• Literasi
  • ULAS FILM: Melihat Realitas Amerika Latin lewat The Motorcycle Diaries (2004)

ULAS FILM: Melihat Realitas Amerika Latin lewat The Motorcycle Diaries (2004)

Film The Motorcycle Diaries bercerita tentang Che Guevara muda, mahasiswa kedokteran yang memilih mengembara melihat realitas kehidupan masyarakat Amerika Latin.

Tangkapan layar poster film The Motorcycle Diaries (2004). (Foto Sumber: imdb.com)

Penulis Raden Muhammad Wisnu Permana12 Agustus 2026


BandungBergerak –Saya berkesempatan menonton film The Motorcycle Diaries (2004) besutan Walter Salles pada Jumat, 31 Juli 2026 petang. Belakangan ini, selain nonton film di bioskop atau sekadar nonton series atau film via laptop di rumah, saya suka ikut screening film apalagi yang ada acara diskusinya. Alasannya, biar saya bisa diskusi apa saja terkait film, mulai dari teknik sinematografi, mengomentari akting para aktor pada film tersebut, atau masalah sosial yang ada pada film tersebut.

Diskusi offline gini lebih nikmat dibanding diskusi online via forum macam Kaskus, diskusi via sosial media, apalagi kalau dibandingkan dengan cerita ke AI.

Jujur saja, saya gak membaca sinopsis cerita The Motorcyle Diaries ini sama sekali. Saya cuma asal lihat poster yang dibuat oleh Kembang Kata Book Club dan langsung datang ke Perpustakaan Bunga di Tembok sebagai tuan rumah. Sampai ending film, saya gak tahu kalau tokoh bernama Ernesto yang diperankan Gael García Bernal ini merupakan tokoh revolusi legendaris bernama Che Guevara.

Baca Juga: ULAS FILM: Menilik Fenomena Akar Rumput di Pantura dalam Film Pangku
ULAS FILM: Merasakan Keberadaan Karakter Tak Terlihat Melalui Film Siti dan Sore
ULAS FILM: Membedah Entitas Hantu dalam Film Ghost in The Cell (2026) Melalui Perspektif Foucoult dan Lacan

Che Guevara yang Saya Kenal

Sejak kecil, saya sering melihat orang yang memakai kaos Che Guevara, terutama dalam aksi demonstrasi atau gerakan sosial lainnya. Ayah saya yang lahir pada tahun 1939, yang hanya 11 tahun lebih muda dari Che Guevara hanya sekilas memperkenalkan saya siapa itu Che Guevara. Ayah saya hanya menyebut bahwa Che Guevara adalah tokoh legendaris S Tier selevel dengan Sukarno yang berperan besar dalam revolusi Kuba, yang jadi musuh Amerika.

Saya lupa detailnya bagaimana, tapi saat itu diskusi berlangsung beberapa jam setelah nonton salah satu film James Bond yang latar ceritanya di Cuba dan ayah saya menunjukkan foto Che Guevara dengan Sukarno lewat salah satu buku yang saya lupa detailnya berjudul apa. Maklum, kejadian ini terjadi di akhir 1990-an saat saya masih duduk di bangku SD. Saat itu juga saya manggut-manggut setuju apa sebab belum ngerti apa-apa.

Jujur saja, sejak duduk di bangku SMA dan bangku kuliah, saya kepikiran buat pakai kaos Che Guevara karena desainnya banyak yang keren. Tapi saya gak mau sekadar jadi posser. Singkatnya, posser itu sebutan buat orang yang sok-sokan pakai kaos band macam Nirvana tapi gak tahu siapa itu Kurt Cobain, Dave Grohl, dan Krist Novoselic, atau gak bisa menyebutkan 5 judul lagu Nirvana.

Mengenal Che Guevara lewat The Motorcycle Diaries

Screening film The Motorcycle Diaries malam itu diakhiri dengan sesi diskusi. Kebetulan, saat itu hadir juga Nicolás (CMIIW ejaan nama beliau ya), seorang akademisi asal Kolombia yang bahasa Indonesia lancar banget sehingga diskusi ini jadi seru karena bisa mendengarkan point of view warga Amerika Latin secara langsung. Saya dan beberapa yang hadir di sana berdiskusi hangat dengan Nicolás.

Jujur saja, The Motorcycle Diaries adalah film Amerika Latin pertama yang saya tonton. Dalam artian, film yang dibuat oleh sineas non-Hollywood, bukan sekadar film yang berlatar Amerika Latin saja. Fokus saya bukan pada sinematografi atau akting aktornya, melainkan pada realitas masyarakat Amerika Latin saat itu, yakni tahun 1950-an.

Ada suatu adegan di mana Ernesto dan Alberto sedang berkunjung ke Machu Picchu. Ernesto menuliskan suatu kalimat yang kurang lebih “Suku Inca punya peradaban yang sangat maju. Mereka ahli astronomi dan ilmu sains makanya bisa bikin bangunan kayak gini. Sayangnya, kolonialisme Eropa menghancurkan itu semua” dan bikin saya merinding.

Selain itu, ribuan kilometer perjalanan Ernesto dan Alberto di Amerika Selatan pun membuka mata saya bahwa ada jutaan masyarakat Amerika Latin hidup dalam kemiskinan struktural karena selepas dari kolonialisme dan Perang Dunia II, kehidupan mereka sama sekali tidak berubah.

Saya rasa, itu persamaan dari Che Guevara dan Sukarno. Mereka melihat tanah kelahirannya sengsara akibat kolonialisme Eropa, dan bertekad untuk melakukan perubahan untuk menghilangkan penderitaan tersebut. Apalagi, Che Guevara dan Sukarno bisa dibilang punya hubungan yang baik pada masa Perang Dingin. Che Guevara dan Sukarno pun banyak dijadikan sebagai simbol perjuangan masyarakat Amerika Latin maupun Indonesia. Mereka berdua pun sama-sama dijatuhkan pihak asing, terutama Barat yang saat itu lagi panas-panasnya berkonflik.

Diskusi berlangsung semakin asyik karena Nicolás berpendapat bahwa masyarakat Indonesia sangat bisa relate dengan film tersebut karena punya nasib yang sama. Kata Nicolás, orang Jerman atau Inggris mungkin tidak akan pernah bisa relate dengan kedalaman film ini, sebab mereka tidak pernah merasakan bagaimana perihnya dijajah.

Lebih lanjut lagi, Nicolás sedikit bercerita tentang keadaan sosial politik Amerika Latin sekarang itu kurang lebih seperti Indonesia dengan konflik di Papua, hanya saja ditambah dengan perdagangan narkoba yang melibatkan cartel.

Tentu gak akan cukup mengenal Che Guevara dari film berdurasi dua jam seperti ini. Barangkali untuk mengenal Che Guevara saya harus membaca lusinan biografi Che Guevara dan buku sejarah maupun sosial politik yang membahas kolonialisme Eropa di Benua Amerika sejak kedatangan Colombus.

Namun film ini memperkenalkan saya pada sosok Che Guevara yang sebenarnya bisa hidup enak dengan privilesenya sebagai seorang mahasiswa kedokteran, namun memilih untuk mengutamakan nilai-nilai kemanusiaannya dengan mengembara puluhan ribu kilometer bersama Alberto untuk melihat realitas kehidupan akar rumput masyarakat Amerika Latin itu seperti apa, bukan sekadar melihat realitas kehidupan dari atas menara gading.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//