• Opini
  • PELAJAR BERSUARA: Barangkali Ada Sesendok Mimpi di Negeri ini

PELAJAR BERSUARA: Barangkali Ada Sesendok Mimpi di Negeri ini

Mimpi kami yang berjuta-juta tak terhitung itu tumbuh lebih cepat dan berjejal dibandingkan kesempatan.

Pricilla Sandra

Pelajar SMA Bina Dharma 2 Bandung

Menghargai pilihan menjadi berbeda. (Ilustrasi: Bawana Helga Firmansyah/BandungBergerak)

26 Agustus 2026


BandungBergerakUntuk mereka yang / tak sempat merajut mimpi /di Negeri yang terkutuk ini.

Ada satu hal yang busuk di negeri ini, di Ibu Pertiwi yang kita agung-agungkan. Sesuatu itu bukan bangkai hewan tergeletak di tengah jalan sebab tergiling motor saat akan melintas, melainkan mimpi yang terpaksa dikuliti: minimnya kesempatan tuk memperjuangkan mimpi sebagai senimandengan keji oleh mereka digadang sebagai pemupuk negeri ini. Minimnya lapangan kerja. Akses pendidikan dan kesehatan yang mahal. Pinggir jalanan menjadi luluh lantah penuh dengan sisa-sisa kulit mimpi dan dilumuri getihpedih merintih seperti kelaparan berulang di Papua. Kita semua diperkosa oleh kebijakan negeri yang mencekik. Kami diperintah untuk selalu menerima apa yang mereka tentukan.

Kami sudah didoktrin untuk mencintai negeri ini sedari kecil, bahkan sedari kami berusia pas untuk memasuki jenjang SD. Mereka meminta kita hormat ke arah tiang bendera dengan panas matahari yang terik menusuk mata juga membakar ubun-ubun kepala–selama 12 tahun, 3 jenjang sekolah, setiap Senin. Dan mendengarkan pidato Kepala Sekolah yang bertubi-tubi. Pidato selalu dibawakan mengenai mimpi, mimpi, mimpi, dan mimpi. Mimpilah setinggi-tingginya! Katanya.

Lantas bagaimana jika mimpi kami terpaksa kami kubur dalam-dalam agar tak tercium baunya? Lalu dengan naas mereka injak-injak seperti menginjak puntung rokok kretek berharga selangit juga sepatu kulit disemir klimis–dipastikan lalat juga enggan singgah. Dan selebihnya mereka tertawa puas setelah mengolok-olok mimpi kami yang dianggap murahan. Para penguasa yang duduk di podium kekuasaan menuntut kami bermimpi–lagi dan lagi, kami melakukannya, kami memungut asa di bangku meja kayu berisi “vandalisme” para siswa-siswi–menunggu jam pelajaran membosankan habis dengan tangan kiri menopang kepala.

Baca Juga: PELAJAR BERSUARA: Apa Kabar Transisi Demokrasi Indonesia?
PELAJAR BERSUARA: Tentang Pedal yang Menolak Tepi
PELAJAR BERSUARA: PSEL, Jalan Pintas yang Tidak Pendek

Kami sisipkan sebagian di rapor setiap semester dan sebagian kami sisipkan pada kantung yang kami bawa setiap hari hingga umur kami merentan. Lembar-lembar itu pada akhirnya juga akan membusuk menguning di tas atau berakhir di rongsok sampah dan dijadikan bungkus gorengan. Kami diajari percaya bahwa setiap yang berusaha dengan langkahnya akan mendapat ganjaran setimpal di senja nanti, bahkan itu sudah tertanam sejak dalam kandungan Ibu, saat Ayah bicara dekat perut. Jadilah anak giat yang berbakti untuk orang tua, bangsa dan negara.

Sayangnya, mimpi kami yang berjuta-juta tak terhitung itu tumbuh lebih cepat dan berjejal dibandingkan kesempatan. Terlalu banyak janji palsu yang dilemparkan di atas podium–di balik mic, kemudian dibiarkan terbengkalai mangkrak–IKN, sebelum sempat kami para pemimpi murahan genggam. Limpahan lapangan pekerjaan yang dijanjikan saat kampanye hanya berubah menjadi antrean panjang orang-orang menggunakan baju putih dan celana bahan hitam sambil menenteng map coklat dengan wajah frustasi, berangan-angan bila sampai kapan kami akan begini?

Barangkali ada secercah harapan bagi mimpi kami di negeri ini, karena agaknya yang berkuasa lebih sibuk mengisi perut anak-anak di siang hari–itu pun hanya sekali, daripada membenahi atap demokrasi dan jalanan bagi para unggul bangsa. Mereka juga lebih sibuk membuang-buang anggaran kemudian dijadikan hal-hal tak berguna: Anggaran buku, pendidikan, dan kesehatan dipotong. Mereka ini ingin sekali kami bodoh, ya? Barangkali yang dibangun bukan mimpi kami di negeri ini melainkan pijakan mereka yang akan terus meninggi yang sedari mula tak pernah kekurangan tempat berdiri. Barangkali ada sesendok mimpi di negeri ini bagi kami.

Jadi, lebih baik kami kubur dan kuliti mimpi kami masing-masing saja sebelum mereka yang menguliti kami, lebih baik kami mati. Sebab kami tak pernah benar-benar bisa memilih mempertahankan mimpi atau mempertahankan hidup kami di sini. Kecemasan akan terus menghantui kami siang dan malam. Kami hanya akan berkabung sepanjang hidup kami sebagaimana Kamisan berlangsung. Mereka hanya akan mewariskan banyak kursi-kursi, kekayaan, kekuasaan. Tapi hanya satu yang tak akan pernah bisa mereka wariskan. Kemanusiaan.

“Di luar negeri, sastrawan (seniman) mati bunuh diri, di Indonesia tidak perlu wong sudah dibunuh negara sendiri.” Soesilo Toer

Panjang umur Indonesia, Panjang umur keadilan.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//