• Kolom
  • SUDUT LAIN BANDUNG: Kebudayaan, Sebuah Proyek yang Kebetulan Berbudaya

SUDUT LAIN BANDUNG: Kebudayaan, Sebuah Proyek yang Kebetulan Berbudaya

Bandung memiliki sejarah panjang sebagai ruang tumbuh musik, sastra, seni rupa, teater, desain, arsitektur, dan berbagai eksperimen kebudayaan.

Abah Omtris

Musisi balada Bandung

Ketika kota terus dibangun untuk melayani kekuasaan dan modal. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

22 Agustus 2026


BandungBergerak – Ada sesuatu yang terasa ganjil dalam cara kita membicarakan kebudayaan hari ini. Kosakata kebudayaan semakin banyak, program semakin beragam, kegiatan semakin ramai, dan hampir setiap persoalan dapat menemukan bentuknya dalam sebuah program. Kita mengenal festival, pameran, pertunjukan, lokakarya, diskusi, residensi, aktivasi ruang publik, pemberdayaan komunitas, hingga berbagai bentuk kolaborasi yang dibungkus dengan istilah-istilah baru yang terdengar progresif.

Semua itu tentu tidak salah. Bahkan sebagian memang diperlukan. Negara memiliki tanggung jawab dalam pemajuan kebudayaan, dan program merupakan salah satu cara untuk menjalankan tanggung jawab tersebut.

Tetapi justru karena semuanya terdengar baik, barangkali kita perlu berhenti sejenak dan mengajukan pertanyaan yang sedikit tidak nyaman: apakah semakin banyak program kebudayaan berarti semakin tumbuh kehidupan kebudayaan?

Pertanyaan itu penting karena kita sering kali terjebak menyamakan kebudayaan dengan kegiatan kebudayaan. Seolah-olah ketika sebuah pertunjukan telah di gelar, sebuah festival telah berlangsung, atau sebuah lokakarya telah diselenggarakan, maka kebudayaan dengan sendirinya telah bergerak.

Padahal kebudayaan jauh lebih panjang daripada sebuah kegiatan.

Kebudayaan adalah cara manusia memberi makna kepada kehidupannya. Ia hadir dalam bahasa, ingatan, pengetahuan, kesenian, kebiasaan, cara memperlakukan sesama, cara memperlakukan alam, cara menjaga ruang bersama, dan cara sebuah masyarakat menentukan apa yang dianggap bernilai. Karena itu, kebudayaan bukan sekadar apa yang kita pertontonkan kepada orang lain. Ia terutama adalah apa yang kita hidupi ketika tidak ada panggung.

Baca Juga: SUDUT LAIN BANDUNG: Ketika Gerakan Balada di Bandung Mencari Ruang
SUDUT LAIN BANDUNG: ManjingManjang, Ketika Perjumpaan Musisi Balada Menjadi Gerakan
SUDUT LAIN BANDUNG: Di manakah Makna Kemerdekaan?

Kemerosotan Kebudayaan

Di dalam pengertian itu terdapat dimensi yang sering luput dari pembicaraan tentang program seni budaya: dimensi spiritual.

Spiritualitas tidak harus dipahami secara sempit sebagai praktik keagamaan. Ia dapat dipahami sebagai daya batin manusia untuk mencari makna, mengenali batas dirinya, menghargai kehidupan, merasakan keterhubungan dengan sesama dan alam, serta mempertanyakan untuk apa semua yang dilakukan dalam kehidupan bersama. Kebudayaan yang hidup seharusnya memiliki kemampuan untuk membentuk daya batin semacam itu.

Karena itu, kemerosotan kebudayaan sebenarnya dapat menjadi salah satu indikasi menurunnya daya spiritual sebuah masyarakat. Bukan berarti masyarakat yang mengalami kemerosotan budaya otomatis kehilangan kehidupan beragamanya, melainkan bahwa kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan bersama mulai melemah. Manusia semakin mudah melihat segala sesuatu dari manfaat dirinya sendiri, sementara hubungan dengan sesama, lingkungan, dan ruang hidup bersama semakin kehilangan makna.

Kita sebenarnya dapat melihat gejala itu tanpa perlu membaca laporan kebudayaan yang tebal-tebal.

Lihat saja persoalan sampah.

