• Opini
  • CERITA GURU: Di antara Panggilan Nurani dan Industri

CERITA GURU: Di antara Panggilan Nurani dan Industri

Sejauh mana logika industri boleh masuk ke ruang pendidikan tanpa menghilangkan makna pendidikan itu sendiri?

Ilham Taufiq

Mantan guru sekolah swasta di Bandung.

Guru bukan sekadar mengajar pelajaran di kelas, ia mengajarkan tentang kehidupan bagi murid-muridnya. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

12 Agustus 2026


BandungBergerak – Ada masa ketika menjadi guru terasa seperti sebuah panggilan nurani. Dibesarkan oleh dua orang guru menempatkan saya dalam euforia itu. Bukan karena pekerjaan itu mudah, apalagi karena imbalan, melainkan karena ada keyakinan bahwa mengajar berarti ikut membentuk manusia. Seorang guru datang ke kelas bukan sekadar membawa materi pelajaran, tapi juga membawa harapan: bahwa anak-anak yang duduk di hadapannya kelak tumbuh menjadi manusia yang mampu berpikir, memilih, dan menjalani hidup dengan bermakna.

Namun, di tengah perubahan dunia pendidikan, panggilan itu perlahan berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar: industri.

Kata “industri” mungkin terdengar asing jika ditempatkan berdampingan dengan kata “guru”. Pertama kali saya mendengar penjodohan ini adalah ketika saya mendengar seorang guru bahasa Spanyol di Amerika Serikat menyebut “Teaching industry”, walau konteksnya berbeda. Menarik. Pendidikan seharusnya berbicara tentang manusia, bukan tentang produk. Sekolah seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh, bukan sekadar tempat memenuhi target. Akan tetapi, kenyataan di lapangan sering kali membuat batas antara pendidikan dan industri menjadi semakin tipis. Sekolah dituntut menghasilkan prestasi, mempertahankan citra, memenuhi ekspektasi orang tua, meningkatkan daya saing, menyelesaikan berbagai administrasi, dan menunjukkan hasil yang dapat diukur.

Di tengah semua tuntutan itu, guru idealis menghadapi pertanyaan yang tidak sederhana: masihkah ia boleh mengajar dengan keyakinannya sendiri?

Baca Juga: CERITA GURU: Pengabdian Guru Swasta atau Semata Mesin Produksi?
CERITA GURU: Kompetensi Digital Guru Bukan Sekadar bisa Pakai Aplikasi
CERITA GURU: Kesejahteraan Guru dalam Siklus Janji Politik

Dilema Guru

Seorang guru mungkin ingin memberi waktu lebih lama kepada murid yang belum memahami pelajaran. Ia ingin mengajak murid berdiskusi, bertanya, gagal, kemudian mencoba kembali. Ia ingin memperhatikan murid yang diam di sudut kelas, meskipun anak itu tidak pernah menghasilkan angka yang membanggakan sekolah. Ia ingin mengajarkan kejujuran, empati, keberanian berpikir, dan kemampuan menerima kegagalan.

Namun, waktu terbatas.

Ada kurikulum yang harus selesai. Ada laporan yang harus dikumpulkan. Ada target yang harus dicapai. Ada penilaian yang harus diisi. Ada rapat. Ada tuntutan dari orang tua. Ada ekspektasi lembaga. Bahkan, terkadang keberhasilan seorang guru lebih mudah dinilai dari angka dan dokumen daripada dari perubahan kecil dalam diri seorang murid yang mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Di situlah dilema itu bermula.

Guru tidak serta-merta menolak profesionalisme, teknologi, target, atau sistem. Ia memahami bahwa sekolah juga merupakan lembaga yang membutuhkan pengelolaan yang baik. Guru pun membutuhkan penghasilan yang layak. Sekolah membutuhkan keberlanjutan. Pendidikan membutuhkan sumber daya. Tidak ada yang salah dengan semua itu.

Yang menjadi persoalan adalah ketika logika industri mulai menjadi satu-satunya cara untuk mendefinisikan keberhasilan pendidikan.

Ketika murid dipandang sebagai konsumen, orang tua sebagai klien, guru sebagai buruh pendidikan, dan prestasi sebagai produk, hubungan pendidikan dapat kehilangan sesuatu yang paling penting: kemanusiaan.

