• Literasi
  • ULAS FILM: Adolescence, Hannah Arendt, dan Monster yang Tak Harus Selalu Bertanduk

ULAS FILM: Adolescence, Hannah Arendt, dan Monster yang Tak Harus Selalu Bertanduk

Serial Netflix “Adolescence” menunjukkan dengan gamblang bahwa kekerasan tidak muncul dari ruang kosong dan kejahatan tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan.

Tangkapan layar cuplikan serial Adolescence. (Foto Sumber: netflix.com)

Penulis Shafa Khoirunnisa Fajri28 Agustus 2026


BandungBergerak – Setelah menonton serial Netflix “Adolescence”, yang justru terus mengganggu pikiran saya adalah Jamie. Bukan karena ia digambarkan sebagai anak yang menyeramkan. Justru sebaliknya. Jamie adalah anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang, kalau dilihat sekilas, tidak tampak jauh berbeda dari anak-anak seusianya. Ia punya keluarga, pergi ke sekolah, berinteraksi dengan teman, dan menjalani kehidupan yang semestinya biasa saja. Lalu bagaimana anak yang tampak biasa itu bisa melakukan sesuatu yang begitu mengerikan?

Pertanyaan itu membuat saya sadar bahwa mungkin kita terlalu menyukai cerita yang sederhana. Ada pelaku, ada korban, lalu ada alasan yang bisa kita tunjuk dengan jari sambil berkata, “Nah, ini sumber masalahnya.”

Sayangnya, hidup tidak sesederhana itu. Dan Adolescence tampaknya sengaja membuat kita tidak nyaman dengan kenyataan tersebut.

Di sinilah saya teringat Hannah Arendt.

Tenang, ini bukan tulisan yang akan menjelaskan filsafat politik sampai pembaca merasa sedang mengikuti kelas pengganti dosen yang tidak masuk. Saya juga awalnya tidak berniat memikirkan Arendt ketika menonton serial ini. Namun, gagasannya tentang banality of evil tiba-tiba terasa relevan.

Baca Juga: ULAS FILM: Menilik Fenomena Akar Rumput di Pantura dalam Film Pangku
ULAS FILM: Menerka Karakter Dinamis Tante Yuli dalam Film Tunggu Aku Sukses Nanti
ULAS FILM: Membedah Entitas Hantu dalam Film Ghost in The Cell (2026) Melalui Perspektif Foucoult dan Lacan

Banality of Evil

Arendt memperkenalkan istilah tersebut ketika mengamati persidangan Adolf Eichmann, salah satu pejabat Nazi yang terlibat dalam deportasi orang-orang Yahudi selama Holocaust. Arendt menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut: Eichmann tidak tampak seperti monster sebagaimana yang mungkin dibayangkan orang.

Ia justru tampak seperti orang biasa yang sibuk menjalankan pekerjaannya.

Dari sini Arendt melihat bahwa kejahatan tidak selalu dilakukan oleh orang yang secara lahiriah tampak jahat. Kejahatan juga dapat terjadi ketika seseorang berhenti berpikir secara kritis mengenai apa yang sedang ia lakukan. Ketika perintah, kebiasaan, lingkungan, atau sistem sudah dianggap cukup sebagai alasan, seseorang dapat melakukan sesuatu yang mengerikan tanpa merasa perlu bertanya, “Sebentar, ini sebenarnya benar atau tidak?”

Kalau begitu, apakah Jamie adalah contoh banality of evil?

Tentu tidak sesederhana itu.

Menyamakan seorang anak tiga belas tahun dengan pejabat Nazi tentu saja merupakan perbandingan yang ngawur. Konteksnya berbeda jauh. Gagasan Arendt juga tidak dibuat untuk menjelaskan perilaku kriminal anak atau perkembangan psikologis remaja.

Namun, ada satu pertanyaan dari pemikiran Arendt yang menarik untuk dibawa ke Adolescence: bagaimana sesuatu yang salah bisa perlahan kehilangan rasa salahnya?

Serial ini menunjukkan bahwa kekerasan tidak muncul dari ruang kosong. Ada tekanan sosial, pencarian pengakuan, persoalan identitas, perundungan, budaya maskulinitas, dan pengaruh ruang digital yang saling bertemu dalam kehidupan Jamie.

Masalahnya, hal-hal tersebut sering kali tidak terlihat seperti sesuatu yang berbahaya ketika muncul satu per satu.

Mengejek teman? Bercanda.

Memanggil orang dengan julukan yang merendahkan? Bercanda lagi.