Sebuah kota dapat menyelenggarakan festival kebudayaan dengan panggung yang megah, menghadirkan seniman, mengundang komunitas, mengangkat tema kearifan lokal, bahkan berbicara tentang keberlanjutan. Tetapi di luar ruang festival, sungai masih dipenuhi sampah dan ruang publik masih diperlakukan seperti tempat yang boleh ditinggalkan begitu saja setelah digunakan.

Atau lihat jalan raya. Persoalan disiplin berlalu lintas sering diperlakukan semata-mata sebagai persoalan penegakan aturan. Padahal di dalamnya terdapat persoalan kebudayaan yang sangat mendasar: bagaimana seseorang memahami keberadaan orang lain. Mengantre, memberi jalan, berhenti ketika lampu merah, tidak menggunakan trotoar sesuka hati, atau tidak menyerobot hak pengguna jalan lain sesungguhnya merupakan bentuk-bentuk sederhana dari kesadaran bahwa kita hidup bersama.

Maka kebudayaan barangkali justru lebih jujur terlihat di jalan raya daripada di atas panggung.

Ia terlihat di tempat sampah, di antrean, di trotoar, di taman, di ruang publik, dan dalam cara kita memperlakukan orang yang tidak memiliki kekuasaan.

Kita bisa berbicara panjang tentang kearifan lokal, tetapi jika kita masih membuang sampah sembarangan, merusak fasilitas umum, menyerobot jalan orang lain, atau menganggap aturan hanya berlaku bagi mereka yang tidak memiliki kuasa, maka ada sesuatu yang patut kita pertanyakan dari kebudayaan yang kita banggakan.

Hal yang sama dapat dilihat dari cara kita memperlakukan pohon. Sebatang pohon yang telah tumbuh puluhan tahun dapat ditebang dalam hitungan menit ketika berhadapan dengan kepentingan pembangunan. Tentu tidak setiap penebangan pohon merupakan kesalahan. Ada kebutuhan pembangunan yang memang harus dipertimbangkan. Tetapi persoalannya terletak pada cara kita memandang kehidupan di luar diri manusia.

Apakah pohon hanya benda yang kebetulan tumbuh di tempat yang kita perlukan untuk pembangunan? Ataukah ia bagian dari ekosistem, lanskap, ingatan sebuah tempat, habitat makhluk lain, dan warisan yang kita terima dari generasi sebelumnya?

Masyarakat yang berbudaya bukan hanya masyarakat yang mampu menciptakan karya seni. Ia juga masyarakat yang mampu menghargai sesuatu yang manfaatnya tidak segera kembali kepada dirinya sendiri. Pohon yang ditanam hari ini mungkin tidak akan dinikmati oleh orang yang menanamnya. Menjaga pohon yang sudah tumbuh puluhan tahun bahkan mungkin tidak memberikan keuntungan langsung kepada siapa pun yang mempertahankannya.

Tetapi justru di situlah terdapat kedewasaan kebudayaan: kesediaan merawat sesuatu yang manfaatnya mungkin baru akan dirasakan oleh orang lain di masa depan.

Karena itu, persoalan lingkungan sesungguhnya juga merupakan persoalan kebudayaan. Ketika sungai hanya dipandang sebagai saluran pembuangan, pohon sebagai penghalang proyek, ruang publik sebagai lahan yang dapat dikomersialkan, dan tanah semata-mata sebagai komoditas, kita tidak hanya sedang menghadapi persoalan ekologis atau ekonomi. Kita sedang melihat perubahan cara manusia memandang kehidupan.

Lalu di mana seharusnya seni dan budaya berada di tengah persoalan semacam itu?

Di sinilah program pengembangan seni dan budaya seharusnya diuji. Seni tidak harus menyelesaikan persoalan sampah, menggantikan pekerjaan pemerintah, atau menghentikan pembangunan. Tetapi seni dan kebudayaan seharusnya mampu masuk ke wilayah yang sering tidak tersentuh oleh pendekatan teknis: mengubah cara manusia melihat persoalan.

Sebuah karya tentang sungai, misalnya, semestinya tidak berhenti pada sungai sebagai objek estetika. Ia dapat mengembalikan kesadaran bahwa sungai adalah bagian dari kehidupan. Karya tentang pohon dapat membawa manusia melihat pohon bukan sekadar sebagai objek visual, melainkan sebagai bagian dari waktu, alam, dan kehidupan yang saling terhubung. Sastra dapat membuat seseorang melihat penderitaan orang lain bukan sebagai statistik. Musik dapat membuat pengalaman sosial yang selama ini dianggap biasa menjadi sesuatu yang terasa dan direnungkan.

