RESENSI BUKU: Menekuni Catatan Selvi Agnesia, Meneladani Pengalaman Seniman dan Budayawan
Kumpulan reportase dalam buku Berkesenian di Tengah Segala Cuaca karya Selvi Agnesia lebih dari sekadar pendokumentasian semata. Memberikan catatan pada zaman.
Penulis R Abdul Azis 9 Agustus 2026
BandungBergerak – Buku “Berkesenian di Tengah Segala Cuaca” karya Selvi Agnesia menyematkan sub judul: Sehimpun Reportase Seniman dan Budayawan 2011-2026 di muka kavernya. Tentu saja rentang tahun yang cukup panjang tersebut menunjukkan beberapa penafsiran. Selain memperlihatkan sepak terjang penulis, sub judul tersebut dapat ditafsirkan semisal pendokumentasian atau pengarsipan atas hal yang telah dialami penulisnya. Namun apakah selama 14 tahun (karena saat ini masih 2026), reportase tersebut masih menarik untuk kembali dibaca?
Berlandaskan pertanyaan tersebut, saya mulai menikmati ketiga puluh tulisan yang terbagi atas empat bagian. Mulanya saya menikmati sebagai kenangan personal yang cukup dekat. Nama Nandang Aradea dan Kang Yoyon (Mohamad Sunjaya) memutar memori lama mengenai panggung teater di Bandung. Dulu, sebagai yang pernah menjadi mahasiswa sastra, kedua nama tersebut sering terdengar dan dibicarakan di lingkungan saya. Kemudian nama pementasan Margi Wuta dan festival Art Summit, menggiring saya ke ingatan saat tak lama saya lulus kuliah. Beberapa tulisan dalam bagian Teater, Panggung dan Peristiwa cukup mendudukkan saya pada peristiwa yang sempat saya saksikan, dan itu sangat personal.
Selanjutnya saya sangat terkesan dengan bagian Tari, Tubuh, Diri, khususnya pada reportase pekerja migran. “Dua topeng kepala Singo Barong berhias bulu merak terlihat gagah menghiasi dinding ruangan tersebut. Tidak mudah membawa kedua topeng ke Taiwan. Topeng pertama didatangkan pada tahun 2014 ketika tahun pertama Paguyuban Singo berdiri. Topeng kedua menyusul didatangkan pada tahun 2028. Dibutuhkan biaya 1 juta dolar Taiwan atau sekitar 500 juta untuk mendatangkan topeng tersebut. Heri dengan tegas mengungkapkan, biaya tersebut murni berasal dari bantuan teman-teman Pekerja Migran Indonesia.” (Eksistensi Singo Barong di Taiwan, hlm 73).
Satu paragraf tersebut sangat membekas untuk saya. Tak terbayangkan sebelumnya, bagaimana para pekerja migran melakukan kerja kesenian yang beregenerasi, di samping pekerjaan utama mereka. Mereka tetap loyal bahkan untuk mengeluarkan dana yang tak sedikit.
