• Narasi
  • Seru Sendiri: Mencari Posisi Praktik Artistik di antara Struktur

Seru Sendiri: Mencari Posisi Praktik Artistik di antara Struktur

Pameran tunggal Fathan Turamone bertajuk “Seru Sendiri” menjadi ruang yang terus bertumbuh merespons lingkungan yang mengelilinginya.

Abigail Marcha

Penulis seni rupa. Lulusan Program Studi Seni Rupa FSRD ITB dengan spesialis Kajian Seni.

Gol Bunuh Diri (2025), Fathan Turamone. (Foto Sumber: Katalog pameran)

15 Agustus 2026


BandungBergerak – Pengunjung yang datang ke pameran Seru Sendiri di Galeri Tjap Sahabat pada hari pembukaan tanpa membaca teks pengantar mungkin akan kesulitan melihat hubungan antara judul pameran dan konten di dalamnya. Begitu mengitari ruangan, alih-alih disambut visual yang menonjolkan kesendirian seseorang, pengunjung justru akan mendapat kesan bahwa Fathan Turamone–seniman yang berpameran–merupakan sosok yang jauh dari kata “sendiri”. Cukup banyak dari karya yang ia tampilkan memperlihatkan wajah orang lain. Asing bagi pengunjung, tetapi terlihat dekat dengan Fathan yang dalam sebagian besar karyanya berperan sebagai fotografer.

Pameran yang diselenggarakan pada tanggal 17 Juni sampai 4 Juli 2026 ini pun didominasi dengan karya fotografi seni berwarna hitam putih yang menimpa bercak-bercak cat biru. Kontras antara warna dan medium yang dihadirkan dalam karya-karya tersebut menimbulkan kesan intrusif. Gol Bunuh Diri (2025), misalnya, menghadirkan rangkaian foto sembilan orang yang dipotret dengan pose hormat dari sudut yang sama dan disusun berjajar. Namun, irama tersebut kemudian diganggu dengan bercak biru unik pada setiap karyanya.

Kecenderungan visual serupa juga terlihat pada seri Bunuh Diri Sebelum Gol (2025) dan Laga Come-Back (2026) yang merekam suasana pertandingan sepak bola. Pada kedua karya ini, Fathan kembali membubuhkan tumpahan cat biru khasnya di atas cetakan foto. Sedikit perbedaan mungkin baru akan terlihat pada karya Bukan Jebolan Terbaik Akademi #1 & #2. Meskipun mempertahankan kecenderungan visual yang serupa, karya ini justru menanggalkan elemen interaksi sosial antara Fathan dengan orang lain yang hadir pada contoh-contoh sebelumnya. Dalam karya ini, suasana terlihat jauh lebih gelap dan sepi tanpa penggambaran figur apa pun.

Bukan Jebolan Terbaik Akademi #1 & #2 (2026), Fathan Turamone. (Foto Sumber: Katalog pameran)
Bukan Jebolan Terbaik Akademi #1 & #2 (2026), Fathan Turamone. (Foto Sumber: Katalog pameran)

Meskipun demikian, pengecualian pada karya tersebut tidak serta-merta mengurangi kuatnya dominasi elemen interaksi sosial secara keseluruhan dalam pameran ini. Penekanan pada relasi dengan orang lain–entah disengajakan atau tidak–dirasanya tetap menjadi napas utama karya-karya Fathan. Sebagai contoh, kumpulan zine KRONIK (2021-2023) menampilkan kumpulan foto pilihan dari orang-orang sekitar Fathan yang ia potret sendiri dalam kurun waktu tiga tahun. Dengan baik, Fathan menangkap energi yang hidup dan menyenangkan di dalam kumpulan foto tersebut. Kemudian, pada karya Umpan Lambung (2025), Fathan menerjemahkan praktik kuratorial yang ia lakukan untuk membantu kedua temannya ke dalam bentuk peta pikiran. Lagi-lagi, dengan bercak-bercak biru di atasnya yang sudah menjadi ciri khas Fathan.

Umpan Lambung (2025), Fathan Turamone. (Foto Sumber: Katalog pameran)
Umpan Lambung (2025), Fathan Turamone. (Foto Sumber: Katalog pameran)

Ketertarikan Fathan dalam menggunakan interaksi sosial sebagai dorongan utama dalam praktik artistiknya mungkin terlihat juga dalam konsep pameran ini yang disebut sebagai “pameran tumbuh”. Dalam artian, Fathan akan menambahkan beberapa karya seiring berjalannya pameran sebagai respons dari interaksi bersama pengunjung atau pun kondisi pameran secara keseluruhan. Dalam hal ini, Fathan memosisikan karyanya untuk saling mengintervensi dan terus menjadi. Sebagaimana reaksi terhadap satu karya dapat mempengaruhi terciptanya karya yang lain, atau sebaliknya dalam proses yang tidak selamanya linear. Konsep ini menjadi poin unik di dalam pameran Fathan karena dilakukan secara sadar, juga karena belum banyak ditemukan dalam pameran-pameran lain.