Seni tidak selalu memberikan jawaban. Tetapi ia dapat membuat manusia mengajukan pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Dan mungkin di situlah kekuatan kebudayaan.

Sayangnya, seni dan budaya terlalu sering direduksi menjadi kegiatan kesenian. Ada pertunjukan, maka kebudayaan dianggap bergerak. Ada festival, maka ekosistem dianggap tumbuh. Ada workshop, maka kapasitas dianggap meningkat. Ada dokumentasi, maka kegiatan dianggap berhasil.

Ukuran administratif memang diperlukan. Pemerintah membutuhkan laporan, evaluasi, dan pertanggungjawaban. Tanpa itu, program akan sulit dipertanggungjawabkan kepada publik.

Tetapi persoalannya muncul ketika ukuran administratif menjadi ukuran utama kehidupan kebudayaan.

Sebuah program selesai ketika laporan diserahkan. Dokumentasi tersimpan. Arsip bertambah. Anggaran dipertanggungjawabkan.

Lalu apa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat?

Apakah ada perubahan perilaku? Apakah ada kesadaran baru? Apakah ada pengetahuan yang diwariskan? Apakah komunitas menjadi lebih mandiri? Apakah masyarakat menjadi lebih kritis? Apakah hubungan manusia dengan alam menjadi lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jauh lebih sulit dimasukkan ke dalam tabel.

Mungkin karena itu pula ia sering kalah penting dibanding jumlah peserta, jumlah kegiatan, jumlah seniman yang terlibat, jumlah publikasi, atau jumlah anggaran yang terserap.

Padahal laporan hanya membuktikan bahwa sebuah kegiatan telah berlangsung. Ia tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kebudayaan telah bergerak.

Jika sebuah program kebudayaan hanya menghasilkan laporan, dokumentasi, dan arsip, sementara tidak ada implikasi yang dapat dirasakan dalam kehidupan masyarakat, mungkin kita membutuhkan sebuah istilah yang lebih sederhana daripada bahasa proposal: omon-omon kebudayaan.

Bukan karena kegiatannya tidak pernah terjadi. Panggung benar-benar berdiri. Seniman benar-benar tampil. Peserta benar-benar datang. Foto benar-benar diambil. Laporan benar-benar disusun.

Yang patut dipertanyakan adalah apa yang tersisa setelah semuanya selesai.

Kita mungkin sedang menghadapi keadaan ketika bahasa kebudayaan jauh lebih maju daripada kenyataan kebudayaan. Kita fasih berbicara tentang kearifan lokal, tetapi tidak selalu arif dalam memperlakukan alam. Kita sering berbicara tentang ruang publik, tetapi belum tentu mampu menghormati ruang yang digunakan bersama. Kita menyelenggarakan program tentang lingkungan, sementara perilaku terhadap lingkungan tidak banyak berubah.

Barangkali inilah bentuk kebudayaan yang paling ganjil: kegiatan tentang nilai semakin banyak, tetapi nilai itu sendiri semakin sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Theodor Adorno pernah mengingatkan tentang bahaya ketika kebudayaan terlalu jauh masuk ke dalam logika produksi dan konsumsi. Kita tentu tidak sedang menyamakan seluruh program kebudayaan hari ini dengan industri budaya yang dikritiknya. Namun ada sesuatu yang patut direnungkan: ketika kebudayaan terus-menerus harus hadir dalam format program, memiliki tema, target, indikator, jadwal, dan laporan, bukankah ada kemungkinan kita akhirnya lebih terampil mengemas kebudayaan daripada menghayatinya?

Kita mungkin tidak memproduksi karya yang sama, tetapi kita dapat memproduksi cara yang sama untuk mengemas kebudayaan. Berbagai persoalan masyarakat kemudian dengan mudah diterjemahkan menjadi kegiatan: persoalan lingkungan menjadi festival, persoalan literasi menjadi lokakarya, persoalan ruang publik menjadi aktivasi, persoalan tradisi menjadi pertunjukan, sementara kegelisahan generasi muda diterjemahkan menjadi program kreatif. Semuanya tampak masuk akal dan bahkan terdengar progresif. Namun pertanyaan yang lebih mendasar justru sering terlewat: apakah setiap persoalan kebudayaan memang membutuhkan sebuah kegiatan, atau sebagian justru membutuhkan perubahan cara kita memahami dan menjalani kehidupan?