Saya pun memasuki bagian Perupa dan Karya. Di bagian itu, saya baru menyadari bahwa judul besar buku ini diambil dari salah satu sub judul bagian reportase “Berkesenian di Tengah Segala Cuaca.” Salah satu reportase favorit saya, yakni wawancara Faisal Kamandobat. Pada tulisan ini, saya menekuni betul-betul setiap jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Kisah hidup Gus Icol sedari bocah yang berdekatan dengan pesantren, kesenian, dan masyarakat. Pendapatnya sungguh tajam “....Tapi jika seseorang sudah bertekad menjadi penulis, ia akan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca, melakukan analisa, mengembangkan ide, menulis, melakukan evaluasi dan seterusnya. Menulis justru bisa menjadi jalan keluar pengaruh buruk media sosial dengan banyak belajar dan berlatih secara mandiri dan intensif. Dan bagi saya, kegiatan itu surgawi.” (Berkesenian di Tengah Cuaca, hlm. 129)
Dalam penutup wawancara, penulis bertanya mengenai pencarian sebagai manusia. Lalu Gus Icol menjawab, “Saya seorang yang fakir pada rahmat Tuhan. Kekurangan dan kesalahan saya banyak, dosa saya juga, tapi saya masih diberi kesempatan untuk menjalani dan menikmati hidup, untuk sedikit demi sedikit jadi lebih baik. Hanya pada Dia saya bersandar, kepada Dia saya banyak bersyukur. Matur Nuwun.” (Berkesenian di Tengah Cuaca, hlm. 134)
Saya pikir bagian Perupa dan Karya menjadi bagian favorit saya. Tidak hanya wawancara bersama Faisal Kamandobat, tetapi seluruh reportase dalam bagian tersebut. Namun itu bukan berarti saya berhenti menyelesaikan buku tersebut.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Ketika Babi Menjadi Filsuf dan Big Brother Menjadi Influencer
RESENSI BUKU: Menelusuri Keberpihakan Seorang Jurnalis pada Kaum Tertindas
RESENSI BUKU: Kemerdekaan Indonesia yang Diperjuangkan di Eropa
Bukan Sekadar Reportase
Setelah tuntas membaca buku ini, saya merasa ada yang belum tamat. Apalagi pada bagian Iman, Kemanusiaan, dan Kreativitas. Betapa pikiran saya seperti diserut sampai runcing. Kedalaman pengalaman, dan pengabdian para tokoh membikin saya merefleksikan diri. Bakti mereka kepada masyarakat, pada kebudayaan, pada ilmu pengetahuan, dan pada alam yang barangkali mustahil tertandingi. Keteguhan dan konsistensi mereka sangat penting diteladani lebih jauh. Ketimbang dari sekadar reportase, saya pikir bagian tersebut dapat dibaca dengan pandangan yang lain untuk pembaca selanjutnya.
Pada wawancara penulis dengan Romo Mudji yang berjudul “Romo Mudji Tak Hanya Mengabdi di Altar Gereja”, saya mendapati pernyataan bahwa dulu beliau dibiasakan diskusi oleh ayahnya sejak sekolah dasar. “Sumber diskusinya itu radio. Jam 10, kami mendengarkan pidato Bung Karno. Coba bayangkan, anak-anak SD dengar pidato itu terus. Jadi kuping kita sambil bermain, sambil makan, dan pidato itu masuk ke pikiran. Ketika saya mengajar tentang pemikiran Bung Karno, saya lalu mencari kasetnya (pidato Bung Karno) waktu awal-awal di Yogyakarta dan itu lengkap.” (Romo Mudji Tak Hanya Mengabdi di Altar Gereja, hlm. 138)
Dari penggalan di atas, setidaknya kita dapat mengetahui bagaimana cara Romo Mudji mengasah diri dari menyimak pidato. Saya sendiri tidak pernah benar-benar mendengar lengkap pidato-pidato Bung Karno. Hanya sesekali lewat di algoritma media sosial, itu pun menjelang atau memasuki bulan Agustus. Banyak kreator yang menukil juga memotong pidato lama sang proklamator. Namun dari hal tersebut juga saya setidaknya tahu bagaimana kualitas pidato yang jadi “pembelajaran” Romo Mudji saat masih kecil. Saya tidak tahu apakah pidato presiden hari ini dapat menjadi pembelajaran berharga bagi anak-anak usia muda atau tidak.
Kembali ke pertanyaan di awal, apakah reportase tersebut masih menarik untuk kembali dibaca? Saya kira pembaca tulisan ini sudah tahu jawabannya. Kumpulan reportase ini lebih dari sekadar pendokumentasian semata. Buku ini berhasil menyibak perjalanan tokoh dan peristiwa. Meski tak apik jika dibandingkan dengan buku biografi, buku ini berhasil diidentifikasi sebagai hasil kerja mengulas, memberikan catatan pada zaman, dan meneladani pengalaman pada seniman dan budayawan.
Bandung, 2026
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB


