• Berita
  • Apa yang Dibutuhkan Warga Bandung: Aplikasi Perpustakaan Digital atau Ruang Baca yang Fleksibel?

Apa yang Dibutuhkan Warga Bandung: Aplikasi Perpustakaan Digital atau Ruang Baca yang Fleksibel?

Pemkot meluncurkan aplikasi perpustakaan digital MACA di saat indek Literasi Kota Bandung terjatuh.

Pengunjung Festival Literasi Kota Bandung, 29–31 Juli 2026. (Alya Chaerani/BandungBergerak)

Penulis Anisa Putri Balqis21 Agustus 2026


BandungBergerak - Sofia, 55 tahun, tidak tahu apa itu MACA, aplikasi perpustakaan digital yang diluncurkan Pemkot Bandung akhir Juli lalu. Alasannya sederhana: ibu rumah tangga asal Margahayu ini tidak punya telepon pintar. Ia bahkan tidak tahu ada tidak perpustakaan di daerahnya.

"Apa-apa biasanya lihat di televisi," ujar Sofis, saat ditanya dari mana ia biasa mendapat informasi soal program pemerintah kota, kepada BandungBergerak. 

Untuk memenuhi kebutuhan bacaan, Sofia mengandalkan cara yang jauh lebih konvensional. Ia biasa membeli buku bekas di toko buku bekas. Jarak ke perpustakaan menjadi penghambat utama, dan bahkan program seperti Taman Bacaan Masyarakat (TBM) binaan pun jarang ia ketahui keberadaannya karena minim promosi.

Mengenai budaya literasi, Sofia punya kekhawatiran tersendiri. Ada persoalan yang menurutnya lebih mendesak untuk dibenahi lebih dulu, yaitu minat baca anak-anak kecil zaman sekarang. Baginya, literasi untuk anak menjadi masalah yang tidak akan selesai hanya dengan meluncurkan lebih banyak platform digital.

Sofia bukan satu-satunya yang merasa berjarak dari program-program literasi Pemkot Bandung. Salma Nur Fauziyah, pegiat Kembang Kata Book Club, salah satu komunitas literasi di Bandung, punya pengalaman serupa dari sisi yang berbeda. Ia menyebut komunitas-komunitas literasi di Bandung justru aktif secara mandiri.

Salma menuturkan, komunitasnya terakhir kali diundang berkolaborasi oleh pemerintah kota sekitar tahun 2025, itu pun secara mendadak, dan sejak itu tidak ada lagi ajakan apa pun. Ia bahkan mengaku baru tahu soal MACA. Menurutnya, itu menunjukkan program literasi pemerintah yang sebenarnya berpotensi baik justru kurang tersosialisasi.

Diketahui, pada 29–31 Juli lalu Pemkot Bandung melalui Kantor Disarpus Kota Bandung menggelar Festival Literasi Kota Bandung 2026. Dalam festival bertema “Membaca Bandung, Menulis Masa Depan” tersebut, Pemkot Bandung meluncurkan MACA, perpustakaan digital yang menjadi bagian dari visi Bandung Knowledge Hub. Program ini hadir di tengah dorongan penguatan literasi, salah satunya berdasarkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Bandung yang untuk pertama kalinya diukur langsung oleh Perpusnas RI dan selama ini banyak dikutip berada di angka rendah: 15,8.

Salma pun mengomentari nilai IPLM tersebut. Ia mempertanyakan apakah indeks ini mencerminkan kondisi riil di lapangan? Alasannya, pengukuran hanya melibatkan perpustakaan yang menjadi kewenangan pemerintah, sementara perpustakaan independen yang menurutnya justru lebih hidup di Bandung tidak masuk hitungan.

Ia menyebut beberapa contoh: Perpustakaan Bunga di Tembok, Room 19, Kineruku, hingga komunitas seperti Bandung Book Party dan Salman Reading Corner, yang menurutnya jauh lebih ramai dikunjungi dibanding perpustakaan kota atau daerah. Penyebab perpustakaan pelat merah sepi, menurut Salma, salah satunya karena jam operasional yang kaku, mengikuti jam kerja kantor, dan tutup di akhir pekan yang justru di saat banyak orang punya waktu luang untuk membaca.

"Kalau misalkan IPLM menyatakan minat literasi masyarakat turun, tapi kok di Bandung sendiri banyak perpustakaan yang buka, klub baca ada di mana-mana. Menurutku itu perlu dikaji ulang," katanya.

Soal peluncuran MACA, ia mengapresiasi. Tapi ia juga mempertanyakan apakah koleksinya benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat. Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa minat membaca buku fisik di Bandung sebenarnya masih tinggi, sesuatu yang menurutnya kerap luput dari radar kebijakan berbasis digital.

"Apakah MACA itu sudah menjawab kebutuhan mereka? Atau misalkan ternyata cuma buang-buang anggaran, koleksinya nggak bertambah, nggak sesuai kebutuhan masyarakat, ya buat apa dong?" katanya.

Ketika ditanya satu hal paling mendesak yang perlu dibenahi, jawabannya bukan soal aplikasi atau anggaran, melainkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: sistem dan budaya kerja perpustakaan itu sendiri. Ia mengusulkan jam operasional yang lebih fleksibel, ruang yang lebih ramah termasuk boleh membawa makanan dan minuman, serta koleksi yang terus diperbarui.

Ia berharap perpustakaan daerah mencontoh suasana di perpustakaan-perpustakaan independen yang menurutnya jauh lebih berhasil menarik orang muda datang dan betah berlama-lama.

Baca Juga: Zine Foto Tumpah Ru(m)ah: Di Mana Perempuan Merasa Pulang?
Di Balik Riuh Flower City Festival, Ada Mereka yang Terus Bekerja

Aplikasi perpustakaan digital MACA yang diluncurkan Pemkot Bandung, 29–31 Juli 2026. (Alya Chaerani/BandungBergerak)
Aplikasi perpustakaan digital MACA yang diluncurkan Pemkot Bandung, 29–31 Juli 2026. (Alya Chaerani/BandungBergerak)

MACA dan Indeks Literasi

MACA sendiri diluncurkan Pemkot Bandung sebagai perpustakaan digital yang menjadi bagian dari visi Bandung Knowledge Hub, dengan koleksi digital yang didukung APBD 2026. Namun, aksesnya masih sepenuhnya bergantung pada internet sehingga belum tentu menjawab kebutuhan warga yang memiliki keterbatasan akses digital.

Urgensi program ini antara lain dikaitkan dengan IPLM Kota Bandung. Angka yang beredar di publik sebesar 15,8, sementara data resmi Perpusnas untuk 2025 tercatat 15,23. Pengukuran terhadap 630 perpustakaan menunjukkan perlunya penguatan di hampir seluruh aspek, terutama koleksi, SDM, pelayanan, dan pengelolaan.

Meski tergolong rendah, angka Bandung masih di atas rata-rata nasional 10,27, tetapi tertinggal dari sejumlah kota seperti Yogyakarta, Semarang, dan terutama Surabaya. Di sisi lain, cakupan pengukuran memiliki keterbatasan karena tidak mencakup perpustakaan independen di luar kewenangan pemerintah.

Pertanyaannya, apakah indeks literasi Bandung memang buruk di semua aspek atau hanya di beberapa titik?

"Secara umum memang perlu penguatan di semua aspek," demikian penjelasan tertulis Intan Nurani, staf Bidang di Disarpus Kota Bandung. 

Dari sisi koleksi, MACA disebut memiliki 357 judul dan 1.800 eksemplar buku digital, hasil kerja sama dengan penerbit seperti Gramedia, Elex Media Komputindo, dan Penerbit Buku Kompas, yang mencakup berbagai bidang mulai dari karya umum, ilmu sosial, kesusastraan, hingga literatur Sunda.

Dari pengecekan langsung terhadap aplikasinya, MACA tidak bisa diakses secara offline, di mana pengguna wajib terhubung ke internet setiap kali membuka maupun membaca koleksinya. Proses pendaftaran tergolong sederhana, cukup dengan memasukkan akun Google atau alamat email, tanpa verifikasi berlapis. Dari sisi ukuran, aplikasi ini relatif ringan, berkisar 15 hingga 30 megabita.

Dengan demikian, baik MACA maupun IPLM menunjukkan adanya upaya memperkuat literasi, tetapi efektivitasnya masih perlu dilihat dari pemerataan akses, cakupan data, dan keterlibatan ekosistem literasi di luar pemerintah

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//