Sejarah Panjang Bandung

Bandung mempunyai alasan khusus untuk mengajukan pertanyaan itu. Kota ini memiliki sejarah panjang sebagai ruang tumbuh musik, sastra, seni rupa, teater, desain, arsitektur, dan berbagai eksperimen kebudayaan. Banyak di antaranya tidak lahir dari program yang telah dirancang sebelumnya. Ia tumbuh dari komunitas, pertemanan, perdebatan, ruang-ruang kecil, dan terutama kegelisahan.

Ada manusia yang merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan zamannya, lalu memilih untuk mengatakan sesuatu melalui karya. Dari sanalah kebudayaan sering menemukan bentuk baru.

Karena itu, agak ironis jika kehidupan kebudayaan suatu kota hari ini semakin mudah dikenali dari kalender kegiatan, tetapi semakin sulit menemukan ruang bagi kegelisahan yang tidak memiliki proposal.

Kegelisahan kebudayaan tidak selalu datang dengan timeline, indikator keberhasilan, target peserta, dan matriks kegiatan. Kadang ia lahir dari sebuah lagu yang ditulis seseorang di kamar. Dari puisi yang tidak pernah masuk festival. Dari percakapan beberapa orang di sebuah warung. Dari komunitas kecil yang bertahan tanpa menunggu proyek.

Justru sesuatu yang kelak menjadi penting dalam sejarah kebudayaan sering kali pada awalnya tidak terlihat sebagai program apa pun.

Mungkin karena itu kita perlu kembali membedakan antara kebudayaan sebagai kehidupan dan kegiatan kebudayaan sebagai salah satu instrumennya.

Program seharusnya bekerja untuk kebudayaan, bukan kebudayaan yang dipaksa menyesuaikan diri dengan kebutuhan program.

Festival boleh ada. Workshop boleh ada. Pameran boleh ada. Aktivasi ruang publik tentu juga penting. Tetapi semuanya hanyalah alat. Ia baru memiliki arti ketika mampu meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada durasi kegiatan itu sendiri.

Sebab kebudayaan yang hidup tidak selalu tampak dalam kemeriahan.

Ia mungkin justru tampak ketika seseorang mulai membuang sampah pada tempatnya karena ia merasa memiliki ruang hidup bersama. Ketika seseorang menahan diri untuk tidak merusak pohon karena memahami bahwa kehidupan tidak hanya berhenti pada kepentingan dirinya. Ketika seseorang bersedia mengantre karena menyadari bahwa orang lain memiliki hak yang sama. Ketika seorang anak menemukan kebanggaan terhadap bahasa dan sejarahnya. Ketika sebuah komunitas menjadi lebih mandiri setelah sebuah program selesai.

Di situlah kebudayaan mulai bekerja.

Bukan sekadar menghasilkan tontonan, tetapi mengubah cara manusia memandang kehidupan.

Bukan hanya membuat manusia sibuk berkegiatan, tetapi membuatnya lebih sadar mengapa ia melakukan sesuatu.

Bukan hanya merawat bentuk-bentuk lama, tetapi menjaga nilai yang membuat bentuk itu masih memiliki makna.

Sebab kebudayaan yang kehilangan dimensi spiritualnya mungkin masih dapat menghasilkan banyak pertunjukan. Ia masih dapat memenuhi kalender kegiatan. Ia bahkan dapat memiliki dokumentasi yang sangat indah.

Tetapi ia perlahan kehilangan kemampuannya untuk mengubah manusia.

Dan mungkin inilah pertanyaan yang paling perlu kita ajukan kepada diri sendiri: apakah kita sedang mengalami kemajuan kebudayaan, atau hanya kemajuan dalam membuat program tentang kebudayaan?

Jika yang kedua yang terjadi, barangkali kita memang perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menghentikan program kebudayaan.  Melainkan untuk mengembalikan kebudayaan kepada tempatnya semula: kepada kehidupan.

Dan ketika kebudayaan kembali kepada kehidupan, ukuran keberhasilannya pun menjadi sederhana sekaligus berat: apakah manusia yang disentuh oleh kebudayaan menjadi sedikit lebih manusiawi?

Sebab pada akhirnya, kebudayaan yang benar-benar hidup tidak hanya membuat kita mampu menciptakan karya.

Ia membuat kita mampu menghargai kehidupan.

Dan jika itu mulai hilang, mungkin yang sedang merosot bukan sekadar kualitas kebudayaan. Mungkin daya spiritual masyarakat kita yang sedang menipis.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//