• Berita
  • Museum Mini Suyadi di Jalan Sawunggaling: Menghidupkan Kembali Pak Raden

Museum Mini Suyadi di Jalan Sawunggaling: Menghidupkan Kembali Pak Raden

Karya Suyadi, pemeran karakter Pak Raden dalam serial Si Unyil, dipamerkan di Museum Mini, Jalan Sawunggaling, Bandung, sampai 30 Agustus 2026.

Pameran bertajuk Museum Mini Suyadi di Jalan Sawunggaling, Bandung, 21–30 Agustus 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang27 Agustus 2026


BandungBergerakDi teras Hotel Butik Sawunggaling, Jalan Sawunggaling Nomor 13, Bandung, sebuah taman literasi menampilkan kutipan-kutipan dari cerita anak karya Suyadi. Dari sana, pengunjung masuk ke sebuah ruang yang ditata menyerupai rumah dan merekam perjalanan hidup sang seniman yang dikenal sebagai pemeran karakter Pak Raden dalam serial Si Unyil.

Sebuah televisi tabung menayangkan episode Si Unyil dari era 1980-an. Visual khas tayangan lama itu segera membawa pengunjung pada kenangan masa kanak-kanak yang sederhana dan hangat.

Perjalanan pengunjung berlanjut ke museum mini yang memajang karya-karya orisinal Suyadi. Ilustrasi, lukisan, hingga wayang boneka Si Unyil, dan tokoh-tokoh lainnya tersaji dalam ruang pamer. Pengalaman tersebut dikemas secara interaktif melalui kolaborasi dengan Ourchetype.

Pameran bertajuk “Museum Mini Suyadi” ini digelar oleh Yayasan Cita Cerita Anak (TaCita) selama 10 hari, 21–30 Agustus 2026. Sejak awal memasuki ruang pamer, pengunjung dapat mengikuti kuis interaktif melalui gawai untuk mengenal lebih jauh sosok Pak Raden.

Identitas Pak Raden turut dihadirkan melalui atribut yang lekat dengan dirinya: kumis tebal, beskap hitam, kain batik cokelat, dan blangkon. Bagi generasi yang tumbuh bersama Si Unyil, sosok tersebut bukan sekadar karakter, melainkan bagian dari kenangan masa kecil.

Melalui pameran ini, TaCita tidak hanya memajang karya Suyadi, seniman pencipta Si Unyil. Pengunjung juga diajak mengikuti perjalanan hidup dan karya Suyadi yang menjadikan cerita anak sebagai bagian penting dari kebudayaan populer Indonesia.

Salah satu pengunjung, Zabir, 22 tahun, merasa masuk mesin waktu selama mengunjungi pameran ini. Ia mengingat masa kanak-kanaknya ditemani dengan Si Unyil saat siang hari sehabis pulang sekolah. Baik acara televisi Kuas Ajaib maupun Laptop Si Unyil.

Menurutnya, acara itu sangat menghibur. Bahkan ia mengingat jelas Pak Raden, seorang kakek dengan dialeknya yang khas. 

"Suka pakai kumisnya gede sama blangkon juga. Menggambarkan juga ya merupakan seniman, terutama waktu sempat tampil di acara Kuas Ajaib," ceritanya.

Kenangan Pak Raden yang dialami Zabir menjadi salah satu potret yang ingin ditampilkan di pameran ini. Ketua Pelaksana pameran sekaligus Dosen FSRD ITB Riama Maslan Sihombing menjelaskan, pameran ini menjadi upaya menjaga warisan cerita anak dari seluruh Indonesia.

Dengan kerja-kerja pengarsipan di Museum Mini Suyadi, karya Pak Raden kini dikenang kembali. Bukan hanya sebagai seniman, tapi juga sebagai pendongeng, pencerita, penulis, ilustrator, animator, pendidik, sekaligus dalang.

Terdapat 10 koleksi boneka karakter dari serial Si Unyil, sketsa, dan empat lukisan yang dipinjamkan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Ada pula ilustrasi, arsip dokumentasi, bahkan buku-buku karyanya yang diterbitkan dan diarsipkan oleh Penerbit Djambatan. Koleksi ini menjadi kesempatan baru untuk melihat langsung bagian dari warisan dunia kreatif Suyadi yang selama ini dikenal masyarakat melalui layar televisi dan buku.

"Karena itu Museum Mini Suyadi kami rancang bukan sebagai hanya ruang pamer, tetapi sebagai ruang yang hidup," jelas Riama.

Suyadi sendiri memiliki keterikatan dengan Bandung dan Sawunggaling. Ia pernah mengenyam pendidikan Seni Rupa ITB angkatan 1952. Di masa mudanya, ia pernah tinggal di Asrama Sawunggaling yang kini menjadi Hotel Butik Sawunggaling. Pada tahun 1950-an, setiap hari Minggu di teras atas asramanya itulah, Suyadi sering mendalang. Dengan artikulasi khas pendalangnya, banyak orang yang melintasi Jalan Tamansari ini kerap berhenti dan mendengarkan pementasan kecilnya.

"Hari ini setelah lebih dari tujuh dekade, Pak Suyadi seperti kembali ke Sawunggaling melalui cerita, karya, boneka, dan ingatan yang ditinggalkannya," tambahnya. 

Namun, Pak Raden bukan saja dikenal lewat serial kartun Si Unyil. Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ITB, Banung Grahita mengatakan generasinya banyak mengenal Pak Raden sebagai sosok kreatif di balik Si Unyil. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa Suyadi juga menjadi pendidik di ITB dan pelopor dunia animasi di Indoensia.  

Banung menambahkan, kekuatan Suyadi bukan hanya kemampuan visualnya, tapi juga pengalamannya sebagai pendalang. Ia memiliki artikulasi jelas saat tampil, kemampuan membuat dan mengembangkan cerita dengan menarik. Menurutnya, pendekatan naratif tesebut sekarang sulit ditemukan, karena mahasiswa seni rupa cenderung lebih monodisiplin di karya visual.

Terlebih, semakin banyak otomatisasi teknologi yang kini mulai merambat ke dunia seni, ia pun mengatakan, semakin penting memiliki karya orisinal yang otentik. Dan karya Pak Suyadi dapat menjadi referensi komprehensif dalam mentransfer ilmu bercerita dengan karya seni. 

"Ilmu bercerita dari Pak Raden butuh ditransfer, butuh diajarkan kepada anak-anak kita, kepada mahasiswa-mahasiswa kita dan tentunya butuh sebuah wahana untuk membawakan itu semua," ungkap Banung.

Baca Juga: Pameran Tunggal Tercerabut, Menghidupkan yang Telah Pergi
Pameran Menyoal Ruang, Identitas, dan Ekspresi di Pasar Antik Cikapundung

Pameran bertajuk Museum Mini Suyadi di Jalan Sawunggaling, Bandung, 21–30 Agustus 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)
Pameran bertajuk Museum Mini Suyadi di Jalan Sawunggaling, Bandung, 21–30 Agustus 2026. (Foto: Retna Gemilang/BandungBergerak)

Suyadi Sebelum Pak Raden

Di balik sosok Pak Raden yang dikenal lewat layar televisi, ada Suyadi kecil yang lebih dulu akrab dengan kertas dan pensil. Ia merupakan anak kelima dari delapan bersaudara. Suyadi lahir di Jember, 28 November 1932 dari pasangan Sabekti Wirjokoesoemo dan Koen Sadijah yang berdarah ningrat.

Meskipun berasal dari keluarga terpandang, tapi kehidupan yang dipilihnya sederhana. Sejak kecil ia gemar menggambar dan membawanya pada pilihan yang tidak biasa pada masanya.

Setelah menyelesaikan SMA, Suyadi meminta izin kepada ibunya untuk melanjutkan kuliah seni rupa di Institut Teknologi Bandung (1952-1960). Kemudian lanjut belajar animasi di Prancis (1961-1963) melalui beasiswa.

Perjalanan ke Paris ternyata tidak sepenuhnya mudah. Beasiswa yang diterima Suyadi hanya berlangsung selama tiga tahun, sementara pendidikannya butuh waktu tempuh empat tahun. Alih-alih pulang, ia memilih bertahan untuk menyelesaikan tahun terakhir pendidikannya. Banyak teman yang membantu. Sementara Suyadi bekerja dengan mendalang, bahkan dengan bahasa Prancis.

Sepulangnya dari Prancis, Suyadi menjadi dosen pertama yang membuka kuliah animasi di Indonesia.

Namun di balik sosok Pak Raden atau Suyadi, Ilona Juwita, perwakilan keluarga Suyadi, lebih mengenalnya sebagai Eyang Guk, sebuah panggilan sayang dari para kakak Suyadi yang kemudian diturunkan ke para cucunya. Ilona sendiri merupakan cucu dari kakak ketiga Suyadi, yakni Siswati.

Ia mengenang Eyang Guk dengan penampilan khas Pak Raden. Di setiap acara keluarga, eyangnya tak pernah absen untuk mendalang kisah Si Unyil. Ilona mengenalnya sebagai sosok seniman serba bisa yang hidup sederhana.

"Saya kenalnya bukan sebagai kakek yang kita tinggal bareng, tapi kakek yang suka cerita, kakek pendongeng, pintar gambar. Jadi kita punya kebanggaan sendiri," kenangnya.

Setelah tak lagi aktif menjadi pendalang, Suyadi lebih banyak menghabiskan waktu di rumah kecil di Jalan Petamburan, Jakarta Pusat. Ia hidup sendiri bersama kucing-kucingnya. Tak ayal, rumahnya pun kerap menjadi ruang panggung kecil bagi siapa pun yang datang.

Ilona bercerita, dua bulan sebelum wafatnya Suyadi, ia bersama keluarganya sempat datang menengok. Mereka bantu membersihkan rumah dan para kucingnya. Namun, tak ada yang tahu, agenda bersih-bersih itulah menjadi perjumpaan terakhir Ilona dengan Eyang Guk. 

Suyadi wafat pada tanggal 30 Oktober 2015 di usia 82 tahun. Tepat pada hari lahirnya 28 November, ditetapkan sebagai Hari Dongeng Nasional. Sebuah penghormatan kepada Suyadi sebagi bapak pelopor animasi Indonesia.

Baca Juga: Pameran Tunggal Tercerabut, Menghidupkan yang Telah Pergi
Pameran Menyoal Ruang, Identitas, dan Ekspresi di Pasar Antik Cikapundung

Berangkat dari Pameran Suyadi 2023

Pameran ini adalah pameran Suyadi yang kedua dilaksanakan. Sebelumnya, pameran arsip "Suyadi: Kucing, Peci, dan Pak Raden" dilaksanakan di Galeri Soemardja ITB, 3-9 November 2023 lalu. Pameran tersebut menghadirkan arsip-arsip dan buku karya Suyadi. Tujuannya ialah mengenalkan sosok alumni ITB sekaligus seniman Indonesia yang jarang generasi saat ini mengenalnya.

"Sebenarnya (pamerannya) mirip, cuma waktu itu kita lebih menguatkan arsip-arsip. Kalau yang kali ini kan pamerannya lebih interaktif ya," ungkap Evelyn Ghozali, Penanggung Jawab Pameran sekaligus Ketua Yayasan TaCita. 

Kembali pada Museum Mini Suyadi, Evelyn mengatakan ada cita-cita yang lebih panjang sesuai dengan namanya: membangun sebuah museum permanen yang dapat merawat karya, arsip, dan warisan cerita untuk anak Indonesia, termasuk karya Suyadi. 

"Museum Mini Suyadi adalah langkah kecil menuju cita-cita yang lebih besar," ujarnya,"Bukan hanya sebagai tempat penyimpanan koleksi, tetapi sebagai ruang belajar dan ruang perjumpaan antargenerasi."

Ia menyampaikan bahwa generasi sekarang perlu merawat ingatan atas karya sastra anak yang pernah dikenang sejak masa kanak-kanak. Menurutnya, banyak karya sastra anak tidak bertahan lintas generasi karena minim pewarisan. Karena itu, karya-karya tersebut perlu terus dibicarakan, dijaga, dipelajari, dan dipertemukan antargenerasi agar tetap hidup dalam ingatan dan kebudayaan.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//