Seorang guru kemudian berada dalam posisi yang serba sulit. Jika ia terlalu mengikuti sistem, ia khawatir kehilangan alasan mengapa dahulu memilih menjadi guru. Namun, jika ia terlalu mempertahankan idealismenya, ia dapat dianggap tidak adaptif, tidak profesional, atau bahkan tidak mampu mengikuti perkembangan zaman.

Maka konflik itu tidak selalu terjadi antara guru dan sekolah. Sering kali konflik terbesar justru terjadi di dalam diri guru sendiri.

Di utara, ada suara yang berkata, “Kamu harus realistis. Ini pekerjaan. Kamu juga harus hidup.”

Di selatan, ada suara yang lebih pelan, tapi jadi ganjalan: “Bukankah dulu kamu menjadi guru karena ingin melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar bekerja?”

Pertanyaan yang tak mudah dijawab.

Sebab guru juga manusia. Ia memiliki kebutuhan ekonomi, keluarga yang harus dinafkahi, kelelahan yang harus ditanggung, dan masa depan yang harus dipikirkan. Mengatakan bahwa guru harus selalu berkorban demi panggilan dapat menjadi romantisasi yang tidak adil. Panggilan tidak seharusnya menjadi alasan untuk membenarkan kesejahteraan yang buruk, beban kerja yang berlebihan, atau tuntutan yang tidak masuk akal.

Justru karena guru adalah manusia, panggilannya perlu dihargai dengan kondisi kerja yang manusiawi.

Di sinilah dilema guru menjadi lebih dalam. Ia tidak sedang memilih antara menjadi idealis atau menjadi materialistis. Ia sedang berusaha mencari cara agar idealisme dan kebutuhan hidup dapat berjalan berdampingan.

Manusia yang Mengajar Manusia

Mungkin persoalannya bukan apakah guru harus menolak “industri” atau menyerah kepadanya. Pertanyaannya adalah: sejauh mana logika industri boleh masuk ke ruang pendidikan tanpa menghilangkan makna pendidikan itu sendiri?

Guru tetap perlu profesional. Sekolah tetap perlu dikelola secara efektif. Teknologi tetap perlu dimanfaatkan. Kualitas tetap harus dijaga. Namun, semua itu seharusnya menjadi alat untuk mencapai tujuan pendidikan, bukan menggantikan tujuan tersebut.

Sebab pada akhirnya, tidak semua keberhasilan pendidikan dapat dihitung.

Tidak ada angka yang benar-benar mampu mengukur keberanian seorang murid yang akhirnya berani berbicara setelah bertahun-tahun diam. Tidak ada tabel yang dapat sepenuhnya mencatat seorang anak yang belajar memaafkan dirinya sendiri setelah gagal. Tidak ada laporan yang dapat menggambarkan pengaruh satu kalimat guru yang mungkin baru dipahami murid sepuluh tahun kemudian.

Hal-hal semacam itulah yang membuat profesi guru berbeda dari sekadar pekerjaan.

Dan mungkin, di antara tuntutan sistem yang semakin menyerupai industri, guru perlu terus mengingat satu hal: bahwa di balik setiap target terdapat manusia, di balik setiap angka terdapat cerita, dan di balik setiap laporan terdapat seorang anak yang sedang berusaha menemukan dirinya.

Panggilan seorang guru mungkin tidak selalu berarti mengabaikan dunia yang berubah. Panggilan itu justru mungkin berarti berani memasuki dunia yang berubah tanpa kehilangan alasan mengapa ia berada di sana.

Guru tidak harus menolak industri. Guru juga tidak harus menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada industri.

Ia hanya perlu memastikan bahwa ketika pendidikan menjadi semakin profesional, terukur, dan kompetitif, manusia tidak ikut berubah menjadi sekadar angka.

Sebab pada akhirnya, dilema terbesar seorang guru bukanlah memilih antara panggilan dan industri.

Dilema itu adalah bagaimana tetap menjadi manusia yang mengajar manusia, ketika sistem semakin sering meminta pendidikan bekerja seperti mesin.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//