• Opini
  • Jebakan Teknologi dan Individualisasi Risiko

Jebakan Teknologi dan Individualisasi Risiko

Teknologi hadir bak pahlawan kecanggihan dengan tawaran solusi kecanggihan teknologi lainnya dari masalah yang diciptakannya sendiri.

Naufalul Ihya' Ulumuddin

Mahasiswa magister sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM)

Ilustrasi. Aktivitas manusia dengan gawainya di era teknologi digital. (Ilustrator: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

16 Agustus 2026


BandungBergerak“Resiko ditanggung masing-masing.”

Celetukan di atas agaknya pas untuk menggambarkan kondisi kehidupan kita hari-hari ini. Di era teknologi yang semakin masif, kita dipaksa hidup menjadi individu yang solois: melakukan dan menanggung semuanya sendiri. Individu yang dituntut tidak bergantung pada individu lain melalui jalan mulus yang disediakan teknologi. Hanya saja, kondisi itu bukan tanpa risiko. Riskannya, risiko-risiko menjadi individu yang tidak bergantung itu juga pada akhirnya dibebankan pada individu itu sendiri tanpa pertolongan siapa pun.

Baca Juga: Kemacetan, Kegagalan Sistem, dan Dosa Individu
Menyoal Disrupsi Literasi di Era Teknologi Informasi
Generasi Kripto: Orang Muda dalam Pusaran Tren, Teknologi, dan Spekulasi

Teknologi, Perubahan Sosial, dan Jebakannya

Secara luas, teknologi sering dimaknai sebagai sesuatu yang diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Bahasa misalnya bisa dikatakan teknologi paling mendasar agar manusia mampu berkomunikasi. Selain itu, teknologi juga berkaitan dengan ciri peradaban. Ragam kecanggihan teknologi menggambarkan kondisi peradaban yang ada.

Karena sifatnya yang berkaitan langsung dengan manusia dan peradabannya, maka teknologi nyaris pasti menghasilkan perubahan sosial. Melihat peradaban hari ini, teknologi jelas melesat tunggang langgang semakin canggih. Kehadiran ponsel pintar, jam tangan pintar, kendaraan listrik hingga AI memberikan perubahan sosial yang nyata sekaligus menjebak kita semua dalam ilusi ekosistemnya.

Jika dikemas dalam skenario cerita, teknologi menjebak sedemikian halus dan membentuk ulang masyarakat. Masyarakat dipaksa butuh berkomunikasi secara cepat, maka dihadirkan ponsel pintar (smartphone). Seiring berjalannya waktu, ponselnya terlampau pintar. Tidak hanya mampu memfasilitasi komunikasi yang cepat, ponsel pintar mampu melipat seluruh hiburan ke dalam satu genggaman. Hal ini menghasilkan perubahan sosial yang drastis. Dari Masyarakat yang memiliki waktu senggang untuk menikmati hiburan di sela-sela rutinitas, berubah menjadi masyarakat yang menikmati hiburan sebagai rutinitas. Pasalnya, hiburan itu telah lengkap dalam genggaman. Ujungnya, masyarakat kian menggeser kesadarannya untuk terus menerus  terhubung dengan hiburan di ponsel pintar. Maka, hadirlah masyarakat scrolling dan rebahan.

Agar scrolling dan rebahan semakin lancar, teknologi wifi hadir sebagai jawaban supaya masyarakat semakin kafah menjadi pegiat rebahan dan scrolling yang andal. Ironisnya, semua itu tidak gratis. Setidaknya, ada dua hal yang harus dibayar, yaitu harga langganan kuota internet atau wifi dan kesehatan yang semakin tergerus.

Kesehatan masyarakat scrolling dan rebahan semakin riskan. Angka obesitas dan asam urat meningkat pada generasi muda. Agar tidak kehilangan dominasinya, teknologi tidak tinggal diam. Ia hadir dalam bentuk teknologi lain yang terkesan solutif. Maka hadirlah jam tangan pintar (smartwatch) dengan kemampuan menghitung kalori, jumlah langkah, kualitas tidur, irama jantung, dan was wes wos kecanggihan lainnya agar masyarakat tetap sadar dan peduli atas kesehatan. “Sekarang, kesehatanmu bisa dipantau,” katanya seakan pahlawan yang memberikan solusi kecanggihan.

Padahal, jika kita refleksikan lebih jauh ke belakang sebelum “kecanggihan” teknologi hadir, berlari mengejar layangan berkilo-kilo tidak perlu validasi angka-angka pace dan rute strava. Semuanya tidak perlu dihitung, karena itu merupakan keseharian yang menyenangkan. Berlari mengejar layangan atau menggiring bola di lapangan kampung merupakan keseharian mengisi waktu luang alih-alih betah terlentang di atas kasur (baca: rebahan). Tanpa menghitung irama jantung, angka pace lari, dan jumlah langkah dalam sehari, kita semua sadar untuk terus bergerak dan menjadi sehat baik secara fisik maupun sosial.

Dari situ, tidakkah kita perlu sadar bahwa ini semua adalah jebakan teknologi. Teknologi seakan memberi kelimpahan hiburan bersamaan dengan risiko kesehatan. Lalu, teknologi hadir bak pahlawan kecanggihan dengan tawaran solusi kecanggihan teknologi lainnya dari masalah yang diciptakannya sendiri. Tidakkah ini lebih tepat disebut jebakan, alih-alih kecanggihan yang solutif?

Individualisasi Risiko

Beberapa orang mungkin akan memberikan celetukan seperti kalimat awal tulisan ini, “Risiko ditanggung masing-masing.” Itulah kecanggihan lain teknologi dalam menjebak kita ke dalam ekosistemnya. Kita didogma untuk menerima kenyataan bahwa risiko kecanggihan teknologi sudah selayaknya ditanggung individu masing-masing.

Ulrich Beck dalam buku briliannya, Risk Society, telah menggambarkan kondisi sosial hari ini dalam konsep individualisasi risiko. Berbagai risiko dari problem global yang telah terjadi akibat dari industri yang ugal-ugalan, termasuk perkembangan kecanggihan teknologi tanpa pertimbangan kemanusiaan, dibebankan pada individu masing-masing. Artinya, ada proses mengindividukan risiko yang penyebabnya sebenarnya dilakukan oleh negara maupun korporasi besar untuk orientasi keuntungan.

Contoh sederhana yang bisa direfleksikan dari individualisasi risiko ini terkait perubahan iklim yang menuntut korporasi mengurangi penggunaan plastik. Dalam praktiknya, apakah risiko pengurangan kantong plastik itu ditanggung korporasi? Tidak. Faktanya, kita sebagai konsumen yang harus membayar lebih untuk bisa mendapat bungkus non plastik yang harganya tidak murah.

Kebijakan peralihan dari sepeda bahan bakar ke sepeda listrik juga menjadi contoh lain individualisasi risiko dengan ilusi kecanggihan teknologi. Dengan alasan krisis iklim, individu dituntut membeli sepeda listrik agar ramah lingkungan. Padahal sejak awal, yang merusak iklim dengan berbagai polusinya adalah ambisi profit para korporasi besar. Ketika iklim bermasalah, risiko ditanggung individu masing-masing. Kita lagi, sebagai individu, yang dituntut kembali merogoh gocek untuk membeli teknologi terbaru sepeda listrik. Dengan uang sendiri! Dengan uang sendiri!

Pada konteks ponsel pintar dan jam tangan pintar pun demikian. Kita dijebak dalam kenikmatan hiburan dalam genggaman, menjadi generasi rebahan dengan risiko kesehatan, dan dipaksa mulai menghitung kesehatan melalui teknologi lain berbentuk jam tangan agar tetap hidup dan sehat. Sekali lagi, semua teknologi itu kita beli sendiri. Dengan uang sendiri! Dengan uang sendiri! Lalu, risikonya ditanggung sendiri.  

Tidakkah realitas semacam ini seperti perilaku tukang parkir yang sering membuat kita jengkel. Merogoh uang parkir dari kita, tetapi ketika terjadi sesuatu pada kendaraan kita, risiko ditanggung masing-masing. Irasional, tetapi terus kita lakukan, alami, dan maklumi.

Inilah realitas masyarakat risiko yang terjebak (jika tidak ingin disebut dijebak) dalam kubangan ilusi kecanggihan teknologi. Masyarakat yang katanya modern dan berperadaban canggih justru tak pernah sadar dengan ragam macam irasionalitas yang terjadi. Teknologi canggih justru mengaburkan semua bentuk irasionalitas yang ada menjadi seakan rasional dan mengagumkan. Lebih-lebih, kita terus merayakannya sambil bertepuk tangan.  

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//