Mengomentari tubuh atau penampilan orang lain? Ya, namanya juga anak muda.

Menyebarkan penghinaan di internet? Tinggal matikan ponsel kalau tidak suka.

Kita sering punya seribu alasan untuk menganggap sesuatu sebagai hal kecil sampai akhirnya hal kecil itu menumpuk menjadi masalah yang jauh lebih besar.

Di Indonesia, pola seperti ini rasanya tidak asing.

Kita masih sering mendengar kasus perundungan di sekolah yang kemudian dianggap sebagai kenakalan biasa. Bahkan ketika korban sudah merasa sangat terganggu, respons yang muncul kadang justru, “Jangan terlalu baper.”

Saya selalu heran dengan kalimat itu. Sejak kapan kemampuan seseorang untuk terluka menjadi ukuran apakah suatu tindakan layak disebut kekerasan?

Kalau seseorang menendang teman, kita relatif mudah menyebutnya kekerasan. Namun, ketika seseorang terus-menerus mempermalukan temannya di depan kelas, menyebarkan foto tanpa izin, mengucilkan, atau menjadikan seseorang bahan lelucon bersama-sama, batasnya tiba-tiba menjadi kabur.

Barangkali karena kekerasan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia datang dalam bentuk tawa satu kelas. Kadang ia muncul dalam grup percakapan. Kadang ia berupa komentar yang dianggap cuma bercanda. Dan kadang, yang membuatnya terus berlangsung bukan karena semua orang setuju, melainkan karena tidak ada yang merasa perlu menghentikannya.

Ini bagian dari Adolescence yang menurut saya paling mengganggu. Kita sebagai penonton diajak melihat bahwa seorang anak tidak tumbuh sendirian. Ada keluarga, sekolah, teman sebaya, dan lingkungan digital yang ikut membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri dan orang lain.

Bukan berarti lingkungan bisa dijadikan kambing hitam untuk membenarkan tindakan seseorang. Tanggung jawab tetap ada pada pelaku.

Namun, kalau kita hanya berhenti pada pertanyaan “Siapa yang salah?”, kita mungkin kehilangan pertanyaan yang lebih penting: “Apa yang selama ini kita biarkan?”

Sebab, kalau setiap kejadian hanya membuat kita sibuk mencari satu anak yang harus dihukum, kita mungkin tidak pernah memeriksa budaya yang membuat kekerasan bisa berlangsung sebelum akhirnya meledak.

Monster

Kita mungkin juga terlalu suka menyebut seseorang sebagai monster.

Ada rasa aman dalam menyebut seseorang monster. Dengan begitu, kita bisa merasa bahwa ia berbeda dari kita. Ia jahat, kita baik. Ia bermasalah, kita normal.

Masalah selesai.

Padahal, kalau pelakunya ternyata tumbuh di lingkungan yang juga kita kenal, bersekolah di tempat yang mirip dengan tempat anak-anak kita belajar, menggunakan media sosial yang sama, dan mendengar candaan yang sama, persoalannya menjadi jauh lebih tidak nyaman.

Kita terpaksa bertanya kepada diri sendiri.

Jangan-jangan yang perlu kita takutkan bukan hanya anak yang melakukan kekerasan, tetapi lingkungan yang membuat kekerasan perlahan terasa biasa.

Di titik ini, saya rasa Adolescence tidak sedang meminta kita untuk memaklumi Jamie. Serial ini justru membuat kita sulit mencari jawaban yang nyaman. Kita boleh marah kepada pelaku. Kita boleh menuntut pertanggungjawaban. Namun, setelah kemarahan itu selesai, masih ada pekerjaan yang jauh lebih sulit: melihat apa yang terjadi sebelum semuanya terlambat.

Hannah Arendt mungkin tidak pernah membayangkan bahwa gagasannya akan dipakai untuk membicarakan serial Netflix tentang seorang anak sekolah. Namun, mungkin justru di situlah menariknya sebuah pemikiran. Ia membuat kita melihat sesuatu yang sebenarnya sudah ada di depan mata dengan cara yang berbeda.

Kejahatan tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan. Kadang ia datang memakai seragam sekolah. Kadang ia muncul sebagai candaan. Kadang ia bersembunyi di balik kalimat “namanya juga anak-anak.”

Dan yang paling menakutkan, mungkin bukan ketika kita akhirnya melihat kejahatan itu. Melainkan ketika kita sudah terlalu terbiasa melihatnya sampai tidak merasa perlu bertanya lagi.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

//