergerak dalam arus digital yang serba cepat, tradisi balada mungkin tidak lagi menempati ruang yang sama seperti beberapa dekade lalu. Namun pertanyaan yang diwariskannya tetap relevan: untuk apa sebuah lagu diciptakan? Hanya untuk didengar atau juga untuk menyadarkan?
Mungkin balada tidak akan pernah menjadi arus utama. Namun selama masih ada orang yang percaya bahwa musik dapat merawat ingatan, membangun keberanian, dan menjaga harapan, tradisi itu sesungguhnya tidak pernah benar-benar berakhir.
Barangkali yang berubah hanyalah cara kita mendengarkannya. Bukan alasan mengapa lagu itu diciptakan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