Baca Juga: Sindiran di Pameran Asal Pamer dari Partai Asal Ketawa
Sisi Gelap Manusia di Pameran Harry Suliztiarto
Pameran Arsip Sejarah di Gedung Yayasan Dana Sosial Priangan: Siapa yang Akan Mewarisi Ingatan Tionghoa Indonesia?

Ruang yang Tumbuh

Beberapa karya yang ditambahkan di sela-sela berjalannya pameran antara lain adalah VAR (2026), sebuah karya cetak di atas akrilik yang dihadirkan Fathan pada babak kedua pameran. Karya ini diciptakan sebagai bentuk visual dari hasil peninjauan kembali yang ia lakukan selama pameran berlangsung. Selanjutnya, terdapat pula Ruang Ganti (2026). Karya ini masih mempertahankan ciri khas paduan fotografi dan tumpahan cat biru andalannya, tetapi dengan sebuah penambahan elemen baru: seluruh catatan Fathan mengenai pameran tersebut turut ditorehkan langsung di atas kanvas yang sama, mengundang pengamatnya untuk mencoba membaca apa yang ia pikirkan.

Ruang Ganti (2026), Fathan Turamone. (Foto Sumber: Katalog pameran)
Ruang Ganti (2026), Fathan Turamone. (Foto Sumber: Katalog pameran)

Mungkin sudah tidak heran untuk melihat catatan disejajarkan dengan karya seni yang lain, sebagaimana di awal pameran hal itu sudah Fathan lakukan dengan karya peta pikirannya. Bahkan, satu karya terakhir yang ditambahkan oleh Fathan setelah babak kedua, pada periode yang ia namakan extra time (dalam pameran ini Fathan banyak mengambil istilah dari pertandingan sepak bola), ia juga memajang alas dari proses berkaryanya selama pameran sebagai sebuah karya yang kemudian ia beri judul Cadangan Berumur (2026). Sebuah kanvas putih yang dipenuhi dengan cipratan dan tumpahan cat biru.

Cadangan Berumur (2026), Fathan Turamone. (Foto Sumber: Katalog pameran)
Cadangan Berumur (2026), Fathan Turamone. (Foto Sumber: Katalog pameran)

Dari sini kita bisa memahami bahwa Fathan menghargai proses berkaryanya sebagai sebuah kesatuan peristiwa artistik. Hal ini termasuk sketsa, catatan, interaksi sosial yang ia lakukan, dan tentunya hasil akhir berupa karya seni. Dengan adanya kondisi yang dinamis dan terus saling mengintervensi di antara keseluruhan karya Fathan, mungkin akan diperlukan waktu yang lebih lama bagi seseorang untuk benar-benar memahami suara seniman yang tersimpan di dalam pameran dikarenakan suara itu sendiri yang terus berkembang.

Pada karya-karya fotografi hitam putih Fathan yang ditimpa cat biru, aspek yang paling menonjol tentu saja adalah kontras visual antara warna dan mediumnya. Melalui benturan ini, kita bisa menangkap gagasan Fathan mengenai ketegangan antara struktur formal dan pengalaman yang lebih “bebas”, yakni disimak melalui bagaimana medium fotografi yang terukur berhadapan dengan cipratan cat biru yang acak. Dapat dibayangkan kemudian, bahwa pengalaman “bebas” tersebut merujuk pada interaksi sosial Fathan dengan orang-orang di sekitarnya, seperti saat bermain bola atau berkumpul bersama.

Merujuk pada tulisan dalam katalog, struktur formal yang dimaksud oleh Fathan adalah lingkungan akademik yang terlalu terpaku pada rubrik, kredit, dan prestasi yang dibuktikan oleh sertifikat. Akan tetapi, tanda-tanda mengenai hal tersebut kurang bisa ditemukan dalam karya-karyanya yang dipamerkan. Mungkin memang yang ingin ditonjolkan dalam pameran adalah kegiatan bersosialisasi dan proses menuju perwujudan karya itu sendiri.

Menavigasi Gagasan dalam Pameran

Kekakuan institusi pendidikan formal umumnya sangat lekat dengan tuntutan administratif–mulai dari kurikulum, rubrik penilaian, hingga padatnya pengetahuan yang harus ditelan oleh mahasiswa. Dalam posisi Fathan sebagai mahasiswa seni, rutinitas tersebut berpotensi menjadi kerangkeng yang membatasi ruang belajar dan eksplorasinya. Hal ini selaras dengan pernyataan Fathan yang menolak jika karya seninya hanya direduksi sebatas pemenuhan parameter akademis.

Melalui karya Gol Bunuh Diri (2025), Fathan mengkritik fenomena "yes man" yang kerap terjadi di perguruan tinggi. Ia menyoroti ironi di mana mahasiswa–yang idealnya didorong untuk bersikap kritis dan mempertanyakan banyak hal–justru dikondisikan untuk menelan mentah-mentah pengetahuan yang disajikan. Dalam sistem ini, kurikulum dan standar nilai seolah dijadikan alat oleh institusi untuk menuntut kepatuhan absolut tanpa banyak bertanya. Akibatnya, alih-alih melahirkan pemikiran yang tajam, proses tersebut sering kali hanya menghasilkan pemahaman yang dangkal.

Sebagai respons atas kekakuan tersebut, Fathan menemukan bahwa ada banyak pengetahuan dan nilai berharga yang justru ia serap dari luar lingkungan kampus. Melalui interaksi kesehariannya, ia belajar membangun relasi dan mengamati langsung bagaimana medan seni rupa bekerja di dunia nyata. Pemahaman dari ruang nonakademik inilah yang kemudian ia terjemahkan ke dalam karyanya dengan baik. Mulai dari memotret wajah orang-orang di sekitarnya, hingga menjadikan proses interaksinya bersama pengunjung sebagai bagian dari karya yang terus tumbuh selama pameran berlangsung.

Fathan berbicara dengan pengunjung. (Foto Sumber: Katalog pameran)
Fathan berbicara dengan pengunjung. (Foto Sumber: Katalog pameran)

Sebagai seseorang yang datang untuk mengamati, terlihatnya perwujudan gagasan Fathan dalam pameran ini belum sampai pada tahap yang benar-benar menantang sistem dari institusi pendidikan itu sendiri. Selain minimnya petunjuk visual yang mengarahkan penafsiran pada isu kekakuan institusi, format pameran ini nyatanya masih sangat konvensional. Secara praktik, pameran ini masih tunduk dan melayani nilai-nilai formalistik yang justru diajarkan di dalam pendidikan tinggi seni. Lebih jauh lagi, meskipun narasi mengenai pentingnya ruang belajar alternatif di luar kampus sudah tersampaikan, Fathan belum berhasil mengartikulasikan dengan jelas wujud nilai-nilai pengetahuan yang ia peroleh tersebut ke dalam pamerannya.

Ada pun, pameran ini tetap berhasil meninggalkan ruang refleksi yang berharga bagi penontonnya, khususnya mengenai ketegangan antara struktur yang kaku dan pengalaman yang bebas melalui karya-karya Fathan yang bermain dengan keberagaman medium. Di luar beban wacana yang diusungnya, Fathan secara estetis sukses menyuguhkan tatanan visual yang memanjakan mata. Daya pikat ini bersumber dari keberaniannya membenturkan kontras yang tajam antara keteraturan objek formal dan keliaran material. Pada akhirnya, konsistensi cipratan cat biru tidak hanya bertindak sebagai gangguan visual, melainkan berhasil menjadi benang merah yang mengukuhkan pameran ini sebagai satu kesatuan pengalaman.

Dapat dipahami bahwa ketegangan ini berawal dari kenyataan bahwa Fathan, pada akhirnya, adalah individu yang turut memetik manfaat dari sistem pendidikan formal yang ia kritik. Kesadaran akan ambiguitas posisinya inilah yang membuat Seru Sendiri hadir bukan sebagai bentuk penolakan total, melainkan sebagai sebuah ruang mediasi. Pameran ini berfungsi sebagai jembatan yang mempertemukan dua dunia yang terus bergesekan dalam keseharian Fathan: struktur akademik yang kaku dan menuntut kepastian, berhadapan dengan realitas medan sosial seni rupa yang lebih fleksibel.

Pada akhirnya, upaya untuk menjembatani institusi akademik dan medan seni rupa di luar sana menyisakan satu perenungan. Sebagaimana karya-karya Fathan yang dibiarkan untuk terus berproses dan menjadi, mungkin sistem pendidikan formal itu sendiri bukanlah struktur yang kaku, melainkan ruang yang juga terus bertumbuh merespons lingkungan yang mengelilinginya. Kenyataannya, institusi seni bisa jadi adalah perpanjangan tangan dari medan seni rupa yang lebih luas itu sendiri, dan di tempat inilah seorang seniman diperlihatkan tentang bagaimana relasi dibangun dan pengakuan didapatkan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//